Fitnah Kecil

607 Words
Azila benar-benar tak mengerti apa yang tengah terjadi. Kenapa ruang osis terasa sangat mencekam. "Azila, jawab, apa benar kamu menerima penyogokan dari calon ketua osis?" "Azila, benarkah?" "Apa yang udah lo lakuin Azila?" Semua orang tiba-tiba menodongnya dengan pertanyaan. Alis Azila mengkerut. Penyogokan apa? "Maksudnya?" "Nggak usah sok polos," gertak Agnes. "Nina, sini lo!" Nina—sang adik kelas yang mencalonkan diri menjadi ketua osis—segera menghampiri Agnes. "Nina, sekarang cepat katakan apa yang udah kamu lakukan bersama Azila." "Baik, Kak." Nina hanya menunduk. Ia menghela napas pelan. "Kak Azila bilang, aku harus layani dia selama satu minggu, lalu Kak Azila akan bantuin aku jadi ketua osis." Fitnah seperti apa itu? Azila hanya bisa mengelus d**a dan menghela napas pasrah. "Oh, jadi nama lo Nina?" tanya Azila. Nina masih tak berani mengangkat kepala. "Iya, Kak." "Gue bahkan baru tau nama lo sekarang," ucap Azila. "Udah, deh, jangan ngalihin topik gitu. Lo udah melanggar kode etik sebagai osis. Maka dari itu, saat penurunan masa jabatan osis nanti, lo nggak berhak ikut, karena lo udah diberhentikan secara tidak hormat." Azila menatap Agnes sekilas. Ada apa dengan gadis itu? Apa Azila ada masalah dengannya? Seperti ada suatu kebencian yang terpendam. Agnes adalah anggota osis perwakilan ekskul tarian daerah. Sejak awal, ia memang tampak tak menyukai Azila. Apa karena adanya ekskul dance, yang lebih modern, akibatnya ekskul Agnes jarang terekspos. Sebenarnya Azila sudah menduga hal itu. Namun, sepertinya ada hal lain. "Emangnya lo ketua osis, berhak memberhentikan gue?" "Gue bukan ketua osis, tapi gue lebih baik daripada lo, karena gue nggak main kotor kayak lo." "Emangnya ada bukti?" tanya Azila. "Nina udah bukti besar buat kita semua." "Lain kali kalau mau memanipulasi, tuh, dipikir-pikir dulu gimana konsepnya. Masa pakai konsep kampungan." Sebuah suara terdengar menyita perhatian semua orang. Tampak Azela masuk ke ruang osis dengan tangan bersedekap d**a. "Pencalonan ketua osis hanya diperbolehkan pada murid kelas sebelas. Sedangkan Nina, murid kelas sepuluh. Kalau pun dia mencalonkan diri, tentunya sebagai calon wakil ketua osis. Bukan calon ketuanya. Bukan Azila yang disogok, tapi Nina yang lo sogok Nina untuk nyebar fitnah itu, kan?" ucap Azela menatap tajam ke arah Agnes. Semuanya terdiam. Agnes menelan salivanya susah, sedangkan Nina masih menundukkan kepala. Azila sendiri tersenyum kecil menatap Azela yang datang membelanya. "Apa tujuan lo buat fitnah ini? Mau jelekin nama Azila pada calon anggota osis baru nanti?" "Gue nggak fitnah! Itu memang faktanya, gue nggak nyogok Nina, ya!" "Lo yakin?" tanya Azela, lalu menghela napas gusar. "Kalau benar itu terjadi, harusnya Nina melapor ke ketua osis, bukan ke lo. Kenapa malah lo yang beberin berita itu pada anggota osis?" Agnes mati kutu. Semua anggota osis yang ada di situ pun mulai menyetujui apa ucapan Azela. Agnes mengepalkan tangannya. Azela yang melihat itu, mendekatinya. "Lain kali buatlah drama yang lebih bagus," bisik Azela. "Drama lo yang ini sangat menjijikkan. Agnes dibuat semakin geram. Tangannya pun hendak memukul Azela, tetapi dengan gesit ditahan oleh gadis itu. "Jangan cari masalah dengan saudari kembar gue, kalau lo nggak mau ada masalah dengan gue." "Masalah ini dianggap selesai. Bubar," ucap Reno—wakil ketua osis. Kebetulan sang ketua osis tak hadir, karena sedang sakit. Azela menatap ke arah Azila, mengode untuk kembali ke kelas. Azila mengangguk pelan. Mereka pun keluar dari ruang osis. "Zila yakin, pasti Azel nyusulin," ucal Azila. "Hm." "Kenapa Azel nyusulin?" "Gue yakin pasti ada masalah, karena rapat nggak mungkin pagi-pagi begini." "Azel daritadi nguping, ya?" "Hm." "Makasih, Azel. Untung Azel datang." "Ya." "Ayo, Zel. Bentar lagi kuis!" Azila pun bergegas, menggenggam tangan Azela. Mereka pun berjalan bergandengan menuju kelas. Tanpa mereka sadari, Agnes menatap mereka berdua dari kejauhan. "Kembar s****n. Awas aja, ya." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD