Ada Apa?

851 Words
Hari ini kembali seperti biasa. Azila dan Azela sekolah dan Daniel kembali bekerja. Namun, pagi ini saudari kembar itu terlalu terburu-buru datang ke sekolah, karena masih terlalu pagi. Gerbang pun baru dibuka saat mereka datang. "Sekarang jam berapa, sih?" tanya Azela tentu saja bertanya pada Azila. "Masih jam enam seperempat. Kita kecepatan kali, ya." "Hm." "Gapapalah, Zel. Sekali-kali," ucap Azila dengan senang hati melangkah masuk ke kelas. Tidak ada siapa pun. Ya, tentu saja. "Zel, nanti kita ada kuis, kan?" "Iya." "Oke, deh. Gue bisa belajar dulu." Azila membuka tasnya dan mengeluarkan buku catatan. Mata Azila melirik ke arah Azela yang tampak sibuk dengan ponselnya. "Azel nggak belajar?" "Udah tadi malam." "Oh, oke." Azela memang tak pernah menampakkan dirinya belajar. Kadang teman-temannya pada heran, kenapa Azela selalu mendapatkan nilai tinggi saat ujian. Banyak yang menuduh, jika Azela pasti mencontek jawaban Azila. Padahal itu tidaklah benar. Mungkin teman-teman dan gurunya tak pernah melihat Azela belajar dengan serius. Padahal aslinya, Azela setiap malam selalu mengulang pelajaran. Ia lebih senang belajar sendiri. Azela biasanya mencari referensi baru di internet, menonton video youtube dan menggunakan aplikasi belajar. Jadi, orang yang tampak malas, bukan berarti bodoh. Hanya tak menampakkan rajinnya saja. "Zel, lo ngerti yang bagian ini, nggak? Gue masih agak bingung." "Lo lebih pintar dari gue. Pasti lo bisa kerjain sendiri," ucap Azela. Azila menghela napas. Sebenarnya ada satu hal yang ingin ia tanyakan mengenai tingkatan otak mereka. Namun, Azila mengurungkan niatnya. "Ih, beneran Azel. Gue nggak ngerti yang ini." "Jangan pura-pura nggak ngerti, biar gue bisa masuk perangkap lo," ucap Azela. Ah, ternyata ia sudah menyadarinya. Azila gagal lagi. Selama ini sebenarnya Azila curiga, ia yakin Azela sangat pintah, bahkan lebih pintar daripadanya. Namun, kenapa Azela seperti menyembunyikan kepintarannya itu? Ia selalu menutup diri. Tak lama kemudian, seorang siswi di kelas itu pun masuk. Tanpa menoleh ke arah Azila dan Azela, ia langsung duduk di bangku belakang—seperti biasanya. "Zel, itu Devi, kan?" "Hm." "Samperin, yuk!" ajak Azila. "Lo aja." "Ayolah, Zel. Devi itu dingin banget, dia jarang ngomong. Mungkin sama Azel dia mau buka suara." "Lo aja, Zila," ucap Azela sekali lagi. "Huft. Oke, deh, kalau Azel nggak mau." Azila pun mendorong kursinya, lalu berdiri, berjalan ke belakang tempat Devi duduk. "Hai, Devi. Selamat pagi," sapa Azila dengan cerianya. Ya, seperti Azila biasanya. Devi hanya diam, tanpa menoleh ke arah Azila. Tangannya sibuk bermain ponsel dan telinganya pun tertutup headphone. "Gue tau lo nggak akan respons." Azila lalu duduk di bangku sebelah Devi. "Btw, Dev. Nanti ada kuis, loh. Udah belajar, kan?" "Mau belajar bareng? Kebetulan ada yang nggak gue ngerti, nih. Lo ngerti, nggak? Ajarin, dong ...." "Katanya, Devi suka nonton amime, ya? Wah, gue dulu juga pernah nonton. Rekomenin yang bagus, dong." Sampai mulut Azila berbusa pun, Devi tak merespons sama sekali. Ia malah semakin mengencangkan volume headphonenya, agar tidak mendengar suara Azila. Devi paling tidak suka diganggu. Azela yang memperhatikan itu, ingin sekali menegur Azila agar tak menganggu Devi lagi. Akan tetapi, Azela tetap diam. Percuma, Azila tak akak menyerah. Daridulu pun ia sering mengajak cewek irit bicara itu ngobrol, tetapi malah Azila berbicara sendiri. "Azila ngapain, sih, ngajakin si bisu ngobrol. Nggak ada gunanya." Terdengar suara Monic berbicara dengan temannya, Dina. "Iya, dia nggak akan mau ngeluarin suara. Paling emang nggak bisa ngomong. Kalau ngomong entar ngik-ngok-ngik-ngok." Terdengar tawaan mereka yang terdengar sedang mengejek. Azela tahu, jika mereka tak menyukai Devi, bahkan di kelas ini yang menganggap keberadaan Devi cuma Azila. Devi adalah murid pindahan satu bulan yang lalu dan selama ini ia tak pernah mengeluarkan suara. Saat baru masuk kelas pun ia tak memperkenalkan diri, dengan alasan, bahwa ia adalah anak dari wali kelas. Jadi, guru mereka sendirilah yang memperkenalkan Devi. Sebenarnya Azela penasaran apa yang membuat Devi seperti itu. Akan tetapi, Azela selalu berpikir, itu bukan urusannya dan tak usah ikut campur dengan masalah orang. Lebih baik Azela memikirkan masalahnya sendiri. Azila kembali duduk di bangkunya. Mungkin sudah lelah, karena tidak juga mendapatkan hasil. "Gimana?" tanya Azela. Azila menggeleng. "Tapi gue janji bakal buat Devi mau ngobrol sama gue!" tekadnya kuat. "Terserah," kata Azela cuek. "Gue kepo tau, Zel. Sebenarnya apa, sih, yang membuat Devi gitu?" Ternyata Azila juga memikirkan hal yang sama dengannya. "Gak usah kepo," jawab Azela. "Tapi penasaran, Zel. Pasti ada sesuatu, deh." "Udah dibilangin jangan ikut campur." "Ah, Azel nggak asyik!" rajuk Azila. Seseorang muncul di depan pintu kelas dan memanggil nama Azila. "Maaf, Kak. Apa Kak Azila udah datang?" "Ya, saya. Ada apa?" tanya Azila, menghampiri adik kelas yang diyakini calon osis itu. "Kak Azila dipanggil ke ruang osis, Kak, sekarang." "Hm, oke. Thank you." Azila menoleh ke arah Azila, memberi kode jika ia akan pamit sebentar. Azela yang mengerti pun mengangguk saja. Azila melangkah meninggalkan kelas. Padahal sebentar lagi pembelajaran dimulai, tetapi sepertinya ada yang penting tentang osis. Azila membuka pintu ruangan yang tak terkunci itu. Ternyata semuanya sudah berkumpul. Apa mereka hanya menunggu dirinya saja? "Hai, teman-teman," sapa Azila. "Nggak usah sok manis. Apa maksudnya ini?" cerca Agnes langsung menodong Azila. Azila tak mengerti kenapa Agnes semarah itu dengannya. Apa yang terjadi? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD