"Gue sebenarnya ... udah kenal Yui dari lama."
Mendengar nama itu disebut oleh Hannan, membuat darah Azila terasa mendidih. Ia tak menyukai adik kelas itu.
"Oh," jawab Azila singkat.
"Yui adik gue, Zila," ucap Hannan, membuat Azila menoleh.
Sejak kapan Hannan memiliki adik angkat? Selama ini yang Azila ketahui, Hannan anak tunggal.
"Adik angkat," jelas Hannan.
"Adik angkat, gimana?" tanya Azila meminta penjelasan.
"Yui anak temannya papa gue. Orang tuanya kecelakaan dan semenjak itu, orang tua gue angkat Yui jadi anak. Tapi, selama ini Yui tetap tinggal di rumahnya, orang tua gue cuma ngebiayain hidupnya, karena Yui nggak mau ninggalin rumah peninggalan orang tuanya."
"Sejak kapan?"
"Sejak gue kelas dua smp."
"Oh."
"Yui beda setahun sama kita," ucap Hannan.
"Udah tau."
"Yui punya penyakit asma. Tubuhnya juga sangat lemah."
"Hm," gumam Azila cuek.
"Gue cuma nganggap Yui sebagai adik, nggak lebih."
"Oh, ya?"
"Iya, Zila."
"Tapi adek lo kayaknya baper, deh, sampai nyatain perasaannya ke lo," sindir Azila.
"Itu karena ... dia takut kehilangan gue aja, karena dia trauma ditinggalkan orang terdekatnya. Lima bulan yang lalu, neneknya juga meninggal."
"Terus, kenapa nggak dipacarin aja, biar bisa sama-sama terus," sindir Azila tanpa menatap Hannan. Hatinya sakit sebenarnya mengatakan itu. Bagaimana jika Hannan mengiyakan ucapannya? Oh, tidak. Azila belum siap kehilangan Hannan.
"Gue nggak suka sama Yui. Selama ini gue cuma anggap dia adik, nggak lebih."
Azila menatap ragu. Benarkah? Namun, mengingat Hannan berbicara lembut dan juga mengubah cara bicaranya menjadi aku-kamu membuat Azila sedikit cemburu.
"Serius?"
"Iya. Lo nggak usah khawatir, gue nggak suka sama Yui, gue sukanya--"
"Stop. Udah. Cukup sampai di situ," sela Azila cepat.
"Oke."
"Gue tetep kecewa sama lo. Bukan karena Yui, tapi kenapa lo nggak cari gue saat gue ngilang?"
Hannan mati kutu. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gue pikir lo cuma pergi aja terus kembali ke ruang osis."
"Dasar nggak peka," dengkus Azila pelan, yang masih terdengar oleh Hannan.
"Ya udah, maafin gue, ya. Lo nggak marah lagi, kan?"
"Nggak tau."
"Please maafin gue. Soalnya gue nggak tau gimana cara ngerayu cewek kalau lagi ngambek," ucap Hannan jujur. Mendengar itu, membuat Azila tertawa.
"Siapa juga yang ngambek," sahut Azila masih diikuti tawanya.
"Beneran, sekarang udah nggak marah lagi?"
"Siapa juga yang marah."
"Syukur, deh. Kalau gitu, gue pulang, ya."
Hannan pun melangkah untuk keluar. Namun, Azila tiba-tiba berteriak. "Tunggu, Hannan!"
Hannan menoleh, melirik Azila sekilas.
"Kok buru-buru?" lirih Azila memainkan rambutnya, tanpa menatap Hannan.
"Emangnya lo mau gue tetep di sini?"
"Mau."
Hannan tersenyum kecil. Berarti Azila sudah memaafkannya. "Makasih."
Pipi Azila tiba-tiba merona. Kenapa Hannan berterima kasih segala padanya?
"Gue akan nemenin lo sampai tidur," ucap Hannan.
"Makasih, Hannan."
Hannan tersenyum. Akhirnya Azila memanggil namanya lagi.
"Sama-sama, Azila."
***
Azela yang mendengar percakapan antara Hannan dan Azila di balik dinding kamar Azila hanya bisa menghela napas. Seperti itukah anak muda kasmaran?
Azela melangkah pergi dari situ. Misi nguping sudah selesai. Saatnya ia kembali ke kamarnya sendiri.
Tadi Agil mengirimkan pesan padanya berkata, bahwa ia dan Reyhan akan pergi ke rumahnya. Sembari menunggu kedia sahabatnya itu, lebih baik Azela berbaring di kasur, melepas penat.
Agil dan Reyhan memang sering datang ke sini. Ya, rumah Azela bagaikan basecamp tempat mereka bermain. Lagipula rumah kedua sahabatnya itu pun tak jauh dari sini.
Jalan kaki pun sebenarnya bisa ke sini, karena tak jauh.
Azela membaringkan badannya di kasur. Membayangkan masa-masa lalu yang sudah terlewatnya. Kenangan masa kecilnya tak terlalu banyak.
Azela mengeluarkan pisau yang selalu dibawanya, pisau itu terselip di saku bagian belakang celananya. Azela menggenggam pisau lipat itu.
"Terima kasih, Kakek Raman. Berkat Kakek, aku tidak takut lagi dengan pisau ini," ucap Azela memutar-mutar pisau itu dengan tangannya.
Trauma masa kecil menatap pisau itu sudah hilang. Mental Azela benar-benar sudah kuat. Ia juga sudah menguasai ilmu bela diri yang diajarkan Raman.
"AZELA! ZEL ... Buka pintunya, dong!"
Oke. Kedua sahabatnya itu sudah datang. Azela bangkit, lalu membukakan pintu kamarnya. Benar saja. Agil langsung menyelonong masuk ke kamar Azela.
Ah, sudah biasa. Diikuti oleh Reyhan yang datang sambil membawa camilan.
"Main, yuk! Dah lama enggak," ucap Agil segera menghidupnya play station yang ada di kamar Azela.
"Kalian aja. Gue ngantuk," ucap Azela kembali berbaring.
"Yah, nggak asyik, Zel. Main bareng, dong!" ajak Reyhan yang sudah duduk di samping Agil sambil memegang stik PS-nya.
"Kalian aja. Gue bosan menang terus lawan kalian."
"Dih, sombong."
Reyhan dan Agil pun bermain bersama. Ya, begitulah. Mereka datang hanya untuk main PS di kamar Azela. Benar-benar teman yang ... ah, sudahlah. Lebih baik Azela tidur.
***
Saatnya makan malam. Di meja makan sekarang mendadak ramai, karena tidak hanya diisi oleh Daniel, Azila, dan Azela. Malam ini kursi meja makan juga diisi oleh Hannan, Reyhan, dan Agil.
Ya, mereka memang sampai malam berada di sini. Sampai numpang makan malam. Tentunya Daniel yang mengajak mereka semua untuk makan bersama.
"Seru, ya, rame-rame begini," ujar Daniel.
Azela hanya mendengkus. Kenapa rumahnya jadi rame seperti ini.
"Lain kali, kalian langsung pulang aja," ucap Azela menatap Reyhan dan Agil.
"Orang Om Daniel sendiri yang nyuruh makan malam di sini, iya nggal, Nan?" ujar Reyhan meminta persetujuan Hannan. Cowok itu pun hanya mengangguk kikuk.
"Hannan, diambil dong lauknya. Sini, biar Zila ambilin," ucap Azila yang malah menikmati makan malam ini.
Azela menghela napas pelan. Ya iyalah Azila senang, toh ada Hannan di sini.
"Makasih, Azila."
"Sama-sama Hannan."
"Woy, Zel. Lo nggak mau ambilin kita juga gitu, lauknya? Gue mau udang, tuh, sama ayam kecapnya."
"Ambil sendiri," dengkus Azela kesal.
Agil dan Reyhan pun terkekeh menatap Azela. Daniel juga terkekeh pelan. Ia senang menatap kedua putrinya itu memiliki teman-teman seperti mereka. Ya, Daniel merasa jarang memberikan waktunya pada Azila dan Azela. Jadi, jika mereka memiliki teman, pasti kedua putrinya itu tak kesepian walau tak ia temani.
"Makan aja anak-anak. Habisin semuanya," ujar Daniel.
"Boleh, Om?" tanya Agil.
"Boleh, dong, Ragil. Silakan makan semuanya."
"Maaf, Om. Nama saya Agil bukan Ragil, Om," ucap Agil membenarkan.
"Oo, iya. Haha. Maafkan, Om emang sering lupa."
"Iya, Om, nggak pa-pa."
"Ya udah, yuk lanjut makannya."
Mereka pun makan bersama diiringi canda tawa yang dibuat oleh Daniel maupun Agil dan Reyhan. Sedangkan Hannan hanya diam, karena suasana hangat seperti ini tak terbiasa dirasakannya.
Biasanya Hannan hanya makan sendiri di rumah. Orang tuanya sibuk bekerja, tak terlalu memperhatikannya. Namun, walau begitu, Hannan tak menyalahkan, karena orang tuanya pun bekerja untuknya. Asalkan kedua orang tuanya itu baik-baik saja, Hannan sudah senang.
Makan malam itu terasa nikmat.
***