Utang Cerita

1019 Words
Azela buru-buru pulang ke rumah. Di sepanjang perjalanan yang ia pikirkan hanyalah Azila. Kenapa suadari kembarnya itu bisa sakit? Apakah penyakitnya kambuh? Yang pasti, Azela tak akan memaafkan dirinya, jika Azila sakit olehnya. Saat memasuki rumah. Azela bergegas ke kamar Azila. Tampak Daniel yang sedang duduk di sofa kamarnya. Mata Azela beralih menatap Azila yang berbaring di ranjang. "Azila, lo kenapa?" tanya Azela khawatir. "Azel ...." Azila tersenyum menatap kembarannya itu datang. "Gak usah khawatir gitu. Zila cuma demam biasa, kok," ujar Azila dengan suara lesu. Bibir Azila pucat, hidungnya juga memerah. Sepertinya gadis itu benar-benar sedang demam. "Beneran cuma demam, Pa?" tanya Azela beralih menatap Daniel yang duduk di sofa sambil membaca koran. "Iya, Zel. Tadi Papa udah panggil dokter ke sini, katanya Azila kelelahan." "Oh," respons Azela singkat. Ia lalu kembali menatap Azila. Tangan Azela menyentuh kening Azila yang terasa panas. "Biasanya lo demam kalo lagi banyak pikiran. Sekarang cepat ceritain apa yang lagi lo pikirin!" suruh Azela. "Ah, nggak ada, kok." "Jangan bohong! Lo kalau bohong hidungnya merah." "Dih, sejak kapan? Ini hidung gue udah merah daritadi karena flu tau," ucap Azila. "Ya udah cepet. Cerita sama gue!" "Nggak ada yang perlu diceritain Azela." "Hei, Kalian. Jangan berantem terus," lerai Daniel. "Azel, jangan gangguin Azila dulu, dia lagi sakit. Untuk Azila, kamu tidur aja, istirahat," ujar Daniel menegur keduanya. "Iya, Pa," jawab Azila, lalu menarik selimutnya. "Lo masih punya utang cerita sama gue!" ucap Azela. "Nggak, nggak, wleee!" cibir Azila, membuat Azela makin kesal. Akan tetapi, Azela bisa bernapas lega. Azila hanya demam biasa dan butuh istirahat saja. Jadi, Azela tak perlu terlalu khawatir. "Yosh, gue ke luar," ucap Azela keluar dari kamar Azila. Setelah kembarannya itu keluar kamar. Mata Azila yang tadi terpejam kembali terbuka. Ia tak bisa berbohong jika Azila terlalu banyak pikiran semenjak kemarin. Itulah yang membuatnya down. Hannan tak menghubunginya lagi. Entah kenapa, cowok itu seakan-akan menghilang. Bukannya datang menemui Azila, malah hilang entah ke mana. Huft, membuat Azila makin kesal saja. Azila masih penasaran dengan adik kelas yang di UKS kemarin. Siapa dia? Apa hubungannya dengan Hannan? Lalu, kenapa Hannan seolah-olah peduli sekali dengan gadis itu. Emangnya sepenting apa dia? Hal yang membuat pikiran Azila terganggu juga masalah pertemuannya dengan Geko. Padahal sudah bertahun-tahun ia mencoba move on, adik dari Zeko itu malah muncul mengingatkannya perihal Pink Biru dulu. Terlalu lama melamun, Azila tak menyadari jika Daniel sudah terlelap di sofa. Sebenarnya Azila kasihan dengan Daniel, karena harus merawatnya yang sedang sakit seperti sekarang, padahal pekerjaan Daniel banyak. "Papa maafin Zila, ya," lirihnya. "ZILAAA!" Teriakan Azela membuat Azila terkejut. Ia pun segera menoleh ke arah pintu, menatap Azela yang berdiri di sana. "Iya. Apa, Azel?" tanya Azila malas. "Ada tamu yang ingin jenguk lo," ucap Azela. "Tamu? Siapa?" "Hannan." Mata Azila melotot. Tidak! Kenapa cowok itu bisa berada di sini? Azila tak ingin menemuinya. "Hai, Azila.' Mata Azila kembali melebar, melihat Hannan yang sudah berdiri di depan pintu, pengganti Azela yang berdiri di situ tadi. "Masuk aja, Nan. Ada bokap gue juga, kok, di dalam," suruh Azela. "Nggak. Stop!" teriak Azila, memberhentikan langkah kaki Hannan yang hendak masuk. "Hannan nggak boleh masuk! Udah, pulang aja sana," suruh Azila, tanpa menoleh ke arah Hannan. "Azila. Gue ...." "Nggak denger, nggak denger. Nggak mau denger," ucap Azila menutup telinganya dengan kedua tangan. "Azila, dengerin gue dulu, please ...." "Nggak denger!" teriak Azila yang terlalu kencang, sehingga membangunkan Daniel. "Azila, kenapa?" tanya Daniel masih setengah sadar. Mata Daniel tak sengaja menatap Hannan yang berdiri di depan pintu. "Eh, ada Herman ternyata," ucap Daniel dengan PD-nya, padahal salah nama. "Hm, maaf, Om. Saya Hannan." "Eh, iya. Itu maksud Om. Kamu ngapain di situ? Sini duduk," suruh Daniel menunjuk sofa di sampingnya. "Papa ... kenapa Papa ...." "Loh, Azila. Kamu belum tidur juga? Papa, kan, suruh kamu istirahat." "Azila nggak bisa tidur kalau ada tamu, Pa," sindir Azila. "Hannan bukannya teman kamu?" "Iya, Om. Saya temannya Azila," sahut Hannan. Akan tetapi, Azila hanya diam tak mengeluarkan suara. "Oh ya, ya ... silakan duduk Hannan." "Baik. Terima kasih, Om." Daniel menatap Hannan sekilas. Ternyata inilah cowok yang disukai Azila. First love, katanya. Padahal Hannan bukanlah cinta pertama Azila. Ya, Daniel cukup tahu kisah asmara putrinya itu, karena Azela selalu melaporkan tentang Azila. "Oh, ya, Hannan. Om dapat cerita dari Azila. Katanya kamu ketua PMR, ya?" Kepala Azila tiba-tiba terasa membesar, karena Daniel malah membongkar kartunya. Yah, ketahuan, deh, jika Azila sering bercerita tentang Hannan pada Daniel. "Benar, Om," jawab Hannan. "Bagus-bagus. Memang sepatutnya yang bersanding sama anak Om itu, yang kayak kamu gini, karena Om nggak akan biarin putri Om sama cowok sembarangan," ucap Daniel layaknya sedang menyeleksi calon menantu. Hannan menelan salivanya susah. Tujuannya kemari adalah Azila. Kenapa sekarang ia malah terjebak dalam obrolan Daniel? Ah, Hannan merasa canggung dibuatnya. "Oh, ya, Hannan. Semester kemarin, kamu dapat rangking berapa?" tanya Daniel. Perasaan Azila mulai tidak enak. Daniel jika berhadapan dengan teman cowoknya memang selalu kepo. Azila jadi merasa ga enak dengan Hannan. "Rangking satu, Om," jawab Hannan sesuai fakta. "Wah, hebat-hebat. Nggak salah pilih berarti si Azila." Pipi Hannan memerah. Entah kenapa ia malu. Azila memukul dahinya pelan. Daniel berulah. Hannan pun pasrah. "Hem. Terus, Hannan. Kapan kira-kira kamu nyatain perasaan ke anak Om?" tanya Daniel, yang malah membuat Azila langsung terduduk di atas kasur. "PAPAAA!" teriak Azila. Daniel pun terkekeh, menatap gemas pada putrinya itu yang tampak merajuk. "Haha. Bercanda, Sayang," ucap Daniel, lalu segera bangkit. "Om tinggal berdua, pintunya jangan ditutup. Silakan nikmati waktu berdua," ucap Daniel kembali menggoda keduanya. Hannan hanya bisa menunduk malu. Daniel luar biasa, tak sesuai ekspetasinya. Setelah Daniel keluar kamar. Hannan lalu menoleh ke arah Azila. Ia menatap gadis itu sekilas. Namun, Azila memalingkan wajahnya. "Eum ... Zila," panggil Hannan. Ia pun bangkit, lalu mendekati gadis itu. "Cukup berdiri di situ. Mau ngomon apa?" tanya Azila, memberhentikan langkah Hannan. "Oke. Gue bakal berdiri di sini aja. Tapi, gue mohon, lo dengerin gue, ya." "Hm." "Gue mau minta maaf. Kata Ketua Osis, lo menghilang setelah dari UKS. Berarti penyebabnya ada pada gue, kan?" Azila hanya diam. Menantikan Hannan melanjutkan. "Ada hal yang belum lo ketahui. Gue sebenarnya ...." ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD