Ali menghela nafas panjang, memantapkan langkahnya keluar dari mobil. Dalam benaknya masih terpikir, apakah langkah yang ia ambil sudah benar atau belum. Beberapa bulan yang lalu rasanya ia sudah tertekad untuk tidak lagi terjun ke dunia yang membesarkan namanya dulu. Biarlah orang-orang tinggal mengenang nama dan karyanya yang sudah ia buat selama ini. Ia merasa sudah waktunya ia menjadi orang biasa yang bebas melakukan apapun. Namun kini ia mengambil keputusan lain. Ia kembali dengan menerima tawaran bermain film dari salah satu rumah produksi. Parahnya lagi ia harus bermain film dengan lawan main seseorang yang namanya bahkan hampir tak tersebut dalam hidupnya beberapa bulan belakangan ini. Namun sebenarnya ialah alasan Ali ingin menerima film ini. Ali merasa sudah waktunya, sudah waktu

