Lagi-lagi SCTV kembali hadir dengan acara penghargaan bergensi untuk mengapresiasi hasil karya anak negri. Sekarang perfilman Indonesia adalah sasaran utamanya. Mengingat perfilman Indonesia yang sedang berkembang pesat dengan kualitas yang semakin baik membuat SCTV merasa sangat pantas untuk mengapresiasikannya. Oleh karena itulah SCTV mengadakan acara Indonesia Box Office Movie Awards atau yang disingkat dengan IBOMA. Tentu hal ini disambut baik oleh para insan perfilman di Indonesia.
Hari ini SCTV mengadakan acara prescon untuk menginformasikan secara garis besar bagaimana acara IBOMA nanti akan di gelar. Beberapa pengisi acara tampak hadir dalam acara itu termasuk Ali dan Prilly. Mereka di percaya untuk mengisi acara dengan menyanyikan sebuah lagu yang menjadi soundtrack dalam salah satu film yang masuk dalam box office Indonesia.
Setelah acara prescon mereka sempat di wawancarai dan disanalah mereka menceritakan sedikit tentang lagu yang akan mereka nyanyikan. Ali dan Prilly tampak sangat antusias dengan project baru mereka ini, pasalnya sudah lama mereka tidak mendapat kesempatan untuk berkolaborasi, dan tentunya dengan acara ini mereka memiliki alasan untuk sering bertemu.
Salah satu media cetak yang mewawancarai mereka menyinggung tentang mereka kini yang sudah jarang bertemu. Ali dan Prilly hanya menjawab dengan gurauan kecil, bahkan Ali sempat menyinggung bahwa sangat susah menghubungi Prilly akhir-akhir ini. Prilly yang mendapat godaan dari Ali hanya mampu tersenyum kecil. Didalam hati ia menggeram melihat pria di sampingnya ini, susah di hubungi? Benarkah? Bahkan Ali tak pernah sekalipun kesulitan menghubunginya karena Prilly sadar apabila ia mengabaikan panggilan dari Ali, pasti pria itu akan merajuk seharian suntuk. Pencitraannya didepan kamera sangat luar biasa.
"Habis ini makan ice cream yuk Li, kepengen makan ice cream nih," ucap Prilly di sela- sela wawancaranya.
"Boleh, abis ini ya," balas Ali lembut membuat Prilly tersenyum.
Sebenarnya ia hanya iseng karena kebetulan melihat seorang anak kecil yang sibuk memakan ice cream lewat dihadapannya, namun Ali terlihat begitu menanggapinya membuat ia ingin benar-benar makan ice cream kini.
Tak lama sesi wawancarapun usai. Para wartawan yang sedari tadi mengerumuni Ali dan Prilly, satu persatu kini tampak pergi.
"Li aku serius loh tadi minta makan ice creamnya. Mau ice cream," rengek Prilly.
Ali yang tadi memainkan ponselnya kini beralih menatap Prilly yang sedang memasang wajah memohonnya. Sangat menggemaskan.
"Iya sayang aku tau, ini aku lagi sms supir aku buat siapin mobil," balas Ali membuat senyum Prilly mengembang.
Setelah beberapa saat Ali menggandengan tangan Prilly menuju mobilnya. Ali berniat membawa Prilly menuju mall yang tak jauh dari tempat mereka tadi. Prilly terlihat begitu antusias. Tak sulit untuk meminta susuatu pada Ali, karena Ali pasti akan dengan senang hati mengabulkannya.
"Jaga sikap, banyak orang sayang," tegur Prilly saat mereka sudah sampai di mall yang hendak mereka tuju. Ali menghela nafas sejenak kemudian mengangguk pelan. Baru saja tangannya ingin merangkul Prilly, namun ucapan Prilly membuatnya harus mengurung dalam- dalam niatnya itu.
"Mau makan ice cream dimana?" Tanya Ali.
"Terserah deh dimana aja, yang penting makan ice crem," balas Prilly sembari tersenyum membuat Ali ikut tersenyum. Akhirnya Ali memutuskan untuk membawa Prilly ke salah satu kedai ice cream yang terdapat di mall itu.
Sesampainya disana Prilly langsung memesan ice cream yang ia ingikan. Hanya saat sedang bersama Ali lah Prilly bisa melupakan diet ketat yang selama ini ia jalani. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Ali dan Prilly tampak berbincang-bincang berbagi cerita dan kesibukan mereka kini. Sesekali tangan Ali terangkat untuk mengelus pucuk kepala Prilly saat gadisnya itu menceritakan aktivitasnya yang kian padat yang terkadang membuatnya lelah.
"Aaaaaa udah dateng," pekik Prilly saat ice cream pesanannya datang.
"Makan deh, di habisin ya sayang," ucap Ali yang langsung mendapat anggukan dari
Prilly.
Prilly tampak langsung melahap ice creamnya. Ali menatap Prilly sembari tersenyum. Jarang sekali mereka bisa pergi hanya berdua seperti ini. Jujur Ali sangat bahagia saat tadi Prilly meminta untuk makan ice cream karena biasanya cukup sulit untuk mengajak gadis itu pergi.
Terkadang Ali maupun Prilly merasa ingin menjalani hidup layaknya remaja lainnya yang bebas kemana saja dan dengan siapapun tanpa memikirkan orang lain. Namun mereka juga bersyukur dengan kehidupan mereka sekarang, setidaknya mereka di kelilingi oleh fans yang sangat mencintai mereka.
"Habiss," ucap Prilly. Ali melirik tempat ice cream Prilly yang sudah bersih tak bersisa. "Mau makan apa lagi?" Tanya Ali.
"Kita pulang aja gimana? Soalnya aku mau siap-siap nyiapin suprise ulangtahun itte."
"Yaudah kalau gitu aku anter kamu pulang," Prilly mengangguk kemudian bangkit dari duduknya.
Setelah membayar ice creamnya merekapun memutuskan untuk pulang. Prilly memang sengaja tadi menyuruh Siti assitennya untuk pulang terlebih dahulu sebelum ia pergi dengan Ali tadi. Saat berjalan keluar dari mall, tiba-tiba Prilly mempercepat langkahnya dan mendahului Ali dengan memberi jarak antara mereka membuat Ali menatapnya heran. Namun melihat suasana mall yang makin sore makin ramai dan beberapa orang yang mulai menyadari kehadiran mereka membuat Ali mengerti kenapa tiba-tiba Prilly menjauhinya.
***
Ali yang sengaja membawa mobil sendiri tanpa supir kini tampak fokus menyetir menuju rumah Prilly. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening di antara mereka. Hanya terdengar suara musik dari mobil Ali yang sengaja Ali bunyikan. Prilly melirik Ali dengan ekor matanya. Tak biasanya Ali diam seperti ini. Ingin rasanya Prilly memecahkan keheningan diantara mereka, namun Prilly tak tau apa yang harus ia bicarakan, terlebih melihat Ali yang tak menatapnya sama sekali membuat Prilly enggan membuka pembicaraan.
Tanpa disadari mobil yang di bawa Ali sudah berada didepan rumah Prilly. "Kamu mau mampir dulu?" Tanya Prilly.
"Mama sama papa kamu masih dirumah opa kamu kan? Kapan-kapan deh kalau mereka ada dirumah aku mampir," balas Ali mengingat saat tadi ia meminta izin via telfon pada mama Prilly ia sedang berada di rumah opa Prilly.
"Yaudah kalau gitu kamu hati-hati ya," balas Prilly. Setelah mendapat anggukan dari Ali, Prilly pun memutuskan untuk keluar dari mobil. Sebenarnya Prilly masih sangat bingung dengan perubahan sikap Ali yang lebih banyak diam. Tak biasanya ia seperti ini. Biasanya saat mereka akan berpisah seperti ini pasti ada saja yang ia katakan.
"Mau sampai kapan sih kita kayak gini?" Pertanyaan Ali itu membuat Prilly yang hendak membuka pintu mobil untuk keluar segera menghentikan aksinya dan menoleh pada Ali.
"Maksud kamu?"
"Jalan bareng tapi gak boleh ada yang tau. Capek gak sih kucing-kucingan gini?" Ali menghembuskan nafasnya lelah. Perlahan Prilly mulai mengerti sebab perubahan sikap Ali.
"Li kamu jangan gini dong, kamu kan tau sendiri kita gak bisa sebebas itu."
"Sampai kapan sih kamu mau peduliin kata-kata orang? Toh mereka taunya kita sahabatan. Wajarkan sahabat jalan bareng, terus salah kita dimana? Kita ganggu kebahagiaan mereka, enggak kan?" Ali mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil. Pria itu tampak begitu lelah, bukan lelah fisiknya, namun keadaan yang membuatnya lelah.
Prilly sangat mengerti apa yang Ali rasakan, karena ia juga merasakannya.
"Kamu malu jalan sama aku?" Tanya Ali lirih. Entah kenapa melihat sikap Prilly tadi yang langsung menghindarinya saat beberapa orang mulai memperhatikan mereka membuat ada perasaan mengganjal yang ia rasakan.
Mendengar ucapan Ali itu membuat Prilly langsung menggeleng cepat. Tangan Prilly terulur menangkup kedua pipi Ali agar menatapnya. Dielusnya pipi Ali membuat Ali terpejam sejenak.
"Sayang dengerin aku ya. Kamu salah kalau kamu berfikir aku malu jalan sama kamu, bahkan aku bangga banget bisa jalan sama kamu. Kalau bisa, aku mau semua orang tau kalau cowok ganteng ini yang punya segudang bakat ini adalah punya aku," ucap Prilly. Matanya menatap mata hitam legam Ali berharap agar pria itu mengerti apa yang ia jelaskan.
"Kamu fikir aku gak tersiksa kayak gini? Aku juga mau kamu gandeng atau rangkul didepan umum kalau kita lagi jalan. Tapi kita gak bisa lupain kalau hidup kita gak sebebas itu. Aku bukannya terlalu mikirin omongan orang, tapi belum waktunya orang tau apa yang terjadi sama kita."
"Terus kapan sayang?" Tanya Ali.
"Saat waktunya datang nanti. Aku gak bisa pastiin kapan, tapi waktu itu pasti datang. Kita sama-sama udah punya komitmenkan? Lagi pula kita lagi punya project masing-masing, mending kita fokus dan saling support. Setelah project kita kelar, kita mulai deh perkenalkan cinta kita sama dunia biar seisi dunia tau kalau ada cinta yang besar yang sudah tercipta," jelas Prilly. Ali tampak berfikir sejenak mencerna ucapan Prilly, namun sesaat kemudian ia tampak tersenyum.
"Kamu bener, orang lain gak perlu tau kalau ada cinta di antara kita, karena cinta bukan buat di umbar-umbar, tapi kalau cinta yang tercipta udah terlalu besar, siapapun akan sadar tanpa dikasih tau kalau cinta itu benar-benar ada," balas Ali membuat mereka sama-sama tersenyum.
Ali membawa Prilly kedalam pelukannya. Wajar jika sesekali ia egois, ingin memperkenalkan pada dunia bahwa Prilly adalah miliknya, namun ia sadar, tanpa ia umbarpun dunia akan tau bahwa gadis cantik bernama Prilly itu adalah miliknya.
"I love you," bisik Ali kemudian mencium pucuk kepala Prilly. Prilly terpejam merasakan kecupan Ali yang mampu membuat perasaannya menghangat. Tangan Prilly makin erat membalas pelukan Ali.
"I love you too," balas Prilly lembut.
Setelah beberapa saat Ali melepaskan pelukannya. "Cinta banget tau gak sama kamu," ucap Ali.
"Aku tau kok, dan aku juga cinta banget banget banget sama kamu," balas Prilly diiringi tawanya membuat Ali gemas. Ali menempelkan dahi mereka kemudian menggesek-gesekkan hidung mancung mereka membuat Prilly terkekeh.
"Yaudah kamu masuk gih."
"Kamu gak mau ikut ngasih itte suprise?"
"Aku nanti mau nyiapin lagu aku sayang, lagian kasih suprisenya sama temen-temen film kamu kan? Have fun aja ya. Jangan nakal," pesan Ali kemudian menarik pelan hidung Prilly.
"Siap laksanakan, gak bakal nakal," balas Prilly membuat Ali tertawa gemas.
"Bye kesayangan," ucap Prilly mencium singkat pipi Ali kemudian langsung keluar dari mobil Ali. Ali tersenyum menatap kepergian Prilly. Gadis itu selalu tau cara membuat perasannya tenang.
***
Hari ini Ali dan Prilly memiliki jadwal untuk latihan vokal. Hal ini di peruntukkan untuk memaksimalkan penampilan mereka di acara IBOMA nanti. Ali terlihat sangat antusias dan bersemangat untuk latihan sekaligus bertemu dengan gadisnya. Namun berbeda dengan Prilly yang terlihat kurang bersemangat. Bukannya ia tak bersemangat bertemu dengan Ali, hanya saja kepadatan jadwalnya akhir-akhir ini membuatnya tak enak badan.
"Hai cantik," sapa Ali saat bertemu dengan Prilly sebelum memasuki ruangan yang akan mereka pakai untuk latihan. Prilly yang kurang bersemangat hanya membalas dengan senyuman kecil. Ali yang sangat peka dengan gadisnya langsung menyadari bahwa gadisnya itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Kamu sakit?" Tanya Ali sambil meletakkan punggung tangannya di dahi Prilly. Hangat! "Aku pusing," keluh Prilly sambil bersandar di pundak Ali. Dengan sigap Ali langsung
membawa gadisnya itu kedalam pelukannya.
"Latihan sebentar ya, abis itu nanti istirahat," ucap Ali yang di balas Prilly dengan anggukan pelan.
Akhirnya Ali dan Prillypun langsung menjalani latihan. Walaupun dalam kondisi tidak enak badan, Prilly tetap profesional. Hal itu jugalah yang mampu membuat Ali terkagum-kagum, gadisnya itu benar-benar hebat. Sepanjang mereka latihan, mereka juga di liput oleh beberapa infotaiment, bahkan saat mereka break latihan mereka juga di liput oleh infotaiment yang ingin tau apa kegiatan mereka.
Sebenarnya Ali lebih ingin Prilly istirahat sejenak, namun Prilly menolak karna ia merasa tak enak dengan wartawan yang sudah menunggu mereka sejak tadi. Melihat gadisnya yang
sedang tidak enak badan, Alipun berusaha memutar otak mencari cara agar gadisnya itu bisa kembali ceria. Tiba-tiba sebuah ide terlintas. Ali teringat akan hobi barunya yaitu memainkan gear virtual realistic. Kecanggihan teknologi itu mampu menghilangkan rasa bosan yang sering Ali rasakan, dan kini Ali berharap itu juga berlaku untuk Prilly.
Akhirnya dengan diliput infotaiment, Ali memperlihatkan hobi barunya itu. Prilly yang awalnya tampak tak tertarik kini mulai ingin tau bagaimana hobi baru Ali itu. Sedikit demi sedikit mood Prilly kembali membaik apalagi saat Ali terus menerus memperlihatkan sesuatu yang menarik dari permainannya itu.
Merasa cukup dan puas mendapat liputan kebersamaan Ali dan Prilly, para wartawan itupun pamit meninggalkan mereka.
"Ini keren banget loh, asik banget buat hilangin bosan," kata Prilly yang masih terkagum dengan gear virtual realistic milik Ali.
"Aku kalau bosan suka mainin ini."
"Lagi dong Li, cari yang pemandangan tapi yang lebih bisa bikin tenang lagi," ucap Prilly yang terlihat belum puas.
"Bentar ya aku cariin dulu, masih ada nih yang lain," Ali mulai sibuk mencari video yang akan ia tunjukan pada Prilly.
"Nih udah ada nih," Ali kembali memakaikannya pada Prilly.
"Wah keren banget, hamparan bukit hijau yang luas banget, aku ngerasa tenang banget," ucap Prilly takjub. Prilly menggapai-gapai seolah-olah dapat menjangkau apapun yang ada di sekitarnya. Ali tersenyum melihat tingkah gadisnya itu. Ali menggengam tangan Prilly yang sedari tadi menggapai-gapai tak jelas. Sembari membiarkan Prilly hanyut dalam hayalannya, Ali menunduk untuk mencium punggung tangan Prilly cukup lama.
"Yah abis," keluh Prilly membuat Ali menjauhkan bibirnya dari punggung tangan Prilly. "Gimana, udah enakan?" Tanya Ali saat Prilly sudah melepaskan itu.
"Udah, makasih ya sayang," balas Prilly sembari tersenyum.
"Hei, kamu dengerin aku ya, kalau kamu ngerasa capek, kamu langsung datengin aku atau kamu minta aku datengin kamu, aku punya banyak cara buat bikin kamu bahagia," ucap Ali tulus membuat Prilly tersenyum.
Prilly langsung memeluk Ali erat, betapa beruntungnya Prilly dicintai oleh laki-laki seperti Ali. Ali membalas pelukan Prilly dan membenamkan kepalanya di lekukan leher Prilly.
"Aku gak tau gimana jadinya aku tanpa kamu."
"Kamu bakal baik-baik aja tanpa aku. Aku yang bakal kenapa-kenapa kalau tanpa kamu," balas Ali.
"Sok tau, kalau gak ada kamu, mood aku gak bakal secepat ini naiknya," balas Prilly diiringi tawanya membuat Ali ikut tertawa.
"Kamu mau bawa ini pulang? Kalau kamu mau bawa aja, ntar balikinnya kapan-kapan aja," tawar Ali.
"Enggak deh, nanti kalau aku kepengen main itu lagi, aku minta kamu datang ke aku, karna yang aku butuhin bukan cuma mainan ini, tapi juga kamu," balas Prilly membuat mereka sama-sama tersenyum.
Setelah beberapa saat break mereka kembali melakukan latihan. Setelah usai latihan, Ali langsung menyuruh Prilly untuk pulang dan beristirahat, pasalnya besok mereka harus melakukan GR.
***
Setelah latihan vokal kemarin, kini saatnya Ali, Prilly dan beberapa pengisi acara lainnya melakukan GR untuk acara IBOMA yang akan di adakan lusa. Meskipun belum sembuh total, namun Prilly sudah terlihat lebih baik.
Ali dan Prilly sedikit kaget saat mengetahui kalau selain bernyanyi mereka juga akan melakukan sedikit akting yang berhubungan dengan film yang soundtracknya akan mereka nyanyikan. Dan tanpa mereka sangka, Arbani lawan main Prilly dalam film terbarunya akan ikut beradu akting dengan mereka. Ali maupun Prilly sama sekali tidak keberatan karna ini salah satu bentuk profesionalitas mereka.
"Cieee lawan mainnya bentar lagi dateng," goda Ali sambil mencolek dagu Prilly membuat Prilly menahan senyumnya.
"Apaan sih," balas Prilly.
"Cieee cieeee cieeee," Prilly menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ali.
"Cieee cemburu tapi sok nge ciee ciee ciee in," kini gantian Prilly yang menggoda Ali.
Mungkin tak banyak yang tau bahwa pria bernama Ali ini sebenarnya sangat pencemburu. "Apaan, enggak."
"Cieee bohong. Gaya doang nge cie cie in, tapi dalam hati nyesek ye pak," ledek Prilly.
"Udah berani ngeledek ya," Ali menarik Prilly pelan dalam dekapannya dan mengapit Prilly diketiaknya membuat Prilly terkekeh geli.
"Sayang kamu tau banget aku kan, please jaga hati," bisik Ali yang kini terdengar serius.
"Ya ampun iya sayang. Percaya deh sama aku, gak ada ruang lagi disini," balas Prilly menunjuk hatinya.
"Gombal lo!" Ucap Ali kembali mengapit Prilly di ketiaknya sesaat membuat tawa mereka kembali pecah.
"Kangen banget sama bau ketek kamu, baunya tetap sama. Kecut," ledek Prilly dengan ekspresi lucunya membuat Ali gemas dan mencubit pipi Prilly. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak seperti ini.
"Hai Prill, Li," sapa Bani yang tiba-tiba datang. "Hai Ban," balas Ali dan Prilly bersamaan.
Mereka tampak terlibat perbincangan kecil yang membuat mereka bertiga terlihat begitu akrab. Jika orang berpikir Ali dan Bani terlibat persaingan sengit untuk mendapatkan Prilly, itu salah besar. Bani tau batas, lagi pula bagi Bani pendapat banyak orang di luar sana sangat benar bahwa Ali dan Prilly sangat serasi.
Merekapun tampak GR dengan serius. Hingga GR usai semuanya berjalan dengan sempurna. Setelah GR ternyata sudah banyak wartawan yang ingin mewawancarai mereka. Merekapun meladeni para wartawan itu. Bagi Prilly ini cukup penting agar ia bisa mengklarifikasi dan membuat para penggemar tau bahwa yang mereka lakukan nanti hanya sebagai bentuk profesionalitas dan bukan untuk ajang berbaper ria dan saling membully antar fans.
***
Tepat hari ini acara IBOMA akan dilaksanakan. Gedung yang akan menjadi saksi bisu pemberian penghargaan untuk insan perfilman Indonesia ini sudah dipadati oleh para aktor,aktris, sutradara, dan orang-orang penting lainnya yang terlibat dalam bidang perfilman.
Prilly dan Ali yang memang tampil dalam opening tampak sudah bersiap-siap. Setelah waktunya, mereka langsung naik ke atas panggung menyanyikan lagu-lagu soundtrack film yang di nobatkan box office sepanjang masa.
Setelah tampil pada opening, Ali dan Prilly memutuskan untuk kembali ke backstage untuk mengganti pakaian mereka. Ali yang memang tidak terlalu ribet menunggu Prilly sembari mendengarkan lagu yang nanti akan ia dan Prilly bawakan.
"Ali mana kak?" Mendengar suara Prilly yang sepertinya sedang mencarinya membuat Ali langsung menoleh pada Prilly di ambang pintu.
"Disini sayang," balas Ali. Prilly langsung menoleh pada Ali dengan pipi yang bersemu. Walaupun didalam ruangan ini hanya ada teman-teman satu management Ali, namun tetap saja Prilly merasa malu.
"Sini, dengerin lagu yang mau kita bawain nanti yuk," ajak Ali membuat Prilly langsung menghampirinya.
Ali terkagum melihat Prilly dengan gaun putihnya berjalan begitu anggun ke arahnya, demi apapun Prilly sangat cantik dimata Ali, bahkan Ali bisa memastikan dimata siapapun gadisnya itu terlihat cantik.
"Cantik banget," puji Ali yang lagi-lagi membuat Prilly bersemu.
Sambil menunggu giliran mereka perform, Ali dan Prilly memutuskan untuk mendengarkan lagu sembari mengobrol dengan teman-teman aliandonesia.
"Gue sama Prilly bajunya gini udah kayak lagi mau resepsi ya," ucap Ali pada temen- temennya.
"Yoi Li, kami berasa mau kondangan," timpal salah satu personil Aliandonesia.
"Besok kalau kalian nikah, kami jangan lupa dibeliin baju samaan," timpal personil yang lain yang sepertinya ingin menggoda Ali dan Prilly.
"Beres mah itu, iya kan sayang?" Tanya Ali pada Prilly yang tampak wajahnya sudah sangat memerah mendengar pembicaraan itu. Mau tak mau Ali dan yang lainnya tertawa geli melihat ekspresi malu menggemaskan dari Prilly.
"Ntar APL kita kasih baju samaan juga ya sayang," kata Ali lagi yang kini mendapat cubitan pelan dilengannya dari Prilly.
"Awww sakit sayang, emangnya gak mau nikah sama aku? Aku serius loh," tanya Ali. "Mauuuu," balas Prilly pelan yang terdengar manja. Prilly langsung menenggelamkan
wajahnya di d**a Ali membuat mereka lagi-lagi tertawa.
"Aamiin," sorak para personil Aliandonesia membuat suasana semakin riuh.
Setelah beberapa saat kini tiba saatnya Ali dan Prilly untuk perform. Chemistry antara Ali dan Prilly memang tiada matinya. Mereka sepertinya sudah mencetak sejarah baru sebagai pasangan yang akan selalu melekat di hati penggemarnya. Nyanyian mereka dapat menghanyutkan siapapun yang mendengarnya. Setiap nada yang tercipta dapat membawa pendengar masuk kedalam lagu dan cerita yang mereka bawakan. Orang-orang hebat yang duduk di bangku penonton tampak berdecak kagum. Chemistry mereka memang tak usah diragukan lagi.
Setelah membawakan lagu, mereka langsung membacakan salah satu nominasi di IBOMA. Semuanya tampak berjalan dengan lancar.
"Ah lega," ucap Prilly merasa sangat lega. Ali mengangguk setuju sambil mengelus pucuk kepala Prilly karna ia juga merasakan lega yang sama.
"Seneng deh bisa satu project gini sama kamu. Kepengen sering-sering, semoga tadi ada sutradara yang tertarik sama kita, terus kita di bikinin film, terus syutingnya di luar negri. Aaaaa mau," Ali tersenyum gemas melihat Prilly yang tampak begitu antusias.
"Aamiin, aku juga berharap gitu," balas Ali.
"Kita udah ditunggu wartawan tuh, mau di wawancarai sama Bani juga, kesana yuk," ajak Ali yang mendapat anggukan setuju dari Ali.
Ali dan Prillypun berlalu menuju wartawan yang sudah menunggu mereka bersama Bani. Saat di wawancara mereka terlihat sangat bahagia. Kebersamaan mereka benar-benar berdampak baik bagi kebahagian mereka. Harapan Ali dan Prilly mereka selalu di selimuti kebahagiaan.