#5 : Melangkah Mundur

1008 Words
PANTULAN matahari yang menyelinap masuk melalui celah-celah kecil di pinggiran jendela berhasil mengusikku. Aku membuka mata dan menemukan diriku sendirian di sana. Di sebuah ruangan kecil dan sederhana. Dinding berwarna gading dan jam berbentuk lingkaran adalah pemandangan pertama yang kutangkap. Aroma dan suasana yang tidak asing. Setidaknya selama beberapa bulan terakhir. "Kau sudah siuman, Ivana?" Suara rendah itu terdengar cemas, menarik atensiku untuk segera memastikan. Ada Louis di sana. Duduk di samping ranjang dengan tatapan sendunya. Jika dipikir-pikir, sudah lama sekali aku tidak melihat situasi seperti ini. Aku terbangun dan seseorang menanyakan keadaanku. Sejujurnya, aku merasa tidak benar-benar baik setelah bertemu dengan pria asing nan aneh itu. Namun satu-satunya yang keluar dari mulutku sekarang hanyalah, "Ya." Meski tubuhku masih terasa lemas dan kerongkonganku kering, kupaksakan ia untuk bangkit. Louis ikut beranjak, membantu memegangi kedua bahuku yang tampak tidak bertenaga. Sebelum kemudian tangannya yang kokoh menyodorkanku segelas air putih. "Kau sebaiknya minum dahulu." Tidak ada yang bisa kulakukan selain patuh dan menerima air tersebut. Setidaknya cairan berwarna bening di tanganku berhasil memberikan sensasi menyegarkan ke dalam tenggorokan. Aku lantas mengembalikan gelas yang sudah tinggal setengah kepada Louis dan berterima kasih. Ia tampaknya sangat lega karena aku akhirnya membuka mata. Bayangan hitam di bawah kelopak matanya menjadi bukti bahwa perawat muda itu sudah duduk di sana sejak semalaman--Louis jelas melewatkan waktu tidurnya hanya untuk menjagaku. "Aku akan membawakan sarapanmu. Tunggulah di--" "Bisakah kau tinggal sejenak?" selaku sebelum Louis pergi dari tempat ini. Kedua alisnya tampak mengernyit beberapa saat sebelum kemudian wajahnya kembali terlihat tenang. Jika dilihat-lihat, Louis memiliki netra cokelat yang cukup terang. Alisnya tebal sementara tulang hidungnya mancung dan tegas. Wajahnya akan mudah diterima oleh agensi-agensi model ternama. Ia sungguh menerima anugerah dari Tuhan karena memiliki ketampanan. Namun sepertinya, Louis memang tidak berniat menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dan malah terjebak di sebuah rumah sakit pinggiran kota bersama manusia-manusia gila. Aku tidak yakin dengan alasannya tetap tinggal di tempat ini, alih-alih pergi ke pusat kota dan menjalani karir yang lebih cemerlang di dunia hiburan atau semacamnya. Namun sikap telaten dan kesopanannya memang perlu diacungi jempol. Ia bahkan dengan sabar menghadapi para pasien yang berteriak di depan telinganya, berlari-lari tak tentu arah hingga beberapa kali harus mencuci baju karena seorang pasien memuntahkan isi perutnya di sana. Entah hanya karena terbawa suasana atau bagaimana, tapi kupikir Louis mungkin menyukaiku. Meski tidak benar-benar terlihat kentara, sikap dan perilakunya menunjukkan bahwa aku diperlakukan berbeda, lebih istimewa. "Baiklah," kata Louis. Dan kurasa inilah saat yang tepat bagiku untuk melemparkan pertanyaan yang sejak awal membuatku penasaran. Mata kami bertemu dan keheningan mendadak muncul selama beberapa waktu. "Apa kau ... tahu sesuatu, Lou?" Agaknya Louis paham dengan maksud dari pertanyaanku barusan. Ia mengangkat kedua alisnya sesaat, tampak terkejut. Sebelum kemudian kembali berekspresi dengan tenang seperti baru saja menemukan kedamaian yang sulit diartikan. Perlahan, Louis menganggukkan kepala. Membiarkan rambut panjang di sisi-sisi telinganya ikut bergoyang pelan. "Meski tidak sepenuhnya tahu," ralatnya. Akupun turut mengangguk. Mencoba memberi tanda bahwa aku mulai memahami situasi yang sedang terjadi. "Apa yang kau tahu soal pria itu?" Berbasa-basi memang tidak cocok denganku. Sepertinya umpatan dan teriakan yang kuterima dari Ethan selama kami menikah telah mengubahku menjadi wanita gila yang blak-blakan. Aku selalu berbicara to the point. Tidak ingin bertele-tele. Tutur bahasaku berubah kasar dan seringkali nadaku meninggi dengan sendirinya. Entah sejak kapan, tetapi rasanya diriku sudah benar-benar berubah. Aku sudah lama kehilangan jati diriku. Mungkin ikut terkubur bersama kejahatan Ethan di dalam kematiannya yang mengenaskan. Entahlah, aku benar-benar tidak ingat. "Dia adalah seorang detektif." Aku kembali mengangguk. "Dikirim oleh kepolisian kota New York." "Apa yang ia inginkan?" tanyaku penasaran. Louis mengatup kedua bibirnya sebelum kemudian melanjutkan dengan nada suaranya yang lebih rendah, terdengar ragu-ragu. "Kudengar mereka ingin kau kembali diadili atas kasus kematian mantan suamimu itu." Netra kami masih bersitatap. Kutangkap perasaan tak nyaman dari pandangan sendu milik Louis. Ia agaknya merasa tak enak karena harus mengungkit kasus itu di hadapanku atau mungkin karena tak memberi tahuku sejak awal dan malah menyebabkan kekacauan seperti ini. Namun aku mencoba menutup mulut. Berpura-pura tidak peka terhadap perasaan orang lain, terkadang akan sangat membantu. "Detektif itu sepertinya akan datang lagi hari ini. Tapi kalau kau tidak siap, aku bisa-" "Aku siap," tukasku menyela. "Aku harus menghadapi mereka cepat atau lambat, 'kan?" Pria muda yang hanya terpaut 3 tahun lebih tua dariku itu menghela napas panjang. Ia lantas menarik kursi yang sedaritadi digunakannya untuk duduk mendekat, maju ke arahku, sehingga jarak kami benar-benar dekat. Bahkan aku bisa mencium aroma parfumnya yang berbau kayu-kayu basah terkena hujan di pagi hari sekarang. Menyejukan, tapi aku tidak pernah menyukai hujan. "Dengar, Ivana. Mungkin kau bisa lolos dari hukuman penjara karena kau sakit sebelumnya. Tapi kali ini, sesuatu mungkin saja berubah. Mereka tidak mungkin akan melakukan kesalahan kali ini. Hati yang mendendam, adalah senjata paling berbahaya yang dimiliki oleh manusia." Semua kalimat itu masuk ke dalam telingaku. Louis terdengar sangat cemas kali ini, tidak seperti biasanya. Apakah pria muda di hadapanku ini benar-benar peduli, kepadaku, sebagai seorang teman? bukan sekadar perhatian seorang perawat kepada pasiennya yang tidak waras? "Inilah takdir yang harus kujalani, kualami." Tiba-tiba Louis berdiri, membuatku sedikit terkesiap karena gerakannya yang tiba-tiba. "Kau tidak pantas menerima takdir mengerikan ini. Apakah kau bisa menyebutkan satu alasan, cukup satu alasan saja, mengapa semua hal-hal mengerikan ini terjadi di dalam hidupmu, Ivana?" Tidak. Aku jelas tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Karena jauh di dalam hatiku, aku ingin takdirku berubah. Aku ingin mundur ke belakang, menarik kembali waktu. Aku tidak akan menerima cinta dari seorang pria brengsek itu dan menikah dengannya. Aku tidak ingin menjalani hari-hariku sebagai alat pemuas seks yang kemudian disiksa dan diperlakukan seperti hewan peliharaan. Aku tidak ingin menjadi saksi atas kematian Ethan yang mengerikan. Bahkan meski aku sangat ingin membunuhnya dalam pikiranku, aku tidak benar-benar ingin Ethan mati di atas ranjangku. Aku ingin takdirku juga berubah, tapi itu hanyalah keinginan yang sia-sia. "Sebaiknya kau ingat kembali semua yang kau saksikan malam itu, Ivana. Jangan sampai mereka menemukan celah lagi. Buktikan bahwa dirimu memang tidak bersalah." Suara Louis terdengar dalam. "Karena detektif itu sebenarnya sudah ada di sini."   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD