Belum bisa move-on

1163 Words
Nabila melingkarkan tangannya di lengan Radit dan melangkah bersama menuju ke dalam kelas. Pandangan para mahasiswa dan mahasiswi disana pun tertuju pada mereka. “Ekhem! ciyee yang baru jadian.” goda agus yang berada di depan mereka. “Ck, paan sih!” decak kesal Radit yang tidak menyukai candaan Agus. “Jadi, kapan nih lo mau nepatin janji lo buat nraktir anak-anak?” Radit menghela nafas kasar, “Ntar aja deh!” Pandangan Agus pun beralih ke arah seorang wanita cantik yang berjalan sedikit jauh dari mereka. Senyuman berkembang di wajahnya, Radit mengerutkan dahinya heran. ia kemudian menatap ke arah pandangan Agus. merasa kesal, reflek ia menoyor kepalanya. “Liatin apaan lo?” ucap kesal Radit yang melihat Agus menatap Elvira tanpa berkedip. “Kenapa? hak gue dong! Toh bu elvira juga single! Haa.. kayaknya gue mendingan gercep sebelum ada yang nikung gue.” ucap Agus seraya berjalan menghampiri Elvira. Terlihat raut wajah kesal Radit mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Agus. ‘Bisa-bisanya dia ngomong gitu! dia gak tau, Elvira itu bini gua!’ batinnya “Dit?” panggilan Nabila membuyarkan lamunannya. “Hm?” “Ayo kita masuk!” Radit terdiam sejenak melihat ke arah Agus yang menghentikan langkah Elvira. “Ayok!” ucap Nabila seraya menarik lengan Radit. Radit pun mengangguk pasrah dan mengikuti langkah Nabila. *** “Pagi bu!” sapa agus yang tiba-tiba ada di hadapannya. “Pagi! kenapa kamu masih disini? masuk sana!” “Jutek amat sih Bu! jangan jutek-jutek dong, ntar saya makin jatuh cinta sama ibu.” goda Agus Elvira mengerutkan dahinya, “Kamu sadar apa yang kamu bilang?” “Saya sadar Bu! sesadar-sadarnya.” Elvira yang merasa malas meladeni Agus pun melangkah melewatinya begitu saja. Agus menunjukkan senyuman di ujung bibirnya, “Benar-benar wanita yang menarik!” gumamnya Agus pun melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas. *** “Selamat pagi semuanya!” sapa Elvira kepada seluruh siswa. “Pagi Bu!” jawab kompak mereka Tanpa sengaja pandangan Elvira menangkap Nabila yang masih bergelayut manja di lengan Radit. Ia terlihat tidak nyaman. “Ekhem, Emm.. Nabila bisakah anda melepas rangkulan anda?” pinta El “Kenapa Bu? Dia kan pacar saya, jadi wajar kan?” ucap Nabila membela diri. “Ini kelas, dan gunanya untuk belajar bukan untuk pacaran!” “Ibu kayak gak pernah muda aja, apa ibu gak pernah ngerasain pacaran?” “Hush! Kamu gak boleh ngomong gak sopan gitu sama dosen kita!” ucapan tegas Radit membuat Nabila menundukkan pandangannya dan melepas pegangannya. Elvira yang tidak ingin memperpanjang masalah pun memutuskan untuk melanjutkan pembelajaran. *** Setelah pulang ke rumah, Radit yang baru saja tiba, disambut dengan wajah dingin Elvira. “Baru balik?” tanyanya sinis “Hm,” jawab singkat Radit. “Gue pengen ngomong sama Lo!” ucapnya tanpa menatap ke arahnya Radit kemudian duduk berhadapan dengan Elvira. “Ada apa?” Elvira menatap tajam Radit, “Lo pacaran sama Nabila?” tanya El langsung Radit pun mengangguk mengiyakan, “Kenapa gak minta persetujuan dari gue?” Radit mengerutkan dahinya “Kenapa? Emang harus ya? Jangan-jangan lo cemburu?” “Huh! bisa-bisanya lo bilang gue cemburu? lo gak baca surat perjanjian kita?” Radit berpikir sejenak, “Gue gak tau,” “Di dalam surat itu ditulis, kalo siapapun diantara kita. Jika memiliki pacar harus ngasih tau satu sama lain. supaya kedepannya kita punya persiapan untuk bisa menjawab pertanyaan, orang-orang yang tau pernikahan ini.” Radit menghela nafas panjang, “Ribet banget si! Ya udahlah, yang penting lo udah tau sekarang, beres kan?” Radit yang merasa kesal pun melangkah pergi menuju ke kamarnya. Elvira menitikkan air mata, “Huh, satu darah yang memiliki sifat yang sama!” ucap kesalnya. *** Hari pun berganti, Seorang pemuda yang merasa bosan di akhir pekannya, memutuskan untuk mengunjungi rumah seorang teman. “Bosen banget gue! Lebih baik maen ke rumah si Radit, seenggaknya disana gue bisa nanya-nanya dan curhat soal cara naklukin bu Elvira.” Setibanya di depan rumah, “Eh, Itu kan mobilnya Bu elvira? koq nangkring di depan rumah si Radit sepagi ini sih?” tanyanya penasaran. Agus memutuskan untuk menunggu, dan memperhatikan apa yang terjadi. Tak lama kemudian, Elvira keluar dari rumah dengan menggunakan setelan piyama seraya membawa semprotan pembersih mobil. “Lho koq? Bu elvira kenapa keluar dari rumah Radit pake baju tidur? apa dia nginep disana? trus dia ngapain bersihin mobilnya disitu?” Agus yang bertanya-tanya pun memutuskan untuk terus mengawasi rumah tersebut. “Kurang ajar! pasti ada yang gak beres!” gumamnya. Tak lama, Radit pun keluar rumah dengan hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut. “Rajin banget lo, sepagi ini udah nyuci mobil!” ucap Radit Namun, ucapannya itu tidak mendapat jawaban dari Elvira. “Lo masih ngambek gara-gara kemaren?” Tetap tidak ada jawaban dari Elvira. Radit yang merasa kesal karena tidak mendapatkan tanggapan dari Elvira pun, dengan jahilnya ia mengambil selang air yang terletak tidak jauh darinya, Ia kemudian menyiramkan nya ke arah Elvira. Hingga Elvira berteriak karena terkejut. “Radit!!” teriak Elvira. Elvira yang tidak mau kalah pun, ikut menyemprotkan pembersih yang ada di tangannya. Tawa mereka pun memecah keheningan. “Mereka sedekat itu?” gumam Agus yang masih memperhatikan. Ia kemudian memutuskan untuk pergi dari sana. Agus memukul-mukul setir mobil miliknya, “Kurang ajar!! sebenarnya, apa sih hubungan mereka? koq mereka sedeket itu? gue harus menyelidiki ini! Ini gak bisa dibiarin, gue lah yang harusnya ada disisi bu Elvira! bukan si buaya Radit!!” ucap kesalnya. *** Elvira selesai mengganti baju nya dan hendak menyiapkan makanan, “Ah laper banget!” ucapnya pada diri sendiri Elvira pun mengambil beberapa bahan makanan untuk dimasak. “Lo mau masak apa?” tanya Radit seraya menghampiri Elvira. “Masak seadanya!” “Em, gimana kalau kita makan diluar?” ajak Radit “Lo gak takut ketahuan?” “Yaa.. Kalau ketahuan, bilang aja kita gak sengaja ketemu.” “Gitu ya? oke deh!” Elvira langsung menuju ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. “Daripada gue dijadiin eksperimen masakan lo!” ucap Radit pelan. Tak memerlukan waktu yang lama, Elvira dan Raditya pun langsung pergi menuju ke restoran. “Lo mau pesen apa?” tanya Elvira seraya melihat buku menu. “Emm, Gue makan spagethi aja deh.” “Oke, kalau gitu samain aja!” ucapnya pada writers “Baik Nona, silahkan ditunggu!” Pelayan pun melangkah pergi. Radit menatap sekitar restoran, “Tempatnya cukup enak, lo tau darimana tempat ini?” tanya Radit “Emm, ini tempat yang seri g gue datengin sama Raka dulu.” raut wajah sendu Elvira pun terlihat “Emm, Ya.. ya udahlah! itu kan cuman masa lalu! gak perlu diinget-inget lagi.” “Gue selalu berharap, apa yang menimpa gue sama Raka itu cuman mimpi. atau hanya sebuah kesalahan, gue masih berharap Raka dateng nemuin gue, minta maaf ke gue, dan memperbaiki semuanya dari awal. dan Kita gak perlu kejebak sama pernikahan ini, dan mungkin, lo juga bakalan bahagia sama Nabila.” terang Elvira dengan mata berkaca-kaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD