Ketahuan

1235 Words
“Balik sana ke kamar lo!” titah El “Iya.. iya, tapi nanti kalau mereka balik lagi buat ngecek, jangan nyariin gue ya!” Ucapan Radit membuat Elvira berpikir sejenak. “Eh, Tunggu!” Radit menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya, kemudian berbalik “Apa?” “ya udah, lo boleh tidur disini. Tapi jangan macam2!” “Huh, lagian siapa yang mau macem-macem? geer amat!” Radit kemudian berbaring diatas tempat tidur. Dengan raut wajah kesalnya, Elvira kembali ke atas tempat tidur. Ia menjadikan bantal guling sebagai pemisah. Hari pun berganti, Mereka tengah menikmati sarapan pagi bersama di meja makan. “Oya, Radit sama El, nanti malam bisa mewakili mama sama papa di pesta ulang tahun perusahaan temen papa, ya?” “Gak ah pah! Radit kan gak ngerti sama hal-hal kayak gitu!” “Sekalian kamu belajar Dit! Lagian kamu cuman menghadiri aja. bukan mau ngisi sambutan.” “Tapi pah, biasanya juga kan Raka yang…” ucapan Radit terhenti saat ia menyadari jika Raka memang sudah tidak bersama dengan mereka. “Iya, seharusnya kaka mu lah yang melakukan semuanya. “ “Em, Maaf pah.” “Gapapa,” Papa melihat ke arah mama, “Mah, sepertinya keberangkatan kita ke paris harus ditunda.” Radit yang mendengarkannya pun merasa bersalah. “Maaf pah, Em.. Radit bersedia datang ke pesta itu ko.” Papa tersenyum senang mendengar ucapan Radit. “Makasih ya Nak!” ucap mama seraya melemparkan senyuman. *** Malam hari pun tiba, Radit dan Elvira tengah bersiap untuk pergi ke pesta. Ia kemudian menunggu Elvira di dalam mobil. “Lama banget” gerutunya Beberapa kali Radit melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. “Udah jam berapa ini? kenapa lama sekali?” gumamnya. Elvira pun muncul dengan mengenakan dress berwarna hitam sedikit terbuka. Hingga membuat Radit keluar dari mobilnya. “Lo mau pake baju kayak gini ke pesta?” “Memangnya kenapa?” tanya Elvira heran “Ganti!” “Kenapa harus diganti?” “Apa lo gak kapok dengan kejadian andrew waktu itu? ganti! atau kita gak usah pergi sekalian!” Elvira pun merasa kesal, Ia menghentakkan kakinya seraya melangkah pergi menuju ke kamarnya. “Benar-benar menyebalkan!” gumamnya. Tak lama kemudian, Elvira kembali dengan menggunakan gaun yang berbeda. Radit membolak melihat penampilan Elvira yang menurutnya sangat cantik. “Kenapa?” tanya Elvira yang mulai risih melihat kelakuan Radit. “Gapapa! Ayo, kita berangkat!” Mereka pun berangkat bersama, *** Setibanya di tempat pesta, Mereka menyapa teman-teman papa disana, “Ah, aku tidak menyangka jika aku akan kedatangan pengantin baru.” ucap salah seorang tamu yang merupakan teman papa seraya tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Ah, Hallo Tuan Jimmy.” ucap Radit seraya menyambut tangan orang itu. “Bagaimana kabar kalian?” “Kami Baik Tuan.” “Baiklah, silahkan nikmati pestanya.” “Terima kasih tuan!” Setelah kepergian yang empunya pesta. “Apa kamu mau aku bawakan minuman?” ucap Radit menawarkan. “Hm.” Setelah kepergian Radit, tiba-tiba seseorang menghampirinya. “Hallo,” Elvira membalikkan tubuhnya, “Oh, Hallo.” “Bu Elvira diundang kesini juga?” tanya Agus yang rupanya ikut hadir. “Oh, I-iya.” Agus mengangguk-anggukkan kepalanya, “Oya, Ini!” Agus menyodorkan segelas minuman air mineral. Elvira pun meraihnya, “Terima kasih.” “Ibu sendirian kesini?” “Oh? I-iya, saya sendirian.” jawab singkat El. Agus tersenyum, “Itu artinya, aku bisa menemanimu disini. Karena mengikuti obrolan orang tua itu membosankan.” Elvira pun tersenyum kaku. “Ngomong-ngomong, Malam ini kamu kelihatan sangat cantik.” “Gus, kamu gak lagi amnesia kan?” Agus mengerutkan dahinya, “Ya gaklah! Kenapa ngomong gitu?” “Saya ini dosen kamu loh, harusnya kamu manggil Ibu, bukan kamu.” “Ini kan diluar kampus, jadi bebas dong? Lagian, aku pengen manggil Ibu nya nanti aja, setelah kamu jadi ibu dari anak-anakku.” “Kamu harus jaga sikap kamu.” “Ya.. gimana mau jaga sikap? orang kamu nya aja cantiknya itu gak manusiawi.” Elvira menggeleng-gelengkan kepalanya, “Lebih baik, kamu balik ke orang tua kamu!” Dari kejauhan, Radit melihat Agus yang tengah mengobrol bersama Elvira. Raut wajahnya pun berubah kesal, Ia langsung menghampiri mereka. “Ayo, kita pulang!” ucap Radit seraya menarik tangan Elvira. Namun Agus langsung mencegahnya dengan memegang tangan El yang satunya. “gak! Elvira akan tetap disini sama gue!” “lo gak punya hak! Jadi, jangan ikut campur! dan jangan panggil dia dengan cara yang gak sopan kayak gitu!” ucap kesal Radit. Radit kemudian menarik tangan Elvira pergi dari sana. Raut wajah kesal Agus pun tidak bisa disembunyikan. “Apa-apaan sih si Radit?!” ucap kesal Agus seraya menatap mereka berdua yang melangkah semakin jauh. *** “Lo ngapain tiba-tiba narik gue?” ucap Elvira seraya menghempaskan tangan Radit. “Kenapa? ini udah jadi kewajiban gue buat jagain lo!” Elvira melanjutkan langkahnya tanpa menjawab ucapan Radit. *** Setelah pesta selesai, Agus yang merasa penasaran dengan kehadiran Elvira dan Radit di pesta itu pun mencoba untuk menanyakannya pada sang ayah yang tengah duduk santai di sofa dengan segelas kopi panas diatas mejanya. “Pih?” “Hm?” “Agus mau nanya sesuatu, boleh?” “Boleh, Mau nanya apaan?” “Em, Papih tau sama dua orang yang keliatan seumuran sama Agus di pesta tadi?” Papih pun berpikir, “Oooh, maksud kamu Raditya dan Elvira?” “Iya yang itu pih, Eh.. Papih kenal?” “Ya kenal lah, Papih kan temen ayah mereka. Papih juga dateng ke acara nikahan mereka.” Degh Kedua bola mata Agus membulat sempurna, Ia sangat terkejut dengan ucapan papihnya. “A-apa? N-nikah? Maksud papih? Raditya sama Elvira udah nikah?” Papih menganggukkan kepalanya. “Iya.” Agus syok mendengar kenyataan tersebut, ‘Jadi, yang gue lihat kemarin? trus selama ini mereka sebenarnya udah nikah?’ batin Agus Agus pun pergi ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya dengan cukup keras, hingga membuat semua orang terkejut. Tangis agus pun pecah, Ia tidak menyangka jika wanita yang sangat ia cintai telah dimiliki oleh sahabatnya sendiri. Begitu marahnya ia, hingga ia menghancurkan semua barang yang berada di sekitarnya. Hingga poto-poto Elvira yang terpajang di kamarnya pun ia robek satu persatu. “b******k!! Dasar Radit sialaann!!” teriaknya seperti orang yang kehilangan akal. Agus jatuh hati pada Elvira sejak pertama kali masuk ke kampus, sejak itu ia selalu diam-diam mengambil potret Elvira dan memajang poto tersebut di kamarnya. Ia berniat untuk menghabiskan hidupnya bersama Elvira setelah ia selesai kuliah. Namun, kenyataan yang baru saja ia ketahui membuatnya sangat kecewa. “Raditttt!!!” teriaknya. Prang Ia memecahkan sebuah frame foto berisi foto dirinya bersama dengan Radit. Agus memegang erat foto Elvira, “Gue gak bakalan ngebiarin, rumah tangga kalian bertahan! gue bakalan ngelakuin segala cara untuk hancurin rumah tangga kalian!” ucap marah Agus. *** Hari pun berganti, Seperti biasa Radit diturunkan di tempat yang sedikit jauh dari kampus. “Sekali-kali lah, biarin gue yang bawa mobil.” rengek Radit Elvira menghela nafas kasar, “Iya, oke! lo boleh bawa besok.” “Beneran?” Elvira mengangguk seraya tersenyum tipis. “Yess!! Makasih istriku!” ucap Radit seraya mencubit kedua pipinya. Elvira pun menepisnya, “Sekali lagi lo lakuin ini, gue bakalan biarin lo berangkat jalan kaki!” “Iya, sorry..sorry!” Elvira pun melajukan kendaraannya meninggalkan Radit sendirian yang terus tersenyum ke arahnya. Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap sinis pada mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD