Dag dig dug

1079 Words
“Pagi sayang!” sapa seseorang yang tiba-tiba mengaitkan tangannya di lengan Radit. “Eh, kamu Bil! Aku pikir siapa.” Nabila mengerutkan dahinya, “Emang kamu pikir siapa?” “Gak koq.” “Oya, Selama beberapa hari kita jadian. Kamu ko jarang banget telpon aku atau kirim pesan ke aku? Yaa, sebatas nanyain udah makan apa belum aja, kamu gak pernah.” “Emang harus ya?” Jawaban Radit membuat Nabila kesal, hingga ia melepaskan pegangan tangannya. “Dasar cowok gak peka!” Nabila kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kelas. “Lah? salah gue apaan?” Radit menggeleng-gelengkan kepalanya, Ia kemudian melanjutkan langkahnya. Di dalam kelas, Agus melihat raut wajah kesal Nabila pada Radit, “Cewek lo kenapa?” tanya Agus berbasa-basi Radit menghela nafas kasar “Gue gak tau, dia cuman protes karena gue jarang telpon atau chat dia.” “Oh, kalau gue jadi Nabila, gue juga bakalan ngamuk kayak dia.” “Lah kenapa? salahnya apaan? Kalau soal makan gitu-gitu kayaknya gak perlu diingetin. kalau dia laper kan dia bisa langsung makan sendiri.” Agus menepuk jidatnya, “Cowok kayak gini jadi suaminya Elvira, malang banget nasib kamu El.” gumam Agus “Lo ngomong apaan?” tanya Radit yang melihat bibir Agus seperti berbicara sesuatu. “Gak!” Radit terduduk lemas melihat Nabila yang masih memasang raut wajah masamnya. Jam pelajaran pun dimulai, Ditengah pembelajaran, Radit meminta izin untuk keluar kelas. Ia memutuskan untuk mencari udara segar di taman kampus. Ia membaringkan tubuhnya di salah satu kursi kayu panjang yang ada disana. dan menjadikan beberapa buku sebagai tumpuan kepalanya. “Susah juga buat mengerti cewek.” gumamnya Tanpa terasa perlahan matanya pun terpejam karena perasaan nyaman dari semilir angin yang menerpa dirinya. Dilain sisi, Elvira merasa aneh karena Raditya yang tidak kunjung kembali ke kelas, setelah pembelajaran selesai, Elvira memutuskan untuk mencari Radit. “Tuh anak kemana ya? Tiba-tiba ngilang.” gerutu El Tanpa sengaja dari kejauhan ia melihat sesosok mirip Radit yang tengah tertidur di atas bangku. Elvira kemudian menghampirinya, “Radit?” panggilnya Namun, panggilannya itu tidak didengar oleh Radit. Merasa kesal, Ia kemudian menarik buku yang menjadi tumpuan kepala Radit dan menyebabkan kepalanya membentur bangku. Blugh “Aww!” pekiknya Radit langsung terbangun dari tidurnya, Ia memegangi kepala bagian belakang yang terasa sakit. “Lo apa-apaan sih?” ucap marah Radit “Denger! Disini, gue dosen lo! Jadi, lo harus ikutin omongan gue! Lo ngapain disini? kenapa lo gak masuk kelas?” tanya El seraya melipat kedua tangannya kesal. “Ckk, Lo gak tau gue lagi pusing?” decak kesal Radit “Pusing kenapa?” “Nabila marah sama gue.” “Kenapa?” Radit menarik nafas panjang, “Gue gak tau! Gak ngerti juga!” “Hmmm, pantesan aja.. Cewek banyak yang gak betah sama lo, lo itu bukan tipe cowok yang peka!” Radit menatap tajam Elvira “Maksud lo apaan?” “Cewek itu kalau udah ngambek, pengen dibujukin pengen dimanjain, bukannya didiemin! makanya, lo tuh harus banyak belajar dari ka...” ucapan Elvira terhenti seketika saat ia mengingat Raka. Raut wajahnya berubah sendu, Radit pun mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hmm, Lo bener! gue harus belajar untuk lebih peka sama perasaan cewek. Tapi selain itu, yang paling penting gue harus belajar lebih dulu tentang apa itu ketulusan.” Radit pun mengelus lembut kepala Elvira dan melangkah pergi, meninggalkan Elvira yang mematung. Ia memegang kepalanya dan menatap Radit yang melangkah menjauh darinya. Sementara itu, Agus yang menyaksikan dari jauh pun menatap kesal dengan pemandangan yang ia lihat di hadapannya. “Dasar kurang ajar!” ucap Agus seraya menghantamkan pukulan ke arah pohon yang berada disampingnya. *** Di rumah, Elvira melihat Radit yang tengah melamun menatap ke arah luar jendela, Ia kemudian menghampirinya. “Masih mikirin Nabila?” Radit berbalik dan melihat ke arah Elvira, Ia kemudian menganggukkan kepalanya pelan. “Lo udah nyoba buat minta maaf sama dia?” tanya Elvira seraya duduk disamping Radit. “Udah, Tapi ya gitu.” Elvira tersenyum tipis, “Saran gue, mendingan lo beli sesuatu buat permintaan maaf.” “Contohnya?” “Emm, mungkin dengan beliin dia perhiasan atau tas atau makanan kesukaan dia.” “Masalahnya, gue gak tau kesukaan dia tuh apa,” “Apa? Wah parah! masa pacar sendiri gak tau apa kesukaannya.” “Lo sendiri juga sama, lo bini gue tapi gak tau apa-apa soal gue!” Elvira memutarkan kedua bola matanya. “Kasusnya beda dodol!” “Beda apanya?” “Lo kan cinta sama Nabila, sedangkan hubungan kita kan cuman pura-pura.” Raditya pun hanya tersenyum tipis. Merasa gemas dengan sikap Radit, Elvira memutuskan untuk membawa Radit ke suatu tempat. “Ayo ikut gue!” ucapnya seraya menarik tangan Radit “Eh, kita mau kemana?” “Gak usah banyak tanya!” Hampir setengah jam perjalanan, mereka pun tiba di sebuah pusat perbelanjaan. “Ngapain kita kesini?” tanya Radit heran “Lo mau dimaafin sama Nabila gak?” Ia pun mengangguk. “Ya udah, ayo!” Elvira menarik tangan Radit dan masuk ke dalam sebuah toko perhiasan. “Sekarang, lo pilih perhiasan yang sesuai dengan selera Nabila. Kasih ke dia dengan cara yang romantis dijamin lo pasti langsung baikan sama dia!” “Mana yang harus gue pilih?” tanya Radit seraya menatap beberapa jenis perhiasan yang berada di dalam etalase. Elvira pun memperhatikan satu persatu perhiasan yang berada di dalam etalase tersebut, hingga tatapannya tertuju pada sebuah cincin berwarna silver sederhana dengan ukiran nama di dalamnya. “Tolong yang ini!” pinta El Pelayan pun mengambil cincin yang dimaksud oleh El. “Waah, anda sangat jeli sekali Nona. pilihan anda sangat tepat! cincin ini memang sangat unik, dan cincin ini dibuat khusus oleh toko kami. dan kami hanya membuat ini dalam jumlah yang terbatas.” terang si pelayan Radit pun mengambil cincin tersebut dan memperhatikannya dengan seksama. “Kayaknya, ada tempat kosong di dalamnya?” “Benar Tuan! Itu adalah tempat untuk menampung cairan berwarna merah dari pasangan yang akan mengenakan cincin ini.” Radit pun merasa merinding, “Hiii, serem.” ucap Radit berigidik Elvira pun tertawa melihat tingkah Radit. “Kamu takut cuman karena itu?” tanya El menyepelekan “Gue gak takut! Cuman selera lo kayaknya gak beres deh?” “Maksudnya?” “Yang bener aja, masa cincin harus di isi sama cairan merah itu? Apa gak bisa diganti sama air gitu atau sama gas sekalian?” “Ya ampun! dasar ndeso!” umpatnya Elvira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD