Kembalinya Raka

1247 Words
“Ya udah mbak, ini aja satu.” ucap El seraya menyodorkan cincin tersebut pada pelayan toko. namun belum sempat diambil oleh si pelayan toko, Radit langsung merebutnya dari tangan El. “Enggak.. enggak!!” “Lho? kenapa?” tanya heran El “Gue yakin, selera nabila terlalu normal untuk sebuah cincin.” Radit menatap salah satu cincin di etalase sekilas. “Maksud lo?” tanpa menjawab pertanyaan Elvira, Radit langsung menunjuk sebuah cincin begitu saja. “Yang ini aja mbak!” ia kemudian menunjuk sebuah cincin sederhana “Baik Tuan.” pelayan pun mengambil cincin tersebut. Terdengar suara helaan nafas kasar Elvira, “Terserah lo deh!” ia kemudian melangkah pergi keluar dari toko perhiasan tersebut dengan perasaan kesal. Radit menatap lekat cincin yang ada di tangannya. “Mbak, tolong yang ini juga dibungkus.” “Baik Tuan!” *** “Apa-apaan si Radit? dia sama sekali gak tau soal selera Cewek! bisa-bisanya dia bilang kalau selera gue gak normal!” Gerutunya sepanjang jalan. Elvira terus melangkahkan kakinya tanpa memperhatikan jalan yang ada di depannya, hingga tanpa sengaja ia menabrak seseorang. Brugh Elvira pun jatuh tersungkur di atas lantai. “Oh, M-maaf!” Terdengar suara yang sudah tidak asing untuk Elvira, dan seketika membuatnya syok saat ia menyadari sosok yang kini ada di hadapannya. “K-kamu?” ucapnya terbata-bata. Terlihat senyuman tipis yang terukir di wajahnya. Ia kemudian membungkuk dan mengulurkan tangannya pada Elvira. Dengan ragu, Elvira menyambut uluran tangan pria itu. “Kamu gak apa-apa?” tanya Raka seraya melemparkan senyuman manisnya Elvira hanya menggelengkan kepalanya “Gimana kabar kamu?” tanya Raka “B-baik, kamu sendiri gimana?” “Ya, ginilah! kebetulan aku lagi ada event di sini. kamu sendirian?” tanya Raka seraya memperhatikan sekitar. “A-aku tadi sama temenku,” “Oh.” “Kamu sendiri? Mana Danisa?” Raut wajah Raka pun berubah sendu “Kita udah gak sama-sama lagi,” “Lho? kenapa?” “Ya, karena kita udah gak cocok lagi.” Elvira mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ngomong-ngomong, dimana Radit?” “Ha?” Raka tersenyum kecil, “Iya, Radit! suami kamu?” “Emm, dia lagi…..” ucapan Elvira terpotong oleh ucapan Raka. “Gak nyangka ya, Kamu sekarang malah jadi adik ipar aku! Seandainya aja dulu aku gak tergoda sama Danisa, mungkin kita udah nikah. dan yang jadi suami kamu adalah aku bukan Radit.” potong Raka Kedua mata Elvira berkaca-kaca, “Bukannya kamu bilang, kalau kamu gak pernah cinta sama aku?” tanya Elvira dengan airmata yang sudah memenuhi kedua bola matanya. Raka memegang wajah Elvira dan menatapnya dalam. “Itu hanya pembelaan secara personalku aja, saat itu aku hanya emosi dan dibutakan oleh kekhilafanku. makanya aku ngomong kayak gitu, padahal sebenarnya semua itu berbanding terbalik dengan yang aku rasain. Maaf.. udah bikin kamu ngerasain sesakit itu.” Elvira pun melepas pegangan tangan Raka. “Segampang itu?” Raka menundukkan pandangannya, “Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku gak akan pernah mengalihkan pandanganku dari kamu.” Elvira terdiam, “Apa aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya?” Raka menatap lekat Elvira Elvira menggelengkan kepalanya, “Kamu nyadar, aku ini siapa? aku sekarang adik ipar kamu.” “Iya aku tau! Tapi yang seharusnya nikah sama kamu itu bukan Radit tapi aku. Karena dari awal, kamu milikku.” “Gila kamu!” Elvira pun melangkah pergi meninggalkan Raka. Buliran bening itu pun semakin deras mengalir dan membasahi pipi Elvira. ia menghapus kasar air matanya. *** Setibanya di rumah, Radit melihat Elvira yang tengah duduk melamun di dekat kolam, Ia kemudian menghampirinya. “El?” panggilnya Namun, saat ia mendekat ia baru menyadari jika kedua mata El basah dan sembab. “Lo nangis?” Radit terkejut melihat kondisi El. “Gue gapapa.” El mengusap kasar airmatanya. “Lo kenapa? apa terjadi sesuatu waktu di perjalanan pulang tadi?” tanya Radit khawatir “Gak!” El hendak melangkah pergi namun Radit mencegahnya dengan memegang lengannya. “Gue tau, gue gak bisa bantu lo! Tapi lo bisa cerita apapun ke gue. Walau gimanapun, gue tetep suami lo.” Radit menatap lekat Elvira Elvira melepas pegangan Radit, “Gue cuman butuh waktu buat sendiri.” Ia kemudian melangkah pergi ke kamarnya, “El kenapa ya?” gumamnya. Hari pun berganti, Sepagi ini, suara bel pintu kedua pengantin baru ini pun terdengar. “Siapa ya, pagi-pagi gini?” dengan wajah yang masih mengantuk, Radit berjalan menuju ke arah pintu. Ketika Radit membuka kan pintu, Kedua matanya seketika membulat sempurna saat melihat kedua orang tuanya berdiri di hadapannya dengan Raka yang berada di belakang mereka. “Mama, papa? silahkan masuk!” dengan raut wajah heran radit menatap mereka. Kedua orang tua Radit pun melangkah masuk ke dalam rumah, diikuti oleh langkah Raka. Dengan raut wajah kesal, Radit tidak bisa menyembunyikan perasaan marahnya terhadap sang kakak. “Ngapain Raka disini?” ucap kesal Radit. “Jangan gitu, Nak! walau gimana juga, dia itu tetap kakak kandung kamu.” ucap Mama Radit. “Tapi Mah, dia itu yang udah bikin masalah di keluarga! sampai-sampai jadi Radit yang harus nikahin pacar dia!” “Dit, Kakak kamu udah minta maaf sama mama papa, dan dia kesini pengen minta maaf juga sama kamu dan Elvira.” terang papa “Gak! Emang segampang itu apa? Kemaren-kemaren kemana lo? ampe bikin nyokap nangis dan mohon-mohon ke gue buat nyelametin nama baik keluarga!” ucap Radit seraya menatap tajam Raka. “Sorry Dit! Gue tau, Gue salah! Kalau memang lo ngerasa keberatan sama pernikahan ini, gue bakalan nikahin El setelah lo urus perceraian lo sama El.” “Apa?” Syok Radit “Gampang banget lo ngomong? lo pikir, pernikahan itu buat main-main? yang bisa tinggal kawin cerai gitu aja?” ucap kesal Radit. Tiba-tiba, “Raka?” ucap El yang melihat Raka dari lantai dua. Ia kemudian melangkah turun. “Kamu ngapain disini?” tanya El heran “Raka kesini buat minta maaf sama kalian.” ucap papa yang menghampiri mereka. “Minta maaf?” “Iya Nak! Papa harap kamu bisa maafin Raka.” “Gak perlu El! Gak semua kesalahan butuh dimaafkan!” ucap tegas Radit “Dit! Kamu jangan provokasi El kayak gitu dong!” papa menatap tajam Radit “Pah! papa tau kan, kesalahan yang dilakukan Raka itu bukan kesalahan sepele?” “Iya papa tau! tapi bukan berarti, kakak kamu gak punya hak untuk dapetin kesempatan kedua! Semua orang punya hak untuk itu!” Radit yang merasa kesal pun lebih memilih untuk melangkah pergi. “Dit! Kamu mau kemana?” teriak mama Tanpa menjawab pertanyaan sang mama, Radit memilih untuk terus melangkah pergi menuju kamarnya. Ia langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur dan menatap ke arah langit-langit kamarnya. ‘Apa pernikahan gue sama El cuman bakalan sampai sini ya?’ batin Radit Ia kemudian bangun dan duduk melamun, “Kenapa gue jadi khawatir pernikahan gue berakhir? bukannya malah bagus, gue jadi gak perlu menyembunyikan hubungan gue sama Nabila.” gumamnya Sementara itu, “El, sekali lagi aku minta maaf sama kamu.” “Aku udah maafin kamu, tapi untuk melupakan semua itu aku masih butuh waktu.” Raka menundukkan pandangannya, “Raka, yang terpenting kamu sudah mengakui kesalahanmu. sekarang, Elvira sudah jadi istri adikmu. Papa harap kamu bisa ikhlas nerima Elvira sebagai adik ipar kamu.” ujar Papa Raka mengangguk pelan seraya tersenyum tipis, ‘Liat aja, gue gak bakal biarin rumah tangga kalian berlangsung lama. Elvira dari awal tuh milik gue. dan radit gak punya hak sama sekali ngambil posisi gue!’ batinnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD