Kejadian konyol

1034 Words
Radit tiba didepan rumah Nabila, Ia kemudian turun dan membukakan pintu mobilnya. "Makasih." "Sama sama." Radit pun kemudian berlari masuk kedalam mobil. "Jadi, Kita mau nonton dimana?" tanya Radit. "Terserah kamu." "Baik, Ayo berangkat!" Radit pun melajukan kendaraannya. *** Setibanya di bioskop, "Oya, apa gak apa apa kamu pergi sama aku? Apa gak ada yang marah?" tanya Radit seraya tersenyum malu. "Gak ada yang berhak marah, karena aku gak punya siapa pun." Radit langsung menatap Nabila. "Kamu, mau gak jadi pacar aku?" Nabila tersenyum. "Tiba tiba?" Radit tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sebenarnya, aku udah lama suka sama kamu. Tapi belum ada waktu yang tepat buat ngungkapin." Nabila tertawa kecil, "Bikin aku yakin dulu," Ia kemudian melangkah pergi lebih dulu. Radit berpikir sejenak, kemudian tersenyum senang. "Apa itu artinya, aku punya kesempatan?" Radit berlari mengejar Nabila. Nabila hanya tertawa kecil melihat tingkah Radit. *** Mereka memutuskan untuk menonton film horor, film yang sangat ingin dihindari oleh Radit. 'Ngapain sih Nabila malah nonton film beginian?' batin Radit. Melihat reaksi Radit membuat Nabila merasa heran. "Kenapa? kamu takut?" tanya Nabila. "G-gak! Aku kan laki laki, gak mungkin takut!" ucap gugup Radit 'Kenapa sih, cewek suka sama film horor? heran, Apa mereka gak tau? Kalau itu gak baik buat kesehatan kejiwaan seseorang.' batin Radit. Nabila yang melihat raut wajah cemas Radit pun tersenyum, "Kamu kenapa? koq pucet?" "A-ah gak papa koq." Sepanjang film di tayangkan Radit hanya menutup matanya. Hingga terdengar suara sorak dari penonton yang menandakan jika film telah berakhir. Lampu bioskop pun mulai menyala, "Ayo dit!" Nabila melihat ke arah Radit yang ternyata masih memejamkan mata. "Dit?" Rupanya radit tertidur sepanjang film ditayangkan, Nabila pun tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya. "Radit?" Nabila mencoba membangunkan Radit dengan menggoyang goyangkan tubuhnya. Radit pun terbangun. "Iya? Kenapa?" Wajah Radit pun memerah menahan malu karena tertidur sepanjang film. "Sorry ya," "Gapapa, kayaknya aku salah milih film." "Gak koq, kamu gak salah! Aku bakalan ganti nonton kita, next time aku gak bakalan ketiduran." Nabila pun hanya tersenyum seraya kembali mengangguk anggukkan kepalanya. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Saat Radit tengah berjalan bersama dengan Nabila, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Raka sang kakak. "Kakak?" Raka bahkan tidak mau melihat ke arah Radit, Ia melewatinya begitu saja dengan menggandeng seorang gadis disampingnya. Merasa kesal, Radit menyusul langkah sang kakak. "Kak, Gue pengen ngomong sama lo!" "Gue gak mau," Raka kembali melewatinya. Radit kemudian menarik lengan sang kakak. "Kak! Dengerin gue kali ini aja!" Sang kakak menghempaskan kasar pegangan sang adik. "Lo ngapain sih, Hah? jawab Raka ketus "Kak, seenggaknya lo harus jelasin alasan lo ninggalin El, dan juga mama papa!" "Lo tuh cuman anak kecil yang gak ngerti apa apa!" "Gue emang gak ngerti apa apa! Tapi seenggaknya gue gak bersikap pengecut kayak lo! yang ngehindar dari masalah!" "Jaga mulut lo ya!" Rahang raka mulai mengeras, Ia terlihat sangat kesal dengan sikap Radit. "Ikut gue kak!" Radit menarik tangan Raka, Namun lagi lagi Raka melepas paksa genggaman Radit "Lepasin! Gue udah gak ada hubungan apa apa lagi sama kalian! Jadi, jangan ganggu hidup gue lagi." Raka melangkah pergi seraya menarik tangan Danisa untuk pergi dari sana. Nabila yang sedari tadi hanya memperhatikan pun menghampiri Radit. "Dia, siapa dit?" tanya Nabila penasaran "Dia kakak aku." jawab singkat Radit. "Ayo kita pulang, udah malam." Radit mengangguk. *** Setibanya di rumah, Radit kemudian merebahkan diri diatas sofa panjang yang berada di ruang keluarga, Ia melihat El yang turun dari atas dan mengenakan pakaian tidur yang terlihat transparan dari bawah sehingga membuat Radit langsung terbangun. "El?" Elvira berjalan menuju dapur seraya mengikat rambut panjangnya. Terlihat leher jenjang milik El yang membuat Radit menelan salivanya kasar. "Ya ampun, Kenapa dia keliatan bersinar malam ini?" gumamnya. Ia menatap Elvira yang tengah meneguk segelas air mineral. Radit menatapnya tanpa berkedip, dan membuat Elvira tersadar jika sejak tadi ada yang memperhatikannya. "Lo ngapain ngeliatin gue kayak gtu?" Suara el pun membuyarkan lamunannya. "Apaan? Gue gak apa apa!" El memutarkan kedua bola matanya. "Mana kunci mobil?" Radit kemudian melemparnya. "Lo udah isi bensinnya?" 'Aduh, gue lupa.' batin Radit. Melihat reaksi radit yang hanya diam, Elvira sudah bisa menebaknya. Ia kemudian menghampiri Radit dan membungkukkan badannya, Ia menatap tajam Radit dari dekat. "Lo pasti lupa kan?" Radit pun menganggukkan kepalanya pelan. Jantungnya berdegup kencang saat Elvira menatapnya begitu dekat. terlebih ia melihat kulit mulus milik Elvira. "S-sorry" ucap gugup Radit. Elvira kemudian melangkah pergi, "Dasar bocah." gumamnya Setelah Elvira pergi, Radit menghela nafas panjang. "Gilak! Jantung gue rasanya mau keluar dari tempatnya gara gara nenek sihir itu. Tapi, tadi itu..." Radit kemudian menampar pipinya beberapa kali. "Sadar Radit! Sadar!" ucapnya pada diri sendiri. Radit kemudian melangkah pergi ke kamarnya. *** Hari pun berganti, Terdengar suara alarm jam berbunyi "Aduh, ganggu aja ni jam!" ucap Radit dengan nada khas bangun tidur. Ia kemudian mematikan jam tersebut dan kembali tidur, namun tak berselang lama, terdengar suara ketukan pintu cukup keras dari arah luar pintu kamarnya. "Ck, Siapa lagi sih?" decak kesal Radit Tanpa disadari, Radit yang terbiasa tidak mengenakan pakaian saat tidur dan hanya memakai celana pendek, berjalan menuju pintu. Ia kemudian membuka pintu tersebut. Ia melihat Elvira yang sudah berdiri di hadapannya dengan pakaian yang rapih. Elvira melongo melihat penampilan Radit yag hanya mengenakan celana pendek bermotif bunga bunga. Ide jahilnya pun muncul, Elvira kemudian bersiul, dan membuat Radit tersadar. Karena merasa malu, ia langsung menutup pintu kamarnya. "Haa, Dasar bodoh!" Radit merutuki dirinya sendiri. Ia kemudian bergegas mengganti pakaiannya, dan menghampiri Elvira yang tengah menikmati sarapan. "Lain kali, gak usah ke kamar gue." ucap ketus Radit. "Memangnya kenapa? gue cuman melakukan apa yang papa dan mama minta, yaitu membangunkan lo setiap pagi. lo kan termasuk orang yang sulit untuk dibangunkan." "Tapi lo bisa minta bibi buat bangunin gue." "Lo tau kan, Bibi jam berapa datang ke rumah?" Radit pun terdiam. "Gue udah selesai, gue berangkat duluan. Lo naik taksi aja." Baru beberapa langkah, Elvira kemudian menghentikan langkahnya. Ia melihat ke arah Radit. "Radit?" panggil El Radit pun melihat ke arahnya, tiba tiba El kembali bersiul seraya melihat ke arah bawah, Ia tertawa dan melangkah pergi. Sedangkan Radit menutupi bagian atas dan bawahnya dengan kedua tangannya. "Apa apaan dia itu? kurang asem!!" teriaknya Sesaat dia terdiam, "Eh, Apa dia barusan ketawa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD