Arya ingin rujuk

1371 Words
"Jadi, anda ingin baju seperti apa?" tanya Dira menatap Laura. "Saya ingin kebaya dengan desain yang modern. Dan saya mau anda sendiri yang mendesain kebayanya." "Baiklah, saya akan segera mendesainnya. Mungkin dua hari ke depan saya akan menghubungi anda kembali." "Baiklah, saya kira tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Silahkan keluar, karena saya juga masih mempunyai urusan," usir Dira halus, saat melihat Laura masih tetap saja betah berada di ruangannya ini. "Aku ingin membicarakan sesuatu. Ini bukan soal pekerjaan." Dira menatap Laura, seolah bertanya apa lagi yang ingin di bicarakan. "Jangan pernah dekati suami saya lagi!" ujar Laura sinis setelah itu. "Saya tidak pernah mendekati suami kamu," sanggah Dira dengan halus. Dia tidak mau membuat keributan di butiknya sendiri. "Nggak usah bohong! Nyatanya, kemarin Mas Arya datang ke rumah kamu, kan? Tolong, jangan jadi pelakor dalam rumah tangga kami!" Dira sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, saat kata 'pelakor' keluar dari mulut Laura. "Makanya, jaga suaminya agar tidak kelayapan ke rumah saya. Saya sendiri tidak minat untuk berhubungan lagi dengan barang bekas!" ujar Dira sarkas, dia emosi namun masih tetap bisa menjaga intonasi suaranya. "Jika sampai kamu mendekati Mas Arya lagi, maka aku tidak akan tinggal diam! Aku akan menghancurkan kehidupan kamu!" ancam Laura yang membuat Dira terkekeh. "Kamu mengancam saya? Percuma! Saya tidak takut, saya bukan lagi Dira yang lemah. Dan satu lagi, saya tidak pernah mendekati suami kamu, suami kamu yang akhir-akhir ini selalu mengejar saya. Mungkin dia tidak bisa move on dari saya," ujar Dira mengejek. Sepertinya, Laura tidak terima dengan ucapan Dira mengenai Arya yang gagal move on itu. Terbukti, nafas Laura sudah memburu, mungkin sebentar lagi amarahnya akan meledak. "Mas Arya tidak akan mendekati kamu, kalau kamu tidak caper pada Mas Arya! Aku tidak akan membiarkan kamu merebut Mas Arya dariku!" ujarnya dengan berapi-api. Laura memang tidak pandai menyembunyikan amarahnya dia gampang terpancing amarah yang dia buat sendiri. "Stop! Saya tidak pernah merendahkan harga diri saya untuk caper pada suami kamu! Saya bukan kamu, yang tanpa rasa bersalah menggoda lelaki yang masih berstatus sebagai suami," sindir Dira, mungkin Laura tidak berkaca pada dirinya sendiri. Dia berkoar-koar mengatakan jika Dira adalah perempuan penggoda, tanpa sadar, dia tengah membicarakan dirinya sendiri. Laura langsung pergi begitu saja, mungkin dia kalah telak dengan ucapan Dira barusan. Dia membanting pintu dengan sangat keras. Dira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Laura. "Semuanya baik-baik saja 'kan, Bu?" tanya Shinta khawatir, saat melihat Laura membanting pintu dengan sangat keras dia langsung masuk ke ruang tamu untuk menemui atasannya tersebut. "Aman kok," jawab Dira tersenyum untuk meyakinkan Sinta. Sinta duduk di hadapan Dira, dan memberenggut kesal. Memang, antara Dira dan Sinta bukan seperti atasan dan bawahan melainkan seperti seorang teman. "Dia ngeselin banget Buk, dari tadi ngomel-ngomel terus. Sudah tidak terhitung berapa kali umpatan kasar yang keluar dari mulutnya. Jika saja tidak ada pepatah 'pembeli adalah raja' mungkin sudah sedari tadi aku usir." Sinta menceritakan semua kelakuan Laura, memang sikap Laura tidak mencerminkan seperti orang yang berpendidikan. "Dia memang seperti itu orangnya." Sinta membulatkan matanya terkejut. "Ibu kenal dengan dia? Dia teman Ibu?" "Amit-amit saya mempunyai teman seperti itu," ujar Dira mengetok-ngetok meja dihadapannya. Melihat tingkah Dita tersebut membuat Sinta terkekeh. Benar juga, mana mau Dira berteman dengan orang arogant seperti calon pembelinya barusan. "Namanya Laura, entah kenapa sedari dulu dia selalu menganggap saya sebai musuh," ujar Dira menjelaskan. Sinta hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan dari Dira. "Baiklah Bu, kalau begitu saya keluar dulu," pamit Sinta, dia tidak mau membuat konsentrasi Dira terganggu saat mendesain kebaya milik perempuan arogant tadi. Setelah kepergian Sinta, Dira langsung menuju ke ruangannya dan mengerjakan desain kebaya pesanan Laura, sebenarnya dia bisa saja mengerjakan nanti di rumahnya namun, Dira tidak ingin menunda-nunda yang akan membuat pekerjaannya lebih lama selesai. Dira ingin segera menyelesaikan desain kebayanya agar urusannya dengan Laura cepat selesai. Dia tidak mau berlarut-larut berurusan dengan Laura, bisa-bisa dia terkena darah tinggi jika terus berurusan dengan Laura, karena berurusan dengan Laura hanya akan membuat emosi Dira tak terkontrol. Tak terasa, sudah hampir setengah hari Dira mengerjakan desain kebaya tersebut. Dia sudah bertekat ingin segera menyelesaikan desain tersebut. Dira tersenyum, saat melihat hasil desainnya yang menurutnya sangat memuaskan itu. Gambar kebaya yang elegan namun mewah. Semoga saja Laura tidak mempersulit pekerjaannya agar urusan mereka cepat selesai. "Permisi Bu, sekarang waktunya makan siang Bu," ujar Sinta yang muncul di balik pintu. Berkutat dengan desainnya membuat Dira lupa akan waktu, mungkin jika Sinta tak mengingatkannya mungkin Dira akan lupa jika sekarang sudah masuk waktunya makan siang. "Ahh, iya. Saya hampir lupa." "Mau saya temani untuk makan siang, Bu?" tawar Sinta yang dibalas gelengan kepala oleh Dira. "Nggak usah, selepas makan siang saya akan langsung pulang." Dira mengambil tas selempangnya, lalu pergi menuju parkiran. Dia sudah ingkar janji pada anaknya, tadi pagi Dira mengatakan jika urusannya hanya sebentar, tapi nyatanya hampit jam makan siang Dira belum pulang. Dira memutuskan untuk makan siang di restoran yang tidak terlalu mewah dan tidak ramai pengunjung karena dia tidak suka keramaian. Setelah berada di restoran yang tidak terlalu ramai pengunjung itu, Dira segera memesan makanan. Sebenarnya bisa saja Dira makan di rumah bundanya namun, dia takut bundanya tidak memasak. Karena sudah menjadi kebiasaan Lidya jika dia tidak mood masak maka dia akan memilih untuk order makanan. "Dira!" panggil seseorang dengan setengah berteriak. Mendengar namanya di sebut, Dira menoleh ke arah sumber suar. Dia menghela nafas kasar saat melihat siapa yang memanggil namanya tersebut. Tadi pagi, bertemu dengan Laura, dan sekarang dia kembali bertemu dengan Arya. Mungkin ini adalah hari kesialan bagi Dira. "Kamu sendirian di sini?" tanya Arya menghampiri Dira. Tanpa persetujuan Dira dia duduk begitu saja di kursi hadapan Laura. "Siapa yang nyuruh kamu duduk di sini?" sinis Dira tak terima. Dia tidak mau makan siangnya terganggu karena kehadiran Arya. "Ini milik umum bukan? Jadi, terserah aku dong mau duduk di mana," jawab Arya yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Dira. Dira dengan malas beranjak dari duduknya, dia berniat untuk berpindah tempat duduk. Namun, belum satu langkah Dira melangkahkan kakinya, Arya memegang tangan Dira dan menghalanginya untuk pergi. "Mau ke mana Dir, di sini saja. Kita maka siang bareng," mohon Arya, dia menatap Dira dengan memelas, entah kenapa akhir-akhir ini jika Arya bertemu dengan Dira dia selalu menampilkan wajah memelasnya itu. "Saya tidak mau terjadi kesalah pahaman! Anda suami orang. Saya tidak mau orang menilai saya sebagai perempuan tidak benar, karena makan dengan pria yang berstatus suami orang!" "Ayolah Dir, jangan berlebihan seperti itu. Kita hanya makan tidak lebih," sanggah Arya menatap Dira. "Menurut anda, ini hanyalah hal biasa. Tapi, jika istri anda melihat ini, ini akan menjadi bumerang untuk ketenangan saya," ujar Dira dingin, dia juga berbicara dengan formal yang membuat Arya jengah mendengarnya. Makanan pesanan Dira sudah datang, dengan sangat terpaksa dia kembali duduk dan memakan makanannya. Dia makan dengan cepat tanpa menghiraukan keberadaan mantan suaminya yang sedari tadi tatapan matanya tak pernah lepas menatap Dira. "Aku akan segera bercerai dengan Laura, Dir," ujar Arya dengan mata yang masih menatap Dira. "Aku tidak peduli," jawab Dira tanpa melihat lawan bicaranya tersebut. Dia masih saja asyik dengan makanannya. "Aku ingin kita rujuk, Dir." "Dalam mimpimu!" "Dir, aku mohon ...." Dira berhenti mengunyah makanannya. Dia menatap Arya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Setelah semuanya yang kamu lakukan, kamu masih berpikir kalau aku mau rujuk dengan kamu Mas? Bahkan, sampai sekarang aku masih sakit hati dengan perlakuanmu dulu, dan sekarang, setelah kamu bosan dengan Laura dengan entengnya kamu ngajak aku rujuk? Lucu kamu Mas!" sungut Dira, entah di mana otak Arya berada. Kenapa dia bertingkah seperti orang yang tidak mempunyai otak. "Jika bukan karena aku, setidaknya pertimbangkan demi Salsa anak kita Dir." Dira sudah tidak bisa menahan emosinya lagi jika menyangkut dengan Salsa. "Ada apa dengan Salsa? Dia baik-baik saja kok, tanpa kehadiran kamu Mas! Dia tidak memerlukan Ayah yang sama sekali tidak bertanggung jawab!" ketus Dira, membuat Arya semakin merasa bersalah. "Aku tidak akan menyerah! Cepat atau lambat, aku akan membuat kamu berada ke dalam pelukanku lagi!" tekat Arya, setelah itu dia pergi meninggalkan Dira. Setelah kepergian Arya, Dira kembali menyelesaikan makanannya. Dia tidak ambil pusing perkataan Arya, karena sekeras apa pun Arya mencoba mengejar Dira, dia tidak akan pernah menanggapinya. Dia tidak mai jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD