Bertemu Dengan Laura

1268 Words
"Ma, Salsa gak mau sekolah," cicit Salsa pelan. Dira yang sedang menyisir rambut Salsa pun terhenti lantaran mendengar ucapan Salsa. "Lho, kok gitu?" tanya Dira dengan membalikkan posisi Salsa agar menghadap ke arahnya. Dira menatap wajah Salsa yang sedari tadi terus saja menunduk, dia mengangkat dagu anaknya ingin melihat lebih jelas ekspresi wajah Salsa. "Hei, lihat Mama. Kenapa nggak mau sekolah? Bukannya kemarin Salsa semangat banget mau sekolah," ujar Dira lembut, dia mengelus pelan pucuk kepala Salsa. "Salsa takut, Ma," lirihnya lagi dengan sangat pelan, bahkan lirihannya hampir tidak terdengar. Dira menaikkan sebelah alisnya bingun. Takut? Kenapa anaknya harus takut untuk sekolah? Memang, Salsa tumbuh menjadi anak yang penakut dan pemalu, dia tidak mudah bergaul dengan orang baru. Dia tidak akan bicara jika tidak ada yang mengajaknya bicara, dia hanya berani terbuka pada Dira seorang. Bahkan dengan Kakek, Neneknya saja Salsa tidak dekat. "Takut kenapa, Nak? Coba bilang ke Mama." Dira mencoba mencari tahu sumber ketakutan anaknya itu. Pancaran mata Salsa sangat jelas seperti orang yang sedang gelisah. "Kata Nabila, kalau nggak punya Papa nggak boleh sekolah. Nanti Salsa dijahatin sama teman sekolahnya Salsa." Dira terkejut mendengar penuturan putrinya tersebut. Dia sangat geram pada Nabila bisa-bisanya dia mengarang cerita seperti itu. Nabila adalah teman bermain Salsa yang juga merangkap sebagai musuh Salsa. "Itu nggak benar, sayang. Teman sekolahnya Salsa nanti baik-baik kok. Kalau ada yang jahat sama Salsa, Salsa lapor saja ke Ibu guru pasti nanti yang ngejahatin Salsa dimarahin." "Kalau meleka nanya Papa Salsa, gimana?”tanya Salsa menatap Dira polos. "Nak, Mama ini adalah Mama sekaligus Papa buat Salsa. Jadi, kalau mereka menanyakan Papa Salsa, Salsa tinggal jawab kalau Mama adalah Papa Salsa," ujar Dira spontan, dia tidak tahu apakah penjelasannya salah atau tidak. Tapi yang jelas, Dira tak mau Salsa mengetahui tentang Papanya yang sebenarnya. "Tapi, kata Nabila Papa itu seorang laki-laki, Ma," ujar Salsa dengan polosnya. Dira bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia tahu, seiring berjalannya waktu Salsa akan menanyakan keberadaan Papanya. Salahkan saja Dira, karena dia tidak pernah memikirkan jawaban mengenai pertanyaan Salsa tersebut. "Ma, kita beli Papa saja ya, Ma." Mata Dira membulat, dia sangat terkejut mendengar ucapan putrinya tersebut. Sontak, Dira langsung tertawa karena mendengar ucapan putrinya tersebut. Bisa-bisanya Salsa berpikir ingin membeli papa. Mungkin dia kira papa adalah barang yang bisa di beli dengan uang. "Sayang, Papa itu nggak di jual di mana-mana," jelas Dira pada putrinya tersebut. "Jadi, tetap nggak mau sekolah?" tanya Dira memastikan. Jika obrolan ini di lanjut maka tidak akan ada habisnya. Lebih baik, Dira saja yang menghentikan obrolan ini karena hari juga akan semakin siang. Salsa menggeleng. "Salsa masih takut," ujarnya pelan, entah apa yang salah dengan didikan Dira, sehingga membuat Salsa tumbuh menjadi anak yang penakut. "Yaudah, kalau Salsa masih belum siap sekolah nggak apa-apa. Sekarang Salsa Mama antar ke rumah Nenek ya, soalnya sekarang Mama ada rapat." Akhirnya Dira pasrah, dia tidak mungkin memaksa anaknya sekolah, jika anaknya sendiri takut untuk sekolah, biarkan nanti Dira menjelaskan lagi agar ketakutan anaknya hilang. Sekarang, dia harus pergi ke butik miliknya. Sehari-hari Dira lebih banyak bekerja di rumah, dia memantau perkembangan butiknya dari rumah. Dia akan terjun langsung ke butik jika hanya ada keadaan mendesak saja. Seperti sekarang, dia diharuskan pergi ke butiknya lantaran ada seorang pembeli yang ingin bertemu langsung dengan pemilik butiknya. "Cuma sebental kan?" tanya Salsa memastikan, Dira tahu, Salsa tidak nyaman berada di rumah kakek, neneknya. Padahal, ayah dan bunda sangat menyayangi Salsa tetapi, Salsa tetap saja merasa asing berada di dekat orang-orang selain ibunya. "Iya, Mama perginya cuman sebentar, kok. Nanti, kalau urusan Mama sudah selesai, Mama langsung jemput Salsa." Dira, kembali mengganti pakaian Salsa, tadi Salsa sudah sempat memakai seragam sekolahnya. Tapi, berhubung Salsa tidak mau sekolah dan Dira tidak mau memaksanya. Sebelum pergi ke butiknya, Dira terlebih dahulu mengantar Salsa ke rumah ayah dan bundanya yang tak terlalu jauh dari rumah yang di tempati Dira. Sebenarnya, sudah lama orang tua Dira itu mengajak Dira dan Salsa untuk tinggal bersama mereka. Tapi, dengan tegas Dira menolak ajakan ittu dengan alasan ingin mandiri. "Assalamualaikum," teriak Dira sambil mengetok pintu rumah orang tuanya tersebut, dengan Salsa yang sudah berada di gendongannya. "Waalaikumsalam. Eh, ada Salsa," ujar seorang wanita paruh baya yang keluar dari balik pintu. Sepertinya, dia sangat terkejut dengan kehadiran Dira dan Salsa. "Ayo masuk," ujarnya lagi dengan wajah yang begitu bahagia. Lidya sangat senang karena anak dan cucunya datang ke rumahnya ini. "Ayah mana, Bun?" tanya Dira saat tak melihat keberadaan sang ayah di rumahnya ini. "Ayah, baru saja berangkat ke kantor. Mungkin, kalau dia tahu kamu sama Salsa ke sini, ayah nggak akan berangkat ke kantor," ujar Lidya dengan kekehan pelan di belakangnya. "Bun, aku titip Salsa sebentar boleh? Soalnya aku mau ke butik. Ada urusan sebentar," ujar Dira saat dia sudah duduk di sofa. "Ya, boleh lah, malahan Bunda senang kalau ada Salsa di sini jadi, Bunda ada temannya," papar Lidya girang. Sedangkan Salsa, sedar tadi dia hanya diam dan menyimak obrolan. Dia sama sekali tidak mengeluarkan satu patah kata, dia hanya diam dan menunduk saja. Lidya memaklumi hal itu. Mungkin, ini juga adalah kesalahannya dulu yang jarang menengok Salsa, sehingga membuat Salsa tidak begitu dekat dengan dia dan suaminya. "Sayang, Mama berangkat dulu ya," pamit Dira dengan mencium kedua pipi putrinya tersebut. Salsa mengangguk, lalu menyalami tangan Dira, sebelum berangkat, Salsa memeluk erat tubuh sang mama tersebut. Setelah mengantar Salsa ke rumah bundanya, Dira langsung tancap gas menuju ke butiknya. Jalanan yang sudah mulai macet, membuat perjalanan Dira menjadi sedikit terhambat. "Astaga, kapan bergeraknya nih mobil," ucap Dira frustasi, dia emosi karena sudah satu setengah jam terjebak macet. Belum lagi, Sinta, asisten pribadinya yang sedari tadi selalu menelfonnya menanyakan keberadaan dirinya. Sinta mengatakan, calon pembelinya sudah marah-marah dari tadi karena keterlambatan dirinya. Dira bisa sedikit bernafas lega, lantaran mobilnya perlahan-lahan sudah bisa berjalan, sesampainya di butik nanti Dira akan langsung menemui calon pembelinya tersebut dan meminta maaf atas keterlambatan ini. Setelah menghabiskan satu setengah jam di perjalanan, akhirnya Dira sudah berada di parkiran butiknya. Dira langsung turun dari mobilnya dan berjalan dengan terburu-buru menuju ke dalam butik. "Selamat pagi, Bu. Silahkan ke ruang tamu Bu, Ibu sudah di tunggu oleh calon pembeli," ucap Sinta menyambut kedatangan Dira. Dira menganggukkan kepalanya, setelah meletakkan tasnya di meja, dia langsung menuju ke ruang tamu. "Tunggu Bu," pekik Sinta membuat Dira langsung menoleh ke arahnya. "Kenapa?" "Pembelinya ngeselin Bu, dari tadi ngomel-ngomel terus. Saya harap, Ibu bisa sedikit sabar menangani calon pembelinya," ujar Sinta sedikit kesal. Mungkin tadi dia sudah terkena omelan dari calon pembelinya itu. Dira tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menuju ke ruang tamu yang memang sudah di sediakan di butik ini. "Selamat pagi, maaf atas keterlambatan sa ...." Betapa terkejutnya Dira saat melihat wajah calon pembelinya tersebut. Benar kata Sinta, dia harus bersabar meladeni orang di hadapannya ini. "Ouh, jadi kamu pemilik butik ini? Pantesan saja butiknya jelek seperti ini, ternyata pemiliknya ...." ujar wanita di hadapan Dira tersebut. Dia menatap Dira remeh. Dira menghela nafas pelan, mencoba untuk menahan emosi. Dia harus bersikap profesional, dia harus mengesampingkan urusan pribadinya. "Mohon maaf, bisa bersikap profesional tidak? Jika masih ingin berniat memesan baju di butik ini, mari kita diskusikan sekarang, jika sudah tidak berminat untuk memesan baju di sini silahkan keluar." Dira berbicara dengan tenang, walaupun di dalam hatinya ingin rasanya mencakar wajah wanita di hadapannya ini. Wanita tersebut berdecak kesal, lalu dengan terpaksa di duduk kembali. Sungguh, jika bukan karena teman sosialitanya yang menyuruh Laura memesan baju di sini dia akan pergi dari butik milik Dira ini. Jika saja, Laura tahu, bahwa butik ini adalah milik Dira, mungkin saja dia tidak akan menginjakkan kakinya di sini. Bersambung......
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD