Setelah terjadi berbagai hal siang tadi, Rayhan berharap malam ini waktu berjalan lebih lambat. Ia masih belum siap berjauhan dari Thalia. Gadis imut yang belum lama ia kenal, namun sudah menguasai seluruh perasaannya. Gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Rayhan duduk di balkon -tempat favorit Thalia- yang kemarin ia duduki bersama gadisnya itu. Ia memandang langit yang saat itu mendung. Tak ada satu bintangpun, begitupun angin yang terasa lebih kencang dari biasanya. “Kopi, Mas.” Suara Thalia membuyarkan lamunan Rayhan yang sudah mulai berjalan jauh. Gadis itu menyerahkan mug bermotif lucu kepada Rayhan. Seketika, pria itu terkikik geli melihat dua mug yang sama. “Jangan ketawa.” Thalia menyodorkan kembali mug yang tak kunjung diterima Rayhan. “Sengaja ya samaan?” goda Ray

