Mala terus saja berjalan dengan tergesa-gesa, yang ada di pikirannya hanya satu, cepat pergi dari sini dan menjauh dari Raka. Dia bahkan berkali-kali menabrak tubuh banyak orang dan tidak menyadari itu. Hingga sebuah tangan menahan lengannya, memaksanya membalikkan tubuhnya kebelakang.
Dan disaat itu juga, dia merasa waktu seakan berhenti, ada sepasang mata yang mengunci tatapannya. Bahkan bukan hanya itu, tatapan mata itu juga mampu mengunci seluruh organ tubuhnya. Mala tidak bisa bergerak, tidak bisa mengalihkan tatapannya kemana pun selain wajah itu. Bahkan, Mala hampir saja lupa bagaimana caranya bernapas.
“Kamu… kembali?” gumam Raka.
Mala menggigit ujung lidahnya, menahan sesuatu yang sudah ingin membeludak. Aku nggak boleh nangis, batinnya
Dengan susah payah dia mencoba untuk tersenyum. Berusaha menganggap Raka adalah seorang teman lama dan saat ini kembali bertemu. “H-hai... Raka.” Sapanya ringan.
Cekalan tangan Raka mulai mengendur, dia menatap wajah Mala sendu, merasa sedikit asing dengan senyuman yang baru saja dia lihat. Senyuman itu, bukan senyuman Mala enam tahun yang lalu, bukan senyuman Malanya.
Suasana hening tercipta disana, Raka masih tetap dengan fokus matanya yang melekat menatap Mala. Menikmati lekuk indah yang sudah terpahat sempurna diwajah itu, lekuk wajah yang dulu selalu dia nikmati setiap kali membuka matanya dipagi hari.
“Kemana aja kamu selama ini?” tanya Raka datar. Berusaha meredam rasa rindu yang sudah membuncah didadanya, da berusaha mati-matian tidak menarik tubuh itu kedalam dekapannya, walaupun itu adalah keinginan terbesarnya saat ini.
“Kenapa? Kenapa kamu ingin tahu?” balas Mala. Mulai bisa menguasai dirinya. Bahkan kini Mala dapat membalas tatapan mata Raka. Walaupun degup jantungnya hampir saja membuat dia berpotensi terkena serangan jantung.
“Cih,” desis Raka. “Setelah dengan mudahnya kamu ninggalin aku, kamu bisa bilang hai gitu aja?” tanyanya sinis. Mengintimidasi Mala dengan tatapan tajamnya, Raka bertekad akan mencari tahu apa penyebab di balik kepergian Mala enam tahun yang lalu. Jika benar dia meninggalkan dirinya karena sesuatu yang menyakitkan, maka dia akan rela melepas Mala.
“Apa yang sedang kamu bicarakan?”
“Kamu! Apa lagi memangnya?”
Mala tersenyum kecut, dia melipat kedua tangannya angkuh didepan d**a. Ingin menunjukkan pada Raka jika dia sama sekali tidak mengingat kejadian yang telah lalu. “Kamu masih ingat masa lalu itu? Bukannya udah lama banget ya? Hm... aku bahkan udah nggak terlalu ingat.” ucapnya berbohong.
Sorot mata Raka kian menajam, ucapan Mala begitu sengit terdengar ditelinganya. Padahal, selama enam tahun ini Raka tidak pernah sedetik pun melupakan Mala. Namun, dengan mudahnya dia mengatakan telah melupakan segalanya.
“Ngomong-ngomong kamu apa kabar? Ah... aku lihat beberapa hari yang lalu, kamu lagi nganterin anak kamu ke sekolah, kebetulan sekolahnya dekat dengan sekolah anak aku. Kamu udah menikah?” Mala terus mengoceh layaknya seorang teman lama, namun sejujurnya dia sedang mati-matian menahan air matanya, tidak ingin Raka tahu bagaimana besarnya rasa cinta Mala padanya.
Bahkan hingga detik ini pun hanya nama Raka yang selalu menempati hatinya.
“Hebat banget kamu.”
Ucapan Mala terhenti begitu saja saat Raka menggumam.
“Kamu tinggalin aku gitu aja, tanpa kasih tahu aku dan kejelasan apa pun. Sekarang kamu kembali, menganggap nggak ada hal apapun yang terjadi diantara kita sebelumnya. Hebat, Mala....”
Mala meneguk ludahnya berat, ucapan Raka seakan menusuk tepat di jantungnya. Dia juga tidak ingin seperti ini, membuat dirinya seasing mungkin di hadapan lelaki yang selalu menjadi sosok yang dia rindukan.
Namun semuanya memang haruslah berjalan seperti ini, takdir sudah berucap dan manusia tidak dapat membantah.
“Apa aku nggak ada artinya dimata kamu? Dua tahun, Mala... dua tahun! Selama itu kita menghabiskan waktu berdua.”
“Cukup!” Mala memberikan tatapan sinis pada Raka. “Aku akan meluruskan kesalah pahaman diantara kita. Mungkin aku memang salah karena dulu pergi tanpa pamit sama kamu. Tapi harus ya kamu mempermasalahkan itu sekarang? Bukannya sekarang kamu juga udah berkeluarga? Lalu apa lagi yang kamu ingin kan dari aku?”
Rahang Raka mengeras seketika mendengar ucapan Mala. Kepalanya bagai mendapat dentuman menyakitkan, menimbulkan denyutan perih dan tak tertahankan. Mendengar kalimat demi kalimat keji yang meluncur dari bibir Mala.
“Kita udah selesai, sejak enam tahun yang lalu. Kamu udah punya kehidupan kamu sendiri, begitu juga dengan aku. Jadi aku harap kamu nggak perlu mempermasalahkan itu lagi. Dan kalau kamu tanya alasan kenapa dulu aku pergi dari kamu. Itu karena...” Mala menarik napasnya dalam dan mengehembuskannya perlahan.
Bersiap-siap akan mengucapkan sesuatu yang nantinya akan sangat menyakitkan bagi dirinya dan juga Raka. “Karena aku bosan sama kamu. Aku muak dengan segala mimpi-mimpi kamu untuk hidup bahagia bersama, tapi nyatanya? Kamu nggak bisa mewujudkannya. Aku butuh kepastian, sampai saat itu ada seorang lelaki yang melamarku. Dia... jauh lebih sempurna dari pada kamu.”
Kedua tangan Raka terkepal sempurna. Menahan emosi yang sudah siap untuk dia muntahkan. “Begitu?” Raka mencoba menahan amarah. “Kalau begitu sepertinya aku sudah salah menunggu seseorang.”
Kedua bibir Mala tertarik sempurna. Dia senang, karena telah berhasil meyakinkan Raka. Namun hatinya seakan menangis, mungkin setelah ini Raka sama sekali tidak ingin melihatnya lagi. Merasa jijik setiap kali bertemu dengannya. Namun apa daya, itu lah yang memang seharusnya terjadi.
“Kurasa Tuhan memang sangat baik padaku. Dia telah membuang kamu dari kehidupanku dan menggantikannya dengan seorang malaikat yang tulus mencintaiku. Aku bodoh banget karena sempat menolaknya, tapi akhirnya lagi-lagi Tuhan membuka kedua mataku. Malaikat itu sekarang telah menjadi istriku, Seorang wanita yang nggak sepicik kamu.”
Mala mengunci bibirnya rapat. Menahan teriakannya yang sudah ingin menggelegar. Tubuhnya seperti dihujami beribu panah yang menyobek setiap inci kulitnya. Kata-kata itu seakan meremukkan tulang-belulangnya, begitu sakit dan perih.
“Hiduplah bahagia dengan suami sempurna kamu. Karena aku juga akan hidup bahagia dengan istriku. Dan aku harap... kita nggak perlu ketemu lagi.”
Raka melewati Mala begitu saja. Tanpa menoleh, bahkan dia menghentakkan bahunya kasar ketika berselisihan dengan bahu Mala. Hingga Mala seakan kehilangan keseimbangannya, lalu ambruk kebawah. Pertahanannya roboh seketika, air mata itu akhirnya mengalir juga. Bahkan isakan tangis itu tidak dapat dia redam.
Kedua tangannya bertumpu pada aspal yang kotor dan penuh dengan debu. Menangis sekuatnya, terisak sekuatnya. Bahkan jika bisa, Mala ingin menjerit sekuatnya. Melampiaskan semua kesedihannya.
Habis sudah impiannya dalam sekejap mata, kini Raka benar-benar telah hilang dari kehidupannya. Jika dulu, meskipun bibir itu terus mengatakan tidak akan lagi berharap pada lelaki itu, namun hatinya berkata lain.
Suatu hari nanti, entah kapan itu terjadi, dia berharap dapat hidup bersama Raka. Membangun sebuah keluarga kecil mereka. Namun harapan tinggal lah harapan.
Raka telah mengatakan dengan lantang jika dia bersyukur Tuhan telah membuang Mala dari kehidupannya.
Dan itu berarti, tidak ada lagi kesempatan baginya untuk bersama. Tapi bukankah memang itu yang dia inginkan? Lalu kenapa rasa sakit itu masih saja menghujami hati dan tubuhnya?
Sepasang kaki telah berdiri di hadapan Mala. Memaksanya yang terlihat sangat berantakan itu mengangkat kepalanya untuk melihat siapa pemilik sepasang kaki itu. “Haru...” gumamnya lirih.
Haruka menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak yang teramat sakit melihat kehancuran sahabat yang bahkan telah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Kedua tangannya meraih bahu yang bergetar itu. Membantunya berdiri tegak.
“Bodoh!” rutuknya. Meskipun tangisan itu tidak mampu dia sembunyikan.
“Ya, kamu benar. Aku memang bodoh, bodoh banget.”
Haruka menarik tubuh gemetar Mala kedalam pelukannya, membiarkan Mala menangis dalam pelukannya. Dia rela jika malam ini Mala meminjam bahunya sebagai sandaran kesedihannya. Asalkan esok, dia dapat melihat Mala tersenyum lagi, maka dia akan dengan senang hati melakukannya.
Di sisi lain, Haris berjalan cepat mengejar Raka yang terus saja berjalan ke arah mobilnya. Langkah besar lelaki itu membuat dia kesulitan untuk mengejarnya.
“Raka!!” Teriakan itu berhasil menghentikan langkah kaki itu, tubuh tingginya berdiri kaku membelakangi Haris. Raka bahkan sama sekali tidak bergeming saat sahabatnya itu telah berdiri sempurna di hadapannya.
“Lo benar, Ris...” gumamnya datar.
Haris menautkan kedua alisnya tidak mengerti, terlebih saat dia menemukan sorot mata kosong Raka.
Sorot mata yang seakan telah mengunci seluruh kebahagiannya didalam sana, menguncinya sejauh mungkin agar tidak ada yang dapat menemukannya. Karena hanya disanalah, dia dapat mewujudkan kebahagiannya.
“Nggak seharusnya gue nunggu dia selama ini, mikirin dia sampai hati gue sakit, selalu berharap dia bakal balik sama gue. Gue bego, Ris! Gue Bego!!”
Kedua mata Haris membulat tak percaya saat melihat kristalan bening telah mengalir diwajah seorang Raka. Bertahun-tahun mereka bersahabat, belum pernah sekali pun dia melihat lelaki itu menangis. Bahkan raut wajah yang sarat akan kefrustasian itu juga belum pernah menghiasi wajah seorang Raka lagi.
“Enam tahun gue habisin waktu gue mikirin dia. Gue tetap tunggu dia walaupun gue udah punya keluarga. Gue selalu yakin kalau suatu saat nanti dia bakalan balik ke gue. Tapi apa yang gue dapat?!
“Dia ninggalin gue karena uang! Dia ninggalin gue sampai gue nyaris gila mikirin dia! Kenapa gue harus menderita karena perempuan berengsek kaya dia?! Kenapa harus dia?!!”
Dada itu naik turun mengeluarkan segala kekecewaannya. Semua kebahagiannya seakan terhempas kedasar lautan yang paling dalam. Semua rasa cintanya seakan menguap menjadi benci, semua harapannya seakan menjelma menjadi dendam.
“Ka, mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan buat lo. Lo dan dia... nggak bisa bersatu. Raka, Lo udah punya Amel dan Andi, perasaan lo ke Mala itu salah.”
Raka menunduk dalam, mendengarkan kalimat demi kalimat yang di ucapkan Haris. Kalimat yang terdengar benar di telinganya, namun terasa salah pada hatinya. “Tapi gue cinta dia. Ris... gue cinta dia...”
“Udah, Ka. Mulai sekarang lupain semuanya. Lupain Mala.”
***
Amel tersentak kaget saat tiba-tiba saja merasa ada sesuatu yang melingkari pinggangnya. Amel yang tengah memasak sarapan pagi untuk keluargnya itu menoleh kebelakang, mendapati wajah suaminya yang sedang memejamkan mata.
Amel tersenyum kecil, mengulurkan tangannya untuk sekedar membelai wajah yang tampak lusuh itu. “Kalau masih ngantuk tidur lagi aja, mas. Sekarang hari minggu dan aku nggak akan maksa Mas bangun sepagi ini.”
Raka tersenyum kecil, perlahan dia membuka kedua kelopak matanya. Menatap lembut wajah yang selalu menjadi objek pandangnya setiap kali dia membuka mata.
Setelah kejadian beberapa hari lalu, dia sudah bertekad akan melupakan segala kenangan manisnya bersama Mala. Baginya, ucapan Haris memanglah benar. Mala bukanlah takdirnya dan bahkan memang tidak pantas menjadi takdirnya.
“Aku kangen kamu,” bisiknya lembut seiring bergeraknya tangan itu memutar tubuh istrinya. Menghadapkan tubuh itu tepat di hadapannya. Tangannya merambat naik, mengusap lembut wajah yang tengah menatapnya sendu.
Perlahan namun pasti, wajahnya kian mendekat, membunuh jarak di antara keduanya. Deru napasnya menerpa permukaan wajah Amel, menyapanya lembut hingga menghasilkan sesuatu yang menggelitik diperut istrinya.
“Papa!”
Tubuh sepasang suami istri itu sontak terpisah seiring terdengarnya panggilan Andi dari bekalang mereka. Andi menatap kedua orang tuanya dengan tatapan aneh. “Papa sama Mama ngapain?” tanya Andi yang sudah menduduki bangku taman kanak-kanak itu.
Kedua orang tuanya sontak tersenyum kaku satu sama lain, tidak mengira jika anak itu akan memergoki mereka yang tengah berciuman.
“Nggak ada kok, sayang.” jawab Raka cepat dan segera menghampiri anak lelakinya. Dia menggendong tubuh kecil yang masih mengunakan pakaian tidur, persis seperti dirinya. “Kamu belum mandi, kan?” tanya Raka dan di jawab gelengan ringan Andi.
“Kalau gitu pagi ini kita mandi bareng.” Raka mengerling pada anaknya, menimbulkan kekehan geli Andi.
Amel memandangi suami dan anaknya dengan senyuman bahagia. Dia selalu bersyukur pada Tuhan, karena telah diberikan kebahagian utuh dikehidupannya. Suami yang sangat mencintai dan menyayanginya, dan anak laki-laki tampan yang sangat dia cintai.
Jika mungkin Tuhan bertanya padanya, apa lagi yang dia inginkan di dunia ini, maka dia akan mengatakan cukup. Karena baginya, saat ini kebahagiaannya telah lengkap.
***
Haris menyandarkan tubuhnya bosan pada pintu mobil yang dia parkirkan di depan sebuah gedung perusahaan besar. Dia sesekali melirik arlojinya dengan jenuh, entah sudah berapa kali dia melakukan aktivitas ini, menunggu seorang gadis yang sejak kejadian beberapa hari lalu selalu menjauhinya, keluar dari gedung itu.
Hubungan mereka seakan merenggang satu sama lain, meskipun tidak dapat di katakan merenggang karena sebenarnya keduanya memanglah baru bertemu, namun Haris sudah tidak dapat menahan perasaannya lagi. Dia sudah meyakinkan dirinya jika dia memanglah mencintai Haruka.
“Oh?” gumamnya pelan saat melihat dua orang gadis keluar secara bersamaan dari sana. Dengan langkah lebar dia segera menghampiri mereka, berharap jika kali ini dia tidak akan gagal lagi.“Haruka.” panggilnya.
Haruka yang dipanggil menoleh, namun detik berikutnya kembali menunjukkan ekspresi ketidak sukaan padanya. Lagi-lagi Haris harus menghela napas berat. Dia melangkahkan kakinya kehadapan Haruka, menatap lirih wajah yang beberapa hari ini selalu sulit untuk Haris pandangi.
“Kenapa?”
“Ada yang mau aku omongin sama kamu.”
“Hm, yaudah, ngomong aja.”
Mala yang berdiri disamping Haruka menunjukkan ekspresi kecanggungannya. Dia sudah melarang Haruka untuk tidak menyangkut pautkan masalah pribadinya dengan Haris, bagaimanapun, dia sangat tahu jika Haruka juga sangat menyukai Haris. Namun bersikeras ingin menjauhi Haris yang memiliki hubungan dengan Raka.
“Aku duluan ya, Haru.” Pamit Mala.
Terjadi keheningan antara Haris dan Haruka selepas perginya Mala, Haruka selalu membuang wajahnya kearah lain, menghindari tatapan menusuk Haris.
“Bisa nggak kamu jangan jauhin aku lagi?” gumam Haris pelan. “Masalah yang terjadi antara Raka dan Mala sama sekali nggak ada hubungannya dengan kita. Terus kenapa kamu malah menyangkut pautkannya sama kita?”
Haruka masih belum bergeming, sebenarnya dia menyadari apa yang dikatakan Haris itu benar. Hanya saja, entah mengapa amarahnya seakan tidak terkontrol setiap kali menemukan sosok yang berhubungan dengan lelaki yang telah menyakiti sahabatnya.
“Lagi pula, Raka sama sekali nggak bersalah. Dia yang jadi korban disini.” sambung Haris. Dan akhirnya mampu membuat Haruka menoleh padanya. “Kamu tahu? Selama enam tahun ini dia selalu nunggu Mala. Nggak peduli dengan statusnya yang sudah berkeluarga, dia rela mendosai dirinya sendiri untuk Mala. Tapi apa yang dia dapat? Mala malah ninggalin Raka karena uang.
“Dia sama sekali nggak peduli gimana hancurnya Raka yang nyariin dia kaya orang gila, gimana Raka melewati hari-hari terberatnya tanpa
senyuman. Bahkan...”
“Cuma itu? Apa Cuma itu penderitaan yang temen kamu rasakan?!” potong Haruka geram. Habis sudah kesabarannya kali ini, dia mengepal kuat kedua tangannya. Menatap lelaki yang tengah menatapnya tidak mengerti.
“Apa kamu pikir itu sebanding dengan apa yang dirasakan Mala? Apa itu sebanding dengan semua caci maki yang di terima Leo?! Apa itu semua sebanding, Haris?!
“Kamu nggak tahu apa-apa. Kamu nggak tahu gimana menderitanya dia harus pergi meninggalkan orang yang dia cintai demi kebahagiaan orang itu sendiri. Membawa pergi seluruh penderitaannya, pergi ke negara
asing yang sama sekali nggak dia kenali dengan keadaan hamil muda. Apa kamu tahu itu?”
Kedua mata Haris sontak melebar, mendengar kata hamil muda membuat dia mulai berpikir yang idak-tidak. “A-apa maksud kamu? Hamil muda?” tanya Haris tidak mengerti.
Haruka tersenyum miris. “Penderitaan Raka belum ada apa-apanya, Haris, dibandingkan penderitaan yang Mala alami.”
***
Leo menjulurkan jari telunjuknya pada deretan cat lukis disebuah toko, dia mengitari deretan itu satu persatu, mencari cat warna apa yang dia ingin kan. Saat ini dia sedang berada di sebuah toko perlengkapan keperluan sekolah.
“Ini, Bunda!” pekiknya sembari menoleh pada Mala yang berdiri di sampingnya.
Mala merunduk dan mengambil cat warna itu, kedua matanya membulat saat melihat bandrol harga benda yang ingin di beli oleh Leo. “Mahal banget? Cuma cat warna kaya gini aja kenapa harus semahal itu?” gumamnya tertahan.
Sedangkan Leo yang berdiri di sampingnya hanya dapat menggeleng pasrah. Terkadang, Bundanya memang terlalu pelit untuk urusan uang.
“Tapi cat warna itu yang terbagus, Bunda.”
“Termahal bukan berarti yang terbagus, masih ada yang lebih bagus dari ini dan bahkan lebih murah.”
“Ck, bunda pelit!”
“Kamu bilang apa?!”
Mala hampir saja kembali membuka suaranya jika saja dia tidak menyadari beberapa pasang mata yang menatapnya tidak suka, suara Ibu dan anak itu cukup mengganggu telinga beberapa pelanggan di sana.
Mala memasang senyum kakunya seraya menarik tangan Leo, sedangkan Leo berpura-pura melihat ke arah lain, bermaksud mengatakan pada semua orang yang memperhatikan mereka kalau dia tidak mengenal Bundanya.
“Kita nggak lagi dirumah, Bun. Jadi jangan keluarin suara petir Bunda itu.” sungut Leo pelan. Dia tidak memedulikan tatapan garang Mala padanya, malah ingin segera menjauh dari wanita pemarah itu.
Namun baru saja kakinya beberapa kali melangkah, kedua mata bulat itu menagkap seseorang di sudut ruangan, dia memiringkan kepalanya ke kanan, mencoba mengingat siapa sosok itu. “Oh? Bukannya itu Andi?” gumamnya kecil.
Leo tersenyum lebar sebelum berlari ke arah Andi yang tampak sedang memilih-milih beberapa benda bersama kedua orang tuanya disana.
“Andi!” panggil Leo, Andi yang berada di tengah-tengah kedua orang tuanya menoleh kebelakang saat mendengar seseorang memanggilnya. Dia menatap Leo sejenak dengan tatapan asing, namun setelah itu tersenyum lebar pada Leo.
“Leo?”
“He-um.” jawab Leo sembari mengangguk singkat, dia tersenyum ramah pada Andi yang sudah menghampirinya.
Amel menatap kedua bocah itu tidak mengerti, apalagi melihat sikap welcome dari anaknya pada seorang anak kecil lain yang dia temui.
Sementara itu, Raka entah mengapa seperti tak bisa memalingkan tatapannya pada sosok Leo yang sedang berbincang-bincang ringan dengan anaknya, Leo seakan telah menyedot seluruh perhatiannya.
“Mama sama Papa masih kenal Leo, kan?” tanya Andi pada kedua orang tuanya.
Amel melirik Raka sebentar sebelum menggeleng ringan pada anaknya. Andi berdecak pelan dan menarik tangan Leo mendekat ke arah orang tuanya. “Ini Leo, yang ketemu sama kita di bandara itu. Waktu kita jemput Papa, Mama ingat?” tanya Andi lagi.
“Ah! Anaknya tante yang nemuin kamu itu, ya sayang?” tanya Amel yang mulai mengingat wajah Leo.
“Hm, Namanya Leo.” ucap Andi.
Kedua mata Raka melebar saat mengetahui jika Leo adalah anak dari seseorang yang menemukan Andi saat tersesat dibandara. Dia tahu siapa Ibu dari anak itu dan semakin merasakan sebuah atmosfir aneh dari tubuhnya.
Diperhatikannya wajah Leo. Mirip sekali dengan Mala. Perlahan kedua kakinya melangkah mendekati Leo, mensejajarkan tubuhnya dengan Leo. “Kamu sendirian?” tanya Raka lembut.
“Leo sama Bunda.”
“Leo!”
Leo dan Raka menoleh bersamaan ke samping mereka, begitu terkejutnya Mala saat menemukan anaknya tengah berdiri berhadapan dengan Raka.
Tubuhnya bergerak dengan cepat mendekati Leo, menarik tubuh anaknya agar segera menjauh dari Raka. Dia menatap Raka dengan tatapan shock, sementara Raka dan Amel menatap dirinya dengan tatapan bingung.
“Bunda kenapa?” tanya Leo, anak itu menatap wajah Mala dan Raka bergantian.
Mala menatap Raka lama, kemudian beralih pada Leo yang berdiri disampingnya, lalu tatapannya kembali naik dan menatap wanita cantik nan anggun yang berdiri di samping Raka.
“Kurasa Tuhan memang sangat baik padaku. Dia telah membuang kamu dari kehidupanku dan menggantikannya dengan seorang malaikat yang tulus mencintaiku. Aku bodoh banget karena sempat menolaknya, tapi akhirnya lagi-lagi Tuhan membuka kedua mataku. Malaikat itu sekarang telah menjadi istriku, Seorang wanita yang nggak sepicik kamu.”
Kalimat demi kalimat yang sempat Raka ucapkan padanya kembali terngiang olehnya. Wanita ini kah yang Raka maksud? Begitu sempurnanya kehidupan lelaki itu saat ini, hingga menimbulkan rasa iri dalam dirinya. Dia menatap Leo dengan tatapan miris, matanya kembali membendung cairan itu lagi.
“Maaf, kami harus pergi.” hanya itu yang mampu dia katakan sebelum menarik tangan Leo agar segera menjauh dari mereka. Kedua kaki Raka lagi-lagi refleks melangkah kedepan, ingin mencegah kepergian Mala.
Namun sayangnya dia tidak mampu melakukannya, tekadnya untuk melupakan Mala kembali bergejolak dalam dirinya.
“Kenapa dia?” gumam Amel tidak mengerti, dia melirik Raka yang masih diam terpaku dengan sorot mata yang masih menjurus pada pintu toko itu yang tertutup rapat. “Mas kenal?” tanya Amel.
Raka refleks mengalihkan pandangannya pada Amel, khawatir jika istrinya mencurigai dirinya yang pernah memiliki hubungan khusus dengan Mala. “Nggak, Mas nggak pernah kenal dia.”
***