“Papa!”
Andi berteriak kencang saat menemukan Raka yang sedang menunggunya keluar dari sekolahnya. Dia berlari kencang dan segera berhambur dalam pelukan Raka, Andi merasa senang karena hari ini Raka lah yang menjemputnya. Kesibukan Raka membuat dia terlalu jarang untuk sekedar menjemput putra kesayangannya itu dari sekolah.
“Mama sibuk?”
“Hm, Mama lagi banyak kerjaan.”
“Pantesan...”
Raka mengecup dahi anaknya gemas sebelum menurunkannya, namun sesaat dia mendapati tatapan sayu dari seorang bocah kecil yang berdiri tak jauh darinya. Bocah itu berdiri dengan kedua tangan yanG mendekam dalam saku celananya, pakaiannya sedikit berantakan dan rambutnya terlihat acak-acakan.
“Bukannya itu…” gumam Raka memastikan.
“Leo?!” pekik Andi yang ternyata mengikuti
kemana arah pandang Raka.
Raka menunduk kebawah, menatap wajah Andi yang terlihat antusias. “Kamu mau ketemu Leo?”
“Mau, Pa. Bolehkan?”
“Boleh, dong.”
Raka menggandeng tangan Andi mendekati Leo, namun saat mereka sedikit lagi sampai ketempat dimana Leo berdiri. Leo seakan berusaha melarikan diri, dia terlihat gelisah ditempatnya sembari menutupi wajahnya dengan menunduk dalam.
“Halo, Leo... Apa kabar?” sapa Andi ramah. “kamu sekolah di sini ya, aku sekolah di samping sekolahnya kamu loh.”
Leo tidak menjawab dan terus menunduk dalam, hal itu membuat Raka merasa ada yang aneh pada Leo. Perlahan dia mensejajarkan tubuhnya, mencoba menatap wajah Leo, dan setelah itu dia terpekik kaget saat menemukan beberapa memar pada wajah Leo.
“Hei, ada yang mukul kamu?” tanya Raka dengan emosi yang mulai terpancing, entah kenapa dia merasa marah menemukan Leo terluka seperti itu. Namun anak itu sama sekali tidak menjawab dan semakin menunduk dalam.
“Papaku bukan orang jahat kok, kamu jangan takut, Leo.” ujar Andi berusaha menenangkan.
Raka menghembuskan napas berat sebelum mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh wajah Leo. Namun tiba-tiba saja Leo menepis tangan Raka dengan kasar, Leo mengangkat kepalanya hingga memperlihatkan bagaimana kacaunya wajah polos miliknya yang menatap tajam pada Raka.
“Om jangan pegang wajah Leo!!” teriaknya kasar. “Leo nggak apa-apa! Nggak usah sok peduli sama Leo!”
Andi segera menarik ujung baju Raka saat mendengar teriakan Leo, sedikit takut melihat sikap Leo yang sangat berbeda dari sebelumnya. Kedua mata Leo berkilat seakan menahan kebencian, dadanya naik turun menahan gemuruh dalam dirinya.
Raka yang melihat itu semakin merasa tidak tega membiarkan Leo menaggung rasa sakitnya sendiri. Dia kembali mencoba mengulurkan tangannya untuk menangkup wajah Leo. “Om nggak akan nyakitin kamu. Percaya sama Om.” ucapnya lembut.
Entah mengapa tiba-tiba saja Leo mulai melunak, kedua matanya mulai berkaca-kaca. Dia kembali menunduk saat buliran kristal itu mulai mengotori wajahnya. “Tolong jangan bilang sama Bunda kalau Leo abis berantem sama teman Leo,” isaknya. “Jangan bilang sama Bunda, ya, Om... Leo mohon.”
“Kalau boleh Om tahu, kenapa kamu sampai berantem sama teman kamu?” tanya Raka, dia mengangkat wajah Leo agar menatapnya. Menyeka air mata Leo dengan kedua Ibu jarinya. Miris melihat bagaimana kacaunya wajah polos itu.
“Mereka suka ngeledekin Leo...” Leo menatap wajah Raka lirih, merasa sebuah perasaan nyaman ketika berada di dekat lelaki itu. “Om, kenapa ya, cuma Leo yang nggak punya Ayah?”
“Apa?” kata itu terlontar begitu saja dari bibir Raka. Anak ini nggak punya Ayah? Tapi...
“Teman-teman Leo punya Ayah, Andi juga, semua orang punya Ayah, tapi kenapa Leo nggak punya Ayah? Apa karena Leo nakal makanya Leo nggak punya Ayah? Tapi selama ini Leo selalu berusaha jadi anak baik untuk Bunda, supaya suatu hari nanti, Ayah Leo datang jemput Leo. Tapi...” Leo menggigit bibir bawahnya, kembali tertunduk untuk menutupi wajahnya yang tengah menangis.
Dia memang selalu tidak ingin dilihat oleh orang lain ketika menangis, karena Mala melarangnya untuk itu. “Ayah nggak pernah datang. Semua orang selalu hina Leo. Mereka bilang Leo anak haram. Leo tahu kalau artinya anak haram itu buruk...”
Raka tidak mampu lagi mencegah kedua tangannya untuk menarik Leo dalam pelukannya, hatinya begitu sakit mendengar bagaimana menderitanya anak itu melewati hariharinya.
Dan hal itu membawa pikirannya kembali mencemaskan Mala, dia mulai berpikir apa yang terjadi dalam hidup Mala? Mengapa Leo tidak pernah bertemu Ayahnya? Apa dia ditinggalkan begitu saja oleh suaminya?
“Jangan nangis, anak laki-laki nggak boleh cengeng. Om yakin suatu hari nanti, Ayah kamu pasti datang dan jemput kamu. Jangan dengerin teman-teman kamu...” bujuk Raka. Dia melirik Andi yang berdiri di samping mereka, tersenyum menatapnya.
“Kamu takut Bunda kamu marah karena tahu kamu berantem?” tanya Raka.
Leo melepaskan pelukan Raka, menggeleng pelan padanya. “Leo nggak mau lihat Bunda nangis lagi karena tahu Leo dihina terus. Makanya, Om jangan bilang sama Bunda, ya. Nanti kalau Bunda tanya, bilang aja Leo abis jatuh waktu main bola.” Leo menatap Raka penuh harap.
Raka menggigit bibir bawahnya meredam rasa sakit yang menusuk jantungnya. “Oke.” jawab Raka sembari mencoba tersenyum tulus. Meskipun hatinya mencelos mendengar permintaan anak itu. “Sekarang kita obati dulu luka kamu, ayo ikut Om kedalam mobil. Disana ada kotak obat.”
Leo tersenyum tipis pada Raka, membuat Raka terpaku sekejap. Raka merasa senyuman itu tak asing baginya.
“Leo!”
Haruka menatap Leo dengan tatapan lega, dia segera berlari menghampiri Leo tanpa memerhatikan sekelilingnya. “Hei, kamu nggak apa-apa? Ah... maaf, Aunty benar-benar lupa jemput kamu. Jangan bilang sama Bunda kamu, ya? Dia bisa bunuh Aunty kalau tahu Aunty jemputnya telat.” ucap Haruka panjang lebar.
Leo menatap Haruka dengan datar, “Aunty, Leo...”
“Ya Tuhan! Kamu kenapa?” pekik Haruka ketika menyadari wajah memar Leo, dia menatap Leo curiga. “Kamu pasti berantem lagi, iya kan?” tebaknya.
Haruka cukup hapal dengan segala sikap dari Leo.
“Haruka...”
Mendengar ada seseorang yang memanggilnya, dia segera menoleh kesamping. “Kamu?” pekik Haruka. Wajahnya memucat seketika, dia menatap Leo dan Raka bergantian. “Mau apa kamu disini?” tanya Haruka sinis.
“Saya? Oh... tadi saya lagi jemput anak saya, nggak sengaja ketemu Leo yang…” Raka melirik Leo yang memberikan isyarat agar tidak memberitahu mengenai perkelahiannya pada Haruka. “Hm... dia jatuh waktu main bola sama temannya.” ucap Raka berbohong.
Leo tersenyum lebar dari balik tubuh Haruka, mengacungkan Ibu jarinya pada Raka. Dan senyuman itu menular dibibir Raka
***