terluka

1577 Words
akhir-akhir ini Novy benar-benar sangat bahagia,jujur saja Novy seperti seorang istri sungguhan meskipun tidak satupun kaliamat yang terucap kata "istri" di bibir Noval. bagaimana tidak beberapa terakhir ini Novy tak pernah cuti untuk mengantarkan bekal kepada suaminya, kecuali di hari libur,apa karena masakan Novy enak jadi Noval memakannya dan tak pernah melarang Novy untuk mengantarkan bekal untuknya,atau bisa jadi Noval sudah bisa menerimanya,ah entahlah memikirkan hal itu membuat Novy bingung. seperti biasa dengan memakai dress selutut rambut dia ikat di atas,dengan langkah ceria dia bertanya pada resepsionis cantik tersebut sambil melemparkan senyuman manisnya. "sepertinya anda sangat bahagia".tuturnya yang ikut tersenyum. "ah benarkan,ku pikir juga seperti itu vit."Novy sedikit tertawa menjadikan pupil matanya yang tak terlihat. dan kabar gembiranya bukan hanya tersenyum Novy juga cenderung suka tertawa walaupun matanya juga akan menghilang karena dia tertawa,tapi jangan di tanya di hadapan Noval Novy hanya bisa tersenyum,sepertinya Novy tertawa untuk orang-orang yang membuatnya bahagia. tapi bukankah Novy juga bahagia karena sekarang Noval sering kali memakan makanannya walaupun tanpa ada rasa terimakasih sedikitpun. ada yang aneh. "vit apakah tuan Noval ada di atas?"tanya Novy kepada Vita sang resepsionis cantik. karena keseringan mengantarkan makanan mungkin jadi semakin mengenal satu sama lain. "tentu saja ada nona,mungkin sedang menunggu makan siangnya."tunjuk Vita pada bekal tersebut. mendengar itu Novy tersenyum"ku harap begitu". "apa aku langsung ke atas saja?" "tentu saja nona,apa aku perlu mengantarmu?"tawar Vita. Novy mengeleng cepat"tidak perlu repot aku akan naik sekarang,kalau begitu terima kasih vit." Vita benar-benar bangga pada Novy,jarang sekali istri atasan sangat dekat dan ramah kepada pegawai. kebanyakan orang yang drajatnya lebih tinggi darinya mungkin akan sombong dan cuek kepada bawahan seperti dirinya,Vita benar-benar bangga kepada dirinya karena bisa kenal dengan novy si pemilik senyum manisnya. "semoga tuhan selalu melindungimu nona."tutur Vita sebelum Novy hilang di lift tersebut. *** "apa kau gila."teriak Noval pada sambungan telepon. dadanya naik turun karena emosi yang meluap"bukankah sudah ku bilang jangan pernah kalian kehilangan Kinan,saya bayar kalian mahal tapi kalian masih tidak becus,kirimkan alamat tempat terakhir dia tinggal,saya akan pergi ke sana secepatnya."kesalnya lalu melempar benda pipih tersebut. "sial lagi-lagi mereka gagal,Kinan sebenarnya kamu ini kenapa,dan kenapa kamu meninggalkan aku tanpa pamit,apa kamu lihat cincin ini masih selalu aku pakai,apa kamu lihat di jari manis ini hanya ada cincin pertunangan kita dulu,kenapa para b*****h itu selalu gagal,apa kamu tidak suka ada orang yang menguntit karena tidak nyaman."ucapnya panjang lebar sambil melihat pigur perempuan di hadapannya. bingkai kecil yang masih setia dia pajang di meja tempat dia bekerja. di sisi lain. Novy mendengar itu semua dengan mata memanas,jadi apa ini alasan Noval tidak akan pernah menerimanya,karena sang tunangan yang pergi tanpa pamit. apa yang harus Novy lakukan, buru-buru dia melangkah pergi tak ingin terlihat lemah di hadapan Noval. untuk kedua kalinya Novy menitipan bekalnya kepada Vita, berterima kasih lalu pergi. Vita yang kebingungan langsung tak tenang bukannya baru beberapa menit yang lalu Novy masih tersenyum ralat Novy sempat tertawa,tapi kenapa lagi. pikir Vita aneh. *** di dekat taman Novy termenung memikirkan nasibnya. sebenarnya Novy tau bahwa sikap Noval kepadanya hanya untuk sekedar Novy lelah dan pergi darinya,tentu saja dari Noval sendiri yang mengatakannya. sudah beberapa kali juga Novy menghembuskan nafasnya dengan gusar. terlihat menyedihkan. "hei."sapanya menoel bahu Novy. sepertinya bujang yang satu ini memang hobi mengagetkan,bukan hanya Noval tapi lihatlah Novy juga kaget sampai akan berdiri di buatnya. "ya ampun tuan."kesal novy. "kenapa ,apa aku mengagetkanku?"bukannya minta maaf Rendi malah bertanya kesalahannya. "tentu saja tuan mengangetkan,datang tiba-tiba seperti tadi,tadinya aku kira tuan penculik sampai-sampai aku akan berteriak."masih dengan nada kesal Novy menjawab. membuat Rendi gemas,ah tidak jangan seperti itu. jujur saja melihat Novy selalu mengantarkan makanan untuk Noval membuat Rendi ngenes,makanya di jam istirahat seperti ini Rendi sudah tidak ada di sisi Noval seperti biasa,menurut Rendi kalau setiap hari melihat itu pasti darahnya akan naik ingin marah tapi bukan siapa-siapa. "tumben gak kekantor suami."ejek Rendi. mendengar itu dalam sekejap raut wajahnya berubah seketika,ayolah kenapa wajahnya jadi sedih seperti ini. "kenapa,apa ucapanku membuat mu bersedih,apa ada yang salah?"tanya Rendi ketika melihat Novy dengan wajah memerah entah sepertinya ingin menangis. "aku baik-baik saja,aku juga sudah mengantarkan bekal untuknya."jawab Novy datar. eh bisa-bisanya Novy bersikap seperti ini kepada Rendi,menyebalkan. sepertinya Novy sering kali seperti ini,jadi Rendi biasa saja menanggapinya. "aku juga sudah membekalimu juga taun."ucap Novy. "hemm maaf sepertinya kali ini aku menolak,apa kamu tau setiap aku memakan masakanmu aku ingin terus makan dengan lahap tak ingin berhenti,sepertinya jika hidupku dengan mu pasti perutku yang sixpack ini akan mengembung."tutur Rendi panjang lebar. membuat Novy tertawa,lihat lah kenapa dengan Rendi Novy tertawa sampai lupa masalah yang dia alami. Novy juga tau kalau Rendi sepupunya Noval dari ibunya,Novy juga tau Rendi yang selalu ada di saat Noval rapuh,Novy berterimakasih kepada Rendi. "apa tuan tau jika kita hidup bersama,sepertinya pipiku yang kencang ini tak akan kencang seperti sekarang,bahkan jika hidup dengan tuan pasti cepat sekali berkerut di bagian sini."tunjuk Novy pada dahinya. mendengar itu Rendi bahagia sekali,senang bisa membuat Novy tertawa seperti ini, bukankah harus dia jamin jika Novy benar-benar hidup dengannya maka kebahagiaan akan berlimpah pada Novy,jika begitu Rendi berani janji dan bersumpah. "terima kasih."cicit Novy pelan. "untuk?"bingung Rendi. "tuan selalu menghiburku,walaupun tuan tidak tau kesedihanku." kini pandangan mereka bertemu,di bawah langit yang biru ini Rendi dapat memandang dalam mata Novy yang sipit,ingin rasanya mengecupnya Rendi tau Novy bersedih matanya memerah menahan segudang air mata,kesedihannya terlalu ketara,namun Novy Engan bercerita. "maka ceritakan apa kesedihanmu,berbagilah kepadaku." "itu akan menambah beban pikiranmu tuan."tolak halus Novy. mendengar itu Rendi tersenyum,Novy benar-benar perempuan yang sempurna,kesedihan dia pendam sendiri,Rendi tau siapa yang membuatnya seperti ini,tapi kenapa ada apa lagi bukankah kemarin-kemarin masih aman-aman saja Novy bisa menutupi a*b suami sangat di sayangkan jika Noval benar-benar terus melukai hati wanita di hadapnya,tidak baik juga Novy memendamnya terlalu lama. *** di tempat ini sang pria selalu saja mengumpat kata-kata kasarnya terlihat sangat marah. "sial."umpatnya marah. "kemana dia,kenapa jam segini tidak mengantar kan ku makan siang." oh jadi Noval menunggu Novy atau makanan nya. "ah aku sangat lapar,di mana dia,aku bisa mati kelaparan jika terus menunggunya."kesalnya meraih benda pipih ingin menghubungi Novy. namun pergerakan itu dia hentikan mengingat dia tidak punya nomor Novy,bodohnya kenapa dia tidak menyimpannya,mana mungkin dia meminta pada mamanya Santi bisa gawat . "siall awas saja,kali ini aku tidak akan memaafkan mu gadis sialan Berni sekali dia membuat ku menunggu." umpatan itu berhenti ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya. "tuan apa saya menunggu?"Vita perempuan itu bertanya dengan sangat sopan. "tidak,ada apa?"dingin Noval seperti biasa. "ini tadi nona Novy meminta saya untuk mengantarkan makanan kepada tuan."ucapnya. dan Noval mengerti langsung menyuruh Vita menaruhnya di meja dekat jendela,bukan pakai ucapkan melainkan pake dagu,suguh boss yang satu ini memang menyeramkan. "tunggu."Noval menghentikan langkah Vita. "kenapa tuan apa ada yang bisa saya bantu." "tidak ada,lanjutkan saja pekerjaanmu." "sial kenapa ingin sekali rasanya menanyakan di mana Novy berada."cicitnya dalam hati. *** pukul 5 sore Noval sudah ada di parkiran rumahnya,Noval masuk dengan anehnya lihatlah Noval masuk dengan sedikit berlalu,jika ada yang melihatnya bukankah sedikit aneh. "kemana dia?"Noval sudah mencari Novy ke kamar,ke kamar bawah yang biasa Novy singgahi,dan terakhir dapur namun Noval juga tidak menemukan Novy. tidak biasanya pikir Noval,ayolah biasanya Novy setelah mengantarkan makanan langsung pulang,tapi ini kemana dia. "kenapa aku jadi gak tenang gini sih."ucapnya berlalu ke kamar Novy di bawah yang anehnya melihat apakah barang Novy masih lengkap atau sudah tidak ada. Noval menghela nafas lega Novy tidak pergi namun kemana dia. bukankah jika Novy pergi dia tidak harus mengeluarkan kata-kata yang pedas seperti biasa,kenapa ketika dia tidak ada Noval mencarinya sampai kesal. *** "terima kasih tuan."ucap Novy di sambil menunduk sopan. "kenapa kau selalu formal seperti ini Novy,santai saja." "tidak tuan,menurutku ucapan terima kasih lebih berharga dari pada apapun."dari Novy Rendi tau akan kehidupan dan cara menghormati orang lain. "Hem..aku mengerti,baiklah kenapa kamu memintaku menurunkanmu di sini?"tanya Rendi. "entahlah aku tidak enak jika ada yang lihat,biasanya tetangga kompleks akan banyak sekali obrolan jika melihat hal seperti ini." "tapi bukankah ini biasa saja." "tidak tuan,kalau begitu aku pamit pergi dulu ya dan terima kasih." "tunggu dulu,bagaimana jika kamu memberiku nomor telepon mu nov,bukankah kamu sudah mengenal ku,jadi apa salahnya jika berbagi."pinta Rendi. namun Novy mengeleng membuat Rendi sedih. "maaf tuan tapi aku tidak punya ponsel,mungkin ketika tabungan ku sudah cukup aku akan membelinya." "oh kenapa bisa?"tanyanya penasaran. "waktu itu ponselku ke hujanan jadi mati total."kecut Novy sedih ponsel satu-satunya walaupun tidak sebagus yang mereka punya tapi di dalam ponselnya banyak sekali kenangan yang dia rangkai bersama keluarganya. "ah ya sudah jika seperti itu mungkin lain kali saja." "sekali lagi terima kasih tuan."ucap Novy menampilkan senyumannya. "baiklah sama-sama jaga dirimu."ucap Rendi sedikit berteriak. Rendi merasa senang dan juga ada rasa sedih tapi ketika semuanya sudah terbongkar dan Novy tahu apakah dia akan bertahan. entahlah itu semua hanya Novy yang tau. *** jam sudah menunjukan pukul setengah 7 malam,Novy belum juga pulang. "apa jangan-jangan seperti ini kebiasaannya jika aku masih di kantor."pikir Noval campur aduk. pikiran jeleknya pun hilang tiba-tiba ketika mendengar seseorang membuka pintu,Noval sudah siap akan memarahinya pun terhenti ketika melihat Novy membawa banyak barang yang dia bawa,sepertinya Novy baru saja selesai berbelanja kebutuhan dapur. Novy di buat kangen melihat Noval berdiri di hadapannya dengan memandangnya tajam. "tuan."cicit Novy takut. namun secepat kilat dan tanpa menunggu Noval berbicara Novy berjalan kearah dapur ,tentu saja ingin cepat beres dan setelah itu dia ingin beristirahat Novy lelah. "kenapa dengan dia?"Noval bertanya pada dirinya sendiri. apakah diam menjadi alasan seseorang menghindari masalah,bukankah ketika kita diam mereka akan lebih gampang membuat kita menjadi tidak percaya diri? see u❤️ next time?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD