“Oh God! Are you sent me an angel?” Kinan tampak takjub dengan pria asing dihadapannya. Sungguh makhluk yang benar-benar sempurna untuk dipandang mata. Untuk beberapa saat, Kinan merasa pikirannya melalang buana ntah kemana. Dia benar-benar lupa tujuan utamanya datang ketempat itu. Pria asing itu memandang dengan mata sayu pada Kinan.“Hei, can you help me? Aku butuh bantuanmu, Girl!” Pria tampan itu membuka pintu appartement nya lebar-lebar, sedangkan Kinan hanya tertegun memandangnya lalu menoleh kekanan dan kekiri. Tak ada siapapun. Lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Ya! Aku butuh bantuanmu..” Pria asing itu beranjak dari pintu dan menghampiri Kinan.
Gadis itu beringsut mundur menempel pada pintu apartment Harry. Memencet bel berkali-kali. Namun sialnya, pintu tak kunjung terbuka. Bayangan pria asing dihadapannya yang sempurna bak malaikat seketika runtuh dari pemikirannya.
‘Apa aku akan mati 2x malam ini?’ Dirinya yang ketakutan mulai meracau tak karuan
“Ayo bantu aku, ini tak akan lama, jangan takut aku tak akan membunuh mu!” Pria itu betul-betul memaksanya.
Dia menarik tangan Kinan dan membawanya masuk ke unitnya tanpa menghiraukan Kinan yang sudah ketakutan setengah mati. Tangan Kinan melambai-lambai pada cctv diujung lorong, berharap ada security yang akan melihat tindakan pemaksaan yang dilakukan oleh bule gila ini dan bergerak untuk menolongnya.
Kinan sekuat tenaga memberontak namun bule ini sangat kuat. Dia beralih posisi kebelakang tubuh Kinan lalu mendorongnya masuk. Kaki Kinan menahan sebisa mungkin dari dorongan bule gila ini. Sedangkan kaki kanannya berusaha menendang pintu apartment Harry.
‘Sial!! Kemana tua bangka itu! Aku terancam karena datang kemari, tapi dia tak juga membukakan pintu untuk ku?!’ umpat Kinan.
Akhirnya Kinan terpaksa masuk dan menuruti pria itu. Berharap ada yang akan menolongnya sehingga dia bisa pulang dengan keadaan baik-baik saja. Sesaat, pria itu berhasil memasukan Kinan kedalam penthouse nya setelah menangani perlawanan Kinan yang sama sekali tak berarti baginya.
Brakkkk!
Dia menutup pintu dengan kencang dan menguncinya dengan rapat. Pandangannya mengarah pada Kinan yang sedang menutup bagian dadanya dengan kedua tangan. Kinan menggeleng lalu mulai menangis karena ketakutan. Bule itu membiarkan Kinan begitu saja sambil berjalan santai menuju dapur. Kinan seketika berhenti menangis. Terpaku memandang punggung penuh otot yang baru saja melewatinya, pria itu menuju dapur. Ruangan serba putih yang mempesona mata setiap wanita. Kinan merasa benar-benar merasa sangat takjub. Gadis itu mulai berhenti menangis saat pria itu meninggalkannya begitu saja. Dia mulai mengedarkan pandangannya keseluruh area ruangan penthouse milik bule gila itu.
Rapi, dengan nuansa dominan light grey dan paduan warna putih. Ruangan luas dengan lantai mezzanine yang Kinan tebak itu adalah area private milik pria itu. Perabotan yang tertata apik, minimalis namun tetap homey.
‘Hmm, boleh juga selera bule ini dalam menata ruangan.’ Gumam Kinan. Wait tadi dia sedang menangis ketakutan jika saja dirinya diperkosa atau dibunuh oleh bule itu dan sekarang dia mengaguminya bahkan tempat tinggalnya?
‘Kamu gila, Kinan!’ dengusnya kemudian.
“Take it!” bule itu menyodorkan softdrink saat kembali kedepan Kinan. Membuyarkan kekhidmatan Kinan tentang kekagumannya terhadap kemewahan ruangan apartment milik pria itu.
“Who are you? Why have you brought me here?” kata Kinan galak terhadap bule itu sampai membuang pandangannya.
“Hey, Girl… relax. Aku tidak berniat jahat padamu. Aku Edgar Baldwin. Kau bisa memanggilku Edgar kalau kau mau. Aku hanya ingin meminta bantuanmu saja.” Bule itu tersenyum seramah mungkin. Namun itu tak menyurutkan kecurigaan Kinan padanya.
“Bantuan apa? Mengapa harus aku? Apa kamu pikir aku bisa membantumu? Yang benar saja!” Kinan mendengus. Mengetuskan nada bicaranya, matanya memutar 360 derajat.
‘Membantu? Bule setampan dia? Ditempat semewah ini? Bantuan apa yang diinginkan bule gila topless ini. Atau jangan-jangan… dia ingin memintaku untuk membantunya…’ pikiran Kinan berkelanan tak tentu arah.’STOP, KINAN!’ Kinan menggeleng-geleng kepalanya dengan kuat, merutuki pikiran kotor yang ada dikepalanya.
“Ada apa??” Tanya Edgar saat melihat Kinan menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jadi kenapa kamu membawaku kemari??” Kinan berusaha mengalihkan pertanyaan Edgar.
“Sudah lama aku menunggu didepan pintu, tapi tak satupun aku melihat orang naik ke lantai ini. Termasuk penghuni didepanku itu, padahal aku sangat membutuhkan pertolongan.” Edgar menunjuk arah dimana unit Pak Harry berada melangkah pergi menuju salah satu cabinet dibawah tangga.
‘Ohh jadi Pak Harry tak ada ditempat, pantas saja tak ada jawaban saat aku berulang kali menekan bel. Tapi, mengapa dia menyuruhku untuk datang kemari pukul 7? Padahal dia tak ada ditempat pada pukul7?’ lagi-lagi Kinan asik dengan pemikirannya sendiri.
“Hello…” Edgar mengibas-ngibaskan kedua tangannya tepat didepan muka Kinan membuatnya tersadar seketika,”Sekarang bisa tolong aku?” Edgar tampak mengambil kotak dari storage meja ruang tamu. Kinan melangkah mendekat pada Edgar. Dia melihat kotak biru putih yang berada ditangan Edgar. Bule itu kemudian menyerahkan kotak itu ketangan Kinan.
“Untuk apa ini?” Tanya Kinan sangat bingung. Pasalnya ayah Kinan juga sangat sering memakai benda itu.
“Tolong tempelkan itu dipunggungku.” Ucap Edgar sambil menunjukan tempat dimana Kinan harus menempelkannya.
“Kamu memakai ini? Jadi ini bantuan yang kamu butuhkan? Hahaha…” tawa Kinan pecah.
‘Apa bule ini benar-benar akan memakai koyo?’ Kinan baru mengetahui bahwa bule juga doyan memakai koyo.
“Kenapa kamu tertawa? Apa ini lucu bagimu?” Edgar mengerutkan dahinya.
“Tidak, hanya saja… kau tahu apa ini? Aku tidak yakin.” Kinan masih menahan tawa sambil menggerak-gerakan kotak ditangannya.
“Aku terlalu keras berlatih, punggungku terasa sedikit nyeri, jadi aku pikir ini akan membantu. Aku melihatnya diiklan tv. Apa itu mengandung efek samping yang berbahaya?” Bule itu terduduk di sofa panjang yang berada di depan televisi. Sudah hampir bersiap dalam posisi tengkurap.
“Tidak akan berbahaya jika kau bisa menahan rasanya setelah 1jam, baiklah aku akan membantumu.” Kinan bersiap untuk menempelkan koyo itu dipunggung Edgar.
Kinan menyuruh Edgar udah berbaring tengkurap. Tangan Edgar menunjukan posisi dimana Kinan harus menempelkan koyo itu.
Tampak otot punggungnya mengeras, Kinan menelan ludah. Bahkan Neil pun tidak pernah seseksi ini saat topless. Lengannya benar2 menggemaskan. Membuat Kinan ingin bersandar.
“Cepatlah, tempelkan benda itu pada punggungku.” Edgar terlihat tak sabar menunggu Kinan yang tengah menikmati pemandangan langka. Lagipula, dia adalah orang kaya melihat dari dimana dia tinggal. Mengapa dia tak pergi kedokter saja?
“Seharusnya kamu pergi kedokter untuk pemeriksaan atau terapi. Bukan menempelkan benda-benda seperti ini pada tubuh mu.” Kata Kinan sambil membuka bungkus koyo.
“Aku… tidak pernah pergi kedokter.” Kata Edgar.
“Kenapa?” Tanya Kinan penasran.
“I won’t.” Kinan mengangguk. Dia tidak ingin mengorek lebih jauh tentang laki-laki didepannya.
Kinan memperhatikan bekas kemerahan disekitar punggung Edgar, dia menempelkan plester koyo itu disana, lalu menekannya perlahan. Pandangan Kinan berhenti sejenak pada punggung berotot, kencang nan putih milik Edgar. Dengan bulu halus berwarna coklat keemasan. Kinan menelan ludahnya, bayangan erotis Edgar seketika memenuhi ruang kepalanya.
Ntah iblis mana yang sudah merasuki jiwa Kinan hingga tangannya berani membelai punggung Edgar. Pria itu melirik gadis yang sedang bersimpuh disampingnya. Tatapan mata Kinan pada punggungnya adalah tatapan ketertarikan seorang wanita pada laki-laki yang dapat dengan mudah ditebak oleh Edgar.
‘Menarik, tadi dia menangis tersedu dan sekarang dia tertarik padaku? ‘ batin pria itu, pikiran kotor pun mulai muncul dalam kepalanya.
Pria itu kemudian membalikan posisi tubuhnya dan duduk menghadap Kinan yang seketika terkejut dengan pergerakan pria dihadapannya. Kaki Edgar membuat Kinan sekarang berada diantara kedua pahanya. Edgar menyondongkan tubuhnya kearah Kinan, gadis bermata coklat terang,”Apa akumenarik dimatamu?”
Pergerakan serta pertanyaan yang Edgar lontarkan itu membuat Kinan benar-benar terkejut dan sangat malu. Bagaimana bisa seorang gadis seperti dirinya berani membelai punggung laki-laki yang bahkan sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja? Lagipula, bagaimana jika sentuhan dan belaian yang tadi dia lakukan justru membangkitkan keinginan jahat dari pria itu? Seketika itu juga Kinan berdiri dihadapan Edgar. Bersiap untuk berlari keluar penthouse itu. Berharap untuk tidak bertemu Edgar lagi selamanya. Atau Kinan akan mati karena malu.
Krekkk! Krekkk!
Kinan berusaha untuk memutar handle pintu.
“Need my help, Girl?” Edgar terkekeh memamerkan kunci diujung telunjuknya. Bunyi gemerincing kunci semakin nyaring seiring dengan semakin dekatnya Edgar melangkah kearah Kinan.
Kinan benar-benar tak berkutik sekarang. Wajahnya sudah sangat memerah karena malu. Seharusnya ini tak terjadi padanya. Seharusnya dia hanya akan pergi ke apartment unit sebelah dan menyelesaikan urusannya dengan boss ayahnya. Bukannya malah terjebak disini dengan bule gila dan pemaksa seperti Edgar ini.
Edgar mengungkung Kinan dengan tangan kanannya. Pandangannya kali ini benar-benar sangat menggoda. Edgar Memegang dagu gadis itu dengan tangan kirinya, mengarahkan pandangan Kinan kepadanya. Edgar menatap mata coklat Kinan lekat-lekat. Kinan tak memberontak meski wajahnya sudah merah padam akibat malu.
“I like your beautiful eyes.” Edgar menatap kedua bola mata Kinan yang berwarna coklat lalu bergerak dengan pelan tapi pasti berusaha mencium gadis itu. Sekian detik dan Kinan tersadar bahwa dia sedang berada dalam kungkungan Edgar. Dia memalingkan wajahnya kesisi tembok.
“Why? Aku melihatmu sedang menunggu penghuni di unit sebelah? Aku sering melihatnya membawa wanita yang berbeda-beda kesini, seharusnya tak ada salahnya jika aku hanya mencium mu bukan?” Edgar berkata seolah-olah Kinan adalah seorang gadis murahan yang bisa bebas dicium oleh siapa saja.
Wajah Kinan seketika memanas. Memang tindakan tadi terlampau nekat. Hingga membuat laki-laki berpikir bahwa dirinya adalah wanita yang murahan. Otaknya tak dapat lagi berpikir dengan baik. Tangannya mulai gemetar.
Plakkkk!
“Kamu pikir aku wanita rendahan hanya karena aku mengetuk pintunya?!” Suara Kinan meninggi. Matanya kembali memerah. Secepat kilat tangannya bekerja memberikan pelajaran pada Edgar dengan tampatn disisi kanan pipinya.
Edgar terdiam tak berkutik. Ada perasaan bersalah menelusup dalam hatinya. Dia bergerak membukakan pintu kemudian. Secepat mungkin Kinan melewati Edgar dan keluar dari pintu itu. Hatinya sakit. Dia menyesal bahkan untuk sekedar memasangkan plester koyo kepunggung Bule gila itu.
“I’m sorry…” Dua langkah Kinan keluar dari appartementnya, Edgar menggenggam tangan Kinan. Namun Kinan menghempaskannya begitu kuat hingga Edgar sedikit terpelanting.
“Kinan??” suara ini.
“Pak Harry?!”
“Apa yang kau lakukan disitu?”
Kinan seperti jatuh dari langit, kemudian masuk keinti bumi. Benar-benar terjerembab. Dia baru saja akan keluar dari lubang buaya, namun langsung akan masuk ke lubang singa.