Chapter 4 - Flashback

1365 Words
Hawa panas disiang itu membuat kulit  Kinan menggelap seketika. Peluh membasahi kening dan lehernya. Kinan mengusapnya dengan selembar tissue yang tinggal beberapa helai dalam tempatnya.Dia sedang menunggu bus yang akan membawanya pulang setelah seharian dibelenggu aktivitas di bangku kuliah. Sialnya, Neil, pacarnya sedang tidak dalam mood yang bagus hingga pertengkaran tidak dapat terelakan pagi tadi. Akibatnya sudah pasti dapat diprediksi, Neil pulang terlebih dahulu meninggalkan Kinan di kampus. ‘dasar berandal!’ umpat Kinan dalam hati saat mengingat kejadian itu.’bisa-bisanya dia meninggalkan aku begitu saja!’ dia meminum sebotol air mineral yang dibelinya dari pedagang asongan lalu melemparkannya dengan kesal setengah berteriak kearah jalanan yang sedang sepi. Mengacak rambut ikalnya yang membuat itu semakin terlihat kusut,”Neil br**gsek!” **** “Mike, urusan di Kalimantan sudah kamu selesaikan?” “Sudah pak, tapi ada sedikit kendala. Salah satu kontraktor tetap menginginkan kontrak baru, mereka tidak mau menandatangani kontrak lama pak.” Lapor Mike yang berada dikursi penumpang didepan kepada bossnya. “Ganti saja, jangan mempertahankan mereka yang tidak mengikuti aturan main kita.” Ucap pria itiu dengan sikap dingin. “Baik, Pak…” Mike menggangguk. Braaakkkkk! Botol dengan isi air seperti sengaja dilemparkan tiba-tiba dikaca samping mobil. Tepat berada disisi dimana pria dingin itu duduk. Membuatnya terkejut dan memuncakan amarahnya seketika. “Periksa, Ndy!!” bentak pria itu pada sopirnya. Sang ajudan yang merangkap sebagai sopirnya itu bergegas turun memeriksa semua bagian mobil, ada sedikit gesekan dibagian kaca disisi kiri, tepat dibagian luar dimana bossnya duduk. Dia berpikir siapa yang dengan sengaja melempar mobil yang dikemudikannya? Namun yang dia temukan hanyalah gadis yang tengah berdiri dengan dengan mata berkaca-kaca dan wajah pucat pasi disebelah mobil. “Maaf. Saya tidak sengaja melemparkan botol kearah mobil Anda.” Kinan menatap Andy sekejap lalu membungkukan badan berkali-kali kepada Andy. Sedangkan laki-laki dengan baju warna hitam itu hanya diam terpaku  memandang gadis yang berdiri didepannya dari atas ke bawah, dari ujung kepala sampai ujung kaki. ‘Gadis ini, matanya sangat cantik.’ Batin Andy berbisik. Si pria dingin yang berada didalam mobil menangkap siluet gadis yang tidak asing dari sudut matanya. Dia menoleh memeriksa, meyakinkan penglihatannya. Dan benar, dia melihat Kinan berdiri disana. Seorang gadis yang menarik perhatiannya saat di area perusahaannya tempo lalu. Gadis itu sedang membungkukan badan berkali-kali didepan sopirnya dengan ekspresi muka yang sangat ketakutan. Lucu. Memudarkan seketika emosi yang tadinya sudah memuncak didalam otaknya. Gadis itu sangat menarik baginya, dengan kaos berkancing dan rambut ikal yang diikat asal jadi satu keatas yg terkesan semrawut, celana jeans yang sudah sobek di bagian lutut dan paha mengesankan secuek apa gadis yang berada didepannya itu. Dia menurunkan kaca jendelanya, memanggil ajudannya yang seketika menoleh dan datang padanya. “Suruh gadis itu datang kemari!” Perintah pria itu tanpa ekspresi yang langsung dilaksanakan oleh sang ajudan. Gadis itu berjalan dengan ragu kearah pria didalam mobil. Pria berdasi dengan jas biru navy. Terlihat rahang tegas ditumbuhi bulu halus yang mengeras,’mungkinkah dia akan meminta ganti rugi yang sangat mahal padaku?’ Tanya Kinan dalam hati, seketika dia merasa bergetar, darimana dia akan mendapatkan uang jika pria ini meminta ganti rugi padanya. sedangkan ekonomi keluarganya sedang tidak stabil akhir-akhir ini. “Jadi kamu yang tadi melempar mobilku, Little Girl?” intonasi dan gaya bicara pria itu terdengar menakutkan ditelinga Kinan. “Maafkan saya, Pak. Saya… tidak sengaja. Maaf..” Kinan bergetar, tubuhnya berrkali-kali membungkuk sedangkan tangannya sibuk memilin ujung tas nya. Pria itu memandang gadis itu membungkukan badan, sama seperti yang dia lakukan didepan Andy tadi. Matanya menangkap belahan yang ada didada gadis itu, terlihat dari baju gadis itu yang kancingnya terbuka 2 dibagian atas. Pria itu menelan ludah lalu memalingkan wajahnya kearah Mike yang masih duduk dengan santai didepannya sembari memantau keadaan dari kaca spion mobil. “Berikan padanya kartu namaku, Mike!” “Baik, Pak.” Tanpa menunggu lama Mike segera mengambil selembar kartu dari sebuah kotak kayu cendana. Lalu turun dari mobil dan memberikannya pada gadis itu. “Datang ke tempatku nanti jam 7 malam. Kamu harus membayar semua yang sudah kamu lakukan padaku sekarang.” Kata pria itu dengan intonasi yang dingin dipendengaran Kinan. “Harry Sanders?” Kinan setengah berbisik membaca kartu yang berada ditangan kirinya lalu menutup mulut seketika dengan tangan kanannya. ‘Ahh, Tuhan! Hari ini adalah hari kematianku’ desahnya dalam hati. “Jangan lupa untuk membayar kewajibanmu, Little Girl! Dan jangan coba-coba untuk lari dari tanggung jawabmu.” kata pria bernama Harry itu berseringai.”Ayo, Ndy!” dia memerintahkan ajudannya untuk pergi dari tempat itu. Mobil berwarna hitam itu kemudian melaju, meninggalkan Kinan yang kini sedang kebingungan. Dia mengambil ponselnya dari tas kemudian mendial nomor Neil. Tut! Tut! Tut! ‘Sial! Kenapa dia tidak mengangkat telponku?’ gumam Kinan. Gadis itu kini menggigil, ketakutan dalam benaknya membuat tubuhnya bereaksi demikian. Kinan berulang kali mencoba menghubungi Neil namun yang terjadi handphone pacarnya itu selalu dalam keadaan off. Membuat Kinan merasa sangat frustasi sekarang. Terik matahari semakin embakar kulitnya, beberapa kali bus yang melintas dia lewatkan, ada keraguan antara pulang kerumah dan menceritakan hal ini kepada orang tuanya ataukah harus datang nanti malam ketempat yang tertera dikartu nama itu. “Oke, aku akan datang saja. Aku akan mempertanggung jawabkan semua sendiri. Persetan dengan Neil berandal itu!” Gerutu Kinan. Kinan melangkah gontai menuju kerumahnya, perasaan bercampur aduk dalam batinnya. Sedangkan otaknya terus saja berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang untuk mengganti semua kerugian yang sudah ia timbulkan karena melemparkan botol air mineral kejalan raya. Yang nahasnya, mengenai mobil atasan ayahnya. “Argh! Dasar Kinan bodoh!” umpatnya pada dirinya sendiri. Jika sampai dia menceritakan hal ini kepada ayahnya maka habislah hidupnya, ayahnya akan menghukum dia habis-habisan. Dan besar kemungkinan kalau ayahnya juga akan dipecat dari pekerjaan. Lalu bagaimana dengan kuliahnya, sekolah adiknya dan juga hidup semua orang dalam keluarga ini. Kinan masuk kerumah dengan menyeret tasnya. Ibunya yang memperhatikan tingkah Kinan merasa sangat heran sekarang. Tidak biasa-biasanya Kinan bertingkah murung seperti itu. “Ada apa, Kinan?” Tanya ibunya kemudian. “Aku baik-baik saja, Ibu. Jangan khawatir. Aku hanya lelah butuh istirahat.” Kinan tak sedikitpun menoleh pada ibunya saat berbicara membuat ibunya sedikit mengelus d**a lalu melanjutkan lagi acarany menonton telenovela favoritnya. Brugg! Kinan menjatuhkan dirinya diranjang empuk miliknya.  Matanya menyapu seluru langit-langit kamatnya, pikirannya sekarang hanya seputar bagaimana menghadapi Harry Sanders. Dia menilik kearah jam dinding, sudah pukul 4 sekarang. 3jam lagi menuju akhir hayatnya. Ahh, hati Kinan kian tak menentu, ada kecemasan membuncah disana. Harus dia akui dia sangat takut sekarang. Tapi dia sudah bertekad kuat untuk menghadapi semua ini sendiri. Tanpa bantuan dari siapa pun. Kinan beranjak menuju kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab atas segala kecerobohannya. ***** Setelah berpamitan pada ayah dan ibunya bahwa dia akan menginap di rumah Tania, sahabatnya, Kinan segera  bergerak menuju ke alamat yang tertera di kartu nama dalam genggamannya. Kinan menatap alamat yang berada di kartu nama dalam genggamannya, mencocokan nya dengan alamat yang tercetak timbul dengan bahan stainless pada tembok eksterior gedung yang menjulang tinggi dihadapannya. Tapi ini bukan tempat kerja ayahnya. Lebih terkesan seperti apartement. Kinan terus saja berdoa dalam hati agar Tuhan melunakan hati atasan ayahnya itu. Agar dia pulang dalam keadaan tidak tercacah pada bagian tubuh manapun. Kinan melangkahkan kakinya menuju kedalam gedung. Security mencegahnya, memandannya sekejap lalu mengambil sebuah kertas yang lebih mirip foto dari sakunya. Lalu kemudian memncocokan dengan wajah gadis yang berada dihadapannya. “Maaf, apakah nama anda, Kinan, nona?” Kinan merasa takjub bahwa security itu mengetahui namanya. “I.. Iyaa..” jawabnya terbata. “Mari saya antarkan.” Setelah memeriksa badan Kinan dengan metal detector, security itu kemudian mengantarkan Kinan menuju lift,”silahkan Nona, unit Pak Harry berada disebelah kanan.” Lanjutnya lagi. Kinan masih merasa takjup. Seperti ini kah sambutan bagi dirinya yang akan segera binasa ditangan pak boss? Jantung Kinan tak berhenti berdegup dengan keras. Ting! Pintu lift segera terbuka. Kinan keluar dari dalam lift. Menyelidik ke seluruh penjuru lantai dimana dia sedang berdiri sekaarang. Ada dua pintu apartemen disisi kanan dan kiri. Kinan melihat jam ditangannya, jam 6 lebih 55menit, dia datang lebih cepat dari yang ditentukan. Gadis itu menghirup nafas dalam-dalam. Tangannya sedikit berkeringat dan kaki serta lututnya melemas, dia bersandar pada tembok disisi kanan, menghadap kearah pintu disisi kiri. Kinan berusaha mengatur irama pernafasan nya agar lebih tenang. Dia pun tidak mengerti mengapa dia sedemikian takut saat ini. Padahal masalah yang ia timbulkan sekarang adalah masalah sepele, hanya karena botol air mineral. Ini bukanlah dirinya yang biasa. Atau karena yang dihadapinya saat ini adalah boss ayahnya yang mungkin saja membinasakan kehidupan keluarganya. ‘Ohh, God! Please, bantu aku. Buat dia melunak. Aku tidak ingin membuat keluargaku hancur!’ Kinan  berdiri kemudian menekan bel pada unit di sebelah kanan. Kriettt! Kinan menoleh kebelakang seketika, matanya menangkap sosok pria asing nan tampan yang berdiri dibelakangnya, dengan rambut coklat dan badan topless. “Ohh, God. Are You sent me an angel?” Kinan bergumam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD