Harry memandangi tubuh Kinan dengan seksama. Harry sadar ada yang meronta dibawah sana. Berada dengan seorang wanita seperti Kinan memang merupakan siksaan yang amat menyakitkan baginya. Kinan begitu menggoda hasrat kelelakiannya. Semua yang ada pada tubuh gadis dihadapannya itu begitu menarik baginya. Dia mencari satu kekurangan Kinan agar hasrat yang menggebu-gebu itu dapat tertahan sebentar saja, namun sia-sia. Gadis dihadapannya sangat sempurna tanpa cela baginya.Fantasi liar Harry membuatnya kehilangan akal sehat. Harry semakin berani mendekat pada Kinan, dia memajukan wajahnya pada sisi kiri tubuh Kinan. Aroma parfum Kinan menguar dari area leher, seperti memanggil-manggil Harry untuk segera memagutnya.
“Apa kamu masih perawan, Kinan?” Dengan satu kali gerakan, tangannya berhasil melepas kancing celana jeans yang melekat pada tubuh Kinan.
Mendapat perlakuan yang menurutnya mengancam, Kinan segera membuka mata seraya beringsut mundur. Namun dia harus pasrah terduduk disofa yang berada tepat dibelakangnya. Ketakutan menyekap batin Kinan. Pak Harry memang seksi dan lumayan tampan, tapi Kinan tetap akan berkata tidak untuk hal yang menyangkut dengan keperawanannya. Hal itu juga berlaku kepada pacarnya, Neil.
“Hahaha, kamu tak mengijinkanku memeriksanya, Kinan?” Harry terkekeh melihat Kinan beringsut ketakutan menjauh dari dirinya, walaupun akhirnya Kinan terduduk di sofa yang berada dibelakangnya,”Kamu tahu apa akibatnya jika menolak kemauanku, Kinan?” kata Harry mengancam sambil berjalan kearah Kinan yang sedang terduduk sembari membetulkan kancing jeans nya yang tadi terlepas oleh ulah tangan Harry.
“Saya harus segera pulang, Pak.” Kinan kemudian segera berdiri berniat pergi dari apartment Harry. Jantungnya berdetak sangat cepat, sekarang bukan saatnya untuk menangis, yang terpenting adalah bagaimana dia bisa segera keluar dari apartment Harry.
“Tidurlah denganku dan layani aku malam ini, aku akan memberimu 250juta sebagai imbalan.” Kata Harry kemudian sambil menyaut pergelangan tangan Kinan.
Bagi Kinan, perlakuan Harry sungguh merendahkan dirinya.
‘250juta? Bahkan seorang gadis pernah mendapatkan 2milyar dari hasil jual selaput dara, dan dia hanya dihargai 250jt?’ rungut Kinan dalam hati.
“Simpan saja uangmu, Pak Harry Sanders yang terhormat!” kata Kinan sambil mengibaskan tangannya dari genggaman Harry. Dia berlalu keluar dari ruang kerja itu dan kemudian meninggalkan Harry.
“Kinan, katakan berapa yang kamu mau? Aku akan memberikannya.” Harry masih memaksa Kinan dan mengikuti Kinan hingga keruang tengah. Kinan bersiap mengambil tasnya yang tergeletak diatas sofa.
Kinan berhenti sejenak kemudian berbalik memandang laki-laki tampan yang telah beristri tersebut,”Saya tidak berniat menjual keperawanan saya kepada siapapun! Permisi!” kata Kinan dengan intonasi dan penekanan kata-kata. Dan gadis itu segera menghilang dibalik pintu, meninggalkan Harry yang kini harus frustasi menahan gejolak dibawah sana.
Harry berdiri mematung menahan kesal atas kebodohannya sendiri. Bagaimana mungkin seorang gadis menolak semua pesona yang dia miliki, bahkan dia bersedia membayar gadis itu. tapi Kinan tetap saja bersih keras menolak tawarannya. Membuat Harry merasa harga diri dan ego lelakinya jatuh.
“Aahh, B***sat!” Emosi Harry memuncak, dia menggebrak kabinet sepatu yang berada disisinya, ”Kenapa dia bisa membuat ku kehilangan akal seperti ini? Bagaimanapun caranya, aku harus memilikinya! Arghhh!!” Harry merasa frustasi. Dia segera menuju kamar mandi, menuntaskan hasratnya seorang diri.
*****
“Dia pikir membeli aku! Hiiii, ganteng-ganteng maniak! Huh!” Kinan menggerutu sambil menghembuskan nafasnya dengan kencang dilorong apartment sambil menunggu lift terbuka.
“Are you done?” Kinan menoleh pada suara asing yang terasa seperti bertanya padanya.
Namun dia kembali memalingkan wajahnya pada pintu lift yang masih tertutup begitu tahu siapa yang baru saja berbicara. Itu Edgar.
“Hey, I asking you, Kinan.” Kinan menoleh lagi pada Edgar begitu dia menyebut namanya. Darimana dia tahu namanya sedangkan dia tak pernah menyebutkannya.
‘Ahh, benar. Harry gila itu menyebut namaku dengan lantang dihadapan Edgar.’
“Hmm.. sudah selesai.” Jawab Kinan singkat.
“Cepat sekali. Apa dia klimaks secepat itu?” Edgar menimpali dengan pandangan tertuju pada lampu indikator lift yang menunjukan bahwa lift sudah sampai dilantai dimana mereka berada.
“Apa maks---“ kata-kata Kinan terpotong ketika pintu lift terbuka. Tangan Edgar entah mengapa juga sudah menempel pada bibirnya yang penuh membuatnya tercekat seketika.
Laki-laki itu kemudian memasuki lift terlebih dahulu setelah menarik jari telunjuknya dari bibir Kinan. Aneh. Perasaan Edgar serasa berdesir saat jarinya menempel pada bibir licin Kinan, apalagi saat gadis itu kemudian terdiam dan memandangnya dengan tatapan kaget. Gadis konyol, ingin rasnya Edgar melumat habis bibir gadis dihadapannya itu.
“Ayo! Apa kau tidak ingin turun?” Edgar menahan tombol open saat melihat Kinan yang masih terdiam didepan lift. Gadis itu tidak bergerak sedikitpun.
‘Dadaku. Aku bisa kena stroke kalau terus berada didekat bule gila ini! Dia membuat jantungku ingiin melompat keluar!’ batin Kinan bergejolak. Aneh tapi nyata. Satu jam yang lalu laki-laki itu membuatnya menangis, sekarang bahkan laki-laki itu mampu membuat hatinya bergejolak.
‘Dia membuat jantungku berdegup sekencang ini hanya dengan menempelkan jarinya ke bibirku?’ batin Kinan kembali meracau tak tentu arah. Sembari mulai melangkahkan kakinya menuju lift.
Bahkan pacarnya, Neil pun sudah sering melakukan hal yang lebiih padanya. tapi degupan-degupan seperti ini jarang sekali terjadi,’Apa aku menyukai bule ini? Apa secepat itu? Tapi aku mencintai Neil. Bukankah dia pacarku? Apa secepat ini aku jatuh hati pada laki-laki? Apa aku type wanita yang akan melakukan poliandri?’ semua pertanyaan itu memenuhi pikiran Kinan. Rasanya seperti Kinan gila sendiri menyikapi otaknya yang terkadang baik namun tak jarang juga kotor.
Edgar menekan Tombol untuk pergi kelantai dasar. Dia memperhatikan Kinan yang sejak masuk ke lift seperti orang linglung. Dia melirik Kinan sekilas yang berada dibelakangnya, tangan Kinan meremas-remas tas selempang mini yang berada didepan badannya. Edgar mengalihkan pandangannya pada lampu indikator lift sambil memasukan tangannya kedalam saku hoodie nya. Suasana lengang diantara mereka berdua.
“Ahhhh!!!!” teriak Kinan tiba-tiba. Membuat Edgar terlompat karena kaget. Reflek dia membalikan badannya earah Kinan yang sedang mengacak rambutnya.
“What’s wrong with you, Kinan?” tangan Edgar meraih tangan Kinan yang sedang mengacak rambutnya.
Kinan tersadar, dia terlalu menghayati lamunan dan pemikirannya hingga dia tak sadara ada Edgar disisinya sekarang.
“Hah?!” Kinan terkejut dengan sentuhan Edgar padanya, kemudian dia menyadari yang baru saja terjadi,”Ahh..Ahahahaha… aku baik-baik saja. Maaf sudah mengagetkanmu… hahaha” Kata Kinan sambil nyengir kuda menahan malu pada Edgar. Dia menyumpahi dirinya sendiri dalam hati, bagaimana bisa dia bertingkah seperti itu didepan Edgar. Pasti sekarang bule itu sudah sangat illfeel padanya.
“Mau aku antar pulang?” Tanya Edgar kemudian.
Pertanyaan yang menggelitik Kinan untuk mengatakan,”Apa tidak merepotkanmu?” sebagai jawaban. Itu berarti Kinan mau. tapi dia malu untuk menyatakan secara terang-terangan.
“Nope. Then follow me. I’ll take my car first.” Kemudian Edgar menekan tombol menuju lantai basement. Dia memarkirkan mobilnya disana.
Kinan tak menjawab apapun, dia dengan sangat gampangnya mengikuti Edgar. Seperti kerbau yang sedang dicucuk hidungnya. Dia lupa laki-laki tadi sudah bersikap kurang ajar padanya. namun dalam pandangan Kinan, Edgar bukanlah sosok yang patut dicurigai. Dia laki-laki yang baik menurut pendapatnya.
Laki-laki itu menuju basement apartment yang lumayan terang, disana hanya terparkir banyak mobil, lumayan penuh. Kinan mengekor pada Edgar dengan perasaan yang kemudian muncul menggelayuti perasaannya. Takut. Yang seharusnya perasaan itu muncul tadi sebelum dia memutuskan untuk mengikuti Edgar.
Bugg! Kinan menabrak d**a bidang Edgar yang tiba-tiba membalikan badan kearahnya. Kepalanya mendongak memandang Edgar yang menjulang tinggi dihadapannya.
“Ada apa, Edgar?” Kinan memandangi Edgar, berkata dengan suara bergetar tanda dia sedang merasa gelisah.
“Apa kamu begitu percaya padaku, Kinan?” suara Edgar terdengar seperti laki-laki yang hendak berbuat jahat padanya. Dengan seringai yang menghiasi wajah tampannya, Kinan kini dikungkung rasa gelisah.