“Apa kamu sepercaya itu padaku, Kinan?” Wajah Kinan memucat, mendengar kata-kata yang dilontarkan Edgar padanya membuat badannya seketika merasa gemetar. Matanya menyipit menandakan kadar kepercayaannya pada Edgar menurun drastic. Bodohnya Kinan mempercayai begitu saja tawaran laki-laki itu untuk mengantarkannya pulang padahal tadi Edgar baru saja merendahkan dirinya.“Kenapa kamu bertanya seperti itu padaku?” suara Kinan terdengar bergetar, ada ketakutan yang tergambar jelas dari raut mukanya. Ketakutan yang sebenarnya sudah dapat dibaca oleh Edgar, namun Kinan tetap berusaha untuk tak bersikap berlebihan.
Laki-laki asing itu berjalan maju menuju arah Kinan yang terlihat sedikit gelisah. Gadis itu tampak tak kuasa menahan laki-laki dihadapannya. Mata Edgar menatap tajam seperti hendak mencengkram mangsa saat dia kelaparan. Semakin Kinan melangkahkan kakinya mundur menjauhi Edgar, semakin Edgar melangkah semakin lebar mendekati Kinan.
“Edgar! You scared me! Stop there or I’ll scream!” tampaknya bukan hal bagus mengancam pria asing itu, dia terus saja bahkan bergerak semakin cepat mendekati Kinan.
“You trust others too easily, Kinan!” benar. Kelemahan Kinan adalah, dia terlalu mempercayai orang lain, sehingga dia tak pandai membaca bagaimana karakter orang lain. Semua manusia baginya adalah sama. Adalah manusia yang pada dasarnya baik. Namun itulah yang menjadi kesalahan terbesarnya sekarang.
Mata Edgar berkilat memantulkan cahay lampu basement. Wajahnya menakutkan dengan senyum menyeringai membuat Kinan seketika bergidik. Pikirannya berandai-andai tentang sesuatu hal yang buruk yang akan menimpanya sebentar lagi.
“It’s not funny, Edgar! Stop it!” malangnya gadis itu, dia tampak sangat ketakutan. Kinan menundukan badannya sambil menekuk kedua lututnya. Kakinya melemas tak dapat lagi menopang tubuhnya yang gemetaran, dia berjongkok menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya. Bahkan setelah semua yang baru saja dia lewati dengan Pak Harry, dia tak merasa setakut saat dia bersama Edgar sekarang.
Punggung Kinan naik turun, nafasnya terdengar tak berarturan lagi. Dia mulai menangis sesenggukan.
Ketakutan Kinan dapat Edgar tangkap dari terangnya cahaya lampu basement yang menyinari mereka. Tampak gadis itu gemetar menangis. Namun dia tidak berlari, melainkan meringkuk diantar kedua lututnya sambil berjongkok dihadapan laki-laki asing itu. Membuat Edgar kalang kabut sekarang, niatnya untuk menggoda Kinan kini menjadi boomerang baginya sendiri. Bukan maksud hatinya untuk membuat seorang gadis menangis sampai seperti ini. Lagipula bagaimana bila security ataupun orang lain melihatnya?
“Hey hey… I’m just kidding, Kinan. Don’t cry, oke? Kinan… come on. Aku hanya ingin menggodamu.”
Gadis itu merasa laki-laki dihadapannya sungguh keterlaluan. Edgar bahkan membuatnya hampir pingsan karena ketakutan, bagaimana jika dia benar-benar orang jahat yang akan memperkosa dan membunuhnya, lalu dia akan dibuang kejalanan dan tak dapat lagi menikmati kehidupan masa mudanya yang menyenangkan.
“Kamu benar-benar bule berengsek, Edgar!” Kinan berusaha berdiri walaupun dengan tubuh yang gemetaran. Dia berbalik arah menuju lift dan mulai meninggalkan Edgar yang masih bingung harus bagaimana memperlakukan wanita Indonesia didepannya. Gadis itu begitu menggemaskan dan memikat hatinya. Membuat Edgar selalu tergelitik untuk menyentuh dan menggodanya.
“Kinan, ayolah. Aku minta maaf. Aku hanya ingin menggodamu. Don’t be too serious. I didn't know you would be this scared.” Pria itu mengejar Kinan, menggenggam tangannya dan menghentikan Kinan. Tampaknya kali ini Kinan benar-benar marah. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada Edgar yang sudah berdiri dibelakangnya sambil menggenggam tangannya.
“Seharusnya kamu memikirkan perasaanku. Aku mempercayaimu karena menurutku, kamu adalah laki-laki yang baik. But I misunderstood, Edgar.” Gadis itu berlalu setelah menghempaskan tangan Edgar yang menggenggam lembut tangannya. Kinan melangkah dengan cepat menuju lift yang akan membawanya kelantai 1, secepatnya Kinan ingin pergi dari apartment laknat itu. Jangan-jangan semua penghuninya adalah laki-laki m***m yang sangat suka menggoda seorang wanita. Hiiii, membayangkannya sudah membuat Kinan bergidik.
“Forgive me, Kinan. Oke?” Bule itu rupanya masih saja mengejar Kinan. Dia berusaha agar Kinan memaafkan dia. Namun, Kinan sudah terlanjur kesal. Walaupun Edgar begitu sexy dan tampan bagi Kinan. Tapi lagi-lagi Kinan harus menepis pikiran gilanya itu karena lagi-lagi bule ini begitu iseng menjahilinya. Lebih baik Kinan menjauhinya atau dia akan mati emosi jika berdekatan lagi dengan laki-laki itu.
Tingg!
Lift terbuka bagi Kinan, tanpa berlama-lama lagi dia melangkahkan kakinya masuk kedalamnya. Meninggalkan Edgar yang berdiri mematung dalam pengharapan maafnya pada Kinan.
Pintu lift tertutup perlahan namun pasti. Kinan meraba dadanya, degup jantungnya masih berlari tak beraturan. Peluh membasahi sekitaran dahi dan pelipisnya. Dia menghirup nafas panjang berusaha mengatur jalan pernafasanya agar tak pingsan karena kejadian barusan,”Bule sialan!” umpatnya dengan sangat kesal.
Edgar sama sekali tak dapat mencegah kepergian Kinan dari hadapannya. Tangannya memukul tembok yang sedari tadi bisu menyaksikan kebodohan Edgar. Seketika Edgar merutuki dirinya sendiri. Menyumpahi dirinya yang bisa seketika kehilangan akal ketika berada didekat Kinan. Dia tak tahu bahwa gaya bercandanya dapat sebegitu menakutkan bagi gadis itu.
“Damn it! What's wrong with you, Baldwin?!” Ini bukan seperti dirinya, ada yang lain dari gadis itu. Dia membuat Edgar selalu bertingkah agresif dan konyol.
‘Aku harus menyusulnya. Aku akan mengantarkannya pulang and apologized to her again.’ tekad kuat Edgar dalam hatinya tak terpatahkan lagi. Setengah berlari dia menuju BMW putihnya yang terparkir diujung lorong.
Suara decitan ban mobilnya memenuhi lantai basement ketika Edgar menginjak gas mobilnya. Dia tak ingin membiarkan kesempatan ini hilang atau dia tak akan bisa lagi untuk bertemu dengan Kinan. Edgar sama sekali tak mengetahui info tentang Kinan, kecuali nama Kinan itu sendiri. Maka sudah bisa dipastikan semuanya akan menjadi sulit saat dia kehilangan gadis itu malam ini. Bagaimana dapat mencari satu nama Kinan di kota sebesar ini?
***
Kinan berdiri di bus stop yang berada tepat didepan apartment itu. Dia berusaha menetralkan perasaan marah nya pada Edgar. Laki-laki itu sudah membuatnya kehilangan mood yang susah payah dia bangun setelah kejadian menakutkan bersama Pak Harry.
‘Pak Harry? Apa dia akan benar-benar memecat ayah karena aku tidak mengganti rugi mobilnya? Atau dia akna memecat ayah karena aku tidak mau melayani nafsu bejatnya?’ batin Kinan kemudian mulai bertanya-tanya dengan cemas. ‘Jika benar ayah akan dipecat bagaimana dengan keluargaku? bagaimana dengan hidupku nanti?’
Kinan kembali terduduk di tempat duduk yang disediakan oleh bus stop. Dia kembali menghela nafas panjang, pemikirannya berkelana jauh dari tubuhnya berada saat ini. Keningnya berdenyut pelan, rasa khawatir mulai menyiksanya. Berkali-kali dia menghela nafas untuk menormalkan perasaannya, namun itu pun belum cukup amppuh untuk memusnahkan rasa kalutnya.
Dia melihat kearah jam tangannya. Sekarang sudah pukul 20.40. Pengalaman melelahkan hari ini dia rasa sudah cukup, dia mengambil ponselnya yang berada didalam tasnya. Menekan satu nomor berhiaskan emoticon love diawal dan akhirnya.
Tut! Tut! Tut! The number you have dial----
Belum selesai operator memberikan info, Kinan secepat kilat mematikan panggilannya dengan sangat kesal.
“Kamu lagi dimana sih, Neil! Brengsekk!” Kinan menggerutu. Bahkan setelah seharian mendiamkan dirinya, Neil belum juga mengaktifkan ponselnya,”Apa dia buta, banyak lelaki mengelilingi aku! Dia pikir aku tak bisa hidup tanpa dia!” Dengan kesal dia memasukan kembali ponselnya kemdalam tas. Dia melihat beberapa kali taksi melewatinya, namun Kinan masih enggan untuk menghentikan mereka. Dia sedang asyik edngan pikiran dan kekalutannya sendiri.
Pandangannya menengadah ke langit yang mulai menggelap dihiasi dengan satu dua bintang yang menemani bulan sabit malam itu. Mereka seperti menghibur hati Kinan yang memang sedang tak baik.
Nada dering ponsel Kinan berrbunyi diiringi dengan getaran lembut didalam tas selempangnya. Membuat Kinan segera menghentikan lamunannya dan meraih ponselnya.
“Ibu?” Kinan menggumam, “kenapa Ibu menelpon?” Tanda tanya besar merasuki pikirannya. Ini bukan seperti biasanya. Ibunya akan membiarkannya bila mengetahui Kinan bersama dengan Tania, apalagi tadi juga dia sudah berpamitan.
“Hallo, ya, Ibu.. ada apa?” Tanya Kinan.
“Kinan, pulang, Nak! Ayah, kecelakaan Kinan!”
Prakkkk!
Ponsel Kinan terjatuh. Bukankah tadi saat berpamitan ayahnya sudah pulang bekerja dan sedang baik-baik saja, apa yang terjadi sekarang? Mengapa bisa terjadi kecelakaan?
Tanpa pikir panjang lagi, Kinan segera memunguti ponselnya yang berada di tanah dan segera menyetop taksi yang melewatinya, namun tak ada satu pun yang bersedia berhenti untuknya.
‘Apa semua taksi-taksi itu penuh?’ pikiran Kinan semakin bertambah kalut. Pikiran buruk tentang keadaan ayahnya menari-nari diotaknya. Dipenuhi dengan perasaan khawatir serta takut kehilangan ayahnya lebih tepatnya.
Dciiitttttt!
Decitan ban mobil yang mengerem mendadak terdengar mengagetkan Kinan yang memang sedang membutuhkan tumpangan. Dia memperhatikan mobil BMW berwarna putih yang berhenti dihadapannya. Siapa dia? Tak mungkin dia Neil, dia tak tahu dimana Kinan berada saat ini. Ditambah lagi mobil Neil tak semewah ini.
Pintu kaca mobil disebelah kiri diturunkan pengemudi secara perlahan namun pasti.
“Edgar?” bagus dengan begini dia bisa meminta Edgar untuk mengantarkannya pulang. Pikirannya sedang kacau, tanpa pikir panjang dia segera membuka pintu depan mobil persis disebelah Edgar dan masuk kedalamnya,”Tolong antar aku pulang ya, Bule?” pinta Kinan sambil bergegas duduk lalu memasang seatbeltnya sendiri.
“Hah? Oh, OKE..!”tanpa pikir panjang lagi Edgar segera menginjak gas dengan kecepatan diatas rata-rata. Ada perasaan senang didalam dadanya, dia merasa tak perlu banyak berusaha membujuk Kinan. Dia sudah masuk kedalam mobilnya, itu tandanya Kinan sudah memaafkan Edgar. Tapi Edgar tak dapat memperhatikan bagaimana ekspresi wajah Kinan yang kalut dan memucat.
Tanpa sepatah katapun mereka melaju menyusuri jalanan yang ditunjukan oleh Kinan.