Reno mengangguk-angguk. Ada rasa kagum sekaligus iba melihat Maya pengangguran."Kamu mau kerja, Maya? Kamu kan sarjana ...sayang loh enggak kerja. Kalau mau nanti aku minta tolong sama Randy, biar masukin kamu ke kantornya."
“Sebelumnya Maya kerja kok, Om, di kantoran, cuma Maya resign, biar nemeni Emak di rumah.”
“Biar nanti aku tanyain kantor yang dekat-dekat sini.” Reno masih terus menawarkan.
Maya tertawa geli. "Enggak, Om, Makasih. Ini memang Maya udah yakin mau wirausaha aja. Kasihan Emak enggak ada temennya. Enggak apa-apa deh Maya dikata-katain sarjana pengangguran, sarjana jualan es. Yang penting hati emak lega dan tenang Maya ada Di rumah."
“Oh gitu ya...semua demi Emak.” Reno mengangguk-angguk mengerti.
"Iya...biar sedikit yang penting berkah." Maya tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya yang berjajar rapi.
"Kamu punya pacar, May?” Entah kenapa Reno mengeluarkan pertanyaan itu. Ia sendiri terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya secara spontan. Tapi, sudah terlanjur.
"Ke kebun binatang lihat jerapah, dikasih makan sambil koplo. Jika Om duda bertanya status Maya apa, Maya ini seorang Jomlo!" Maya tersenyum lalu memainkan alisnya.
Reno tersenyum penuh arti."Syukurlah."
"Maksudnya, Om?" Maya mengerutkan keningnya.
Reno terdiam sebentar, lalu berkata."Jalan-jalan ke rumah joglo, syukurlah kalau Maya Jomlo."
"Goyang koplo, sama neng sipa. Kalau Maya Jomlo, memangnya kenapa?" balas Maya.
"Jalan jalan ketemu gigolo, berhenti sebentar membeli pepaya. Kalaulah Maya Jomlo. Saya mau daftar jadi calon suami Maya." Wajah Reno sudah merah menahan rasa malu. Ia tidak bisa berpantun, dan rasanya ini aneh sekali. Tapi, untunglah Maya tidak menertawakan dirinya. Gadis itu bersikap santai-santai saja.
Maya terkekeh. "Makan tahu, naik sepeda.Om kan tahu, Maya enggak mau sama Duda."
"Makan cireng ke Alaska!"
"Busyet!" Maya dan Reno tersentak kaget. Tiba-tiba ada suara keras dan hentakan kaki seperti sedang melompat. Ternyata itu Emak Maya.
Emak Maya tertawa dengan santainya. Ia menatap Reno dan Maya bergantian."Makan Cireng ke Alaska. Cirengnya jatuh dimakan ikan. Hei kalian berdua jangan berpantun aja. Makan...yuk makan..."
Reno tersenyum, lesung pipinya terlihat begitu manis di wajahnya."Ibu bisa aja. Sampai kaget saya."
"Habisnya...kalian berbalas pantun terus, memangnya pantun bisa bikin perut kenyang. Udah jam makan malam...emak udah siapin sotonya. Makan ya."
"Eh, jangan repot-repot, Bu...duh maaf nih," kata Reno tak enak.
Emak menggeleng."Enggak apa-apa. Reno harus cobain soto emak. Khusus buat tamu kehormatan."
"Waduh, jadi segan nih." Reno bangkit dari kursi, begitu juga Maya.
"Enggak apa-apa, Om...ayo kita makan sama-sama." Maya berjalan duluan ke warung.
"Maaf ya, Bu, ngerepotin," ucap Reno pada Emak Maya.
Emak Maya mengangguk, lalu ia mengamit lengan Reno." Ada daun dimakan ulat bulu."
"Cakep, Bu!" ucap Reno pelan.
"Ulatnya jatuh dimakan ikan," sambung Emak Maya.
"Oke." Reno masih menyimak.
"Ayo,Reno...makan soto emak dulu, jadi menantu kemudian." Emak menepuk lengan Reno dengan keras lalu tertawa dan berjalan duluan.
Reno mengusap tengkuknya dengan wajah merah. Ia tersipu sekaligus senang seakan ini adalah pertanda baik. Ia segera duduk manis di atas bangku dan makan bersama Emak dan Maya.
Usai makan, Maya langsung mencuci piring dan membiarkan Emak ngobrol dengan Reno. Ia sendiri merasa aneh jika berlama-lama dengan Reno. Maya jadi takut kalau Reno suka padanya. Seandainya lelaki itu suka padanya, ia akan bingung harus menjawab apa. Ada rasa tidak enak jika menolak karena pria itu begitu baik. Namun, pilihan hatinya tetaplah sama, tidak ingin dengan duda.
"Maya!" emak menghampiri.
"Iya, Mak?"
"Sana temeni Reno, dia kan ke sini buat jenguk kamu. Dihargai dong."
"Iya, Mak. Udah selesai kok ini." Maya mengeringkan tangan dan menemui Reno yang duduk di warung. "Maaf, Om ditinggal."
"Iya, Maya. Enggak apa-apa. Cokelatnya enggak dimakan?"
Maya mengangguk, ia pergi ke ruang tamu dan mengambil sebatang cokelat."Maya makan sbil ngobrol ya, Om. Om mau enggak?"
"Enggak suka cokelat," jawab Reno.
"Kok enggak suka, sih...enak loh. Manis...dan ada pahitnya kayak hidup ini." Maya tertawa kecil.
”Udah ada rencana menikah,May?"
Maya cengengesan.”Menikah? Pacar aja enggak punya masa udah mikirin nikah. Ya belum, Om. Kasihan juga sama Emak kalau pun Maya mau menikah sekarang. Nanti kalau Maya nikah, Maya kan pasti lebih fokus sama suami. Terus...emak Maya gimana. Masa mau tinggal sendirian. Ya kalau suaminya pengertian mau nampung Emak. Kalau enggak...kan bahaya.”
“Kamu kepikiran sampai sana ya.” mata Reno tak lepas dari gadis di hadapannya yang sedang sibuk mengunyah cokelat tanpa rasa malu giginya berlumur cokelat. Maya terlihat apa-apanya sekali.
“Ya mau gimana, Om...kan Emak cuma satu-satunya yang Maya miliki. Bapak udah meninggal. Eh, maaf jadi curhat."
Reno tersenyum saja. Ia meneguk air putih sisa ia makan tadi.”Tapi, kalau seandainya ada lelaki yang mau lamar kamu terus...bersedia membawa kamu dan emak...kamu bersedia?”
“Wah, emangnya ada lelaki kayak gitu, Om? Ada tapi....mungkin langka ya.” Maya tertawa lirih.
“Pasti ada, Maya. Jawablah...kamu bersedia enggak?”
“Bersedia banget, Om. Tapi...” Maya menggantung ucapannya.
“Tapi...?” Reno mulai tidak sabar.
“Asalkan bukan duda!”
Reno langsung tersedak karena ia baru saja mengangkat gelas dan meneguk minumnya sedikit lagi."Sorry."
“Om, jangan kaget gitu!” Maya membantu mengusap punggung Reno.”Pelan-pelan, Om...nanti kalau masih haus Maya ambilkan lagi."
Reno terbatuk-batuk dan berusaha mengurangi rasa perih di tenggorokannya. ”Sudah, May. Sudah enggak apa-apa.”
Maya menghentikan usapannya.”Maaf ya, Om, mungkin karena Maya nyebut-nyebut Duda ya.”
Reno meringis.”Iya...memangnya kenapa dengan duda, May?”
Maya terdiam beberapa saat. Ia seperti sedang berpikir mencari jawaban atas pertanyaan Reno.”Duda itu...sudah pernah menikah dengan wanita lain. Sudah bersentuhan dengan wanita lain....”
“Yang masih lajang juga banyak sekarang yang udah bersentuhan sama wanita, Maya. Sekarang enggak harus nikah untuk melakukan hubungan badan,” jelas Reno secara gamblang.
“Emang gitu, Om?”
Reno mengangguk.”Iyalah. Kamu kan kerja di kota besar, seharusnya tahu dong hal-hal seperti itu.”
Maya menggeleng.”Enggak tau, Om. Maya pulang kerja..ya langsung tidur. Bangun tidur...kerja lagi. Gitu aja terus sampai ladang gandum dihujani lapisan cokelat.”
Reno tertawa.”Terus...apa lagi yang membuat kamu tidak mau sama duda, pernyataan kamu yang pertama sudah terbantahkan. Sudah jelas kan...kalau duda melakukan hubungan itu secara halal, karena statusnya menikah. Sementara sewaktu lajang? Itu namanya zina!”
“Iya juga, sih...tapi kan Maya enggak tahu. Terus...kalau Duda itu kan...sudah pernah punya isteri, otomatis seumur hidupnya akan terus dibayang-bayangi oleh sang mantan isteri. Bohong kalau enggak.”
“Enggak semua kok. Saya udah enggak komunikasi sama isteri lagi, ya walaupun sesekali enggak sengaja ketemu.”
“Terus sama anak gimana?”
“Kami belum punya anak waktu itu, Maya...”