Bab 9

1133 Words
Maya menjentikkan jarinya.”Nah, itu ribetnya lagi, om, kalau dudanya punya anak. Kita harus menyesuaikan diri sama anaknya. Ya kalau anaknya suka sama kita. Kalau ternyata dia menganggap kita ini adalah ibu tiri yang jahat, kan kasihan.” Reno mengusap kepala Maya dengan gemas.”Pemikiran kamu aneh-aneh aja deh, May. Ya logika juga, sih apa yang bilang barusan.” “Habisnya pertanyaan Om juga aneh. Kenapa gitu nanya seandainya ada yang melamar Maya. Om mengajarkan saya berandai-andai.” Maya merapikan rambutnya. “Ya udah kalau gitu, May. Saya pulang dulu ya.” Reno melihat jam tangannya. “Iya, Om. Hati-hati. Terima kasih udah dijenguk dan dibawain cokelat juga." “Ibu, saya pulang dulu ya.”Reno menghampiri Emak yang baru saja muncul. “Iya,Reno...terima kasih udah jenguk Maya. Sering-sering main ke sini ya. Siapa tahu aja jodoh." Emak Maya tertawa cekikikan. “Iya, Bu, sama-sama. Saya pamit.” Reno melayangkan senyuman manis pada Maya sebelum ia naik ke atas sepeda motornya. Maya dan Emak memandang Reno yang sudah menghilang di perempatan. “Kok kamu bisa akrab sama Reno, May?” Maya menggeleng.”Enggak akrab banget kok, Mak. Kan karena Maya beli buahnya di kiosnya terus.” “Kamu dibawain apa tadi?” Maya mengacungkan cokelat yang sudah ia makan sedikit. “Cokelat!” Emak mengerutkan keningya.”Dia suka sama kamu, May.” Maya tertawa geli.”Ih, mana mungkin, Mak.” “Terus kenapa dia jenguk kamu sampai bawa cokelat. Lagian kamu kan enggak sakit apa-apa, Cuma datang bulan. Dia udah khawatir aja. Apa namanya kalau bukan suka,” jelas Emak lagi. “Ih jangan deh, mak. Dia Duda....” Maya memanyunkan bibirnya adan duduk di bangku kayu. Emak ikut duduk.”Memangnya kenapa dengan duda? Dia udah cerai kan sama isterinya. Selama ini juga dia dikenal sebagai lelaki baik. Enggak pernah macem-macem sama perempuan biar kata duda.” “Nanti apa kata orang kalau Maya dapat duda, Mak. Nanti Emak juga diomongin orang loh.” “Ya kalau kalian saling suka ya Emak hanya bisa mendukung. Kenapa harus dipikirin omongan orang. Kan yang ngejalani hubungan adalah kamu sendiri. Apa yang salah dari status duda? Eh...Emak ini janda, kamu pasti enggak suka kan kalau kamu diejek-ejek punya emak janda?" Maya tersenyum kecut."Enggak, sih, Mak. Maya tersinggung.” "Ya makanya, jangan menjelekkan status orang begitu. Dosa...apalagi dia lebih tua dari kamu," nasehat Emak lagi. Maya menopang dagu dengan kedua tangannya.”Jadi, Emak setuju gitu kalau Maya sama duda?” Emak mengangguk.”Kalau dudanya kayak Reno, okelah!” Maya tertawa, ia mulai geli dengan pembicaraan ini. Ia masih terlalu muda untuk membayangkan sebuah pernikahan.”kita ngomongin apa, sih, mak. Lagi pula belum tentu Om Reno ke sini untuk Maya. Siapa tahu ke sini mau deketin Emak.” “Ada –ada aja deh kamu ini. Emak setia sama Bapak kamu dong!” “Siapa tahu, kan? Soalnya usia Maya sama Om Reno kan...ya jauh banget.” “Maya!” Wajah Emak mulai terlihat serius.”Kalau seandainya ada yang ngelamar kamu, kamu harus terima ya.” “Kenapa harus, Mak?” “Emak kan udah tua, Emak enggak tahu sampai kapan dikasih hidup. Kan kalau kamu udah nikah, Emak jadi lebih tenang. Ada yang jagain kamu.” “Jangan ngomong gitu deh, Mak, Nyeremin banget. Pokoknya nanti jodoh itu bakalan datang sendiri. Udah diatur Maya bakalan nikah sama siapa. Emak jangan khawatir.” "Iya, deh..." Emak mengalah. Maya berusaha tersenyum meskipun ucapan Emak barusan terdengar begitu horor. Hampir saja ia meneteskan air mata. Tapi, ia harus terlihat kuat karena saat ini ia adalah tumpuan hidup Emak saat ini. Reno melajukan sepeda motornya sampai ke rumah. Jupri membukakan pintu pagar dengan sigap. Kebetulan ia sedang duduk di gazebo depan bersama sang isteri dan anaknya. "Darimana, Bos?"tanya Jupri yang kemudian menutup pagar kembali. "Dari rumah Maya,"jawab Reno sambil memarkirkan sepeda motornya ke dalam garasi. "Mau kopi, Pak?"tanya Ratna,isteri Jupri. Reno mengangguk."Boleh...kopi hitam ya." "Iya, Pak." Ratna membawa anak dalam gendongan dan membawanya ke kamar. Setelah itu membuatkan kopi untuk Reno. "Habis ngapel, Bos?"tanya Jupri.        Reno tertawa geli karena merasa aneh dengan istilah 'ngapel'. Ia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta."Jenguk Maya...katanya kan sakit." "Jadi, Mbak Maya sakit apa, Bos?" "Cuma enggak enak badan biasa aja kok, Pri." Jupri mengangguk-angguk."Syukurlah kalau begitu, Bos." "Besok...kamu yang buka kios ya, soalnya saya harus ke kota." "Ngapain, Bos? Kok tumben?" Jupri berusaha mengingat-ingat jadwal mereka. Sepertinya besok belum waktunya memasok buah ke supermarket yang ada di kota. "Mau ketemu temen, ada urusan sedikit." "Oh, gitu, Bos." "Bos, tadi Mpok Leha ke sini,"kata Jupri sambil mencomot singkong goreng buatan isterinya. Reno pun ikut mencomot singkong goreng."Mpok Leha? Ngapain?" "Dia ngirim hadiah buat bos, kayak kado gitu...kayaknya mahal." Reno terkekeh."Ngapain dia ngirim kado-kado begitu." "Kan, Mpok Leha suka sama Bos..." Reno menghela napas panjang."Iya saya tahu, Pri, tapi saya enggak tertarik sama Leha." "Kenapa, Bos, kan dia baik...suka ngirim-ngirimin makanan, hadiah, terus...perhatian juga sama Bos." Reno menggeleng."Enggak tahu kenapa. Memang enggak tertarik. Soalnya dia kan orang kaya...tanahnya dimana-mana. Lah saya ini kan cuma penjual buah, Jupri." "Ah, dia kaya juga karena warisan suaminya bos. Bukan kaya dari lahir." "Yang penting saat ini dia kaya raya." Ratna pun datang membawa secangkir kopi hitam pesanan Reno."Silahkan diminum, Pak." "Terima kasih, Ratna. Oh iya...ini." Reno mengambil dompet dari kantong dan mengeluarkan selembar seratus ribu."Buat belanja besok ya. Soalnya saya kan besok pergi. Enggak tahu baliknya sore atau malam." "Terima kasih, Pak. Uang belanja kemarin sebenarnya masih ada kok, Pak. Masih cukup buat makan," kata Ratna tidak enak. "Diterima aja, ya, Ratna...kalau sisa ya udah ditabung buat masa depan kalian bertiga." Reno tersenyum hangat. "Makasih, ya, Bos...maaf kita di sini ngerepotin." "Ya enggaklah, lagi pula...saya senang kalian di sini. Saya jadi ada temennya." Reno meraih cangkir kopi dan menyeruputnya sedikit. Ia pun mengecek ponselnya sebentar, lalu kembali bercerita banyak dengan Jupri dan Ratna. Jupri dan Ratna adalah anak dari tetangga orangtua Reno di kampung kelahiran mereka sana. Jupri butuh pekerjaan untuk menghidupi isterinya yang sedang hamil kala itu. Reno pun mengajak Jupri untuk bekerja di kios buahnya. Ia juga menyediakan tempat tinggal bagi mereka berdua, serta menganggap Jupri dan Ratna seperti keluarga sendiri. Sekarang kehidupan Jupri dan Ratna mulai membaik, mereka bisa menabung sedikit demi sedikit agar nantinya bisa memiliki rumah sendiri. ** Pergi ke pasar beli ikan pari, Dimasak gulai minumnya jus mengkudu, Wah, Maya...Enggak lihat Om Duda sehari, Langsung kesepian dan merasa rindu.  **   Reno keluar dari mobil sedan bewarna hitam yang baru satu tahun ini ia pakai. Ia memasuki gedung besar yang menjadi tempat Randy mencari uang. Ini adalah kantor Randy. Ia segera pergi ke resepsionis, memberitahukan ia ingin bertemu dengan Randy. Setelah itu, ia dipersilahkan menuju ruangan Randy. Reno sudah beberapa kali berkunjung ke sini sehingga tidak butuh waktu lama untuk menemukan ruangan temannya itu.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD