Reno mengetuk ruangan Randy. Tidak ada jawaban atau siapa pun yang membukakan pintu. Ia mengetuk pintu lebih keras lagi dan membukanya perlahan.
"Permi ...si!" Reno jadi salah tingkah saat membuka pintu ternyata Randy sedang berbicara dengan seorang wanita. Wajah mereka terlihat sangat serius sekali."Ma...maaf. saya keluar dulu kalau gitu."
"Ren!" panggil Randy."Masuk aja!"
"Enggak apa-apa, nih? Aku takut ganggu."
"Enggak, cuma ini aja ada masalah sedikit," kata Randy sambil menatap gadis di hadapannya.
Reno duduk perlahan, menatap kedua manusia di sekitarnya dengan heran."Beneran enggak apa-apa, nih? Kayaknya lagi ada masalah?"
"Enggak!" jawab mereka berdua secara bersamaan.
"Wah, kompak bener." Reno tertawa geli. Ia pun berusaha menyibukkan diri dengan mengambil salah satu majalah bisnis yang ada di atas meja.
"Kamu harus tanggung jawab, Ana,"kata Randy dengan wajah serius.
"Pak, saya udah jelaskan kronologinya. Mereka pergi sudah di jam kerja. Artinya...mereka bukan tanggung jawab saya lagi. Masa saya harus ngikutin mereka kemana-mana. Memangnya saya Ibu mereka, Pak,"balas Ana kesal.
"Tapi, harusnya kamu tahu masalah ini, Ana. Saya harus jawab apa dong ke orangtua mereka." Randy terlihat mulai pusing menangani masalah yang sedang terjadi saat ini.
"Ada apa, sih?" Reno menimpali.
"Gini, Pak, Kan...ada anak-anak sedang PKL di sini, nah...ternyata salah satu di antara mereka ada yang enggak pulang-pulang ke rumah. Tapi, datang ke kantor setiap hari. Setelah diselidiki, ternyata anak itu pacaran sama salah satu karyawan di sini...bahkan sekarang malah hamil," jelas Ana.
Reno menautkan kedua alisnya."Wah ...masalah yang berat. Tapi, kenapa kamu yang harus bertanggung jawab?"
"Karena dia memang yang bertanggung jawab atas anak-anak itu selama di sini," sambung Randy.
"Kalau yang seperti itu kan sudah di luar kantor, Ran. Dan...seharusnya yang diinvestigasi karyawan yang pacaran sama anak PKL itu. Bukan ke dia..."
Ana mengangguk setuju."Benar, Pak. Saya kan enggak tahu apa-apa. Tapi, Pak Randy bukannya manggil Vano, yang jelas-jelas tersangkanya. Malah saya...berkali-kali dan dimarah-marahin terus sampai berjam-jam begini."
"Kamu curhat, An?" tanya Randy.
"Iya, Pak, saya curhayatun...Hayati lelah, Pak...dimarahi setiap hari untuk masalah yang sama." Ana menghentakkan kakinya kesal.
Reno tertawa."Sudah, Ran, kasihan tuh. Matanya sampai merah."
"Ya udah sana balik kerja,"kata Randy pada Ana.
Ana membulatkan matanya."Balik? Tapi, janji enggak dipanggil lagi ya, Pak."
"Nanti saya mau panggil kamu lagi...masalahnya belum selesai."
Ana menarik napas, lalu mengeluarkannya perlahan."Ya Tuhan, ampunilah dosa bosku yang duda ini."
"Kamu bilang apa, An?" tanya Randy.
Ana tersenyum."Enggak, Pak. Saya kembali bekerja dulu. Permisi."
Randy mendengus sebal, ia mengendurkan dasi lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Melihat sikap temannya itu Reno tertawa.
"Kenapa Lo?"
"Stres lah karyawanku hamilin anak-anak PKL. Mana itu anaknya temenku lagi." Randy mengusap wajahnya.
"Wah, kayaknya aku datang di saat yang tidak tepat nih."
"Memang mau ngapain?"
"Loh, kemaren katanya aku disuruh datang..."
Randy tertawa."Iya, lupa. Tapi, saat ini aku memang lagi sibuk banget. Ke Rion dulu deh. Ntar makan siang ,aku ke sana."
Reno melirik jam tangannya."Jam segini, Rion sih masih molor...kebanyakan begadang."
"Bangunin aja, gedor sampe pintunya jebol."
"Ya udah, aku ke sana ya. Jangan lupa ntar makan siang bareng." Reno berdiri dan berjalan ke pintu diikuti oleh Randy.
"Aduh!"
Randy dan Reno sama-sama terkejut saat pintu terbuka ada suara jeritan dan benda jatuh. Ana terbaring di lantai, ia meringis kesakitan sambil memegangi keningnya yang mencium lantai.
"Kamu ngapain, Ana?" Randy membantu Ana bangkit.
"Ng...nganu, Pak. Jatuh."
"Saya juga tahu, kamu jatuh...tapi kamu ngapain di balik pintu? Nguping?"tatap Randy curiga.
Ana meringis, antara ketakutan dan kesakitan."Ngg...nggak, Pak. Cuma mau dengerin diam-diam."
"Ya udah aku pergi ya, kalian berdua...bertengkarlah dengan damai."Reno melambaikan tangannya dengan geli. Sampai saat ini ia berjalan beberapa meter, suara Randy masih saja terdengar memarahi Ana. Namun, gadis keras kepala itu tetap membalas sebagai salah satu bentuk pertahanannya karena ia tidak suka disalahkan atas sesuatu yang tidak ia lakukan.
Reno melajukan kendaraannya memasuki sebuah komplek perumahan. Ia menuju sebuah rumah berkonsep minimalis. Ia memarkirkan kendaraannya tepat di tepi jalan depan rumah Rion. Ia pun keluar.
"Mas!"
Reno menoleh ke sumber suara. Ada seorang wanita cantik mengenakan kaos hitam dan hot pants berdiri di depan rumah yang ada di sebelah rumah Rion."Iya, Mbak?"
"Mobilnya jangan diparkir di situ, soalnya nanti saya mau keluar susah,"katanya dengan wajah tak senang.
"Maaf, Mbak...nanti saya masukkan ke dalam. Tapi, saya bangunin Rion dulu biar dibuka pintu pagarnya.
Wanita itu mendecak sebal."Susah banguninnya,Mas. Tidurnya kayak kuda mati!"
Reno tersenyum saja, memang susah meladeni wanita. Solusinya cuma banyak diam dan senyum. ."Iya, soalnya kan dia selalu bergadang. Saya telpon dulu...mudah-mudahan bangun." Ia pun segera menghubungi Rion. Nada terhubung terdengar beberapa kali dan kemudian Rion menjawab dengan suara malas khas bangun tidur.
"Aku di depan nih. Buka cepetan."
"Hmmm." Hanya itu jawaban Rion. Dengan mata yang berat ia segera bangkit dari tempat tidur dan pergi ke depan.
"Susah banget, dibangunin. Paling juga dia tidur lagi, Mas,"katanya dengan yakin.
"Nah, itu Rion," kata Reno pada wanita itu. Rion keluar dengan wajah khas bangun tidur, rambutnya juga acak-acakan. Namun, lelaki itu tetap terlihat tampan.
Wanita itu melirik Rion tajam."Pengangguran satu ini." Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hah?" Reno terkejut mendengar ucapan wanita itu.
Rion melihat ke arah tetangga seksinya itu."Hai, Mbak...pagi-pagi udah di depan rumahku aja. Kangen ya?"
Wanita yang bernama Risty itu tertawa dengan nada mengejek."Kangen? Ogah. Udah cepetan buka pintu pagar kamu...terus masukin ini mobil temen kamu. Sebentar lagi aku keluar, mobilku susah lewat."
Rion hanya bisa nyengir."Iya, Mbak Risty yang cantik."
Risty membuang wajahnya, lalu ia pergi ke dalam rumah. Sementara Rion menguap lebar menunggu Reno memasukkan mobilnya ke pekarangan rumah.
"Pagi-pagi udah kena semprot sama tetanggamu nih, Yon,"protes Reno.
Rion tertawa."Memang begitu orangnya...maklum udah tua."
"Tua apanya?"
"Maksudnya lebih tua dari aku. Yuk masuk." Rion mempersilahkan Reno masuk.
"Tadi dia bilang kau pengangguran, Yon."
"Ya habisnya aku kan di rumah terus...ya dianggap pengangguran lah." Rion pergi ke wastafel untuk mencuci muka dan sikat gigi. Setelah itu ia menemui Reno kembali.
"Jadi, gimana?"
Reno terdiam sebentar."Kayaknya udah fix deh..."
"Syukurlah kalau gitu. Udah yakin juga kan?"tanya Rion memastikan.
Reno mengangguk."Udah bisa cari cincin."
Rion mengangguk."Gampanglah...nanti kita cari. Sekarang...kita cari sarapan dulu yuk. Lapar."
"Oke deh."
"Kita naik motor aja ya," kata Rion.
"Sip!"
Mereka berdua pun berboncengan mencari sarapan pagi.