Sementara itu di kampung yang sudah mulai terlihat sepi karena hati sudah sore, Maya berjalan dengan hati riang dan gembira memasuki kawasan pasar. Ia segera menghampiri kios buah Reno seperti biasa.
"Assalamualaikum!" ucap Maya keras. Jupri, Paijo, dan Trisno sampai tersentak mendengarnya.
"Astaga, Mbak Maya...bikin kaget aja." Paijo mengusap dadanya.
Maya Kemudian gadis itu tertawa puas kaerna sudah berhasil membuat ketiga pria di sana terkejut. Ia menoleh ke sana ke mari."Pergi ke Kenya sama neng Maya..."
"Cakep!"sahut ketiga pria tersebut.
"Om dudanya mana, ya?" sambung Maya lagi.
Jupri terkekeh."Wah, nyariin Bos Reno nih...lagi pergi, Mbak."
"Ya...kok pergi, sih...jadi enggak seru,kan. Nggak ada yang bisa Maya gangguin." Maya mendengus sebal.
"Lah...biasanya dicuekin, dijutekin, Mbak. Sekarang enggak ada dicariin," sahut Paijo.
"Itu sih namanya...kalau dekat benci, jauh rindu," sahut Trisno juga.
"Ih enggak dong, Maya kan jadi bosan kalau beli buah, terus nggak ada yang maya ajak ngobrol atau Maya gangguin." Maya segera melihat buah-buah yang tersedia."Loh, enggak ada melon, Bang?"
"Habis, Mbak...tadi ada yang ngeborong,”sahut Trisno.
"Ya..." Maya terlihat kecewa."Ya udah...kayak biasa deh, Bang...yang ada aja."
"Siap, Mbak Maya." Jupri dengan sigap melayani Maya. Ia sudah hapal apa yang dibeli gadis itu setiap harinya.
"Om duda kapan pulangnya, Bang?"tanya Maya.
"Katanya sih kalau enggak sore ya nanti malam, Mbak."
"Memangnya Om Duda kemana, Bang?" Maya mulai ingin tahu urusan Reno.
"Wah, kurang tahu kemana pastinya, Mbak."
"Mbak Maya, rindu ya?" goda Trisno.
"Ih enggak ah...apaan sih." Maya tidak mau mengakui. Ia tidak rindu, hanya saja merasa kehilangan saat lelaki itu tidak ada di sini.
"Mbak Maya enggak mau ngaku. Enggak apa-apa loh, Mbak. Kita sangat mendukung hubungan Mbak Maya sama bos Reno,"kata Jupri.
"Jangan menduga-duga seperti itu. Dosa tahu, Bang." Maya mencomot buah jeruk, dikupas, lalu dimakannya dengan santai. Toko buah itu memang sudah dianggap sebagai tokonya sendiri sejak ia berlangganan di sana.
"Permisi...yuhuuu!" Juleha datang dengan ceria dan dandanan nyentriknya.
"Hai, Mpok Leha," sapa Maya sok ramah.
Juleha menatap Maya, menatap gadis itu dari atas sampai ke bawah. Lalu ia mendengus."Kamu cewek yang kemarin kan? Yang ngata-ngatain make up saya luntur dan bulu mata saya sengklek?"
"Dua juta rupiah!" teriak Maya sambil menyalami tangan Juleha.
Juleha langsung menepis tangan Maya."Jangan pegang-pegang. Tangan kamu kotor."
"Busyet, gitu amat dah." Maya pun memberi isyarat pada Jupri agar mempercepat gerakannya. Maya ingin segera pergi dari sini.
"Mas Reno kemana ya,Jup?"tanya Juleha dengan suara lembut.
"Lagi pergi ke luar kota, Mpok."
Juleha mengernyitkan keningnya."Kok aku enggak tahu, ya. Terus...hadiah kemarin udah diterima sama Mas Reno?"
Jupri mengangguk."Sudah, Mbak. Katanya terima kasih." Tangan Jupri dengan cekatan menyiapkan semua pesanan Maya."Ini, Mbak Maya."
Maya mengangguk."Makasih, Bang. Ini uangnya. Eh, jeruknya..."
"Bonus buat Mbak, Gampanglah nanti tinggal laporan sama Bos." Jupri terkekeh.
"Mpok, permisi ya...saya duluan."
"Iya,"jawab Juleha dengan ketus. Ia menangkap sesuatu yang berbeda saat Reno memandang Maya. Sepertinya ini adalah kabar tidak baik untuknya.
Setibanya di rumah, Maya terkejut melihat ada keramaian di sana. Ia segera berlari menyeruak kerumunan di sana. Ada seorang wanita tampak sedang memarahi Emak. Tak berapa lama kemudian, wanita itu mendorong Emak.
"Emak, ada apa ini?" Maya langsung menolong Emak yang jatuh di lantai.
Emak menunduk sedih."Emak enggak apa-apa, Maya."
"Enggak apa-apa tapi kok didorong begini." Maya menatap Ibu Meli yang tadi sudah mendorong ibunya."Ibu, kenapa dorong Emak Maya...memangnya salah apa?"
"Emak kamu ini godain suami saya.
"katanya dengan keras. Para tetangga yang berkerumun pun berbisik-bisik dan memandang penuh kebencian pada Maya dan Emak.
"Enggak bener, Maya," kata Emak.
"Mana ada maling ngaku, memang ya janda-janda di kampung ini enggak ada yang beres...semuanya penggoda suami orang," ucap Ibu Meli keras membuat Maya mengangkat tangan dan ingin menampar pipi wanita itu.
Emak langsung menahan tangan Maya."Jangan, Maya...sudah...sudah."
"Awas ya, Maya...kalau sampai saya lihat Emak kamu godain suami saya...saya bakalan manggil warga buat bakar rumah kamu," kata Ibu Meli lagi. Kemudian ia pergi dari sana dengan wajah penuh amarah.
Maya menarik napas panjang, ia menatap Emak dengan sedih. Wanita paruh baya itu terduduk lemas. Maya menjadi iba, ia segera mengambilkan segelas air putih.
"Minum, Mak."
Emak mengangguk, ia meneguk sampai habis setengahnya."Emak enggak godain suaminya Bu Meli, Maya."
Maya mengangguk dan mengusap lengan Emak."Maya tahu, Mak. Maya percaya sama Emak. Emak bukan wanita seperti itu."
"Suaminya Bu Meli tadi belanja ke sini, terus...dia bercandain Emak. Kita juga enggak berdua kok...ada pembeli yang lain juga. Tapi, tiba-tiba Ibu Meli datang dan langsung ngelabrak Emak."
"Maaf, ya, Mak...Maya kelamaan belanja. Jadinya begini deh." Maya merasa bersalah sudah meninggalkan Emak sendirian di rumah. Tapi, mau bagaimana lagi. Ia harus belanja ke pasar. Seandainya ia tahu ini akan terjadi, lebih baik ia di rumah saja.
"Enggak apa-apa...memang begini nasib menjadi janda. Selalu salah di mata orang. Seringnya disebut sebagai perusak rumah tangga orang. Kan bukan keinginan kita ya jadi janda."
Maya tertegun mendengar kalimat Emak yang terakhir. Air matanya perlahan mengalir, ia jadi teringat dengan almarhum Bapak. Seandainya tidak pergi secepat itu, mereka pasti tidak akan disepelekan orang seperti ini. Status janda seperti sebuah kesalahan terbesar di mata orang - orang.
"Sabar ya, Mak."
"Emak udah biasa diperlakukan seperti ini, Maya." Emak tersenyum dengan ikhlas.
"Sering?" Maya menatap Emak tak percaya."Jadi, selama ini Emak sering diperlakukan seperti ini sama warga sekampung? Emak enggak pernah cerita sama Maya." Teryata menyandang status janda itu tidak mudah dan sesakit ini.
"Maya...akan ada saja orang yang enggak suka sama kita. Sebaik apa pun, akan ada orang yang mengomentari hidup kita. Tapi, sebaiknya kita tidak fokus pada apa yang dikatakan orang. Fokus saja sama apa yang ada di depan kita. Emak ikhlas, Maya ...ini sudah jalan hidup yang harus emak lewati. Emak enggak mau kasih tahu karena...supaya kamu enggak khawatir."
Maya memeluk Emak."Maafin Maya, Mak. Maya janji akan bahagiakan Emak...akan selalu ada buat Emak."
"Iya, Maya." Keduanya menangis dengan haru. Pelukan itu adalah pelukan saling menguatkan agar terus bertahan di antara hidup yang sulit ini.
Di dalam hati, Maya merasa bersalah pada Reno. Selama ini ia mengejek lelaki itu Duda, tanpa pernah ia tahu betapa tidak enaknya menyandang status tersebut. Mungkin, ini adalah teguran dari yang Maha Kuasa agar ia lebih menjaga lisannya.