Bab 7 Ada yang Pura-pura

1043 Words
Mata Sarah menatap lekat penampilan bosnya yang berjalan tegak menuju kursi kebesarannya. Benar saja terlihat energik dan masih muda. "Iya, masih muda. Eh tunggu dulu, dia kan...." Sarah menutup mulutnya yang menganga. Tubuhnya menegang disertai tangannya yang tremor. "Astaga, kenapa laki-laki asing itu ada di sini. Oh tidak, ternyata dia bos besar MTG. Pantas saja kemarin aku mencium aroma parfum yang familiar di hidung. Satya ternyata berkata benar kalau aku membersihkan ruangan bos. Kenapa aku tidak menggubrisnya?" Kalimat ini hanya menari-nari di otak Sarah yang sedang membeku. "Ra, jangan melamun! Rapat mau dimulai," tegur Bu Marry pada Sarah yang kebingungan. "I...iya, Bu." Sarah menunduk tak berani menatap ke arah bosnya setelah duduk kembali dari posisi berdiri menyambut petinggi MTG itu. "Kamu kenapa pagi-pagi lesu? Jangan dibiasakan kalau tidak ingin nilai magangmu buruk." Jleb, Sarah tersentak mendengar kata nilai. Dia ingat petuah Pak Pram dan Pak Mahesa. "Duh, gimana ini. Tak biasanya aku jadi nggak percaya diri gini," sesalnya pada diri sendiri. "Saya puasa, Bu." "Ya, sudah. Semangatlah!" "Siap, Bu!" Sarah menghela napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang lari berkejaran. "Aku harus konsultasi ke Pak Mahesa. Bisakah aku mundur saja ganti tempat magang, hufh." Sepanjang meeting, Devan memimpin dengan tegas dan berwibawa. Sesekali pandangannya mengarah pada sosok gadis yang menunduk di samping kepala divisi marketing. Dia teringat Alexander sahabatnya yang menyeletuk tentang anak magang baru, apakah benar dia pikirnya. Selesai meeting, Devan menutup acara lalu menghampiri Marry. "Kak Marry, siapa gadis itu?" Devan merasa jauh lebih muda dari Marry yang usianya menginjak kepala tiga, alhasil dia memanggil dengan sebutan Kak meski dengan bawahannya. "Ah, maaf Pak Devan, ini mahasiswi yang baru mulai magang. Dia ada di divisi marketing," ungkap Marry seraya menunduk hormat. Sementara itu, Sarah terlihat makin gugup saat melirik bosnya ternyata tatapan tajam penuh selidik mengarah pada dirinya. "Bisa-bisanya Kak Marry menerima anak magang seperti dia." Ucapan tegas Devan membuat Sarah tergelak. Apalagi telunjuk Devan benar-benar mengarah pada dirinya. Posisi keduanya yang berjarak tak lebih dari satu setengah meter membuat Sarah tak bisa bernapas lega. "Ma...maaf, Pak. Saya sudah membaca berkas akademiknya. Menurut saya dia mampu secara akademik." "Akademik saja tidak cukup, lihat attitudenya itu. Kak Marry nggak perhatikan sedari tadi dia tidak punya rasa percaya diri, mana bisa masuk di bagian marketing." Devan sudah mengomel habis-habisan. Marry turut menunduk mengakui kesalahannya. Sarah juga mengakui kesalahannya. Kali ini dia memang tidak percaya diri, bahkan nyalinya saja sudah menciut. Padahal jangan ditanya, selain kemampuan akademik, personalnya saja bagus, organisasi juga. Memang ini adalah yang pertama dia terjun di dunia kerja, satu hal yang membuat performanya buruk ya bosnya itu. Sepeninggal bosnya, Marry menarik napas seakan menahan emosi untuk diledakkan pada Sarah. Namun melihat wajah sendu Sarah, Marry hanya mampu menggebrakkan berkas ke meja kerjanya. "Jangan bikin saya malu, Ra! Temui Pak Devan sekarang! Buktikan kalau kamu punya kapasitas di divisi marketing. Kalau tidak bisa, maka saya tidak akan mempercayakan posisi ini untukmu. "Maafkan saya, Bu. Saya akan berusaha lebih baik." "Jangan hanya pandai bicara, tetapi buktikan dengan aksi!" "Baik, Bu. Saya ke ruang Pak Devan sekarang." Marry tak menjawab hanya menghalaukan tangannya supaya Sarah segera pergi. Raut mukanya sudah ditekuk sejak disemprot bosnya. Tok,tok. "Masuk!" Sarah melangkah ragu disertai jantungnya yang berdetak tak normal. Bukannya takut terhadap bosnya, tetapi dia lebih takut ketahuan kalau pernah berada sekamar dengan atasannya saat di hotel. "Maaf, Pak." "Kamu.... Apa kamu tahu alasan saya memanggilmu?" Suara tegas dengan nada bicara tinggi keluar dari mulut bosnya. "Tidak, Pak.! Sarah hanya mampu menunduk dengan posisi masih berdiri. "Kalau ingin magang di sini, tidak hanya akademik yang diandalkan. Apalagi di bagian marketing, itu kunci produk kita bisa bersaing dengan pasar kedepannya. "Baik, Pak. Saya akan berusaha lebih baik lagi." "Pegang janjimu dengan baik!" "Siap, Pak!" "Oya, satu lagi. Pakaianmu terlihat kaku. Besok biar Kak Marry benahi." "Hah?" Sarah hanya terbengong dengan respon bosnya tentang cara berpakaiannya. Beruntung, Pak Devan tidak mengingatku dengan penampilan seperti ini. Sarah sudah mengelus dadanya saat berbalik dan melangkah menuju pintu keluar ruang petinggi MTG itu. "Tunggu, siapa namamu?" "Sarah, Pak." "Oya, Sarah. Sepertinya kita pernah bertemu," ucap Devan dengan mimik berpikir. Sarah yang mendengarnya langsung kelabakan mencari jawaban. "Hmm, tidak, Pak. Saya baru kali ini resmi bertemu Pak Devan." Sarah berucap dengan nada tegas untuk meyakinkan bosnya. "Oh begitu, ya." "Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak." "Ah, saya ingat. Kita pernah bertemu sebelumnya Sarah." Deg, Sarah seketika dilanda gugup. Tubuhnya gemetaran. "Kita bertemu di depan lift kemarin, ingat?" "Ah, iya betul, Pak." Sarah hanya meringis dibuatnya, segera keluar ruangan dia mengusap dadanya lega. "Eh, sudah selesai ketemu Pak Devan, Mbak." "Iya, sudah, Pak." "Saya Nico asistennya Pak Devan." "Sarah, senang bertemu Pak Nico." "Panggil Mas saja, saya belum tua." Nico menjahili Sarah yang sudah tersipu malu. "Sampai jumpa lagi Mas Nico." Di dalam ruangannya, Devan hanya senyum-senyum berseringai. "Memangnya dia bisa membohongiku. Jelas-jelas gadis itu yang pernah tertidur di kamar hotel tempatku menginap. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan padanya." "Ada apa, bos senyum-senyum sendiri?" "Nico sudah dapat informasi tentang gadis yang tidur di kamar hotel beberapa hari yang lalu?" "Kebetulan, ini berkas berisi info tentang gadis itu." Devan membacanya dengan teliti. Sesekali mengangguk dan juga mengernyitkan dahi. "Oke, kerja bagus. Terima kasih Nico." "Sama-sama, Pak." "Ternyata dia mahasiswi, untuk apa dia bekerja di sana sebagai cleaning service?" "Sepertinya dia part time, Pak. Tidak ada indikasi bekerja ilegal untuk yang lainnya." "Ya, sepertinya begitu." Pulang kerja, Sarah merasakan menghirup udara segar bak baru saja keluar dari penjara. Bukan karena pekerjaan yang berat, tetapi justru karena insiden kecerobohannya tertidur di kamar hotel bosnya menginap. "Seandainya Pak Devan tahu, pasti beliau mengeluarkan aku dari magang ini," gumannya sembari menunggu ojek. Merebahkan diri di ranjang kos, Sarah memainkan ponselnya untuk mengirim pesan pada dosbingnya. "Pak Mahesa, besok saya bermaksud konsultasi. Apa Bapak ada waktu?" "Oya, pagi bisa. Saya selalu ada waktu untukmu." Ckk,tuh kan mulai bikin baper. "Bapak kayak nggak ada kerjaan." "Ada, ngerjain kamu." "Saya serius, Pak." "Iya, saya juga serius, Dinda." Astaghfirullah, sudah punya istri dan anak juga masih main-main. "Ini Sarah, Pak, bukan Dinda." "Oya, Sarah ya. Sampai jumpa besok." Kepala Sarah rasanya ingin meledak. Bisa-bisanya Pak Mahesa bicara begitu. Apa dia nggak takut chatnya dibaca istrinya, hufh. Sarah mengomel sendiri di kamar kosnya akibat balasan pesan dari mantannya yang sekaligus juga dosennya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD