Seperti biasa Alfian selalu sarapan pagi sebelum berangkat kerja. Roti tawar dan selai menjadi andalan saat harus mengajar pagi ditemani segelas s**u hangat.
Selesai mengunyah roti, dia tak henti-hentinya memandang layar ponselnya.
Sesekali tersenyum membaca kembali chat dengan mantannya semalam.
"Al, kenapa senyum-senyum sendiri?"
Alfian dikagetkan oleh wanita yang dicintainya. Dengan sigap dia segera clear chat obrolannya dengan Sarah, karena takut ketahuan masih berhubungan dengan mantan.
"Nggak ada, apa-apa, Mi." Alfian hanya meringis seraya memperlihatkan layar ponsel yang sudah kosong.
Setelah berpamitan, Alfian melajukan mobilnya menuju kampus. Entah perasaan apa dia rasakan saat ini, ingin meneriakkan pada dunia kalau dia merasa bahagia bertemu kembali dengan Sarah. Gadis yang dulu ingin dilamarnya tetapi membatalkan secara sepihak.
Andai saja wanita yang dicintainya tadi tahu pasti akan murka.
Di tempat lain, Sarah sudah meminta izin melalui pesan singkat pada Bu Marry untuk datang ke MTG siang karena harus mengikuti ujian mata kuliah Pak Pram yang harinya diajukan. Selain itu juga dia ada janji konsultasi dengan Pak Mahesa setelahnya.
"Yang senyum-senyum, pasti ujian dari Pak Pram dapat 100, nih," puji Aldo yang terkesan iri. Mereka bertiga seperti biasa duduk di gazebo andalan.
"Haha, ngiri nih? Tiana ajarin tuh calonmu!"
"Aku dah berkali-kali ajak Aldo belajar kok, dianya aja yang suka main game," kesal Tiana.
"Ckk, kalau aku lagi main game ya dirayu dong, Sayang ayo belajar biar pintar, gitu."
"Ishh, manja amat."
Sarah tertawa bersama Tiana melihat tingkah konyol Aldo.
"Eh, Ra, gimana kabarnya magang di MTG?"
Wajah ceria Sarah sedikit berubah suntuk.
"Kesal, tahu nggak?"
"Yeay, baru juga sehari udah manyun mukanya," ujar Tiana.
"Bosnya galak ya, Ra?" selidik Aldo.
"Bosnya udah tua, perutnya buncit dan kepalanya botak?" Tiana menambah-nambahi lelucon yang bikin Sarah nggak bisa nahan tawanya.
"Lha malah ketawa, tadi aja manyun," celetuk Aldo lagi.
"Bosnya masih muda dan energik malahan. Sayangnya sikapnya arogan, seenaknya sendiri." Tiana dan Aldo mendengatkan dengan antusias.
"Hah, masih muda, Ra? Tampan pasti, ya?"
Aldo sudah memukul lengan Tiana membuat gadis itu mengaduh, sedangkan Sarah justru menahan tawanya.
"Sudah punya aku lho," ujar Aldo.
"Iya-iya."
"Lho mau kemana, Ra?"
Sarah beranjak membenarkan tas cangklongnya.
Sepatu ketz yang dilepas langsung dipakainya.
"Mau konsultasi dengan Pak Mahesa."
"Wah, kamu beruntung berada didekat cowok-cowok ganteng, Ra," seru Aldo membuat Sarah memutar matanya jengah.
"Bos MTG sama Pak Mahesa ganteng mana, Ra?" tanya Tiana penuh selidik.
"Ishh, kalian ini."
Sarah yang sudah berdiri mencoba duduk kembali.
"Apa kalian tahu, bos MTG itu masih single, sedangkan Pak Mahesa...."
"Pak Mahesa sudah nikah ya, Ra?" potong Aldo.
"Serius, Say. Tahu darimana kamu?" Tiana menuntut penjelasan dari Aldo, sedangkan Sarah tidak kaget sedikitpun.
"Aku kemarin siang melihat Pak Mahesa jalan bareng wanita cantik yang menggandeng putrinya masih balita di kampus ini.
Deg,
Mendadak jantung Sarah berdetak kencang. Jangan-jangan wanita cantik kemarin beserta anak kecil yang menggemaskan adalah orang yang dimaksud Aldo.
"Memang Pak Mahesa sudah menikah, kok. Kalian nggak usah aneh-aneh deh."
"Siapa yang kalian bicarakan?"
Tanpa diduga suara bariton yang tak asing di telinga Sarah membubarkan keasikan ketiganya bergosip.
"Pak..., Pak Mahesa."
Sarah berdiri disusul dua sahabatnya juga turut mengikutinya. Raut wajah tak enak muncul, mereka takut dosennya mendengar obrolan gosip yang mereka perbincangkan. Sarah merasa bersalah turut andil membicarakan seseorang. Belum tentu juga itu fakta atau bukan, yang jelas membicarakan orang lain itu tidak baik.
"Sarah, tolong ke ruangan saya sekarang!" titah Pak Mahesa. Tidak ada keramahan yang ditangkap Sarah membuat nyalinya ingin berkonsultasi menciut. Dia membuang napasnya kasar.
"Gimana nih, Ra. Pak Mahesa tadi mendengar obrolan kita nggak, ya?" ucap Tiana diselimuti wajah kawatir.
"Nanti kalau beliau marah, libatkan kita aja, Ra! Aku juga keliru, tidak seharusnya kita ngomongin seseorang." Tampak Aldo menyesali perbuatannya.
"Sudahlah, aku ke ruang beliau dulu."
Melangkahkan kaki berat, Sarah merasa was-was untuk bertemu dosennya.
Pintu diketuk, pemilik ruangan pun menyilakan Sarah duduk.
Aura dingin ditunjukkan Alfian karena kesal mengetahui mahasiswanya menggosip tentang dirinya. Entah kenapa Sarah sedikit merasa pedih melihat sosok di depannya tak tersenyum seperti biasanya.
"Astaghfirullah, dia sudah punya anak dan istri, Ra." Sarah hanya mampu merutuki dirinya sendiri.
"Ada yang ingin anda sampaikan?"
Deg,
Rasa canggung muncul saat Alfian kini membangun formalitas dengan menggunakan kata Anda. Sarah hanya bisa menelan ludahnya.
"Begini, Pak. Saya bermaksud pindah dari MTG."
"Apa?"
Sarah tersentak kaget dengan nada tinggi yang tiba-tiba keluar dari mulut Alfian disertai gebrakan meja. Sepertinya kemarahan Alfian terlampiaskan dengan melakukannya.
"Ada masalah apa sampai kamu mau pindah dari MTG, Ra?" Alfian bicara menggebu dan sudah melupakan formalitas.
"Maaf, Pak. Saya ada sedikit kurang nyaman di sana."
Sarah tidak sedang berbohong, faktor kenyamanan memang yang kini jadi masalah baginya. Tentu saja dia tidak mungkin mengatakan masalah itu dari pribadinya dengan bos MTG.
"Kamu tidak bisa menjadikan alasan pribadi untuk mundur dari magang. Apa kamu tidak berpikir kalau banyak yang akan dirugikan, hah? Nama baik kampus dan dosbing, bahkan perusahaan itu bisa saja memblacklist kampus kita sehingga mahasiwa lain tidak bisa magang di sana."
Ucapan Pak Mahesa ada benarnya, kenapa aku tidak berpikir sampai sana. Aku egois, hanya memikirkan keuntungan sendiri menghindar dari laki-laki asing itu, batin Sarah.
"Baik, Pak. Saya akan belajar beradaptasi di MTG," ucap Sarah seraya menunduk.
Tidak ada harapan lain, aku harus bisa bertahan di sana.
"Bagus, lakukan yang terbaik! Ambil sebanyak-banyaknya pengalaman di sana! Tidak semua orang seberuntung kamu bisa magang di MTG."
"Baik, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu."
"Ya, silakan!"
"Oya, satu lagi, Ra."
Sarah menghentikan langkahnya saat tangannya sudah memegang handle pintu dan terbuka sedikit.
"Ya, Pak. Gimana?"
Sarah menoleh ke belakang. Melihat Pak Mahesa mendekatinya, Sarah menggeser sedikit posisi berdirinya. Perasaan gugup tiba-tiba melanda Sarah, karena dosennya menutup pintu secara kasar. Kedua tangan menopang di pintu mengurung Sarah di sana. Mau tak mau gadis itu beringsut mundur hingga punggungnya membentur pintu.
"Kamu tahu kenapa saya marah padamu, Dinda?"
Jleb,
Tenggorokan seakan tercekat dengan posisi sedekat ini, Sarah hanya terpaku. Memilih menggelengkan kepala, Sarah tak ingin ketahuan gugup karena panggilan itu.
"Jangan suka membicarakan seseorang. Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidup saya, bukan? Apa kamu paham!"
Sorot mata tajam begitu mengintimidasi Sarah. Perasaannya sungguh tak enak, matanya mulai mengembun.
"Sa...saya, pa...paham."
Alfian mencondongkan wajahnya tepat di depan Sarah. Napas beraroma mint terasa berhembus menyapu wajah cantik Sarah hingga membuatnya terpejam dan tidak mampu berpikir logis.
"Ingat Sarah, saya belum menikah. Jangan suka menggosip hidup orang lain."
Bisikan lembut Alfian ditelinga Sarah membuat gadis itu spontan membuka matanya.