1. Menjelang Ulang Tahun
Sorak-sorak terdengar di gedung olahraga dari sekolah menengah atas, di tengah arena, pantulan bola oranye menjadi fokus dua tim yang tengah bertanding, sementara itu di bangku penonton teriakan gadis-gadis tidak terelakan saat melihat idola mereka yang tengah saling merebut bola. Tidak heran arena olahraga kini semakin panas, apalagi ketika kedua kartu AS dari masing-masing tim kembali berhadapan satu sama lain.
Decakan terdengar di salah tempat duduk, Agni mengerutkan alis karena menyaksikan sahabatnya yang terlihat sangat kesal karena skor kali ini menjadi seimbang, setelah kartu AS lawan berhasil membobol bola ke keranjang.
“Ayo, Revandi! Lo harus menang!”
“Hah! Lawan mereka kali ini menurut gue agak sulit sih,” ujar Agni.
“Tapi, lihat si Ingga terlalu mencolok di permainannya? Pemuja lo, tuh! Mau coba-coba ungguli calon imam gue.” Amira bersungut, gebetan gadis itu terlihat telah menjadi nomor dua karena ketangkasan Ingga.
Mendengkus dramatis, Agni hanya bisa memaklumi atas apa yang dipikirkan gadis yang berada di sampingnya ini. Bagaimanapun, karena Ingga yang selalu ingin dekat dengan dirinya dan terlihat bersikap manis jika bersamanya, menjadikan banyak rumor yang tersebar dari mulut teman-teman mereka, bahkan hingga ke luar kelas.
Jadi lah gosib semakin merajalela, pernyataan mereka yang mengatakan bahwa Ingga sepertinya memiliki hati kepada Agni.
Gadis itu lantas memilin-milin rambutnya yang pendek sebahu dan ikal di bagian bawah. Warna mata Agni yang tidak umum, merah bak rubi, kini tertutup kelopak mata. Sekali lagi ia mendesahkan napas karena mendengar teriakan Amira.
Sekitar satu jam kemudian, semua murid yang menonton pertandingan berangsur-angsur telah membubarkan diri, sebagian dari mereka terlihat kecewa, tetapi sebagian lagi di wajah tergambar raut kepuasan.
“Udah gue duga Revandi memang yang terbaik!” seru Amira, memeluk salah satu lengan Agni.
“Oh, tadi gue ingat, lo kan yang bilang Ingga itu lebih gesit dari Revandi?” tanya Agni dengan raut berpikir yang dibuat-buat.
“Lebih gesit bukan berarti yang terbaik, kan?”
Lantas setelah mengatakannya, Amira menarik tangan Agni menuju kantin, kemudian mereka duduk dan gadis itu mengambil ponselnya untuk mengecek kotak pesan. Jari-jari Amira sibuk bermain dengan kata, sementara Agni membeli makanan yang ingin mereka santap. Dua mangkok bakso telah berada di atas meja, juga jus alpukat dan buah naga.
“Udah, nih. Nanti dingin, loh.”
Baru saja menyantap baksonya beberapa suapan, tiba-tiba kursi di depan Agni bergerak hingga membuat kepala yang tertunduk kini terangkat, alis gadis itu mengerut ketika menemukan Ingga yang telah duduk sambil berpangku dagu dan tersenyum mentapanya.
“Bisa stop, gak, Ing-ga.” Agni memutar matanya dengan malas dan kembali menyendokkan jajanan terbuat dari tepung dan daging yang digiling.
Gadis itu tahu, yang mengundang lelaki ini datang adalah sahabat perempuannya. Lihat saja tingkahnya, bahkan sekarang Amira berpura-pura tidak tahu atas apa yang telah ia sebabkan seperti ini.
“Gue kira, lo bakal rayakan kemenangan bareng tim lo?” tanya sang gadis, mata beriris merah menatap pemuda yang sekarang mendudukkan tubuhnya menyandar di punggung kursi.
“Aku bosan bersama mereka, beruntung Nona Baik Hati ini mengundangku untuk bisa bersama-sama kalian.”
Kembali wajah Agni berekspresi malas karena mendengar ucapan lawan bicaranya.
“Oh, tentu saja,” komentar Agni, dan lantas menghabiskan jus alpokat, kemudian berdiri.
Menarik Amira untuk ikut melangkah besamanya, mereka lantas kembali ke kelas. Pekan olahraga kali ini memang menyenangkan, tetapi kadang Agni merasa kesal karena ulah teman-temannya ini.
Dari arah belakang, Ingga mengejar mereka dengan wajah tersenyum.
“Agni, jangan terlalu cepat. Lagi pula, bukankah karena ada yang mau kamu bicarakan dengan kami?” tanya sang pemuda dan lantas mensejajarkan langkahnya di samping Agni.
Kembali mengembuskan napas frustrasi, Agni menghentikan langkah, dan akhirnya mengingat atas apa yang ingin ia bicarakan kepada kedua orang yang berada di sisinya. Tentu, kenapa ia malah melupakan karena godaan kedua temannya.
“Baiklah, akan gue bicarakan di kelas saja. Jadi, sebaiknya kita jangan berhenti di tengah koridior gini.”
Setelah memasuki kelas, dan duduk di bangku masing-masing, kecuali Ingga yang kini berada di hadapan Agni dan Amira karena duduk dengan arah terbalik. Mereka menunggu gadis itu mengatakan hal apa yang ingin diberitahukan sekarang, Amira memakan camilannya, sementara seperti biasa Ingga akan memandangi Agni dengan senyuman di bibir.
“Haaahh!” desah Agni, kemudian menarik napas panjang. “Mama dan papa undang kalian berdua untuk makan bersama besok sore, itu aja, sih.”
Agni hanya mengatakan seperti apa yang dijelaskan kedua orang tuanya, sebenarnya beberapa hari lagi adalah hari ulang tahunnya yang asli, ia akan berusia tujuh belas tahun. Namun, entah karena hal apa, kedua orang tuanya merahasiakan hal ini dan malah membuat tanggal kelahiran palsu.
“Dalam rangka apa, nih?” tanya Ingga. “Jangan bilang kehamilan mamamu, punya calon adik baru?”
Sontak saja, pemuda berambut gelap dengan tatapan mata selalu dingin, meski tersenyum itu dihadiahi pelototan oleh Agni.
“Agni Abinawa itu sudah klop jadi anak tunggal kali, lo aja yang gak jelas keluarganya siapa,” ujar Amira dengan raut menahan tawa, sebenarnya ia juga menikmati di saat-saat Ingga menggoda teman baiknya.
Desah napas terdengar untuk kesekian kali, Ingga hanya mengendikkan bahu dan seperti biasa menyunggingkan bibir membentuk kurva.
“Sudahlah, kalian datang saja besok sore dan jangan banyak alasan, deh.”
***
Esoknya, Agni pun telah melihat beberapa persiapan makan bersama yang pagi-pagi telah diracik sang ibu. Wanita paruh baya itu sepertinya akan memasak semua hidangan seorang diri, bahan mentah di atas meja sedang dipilih, sebagian berada di bak cuci piring untuk dibersihkan. Agni mendekati ibunya, berniat untuk berpamitan.
Menyalami sang mama, sejenak ia terdiam sebentar sambil kembali menatap sayuran dan juga daging.
“Ma, sendirian gak masalah masak semuanya gini. Ini banyak juga loh, kayaknya?”
“Udah biasa Mama. Sudah! Sudah! Sana ke sekolah, nanti terlambat, loh.”
“Masih pekan olahraga, Kok. Jadi santai aja, Ma.”
Gadis itu lantas tertawa kecil, kemudian berlari sambil melambaikan tangan.
Sri Melati hanya mengembuskan napas dan tersenyum melihat putri tunggalnya yang selalu ceria. Namun, beberapa saat kemudian, air muka Sri terlihat berubah. Tatapan sendu menghiasi wajahnya, tidak terasa sebentar lagi usia gadis itu genap tujuh belas tahun. Rasanya, semua terlalu cepat.
Tangannya menyentuh d**a, ia ingat bagaimana kejadian ketika ia mengandung Agni di usia tujuh bulan. Saat itu, sesuatu yang tidak biasa dan di luar kewajaran terjadi, seseorang mendatangi mereka tepat di tengah malah, dan anehnya bukan lah manusia, melainkan sejenis lelembut. Sri ingat, bagaimana rupa sosok lelaki itu, begitu putih dengah rambut panjang dan bercahaya, matanya berwarna lavender lembut, di tengah dahinya ada sebuah permata yang berwarna sama. Dia bilang, dia berasal dari wilayah antara dua dunia dan akan menyampaikan pesan kepada mereka, juga sebuah mantra untuk melindungi sang calon bayi dari iblis.
Tubuh Sri gemetar karena mengingatnya, kelopak mata memejam untuk beberapa saat dan mencoba menenangkan diri. Yang terpenting, Agni sekarang baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang memimpah anaknya.
***
Baru saja datang ke sekolah, memasuki gerbang, beberapa saat kemudian di sampingnya telah berjalan Ingga. Hal ini lantas membuat Agni mendesah pasrah sambil melirik pemuda itu dengan sorot mata tajam, entah bagaimana sepertinya Ingga selalu bisa menemukan di mana pun dia berada. Jangan-jangan lelaki itu memang memiliki kemampuan meramal?
“Halo, Agni.”
Ingga menolehkan kepalanya menatap Agni yang terus memusatkan sorot mata menuju arah depan gedung sekolah.
“Astaga, dingin sekali, ya?”
“Sudah, deh. Jangan aneh-aneh, dan hentikan senyuman gak wajah itu. Lo buat seantero sekolah salah paham tahu?”
Langkah kaki Agni menjadi lebih cepat agar bisa mendahului Ingga, tetapi dengan tubuh tinggi lelaki itu dan juga lebar langkah kakinya, tentu saja secepat apa pun dia berusaha, pasti akan terkejar juga. Sungut-sungut Agni dan tingkahnya yang berusaha menjauh dari Ingga, membuat banyak mata memandang. Sebagian tersenyum dan mendukung pemuda itu agar bisa membujuk pacarnya yang tengah merajuk, ucapan itu tentu membuat sang gadis tercengang. Bertanya-tanya, sejak kapan pula gosib ini beubah menjadi sedemikian rupa.
Namun, tentu ada juga yang mencibir Agni, dinilai jual mahal karena terus-terusan tidak mengacuhkan pemuda yang masih tersenyum di sampingnya.
“Biarkan saja, itu semua tidaklah penting, bukan?”
“Lo, sih bisa. Tapi, ini menyebalkan.” Dia berkacak pinggang, mereka berada di depan pintu kelas, hari ini adalah pertandingan sepak bola dan juga voli. “Ah, atau jangan-jangan lo sengaja, ya?” tanya Agni dengan sorot mata tajam memelototi Ingga yang melebarkan mata dramatis, kemudian mengendikkan kedua bahu sambil melebarkan senyuman.
Dengkus kesal dilayangkan Agni, sebenarnya ia merinding jika sudah melihat Ingga tersenyum lebar dengan tatapan ganjil sepeti itu.
Memutuskan masuk ke kelas, ia melihat beberapa teman-temannya sudah berpakaian olahraga, sementara Agni yang tidak ikut cabang apa pun hari ini tentu memilih untuk mengenakan seragam sekolah seperti biasa. Di bangku sudah duduk Amira yang tengah bersiap dengan seragam volinya. Rambutnya yang lurus dikucir tinggi seperti ekor kuda, menatap kedatangan Agni, sosok tersebut pun menyapa.
“Kalian nonton, kan? Eh, Ingga, lo bawa Revandi juga dong!”
“Iya, tentu dan gak perlu lo ingatkan juga, Amira.” Tersenyum kecil, Agni meletakkan tasnya, mengambil ponsel dan juga dompet untuk diletakkan di dalam saku.
“Kenapa harus bawa dia? Revandi akan muncul sendiri jika dia tertarik sama voli tim kalian.”
Tepukan di lengan atas Ingga dihadiahkan Agni, membuat sang pemuda lantas menatap gadis yang sekarang berjalan di sampingnya. Tidak peka, tentu saja, Ingga memang seperti itu jika berhubungan dengan yang lainnya. Maka dari itu, banyak teman-teman mereka yang menjelaskan kalau Ingga hanya memandang Agni di sekolah ini. Bahkan, dengan guru pun tidak akan peduli.
Tersadar dari kegiatan bermonolognya, Agni lantas mengerutkan kening ketika menyadari bahwa mereka melewati jalan pintas untuk menuju gedung olahraga indoor. Mereka berjalan di koridor paling ujung dekat dengan ruangan laboratorium biologi, di dalam batin ia mendecak, memang dari sini akan lebih cepat sampai, hanya saja… ah, Agni terdiam sejenak, membuat Ingga pun terhenti dan mentapnya.
“Kenapa?”
“Ah, ti-tidak.”
“Hei! Sedang apa kalian? Ayo, cepatlah!” seru Amira yang sudah berada cukup jauh di depannya.
Menganggukkan kepala dan berujar maaf, Agni lantas berlari dan secepat mungkin melewati koridor sehingga sekarang mereka berada di luar gedung. Terengah, ia pun mengambil napas untuk mengatur detak jantungnya.
“Lo, kenapa sih?”
“Enggak, tadi cuma mikir, kayaknya lupa sesuatu gitu di rumah.” Tertawa kecil, Agni mengusap-usap ceruk lehernya. Di dalam batin ia mengumpat, karena sangat tidak suka berada di koridor ujung.
Masih menjadi seseorang yang memperhatikan dengan saksama, Ingga lantas menatap ke belakang, tempat yang tadi dihindari Agni dengan cara berlari. Bibirnya lantas membentuk senyuman.
“Heh,” dengkusnya merasa ada sesuatu yang lucu. “Dia berusaha menyembunyikan ketakutannya,” bisik Ingga dan melangkah kembali setelah diteriaki Amira lagi.
.
.
.
Bersambung