Saling duduk berhadapan di kelas, ketika ruangan semakin sepi karena rekan yang lain telah berhamburan untuk melihat pekan olahraga yang tengah berlangsung, Agni pun menjelaskan sedikit tentang mimpi yang belakangan ini sering dia alami. Aneh, menakutkan dan juga membuatnya berdebar. Semua itu menjadi satu.
Raut wajah Agni terlihat gelisah, belum lagi belakangan ini ia semakin tertekan dengan keberadaan makhluk astral yang terus-terusan seperti tertarik dengan keberadaannya. Dua hari lagi adalah ulang tahun yang ketujuh belas, dan Agni merasa kemampuan indra keenamannya semakin tajam. Bahkan, dari jarak cukup jauh saja, jika sosok halus mencoba mendekati, ia sudah merasakan tubuhnya merinding. Padahal biasanya tidak sedemikian rupa, ia hanya bisa melihat dan merasakan jika ada di hadapan saja.
“Mimpi itu, pasti membebanimu.”
Agni terbelalak, ia kira Ingga akan mengatakan seperti kebanyakan orang-orang jikalau ada yang menceritakan mimpi buruknya, semacam jangan terlalu dipikirkan karena itu hanyalah bunga tidur belaka. Itu sebabnya Agni tidak pernah memberitahukan masalah ini, ia takut semua yang dirasakan akhirnya hanya menjadi sesuatu yang dianggap sepele oleh orang lain dan disarankan untuk tidak dipikirkan. Padahal ia cukup tertekan. Apa mungkin ia harus ke psikolog untuk membahas ini? Entahlah, Agni belum memikirkan sampai ke sana.
“Gue, rasanya takut untuk tidur.”
“Kenapa tidak kamu coba cari tahu?”
“Hah? Maksudnya?”
“Penggalan-penmggalan mimpimu itu, kamu bilang bagaikan kisah dirimu di dunia berbeda bukan?”
Anggukan kepala terlihat.
“Apa salahnya mencari tahu, mungkin kamu bisa menyelesaikan ceritanya dan hidup tenang, semacam itu.”
“Tapi, apa itu gak masalah? Mimpi ini, terasa janggal.” Agni mengusap wajahnya, bertanda bahwa ia tengah frustrasi.
Namun, lelaki itu hanya tersenyum.
“Lakukan lah apa yang ingin kamu lakukan, Agni.”
Pintu terbuka, Amira masuk dengan wajah yang lebih segar, sudah berapa lama gadis itu ke kamar mandi untuk menyendiri, mungkin nyaris tiga puluh menit dan sekarang Amira terlihat lebih baik. Sorot matanya masih menyisakan kesedihan, tetapi Agni tidak ingin bertanya perihal perasaannya saat ini.
“Kalian menungguku?” tanya gadis itu, seolah kesedihan tadi tidak dirasakannya.
“Tentu, kami mulai bosan.” Ingga menjawab, wajahnya tersenyum dan ia menegakkan tubuh.
“Kalau begitu, ayo!”
Mereka menuju luar gedung, melihat berbagai pertandingan olahraga dan juga gerai makanan yang disajikan di sana.
Tahun ini Agni tidak mengikuti cabang olahraga apa pun, entah kenapa ia mendadak tidak tertarik dengan kejuaraan yang diadakan, padahal ia cukup memiliki kemampuan untuk bertanding badminton. Melangkah menuju gerai makanan karena hari beranjak siang, mereka kembali bertemu dengna Revandi. Awalnya Agni ingin mencari kedai yang lain, tetapi Amira telah masuk dan memilih tempat duduk.
Melihat Ingga bersama kedua teman perempuannya, Revandi pun mendekati dan duduk di samping pemuda itu.
“Lo sama mereka terus, Bro?”
“Tidak masalah, kan? Kamu ingin bergabung?”
“Gak, sih. Gue cuma mau nyapa. Lo juga gak ikut perayaan kemenangan, kan. Lain kali ikut kita ngumpul, dong?”
Sudah bukan rahasia, bahwa Revandi tertarik dengan kemampuan basket Ingga yang menurutnya di atas rata-rata. Maka dari itu, ia pun sering kali berusaha untuk mendekatkan diri dengan lelaki itu, atau membawa Ingga kepada teman-temannya, tetapi sayang sekali karena setiap kali ia mengajaknya, tidak ada satu kali pun Ingga mau menerima. Bermain basket saja, itu semua karena usulan Agni. Jika gadis itu tidak memberi saran untuk menerima ajakannya, mungkin Ingga akan mengambil kelas ektrakulikuler yang sama dengan gadis yang duduk dihadapan mereka ini.
“Akan kupikirkan, terima kasih, Kapten.”
Ingga selalu tersenyum, seolah semua yang dikatakan benar-benar akan mendapatkan kemakluman karena ekpresinya itu.
Apa mereka sudah jadian?
Ia tentu mendengar gosip hubungan mereka, tetapi melihat sikap acuh tak acuh Agni, Revandi menjamin bahwa mereka tidak memiliki hubungan khusus, selain pertemanan.
“Ok, kalau gitu gue cabut dulu.” Ia menepuk pundak Ingga, dan melambaikan tangan.
Setelah kepergian Revandi, terdengar helaan napas dari Amira, gadis itu sejak tadi terlihat diam. Seperti bukan dirinya saja, padahal jika bersama mereka, Amira akan sangat riang bahkan sering kali kedapatan mengomel atau membangga-banggakan Revandi.
“Kalau kamu terus diam di hadapannya, dia tidak akan tahu keberadaanmu.”
“Ingga, sudahlah, ayo kita makan dulu.”
***
Baru saja pulang ke rumah, ketika sore hari, ia telah melihat kedua orang tuanya berada di hadapan pintu dan seperti menunggu kepulangannya yang sedikit telat ini. Angin berembus, dan langkah kakinya terdengar karena kesunyian di komplek perumahan mereka. Entah kenapa, Agni tidak terlalu menyukai raut wajah kedua orang tuanya, seperti ia tidak pernah pulang larut malam saja.
Sangat aneh, jika mereka tiba-tiba seperti ini lagi? Padahal, Agni tidak pernah memberitahukan hal-hal ganjil yang kembali ia alami. Apalagi papanya tiba-tiba sudah pulang dari kantor?
Menyalami orang tuanya, ia lantas menatap mereka sekali lagi dengan alis mengerut, ayahnya menjelaskan sebaiknya mereka masuk terlebih dahulu, sedang ibunya terlihat tengah mengunci pintu.
Apa ada sesuatu yang serius?
“Agni, ganti pakaianmu dan turunlah lagi ke sini, Mama dan Papa ingin membicarakan sesuatu.”
Gadis itu menganggukkan kepala, kemudian naik ke kamarnya dengan rasa bingung yang mendera. Di depan cermin, setelah ia mencuci muka, ia terdiam sejenak, menerka-nerka apa yang ingin mereka bicarakan. Apakah tentang ulang tahunnya? Ya, lusa ia akan berulang tahun ke tujuh belas. Mungkin mereka akan mempersiapkan beberapa perayaan? Ah, tidak. Selama ini ulang tahunnya saja dipalsukan, bukan? Dari semua temannya tidak akan ada yang tahu bahwa lusa adalah hari besar Agni.
Berada di hadapan orang tuanya, ia lantas mengembuskan napas karena menunggu atas apa yang ingin mereka katakan kepada dirinya.
“Agni,” ucap sang papa dan lantas membuat Agni menolehkan kepala untuk menatapnya.
“Ya, Papa?”
“Untuk tiga hari ke depan, kamu akan diliburkan dari sekolah. Papa sudah meminta izin kepada wali kelasmu.”
“Tapi, kan, Pa. Tiga hari lagi penutupan pekan olahraga? Mana mungkin aku gak datang, apalagi Amira bakal nerima piala kemenangannya.”
Pria berkumis tebal itu hanya menggelengkan kepala, kemudian menjelaskan bahwa lusa adalah hari ulang tahun Agni. Dia tentu sudah pernah menjelaskan kepada anaknya, bahwa ketika usia Agni tepat tujuh belas, gadis itu tidak diperkenankan untuk keluar rumah.
“Hari ulang tahun hanya lusa, gak masalah dong kalau aku datang ke sekolah besoknya?”
“Tidak bisa, Agni, kami sudah menelepon wali kelasmu. Lagi pula, jangan membantah lagi karena ini demi kebaikanmu. Mengerti?”
Yang bisa dilakukan Agni hanya menggigit bibir, tidak mengerti kenapa hari ulang tahunnya dirahasiakan sedemikian rupa. Orang tuanya bahkan tidak menjelaskan apa-apa ketika Agni bertanya apa penyebab dari semua ini. Ia lantas merasa kesal, menganggap apa yang terjadi ini adalah tindakan yang sangat tidak adil bagi dirinya.
Agni mengakhiri percakapan tersebut dengan cara berdiri dan melangkah menuju kamarnya, sebagai anak tunggal, gadis itu tentu saja termasuk dalam kategori manja kepada kedua orang tuanya.
Ia menuju ke atas ranjang dan mengambil boneka kesayangannya, memeluk erat dengan mata berkaca-kaca. Agni memutuskan untuk tidak bersantap malam bersama keluarganya, ia lebih memilih membaringkan tubuh dan memejamkan mata.
Apa salahnya mencari tahu mimpimu, mungkin kamu bisa menyelesaikan semua itu.
Tiba-tiba saja, di kepala Agni terngiang perkataan Ingga. Ia lantas membelalakkan matanya, dan memikirkan tentang sepenggal mimpi yang mulai ia ingat, walau tidak menahu entah siapa laki-laki yang berada di mimpi tersebut.
“Apakah semua ini bisa dicari tahu?”
Ketukan pintu terdengar, suara ibunya terdengar dari balik pintu.
“Agni, saatnya makan malam, Nak.”
“Tadi, Agni sudah makan sepulang dari sekolah bersama teman-temanku, Ma. Tidak masalah, aku lelah dan ingin tidur.”
“Yaudah kalau gitu, tapi kalau nanti lapar, lauknya ada di lemari, ya.”
Setelah suara langkah ibunya menjuh, Agni lantas menghela napas dan menelentangkan tubuh, kembali membawanya kepada pernyataan Ingga tentang apa yang ia harus lakukan terhadap mimpinya itu.
Apakah ia harus memutuskan untuk tertidur dan menghadapi mimpinya?
***
Sendok dan garpu berdenting ketika menyentuh piring, makan malam kali ini dilakukan tanpa putri tunggal pasangan suami-istri yang telah menikah selama dua puluh lima tahun. Rasanya sangat berbeda, sebab biasanya sang anak akan berbicara tentang apa saja yang dialaminya ketika di sekolah, walau nanti akan mendapatkan teguran dari papanya.
Sang istri terlihat tidak terlalu berselera, anaknya tengah merajuk karena mereka. Wanita itu cukup khawatir, tetapi semoga saja Agni benar-benar telah makan sore tadi bersama teman-temannya.
“Tidak apa, Sri. Ini semua demi Agni, ingatlah bahwa yang kita lakukan adalah atas semua imbauan Dia, rumah ini telah diberikan penghalang olehnya, tidak ada yang bisa mengganggu Agni ketika usianya tepat tujuh belas tahun,” jelas Jaya, lelaki paruh baya itu pun sebenarnya tidak tega jika anak perempuan kesayangannya harus dikurung seperti ini, tetapi semua yang mereka lakukan demi kebaikan Agni.
“Iya, ini semua untuk Agni.”
Memang terasa begitu sulit, tetapi mereka tidak bisa menjelaskan apa pun tentang sebab dari tindakan mereka selama ini. Satu-satunya penjelasan karena lusa adalah ulang tahun Agni.
“Tapi, Pa. Mama tetap saja khawatir sama Agni, dia adalah putri kita satu-satunya, dan walau ada yang akan melindunginya… tetap saja hati Mama terasa begitu waswas.”
Makanan tidak lagi disentuh oleh Sri, wanita paruh baya itu menatap suaminya dengan tatapan yang sarat akan rasa cemas. Ia tahu, bahkan suaminya tidak dapat melakukan apa pun, karena semua ini memang takdir yang telah ditetapkan Tuhan. Namun, bisa kan ia berharap agar anaknnya menjadi gadis normal pada umumnya.
Ketika masih balita, anaknya bisa melihat sesuatu yang seharusnya tidak nampak dengan mata telanjang. Agni adalah seorang indigo, yang ketika masih kecil akan sangat ketakutan dan bahkan menangis ketika melihat makhluk kasat mata mengikuti dirinya. Namun, setelah pelindungnya memberikan mantra ketika Agni kanak-kanak, hal itu sudah tidak terjadi lagi. Agni sepertinya tidak pernah mengadu kepada mereka bahwa selama di sekolah ada banyak hantu yang mengganggunya.
Terlepas dari itu, kini masalah kembali muncul. Sebuah kenyataan, bahwa anaknya akan berusia tujuh belas tahun.
Iblis akan berdatangan ketika usianya tujuh belas.
.
.
.
Bersambung