Bel pulang sekolah baru saja berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Ataya masih berada di kelasnya karena ia belum selesai menyalin tugas yang diberikan oleh gurunya yang ditulis di papan itu. "eh tayi buruan elah lama amat sih lo. Tuh lihat anak anak udah pada pulang" "diem deh rol. Lo sendiri juga belum selesaikan" "ya kan nanti gue nyalin punya lo" Takk Ataya memukul kepala carol dengan pulpennya. Membuat carol meringis sakit. Ataya kesal, carol bukannya membantu, malah jadi kompor yang membuat ataya panik sendiri. Selain itu ataya juga ingat kata kata artha tadi pagi yang menyuruhnya untuk langsung menuju parkiran setelah bel berbunyi karena artha akan menunggunya disana "tayi ayo buruan. Gue tinggal lo" "iya bentar kurang satu nomer nih" Ataya menulis secepat yang ia bisa. Tak pedulu tulisannya akan seperti cakar ayam. "huh.. Akhirnya selesai" Ataya buru buru membereskan barang barangnya kedalam tas. Ternyata didalam kelas tinggal carol dan ataya saja. Sedangkan teman temannya yang lain sudah pulang. Ataya dan carol berjalan beriringan keluar dari kelasnya dan menyusuri koridor kelas 11 yang berada di lantai dua. Carol terus berbicara, menceritakan apa yang terjadi kemarin saat ataya tidak masuk sekolah dengan sangat hebohnya. Untung disini sudah sepi. Ataya hanya membalas dengan sesekali tersenyum atau menjawab seadanya saja. Saat mereka turun tangga tiba tiba langkah ataya berhenti. Dan membuat carol juga berhenti "kenapa tayi? " tanya carol pada ataya. Sedangkan ataya hanya diam saja dan pandangannya ke arah seseorang yang berdiri di tengah anak tangga paling bawah. Otomatis carol juga melihat ke arah yang di lihat oleh ataya. Dan seketika juga carol ikut terdiam saat melihat siapa yang ada disana "lo ataya kan? Adik nya artha? " ucap cowok itu sambil langkahnya perlahan menaiki anak tangga dan mendekati ataya hingga berjarak satu anak tangga saja. Ataya hanya menganggukkan kepalanya dengan takut takut "heh bilangin ya ke abang lo itu, jangan sok jadi cowok. Dipikir dia yang paling hebat di sekolah ini? Dan kalau sampai besok gue di panggil sama guru bp awas aja." cowok itu mendekatkan wajahnya pada ataya dengan tatapan tajam. Otomatis ataya juga langsung memundurkan kepalanya "lo yang bakal rasain akibatnya" ucap cowok itu tepat didepan wajah ataya. Kemudian cowok itu langsung pergi begitu saja "gila!! " ucap carol tiba tiba "lo tau siapa dia?" tanya carol dan dibalas gelengan kepala oleh ataya "dia itu kak Ken. Ken Made si preman sekolah" "ha? " ataya terkejut mendengar tuturan carol. Kemudian mereka kembali melanjutkan langkahnya sambil berbincang bincang "iya. Dia itu preman sekolah. Pasti dia habis ngelakuin sesuatu yang ngelanggar aturan sekolah dan pasti abang lo memergoki dia. Mangkannya dia kesini buat ngancam lo" "siapa yang ngancam ataya? " tiba tiba suara artha yang muncul dari belakang ataya dan carol. Otomatis carol dan ataya langsung membalik badan mereka "siapa yang ngancam? "ulang artha lagi "itu lo kak, si preman sekolah. Kak ken. Katanya dia bakalan ngelakuin hal buruk ke ataya kalau kak artha ngelaporin dia ke guru bp. Aww!! " tiba tiba ataya menginjak kaki carol. Memang mulut carol lemes. Artha bisa marah besar jika ia tau ada yang bermaksud buruk pada ataya "s**t!! " umpat artha. Tangannya mengepal kuat. Kemudian ia menatap ataya dengan tajam sedangkan ataya hanya menundukkan kepalanya saja "pulang! " ucap artha kemudian menarik tangan ataya. Meninggalkan carol di sana sendirian. "tuh kan! Gue ditinggal lagi" carol mencak mencak gak jelas. Lagi lagi dia ditinggalkan oleh ataya dan artha. Akhirnya carol berjalan sendirian menuju mobil antar jemputnya yang sudah nangkring di depan gerbang sekolah sejak tadi Di parkiran ataya hanya diam dan menuruti apa yang dikatakan oleh artha dan menjawab seperlunya saja. Karena ia tau dari nada suaranya yang terkesan dingin itu, berarti artha sedang menahan amarahnya. Mereka menuju rumah dalam diam. Tak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Sampai didepan rumah mata ataya berbinar saat melihat mobil ayahnya sudah terparkir didalam garasi rumah mereka. Ataya buru buru turun dari motor artha "yes ayah sama bunda udah pulang" ucap ataya sambil buru buru melepas helm nya dan segera berlari kecil masuk ke rumah. Artha tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Mood nya mudah berubah "ayah bunda, ataya pulang" "hei sayang.. Bunda kangen" mereka berpelukan dengan hangat. Kemudian ataya beralih memeluk ayah nya "hai bun hai yah" sapa artha yang baru muncul kemudian mencium tangan bundanya dan ayahnya "bunda udah masakin makanan kesukaan kalian berdua. Ayo kita makan bersama" "ayo ayo" ucap ataya kemudian berlari kecil ke ruang makan mereka Kini mereka berempat sudah bersama sama duduk di kursi meja makan. Mereka menikmati hidangan yang di buat oleh bunda mereka "kalian ngapain aja waktu ayah sama bunda ga ada di rumah? " tanya Ayahnya. Dan seketika artha dan ataya yang duduk berhadapan langsung berhenti menyuapkan makanan mereka kedalam mulut dan saling bertatapan "kok diem? " tanya bundanya "em.. Ga ngapa ngapain bun. Ya kayak biasanya aja" jawab ataya "oh ya ataya. Katanya kemarin kamu sakit? Kamu habis ngapain kok bisa sakit" tanya bundanya lagi "ataya seharian minum es terus bun. Terus kena flu sama demam" alibi artha "jangan terlalu banyak mengkonsumsi es ataya. Bentar lagi kamu ujian tengah semester. Harus jaga kesehatan" ucap ayahnya "iya yah" "artha. Kamu rencana mau kuliah dimana? " tanya ayahnya kepada artha " lihat nilainya nanti aja yah" "ayah saranin untuk kamu lanjutin study di amerika saja. Nilai kamu selama ini selalu bagus. Pasti kamu bisa masuk universitas disana" "iya yah. Semoga saja" Entah kenapa mendengar bahwa artha akan pergi ke amerika membuat ataya sedih. Semacam ada rasa tidak rela jika jauh dari artha. Karena selama ini ia selalu bersama artha. Umur yang hanya berbeda satu tahun. Membuat mereka sering dianggap anak kembar diwaktu kecil. Sebab dulu mereka sering memakai pakaian yang berwarna senada dan kesana kesini bersama "em ataya ke kamar duluan ya" ucap ataya dan langsung bangkit dari duduknya. Dan membawa piringnya menuju tempat pencuci piring. Salah satu aturan di rumah mereka adalah setelah makan langsung cuci piringnya sendiri sendiri "loh ataya kok ga dibahisin? " "ataya kenyang bun. Nanti kalau lapar ataya bakal makan lagi kok" Artha menatap ataya dengan bingung. Dia tau ada yang salah, karena ia dapat merasakan mood ataya yang tiba tiba berubah lagi. Setelah mencuci piring ataya langsung naik menuju kamarnya. Tanpa mengganti seragamnya ataya langsung tidur tengkurap di ranjangnya dan menyembunyikan wajahnya di bantal. Ia menangis. Dengan menyebunyikan wajahnya isakan tangisnya tak akan terdengar sampai luar. Entah kenapa ataya sangat ingin menangis. Menumpahkan keluh kesahnya disana. Sampai ia tertidur . . . .