Ataya mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya. Tubuhnya sulit untuk digerakkan. Dan ternyata ia baru sadar bahwa ia dalam pelukan artha. Seketika ingatannya tentang kejadian semalam berputar di otaknya. Air matanya perlahan jatuh. Ataya terisak. Namun entah kenapa ia malah menyembunyikan wajahnya di dada bidanh artha. Seperti mencari kenyamanan dan menumpahkan keluh kesahnya disana Artha yang mendengar isakan ataya terbangun dari tidurnya. Ia melirik ke arah ataya yang bersembunyi didadanya. Kemudian ia mengeratkan pelukannya. Mencoba menenangkan adik nya itu "bang artha jahat hiks ataya benci sama bang artha" isak ataya. Artha hanya diam saja dan tangannya masih mengelus punggung polos milik ataya. "ataya kotor hiks ataya udah kotor. Ataya jijik sama diri ataya sendiri" kemudian ataya melepas pelukan artha dengan sekuat tenaganya secara tiba tiba. Artha yang tidak siap akhirnya terlepas pelukannya. Ataya turun dari ranjang memunguti pakaiannya dan berlari ke kamar mandi yang ada dikamar artha. Artha masih diam. Ia menatap datar ke arah pintu kamar mandi yang baru saja tertutup dengan bantingan oleh ataya Artha dapat mendengar isakan ataya didalam kamar mandi. Bersamaan dengan suara air yang keluar dari shower. Artha turun dari ranjang dan memakai boxernya. Ia berjalan ke arah kamar mandi itu. Mencoba membuka pintunya namun ternyata dikunci oleh ataya. Akhirnya artha hanya diam berdiri menyandarkan punggungnya di samping pintu itu. Ia tau ataya butuh waktu sendiri. Maka dari itu artha membiarkannya saja. Sudah cukup lama ataya didalam kamar mandi. Isakannya juga masih terdengar. Sudah hampir dua jam. Artha mulai tidak sabar menunggu. Jika ataya masih di dalam kamar mandi dengan air shower yang masih mengalir ia bisa bisa sakit. "ataya buka pintunya" ucap artha sambil mengetuk ngetuk pintu kamar mandi itu "ataya buka!! Atau akan ku dobrak" "diam!! Bang artha jahat hiks"teriak ataya dari dalam kamar mandi "ataya kau boleh marah padaku tapi cepat keluar dari kamar mandi. Kau bisa sakit" "apa pedulimu? Bang artha sudah nyakitin ataya. Bang artha udah hancurin hidup ataya. Ataya benci!! " "ataya buka! Aku hitung sampai lima jika tidak kau buka aku akan dobrak" " 1.. 2.. 3.. 4.." masih belum ada sahutan dari ataya dan akhirnya Brakkkk Artha benar benar mendobrak pintu kamar mandinya. Dan ia melihat ataya berendam di bathup dengan shower diatasnya yang masih mengeluarkan air. Ataya menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di sana.  (anggap aja ada ataya disana) Artha berlari kecil mendekati ataya. Ia mematika air showernya. Dan ataya mendongak menatapnya. Mata nya sembab hidungnya merah, bibirnya pucat dan artha bisa mendengar gigi ataya yang bergemlatuk tanda ia kedingingan. Dan yang membuat artha semakin merasa bersalah adalah air mata yang menetes saat menatapnya. Menyiratkan penderitaan yang menjadi bebannya itu Artha mengangkat tubuh polos ataya dan mengeluarkannya dari bathup itu. Ataya hanya diam saja. Kemudian artha membawa ataya ke atas ranjangnya. Tak peduli jika ranjang nya akan basah. Dengan sigap artha membungkus tubuh polos ataya yang dingin iti dengan selimut tebalnya. Artha berjalan cepat keluar kamarnya untuk memuju kamar ataya yang ada disamping kamarnya. Ia mengambil baju untuk ataya dan kembali ke kamarnya Artha memakaikan dalaman ke Ataya dengan telaten. Begitu juga bajunya. Ataya hanya diam. "tunggu disini akan ku buatkan susu hangat" ucap artha. Namun tak ada sahutan dari ataya. Ataya hanya diam menatap lurus ke depan. Artha meninggalkam ataya dikamarnya kemudian menuju dapur. Ia membuat susu coklat hangat untuk ataya. Tak butuh waktu lama susu itu sudah selesai dibuatnya. Artha kembali kekamarnya. Dan dilihatnya ataya masih dalam posisi sama seperti tadi "ini minumlah" ucap artha duduk di pinggir ranjang dekat ataya. Ataya menerima susu itu dan meminumnyam. Namun masih tak mengeluarkan sepatah katapun "mau makan apa? Akan aku belikan" ataya masih diam. Dan tatapannya juga masih lurus kedepan. Sama sekali tidak menatap artha disampingnya. Artha mengehela nafas. Ia harus sabar. Ini semua juga karena perbuatannya "Mau makan apa? " tanya artha dengan lembut. Dan ataya masih tetap sama "ataya!! Kau tudak mendengarku berbicara ha? Kenapa diam saja seperti patubg begitu" bentak artha kehilangan kesabarannya. Memang pada dasarnya artha adalah cowok tempramen. Ia gampang tersulut emosi. Ataya mengalihkan pandangannya dan menatap artha. Lagi.... Air mata itu mengalir. Artha yang marah seketika hilang kemarahannya melihat air mata itu. Artha menundukkan kepalanya. Tanggannya mengenggam tangan ataya kuat. Dan ataya masih menatapnya datat namun air mata masih mengalir dimatanya. "aku tau aku salah. Aku tau aku jahat. Kau boleh mencaci makiku, kau boleh memukul ku. Tapi ku mohon jangan diamkan aku ataya. Aku tidak bisa" ucap artha dengan menatap ataya. Bahkan matanya juga mulai berkaca kaca Tiba tiba isakan keluar dari bibir ataya. Ia menangis dengan keras. Artha menariknya kedalam pelukannya. Ataya membalas pelukan itu. Ia menangis sejadi jadinya didalam pelukan artha. "maafkan aku, maaf ataya, maaf. Ku mohon maafkan aku" ucap artha mengelus sayang kepala ataya Ataya masih menangis di dalam pelukan artha. Artha membiarkannya. Sampai akhirnya isakan itu tidak terdengar lagi Artha mengurai pelukannya. Ia membingakai wajah ataya. Menatap mata ataya yang juga menatapnya "maafkan aku" ucap artha sekali lagi. Dan balasan ataya adalah..... Menganggukkan kepalanya. Ataya tak bisa benci artha meski apapun yang artha lakukan padanya. Entah kenapa. Kemudian mereka berpelukan lagi. Kali ini mereka sama sama merasakan kenyamanan dari pelukan sati sama lain "mau makan apa hem? Akan ku belikan" tanya artha dengan lembut "bubur ayam" jawab ataya dengam suara kecil dan serak khas orang habis menangis "baiklah. Kamu istirahat aku akan beli bubur dulu" kemudian ataya di baringkan lagi di ranjang. Artha menyelimuti tubuh ataya sempai dada. Kemudian artha mengambil kaos dari dalam lemarinya dan memakainya. Sejak tadi ia hanya memakai boxer. Kemudian artha mengambil celana dan memakainya juga. Artha meraih kuci motornya di atas nakas dan keluar kamar untuk menuju penjual bubur ayam . . .