SWC 39 (jadi teman)

1535 Words
"gue mau..." ataya menunggu gilang menyelesaikan ucapannya. Namun gilang menjedanya cukup lama "apa sih lang. Ayo cepetan" ucap ataya mulai gregetan " tapi lo janji ga bakal marah" "emang lo minta apaan samapai gue harus marah? Rumah gue? Ya jelas lah gue marah" "bukan ya" "lah terus?" "gue mau..." ataya menunggu dengan sangat antusias "lo jadi..." "jadi?" "sahabat gue" ucap gilang. Ataya tersenyum. Tangannya menepuk bahu gilang "tentu. Lo teman baik gue lang" ucap ataya. Kemudian ataya kembali bermain bersama anak anak kecil itu. Gilang mengacak rambutnya. Hampir saja ia mengatakannya. Gilang yakin ataya tidak siap untuk mendengarkan perasaan cintanya. Dan setelah ini hubungannya dengan ataya pasti akan canggung. Tidak seperti saat ini. Lebih baik gilang seperti ini dulu saja. Asalkan dia bisa selalu bersama dengan ataya dan melihat tawanya. "gilang ayo" teriak ataya mengajak gilang untuk bermain pasir di kolam yang seharusnya untuk olah raga lompat jauh. Namun disaat seperti ini beralih fungsi sebagai mainan anak anak. Gilang berlari kecil menemui ataya dan anak anak disana. Mereka bermain bersama. Mereka bermain disana hingga cukup lama dan tak ingat waktu. Menghabiskan waktu bersama. Bukan kah kata orang bahagia itu sederhana? Ya saat ini gilang percaya akan hal itu. Hanya dengan berada di dekat ataya gilang merasa bahagia. Hidupnya lebih berwarna saat mengenal ataya *********** "kamu harus rajin meminum obat penambah darah ini, karena seseorang yang mengidap penyakit ini juga akan mengalami anemia. Dan mudah lelah. Kamu juga harus selalu meminum vitamin ini. Dan jangan lupakan obat ini" dokter renov menunjukkan obat obat yang harus diminum oleh artha "harus sebanyak ini?" tanya artha "ya. Ini hanya sebagai pencegahan saja untuk mengurangi gejala gejalanya. Bukan menyembuhkan" "apa saya tidak bisa sembuh?" tanya artha pada dokter renov. Dokter renov memandangi artha. "kamu percayakan jika Tuhan memberikan penyakit beserta dengan obatnya. Kamu masih muda. Harus semangat, jangan menyerah. Yakinlah jika kamu akan terbebas darinya" ucap dokter renov memberi motivasi pada artha. Artha mengangguk kan kepalanya. Tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan dokter renov "sudah siap dokter" ucap suster yang baru saja masuk ke ruangan dokter renov "ayo artha kita mulai" artha dan dokter renov berjalan menuju tempat untuk artha melakukan transfusi darah. Ya hari ini artha harus melakukannya. Sebagai rangkaian pencegah gelaja penyakitnya Artha berbaring diranjang rumah sakit. Di tangannya sudah ada jarum yang menancap dan selang selang berisi darah yang dimasukkan kedalam tubuhnya. Artha memejamkan matanya. Tiba tiba artha mendengar pergerakan kursi yang ada disebelah ranjangnya. Artha membuka matanya dan melihat ada violet yang duduk disamping ranjang nya dan tersenyum padanya "hai" sapa violet "ngapain lo disini?" tanya artha "biasa. Awalnya gue mau kirim makan siang ke daddy tapi tadi gue lihat daddy baru keluar dari ruangan ini dan setelah gue intip ternyata lo" jelas violet. Artha mengangkat sebelah alisnya "lo tukang ngintip?" tanya artha dengan nada sinisnya. Violet jadi tersenyum kaku "ya dikeadaan tertentu sih. Tapi gue ga mesum kok. Tenang" ucap violet dengan wajah seriusnya dan entah kenapa melihat wajah itu membuat artha menarik sedikit bibirnya untuk tersenyum. Hanya sedikit. Bahkan mungkin violet tidak melihatnya jika artha tersenyum "lo mau minum? Atau makan? Atau apa gitu?" tawar violet "ga perlu. Lo bukan pembantu gue yang harus melakukan ini itu buat gue" ucap artha dan kemudian ia memejamkan matanya kembali. Violet memajukan bibirnya beberapa senti "cantik gini dibilang pembantu. Matanya belekan kali ya" guman violet "gue denger" ucap artha masih memejamkan matanya. Violet terkejut kemudian ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal "kalau emang keadaan lo kayak gini kenapa ga ada keluarga yang nemenin lo?" tanya violet. Artha membuka matanya dan melihat datar ke arah violet "harus ya gue jelasin ke lo?" "ya kalau lo mau. Gue kasih tau ya, memikul beban sendirian itu berat. Dengan lo bercerita dan menyampaikan keluh kesah lo ke orang yang lo percaya entah sadar atau enggak lo pasti ngerasa beban lo berkurang" "lebih baik diam daripada bercerita tapi nggak ada yang ngerti" ucap artha. Violet terdiam. Ya memang benar. Terkadang diam lebih baik daripada berbicara namun tak ada yang mengerti. Namun apa salahnya dicoba "mungkin gue bisa ngerti" ucap violet. Artha menaikkan sebelah alisnya "oh ya?" "ehem.. Coba lo cerita apa masalah lo ke gue. Siapa tau gue bisa ngerti dan mengurangi beban lo. Gue tau tha hidup sendirian itu berat. Apalgi dinegara orang dan dalam keadaan seperti ini" ucap violet. Artha mengehala nafasnya. Kemudian ia menatap langit langit ruangan itu "lo bisa bantu gue nggak?" tanya artha tanpa mengalihkan pandangannya dari langit langit kamar "gue siap ngebantu lo kapan aja" ucap violet antusias "tolong naikin kepala ranjangnya. Kepala gue pusing kalau ranjangnya rata gini" "siap" violet pun menyetel ranjang artha tepat dibagian kepalanya agar sedikit naik hingga sesuai dengan kemauan artha "udah?" tanya violet "cukup. Thanks" "oke" violet kembali duduk di kursi samping ranjang artha. Artha tetap memandangi langit langit kamarnya "lo mau denger cerita gue?" tanya artha "tentu. Gue suka dongeng" ucap violet. Artha terkekeh pelan. Violet terdiam. Untuk pertama kalinya artha tersenyum karenanya. Ini sungguh pencapaian yang luar biasa bagi violet. Artha menatap violet sambil mengehela nafasnya "sejak gue SMA gue udah pengen untuk kuliah disini. Tapi dihari terkahir gue ujian, pulang sekolah gue mengalami kecelakaan. Ga begitu parah sih. Tapi bikin gue ga bisa jalan selama beberpaa bulan. Tapi disaat gue ada dirumah sakit itu, dokter menemukan masalah lain ditubuh gue. Bukan karena akibat dari kecelakaan. Tapi hal lainnya. Dan saat itu gue divonis mengidap penyakit ini. Mulai saat itu, tujuan gue ke amerika bukan hanya mengejar cita cita gue tapi juga untuk berobat. Dan untuk pertanyaan kenapa ga ada keluarga gue yang mendampingi gue disini? Alasannya karena memang gue ga mau kalau Ayah atau bunda gue nemenin gue disini. Karena jika salah satu dari mereka ada disini pasti adek gue bakalan curiga." "jadi adek lo gatau? Kenapa?" violet memotong perkataan artha. Karen Ia langsung kepo saat mendengar bahwa adik nya tak tau akan hal ini "iya gue sembunyiin ini dari adek gue. Gue ga mau adek gue sedih dan selalu mikirin keadaan gue. Gue ga mau dia tau jika matahari nya mulai meredup. Tapi terkadang gue berfikir, kalau gue orang yang jahat. Gimana perasaan adek gue nanti disaat dia tiba tiba kehilangan mataharinya. Pasti menyakitkan. Jahat kan? Tapi gue juga ga bisa lihat senyum dan tawa dia hilang karena ini. Gue ga bisa" "lo sayang banget ya sama adek lo?" "sangat. Gue sayang dia melebihi sayang ke diri gue sendiri. Dia hidup gue. Warna hidup gue.Dia segalanya buat gue" ucap artha. Violet tersenyum kepada artha "siapa namanya? Siapa orang yang menjadi warna dihidup lo tha" "Ataya Aurora" Saat mendengar suara artha menyebut nama itu. Hati violet bergetar. Terasa nyeri. Entah apa penyebabnya violet tidak tau. "dia pasti cantik. Terlihat dari namanya" ucap violet, artha terkekeh "ya dia cantik. Cantik karena kesederhanaannya" ucap artha. Kemudian ia berusaha meraih handphone nya di atas nakas. Violet membantunya untuk mengambil handohphone itu. Artha mengotak atik ponselnya sebentar kemudian memberikannya pada violet. Artha menunjukkan sebuah foto ataya bersama dirinya pada violet  "cantik" satu kaca itu langsung meluncur dari bibir violet. Violet tidak munafik. Memang ataya cantik. Namun cantiknya bukan karena make up tapi dari dalam dirinya sendiri "btw lo emamg susah senyum ya" ucap violet dengan terkekeh pelan. Artha mendengus kesal "senyum gue mahal" ucap artha. Violet tertawa "ya lo benar. Emang senyum lo itu mahal. Tapi untuk dia tanpa diminta pun pasti lo akan tersenyum untuknya. Iya kan tha?" tanya violet. Artha mengangguk Violet mengembalikan handphone artha. Mereka membicarakan banyak hal saat itu. Awalnya hanya artha yang menceritakan tentang ataya. Namun kemudian violet juga menceritakan tentang dirinya yang pindah ke amerika karena mengikuti daddynya. Sedangkan mommynya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Hari itu artha dan violet menjadi teman bercerita yang cukup baik. Berbeda dengan hubungan mereka beberapa hari kemarin. Dalam hati violet senang, artha akhirnya bisa menerimanya meski mungkin hanya sebagai teman. ********** Ataya membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya. Ia mengambil ponselnya. Mengecek apakah ada pesan dari artha. Namun ternyata tidak. Ataya menghela nafasnya. Bahkan pesannya tadi pun tidak dibaca oleh artha. "bang artha kemana sih" lirih ataya. Ataya mulai merasakan jika artha sedikit jauh darinya. Artha tidak lagi menghubunginya sesering dulu. Namun ataya selalu berfikit positif jika artha memang sibuk. Dia tidak boleh egois dan marah karena hal ini. Ataya mengecas handohphone nya. Kemudian ia meraih boneka keledainya. Ataya memeluk boneka itu sangat erat "hai... Apa kamu juga merindukan bang artha?" tanya ataya pada boneka itu "sama aku juga sangat rindu . Dasar cowok ya. Pasti dia tidak peka jika sedang dirindukan. Kamu jangan gitu ya. Nanti kasian cewek kamu kalau kamu kayak gitu." ucap ataya lagi "eh, tapi kamu cewek apa cowok sih?" tanya ataya lagi "aduh kok ngomong sendiri. Tau ah tidur aja" ataya menarik selimutnya kemudian mulai menutup matanya. Lama lama bisa gila jika ia terus memikirkan artha. Dan saat memejamkan matanya ataya baru sadar. Jika beberapa saat yang lalu ia bersikap seakan dirinya adalah pacar artha yang selalu ingin dipergatikan oleh cowoknya. Ataya menghela nafasnya. Bagaimana bisa seperti itu? Ini tidak mungkin. Ataya kembali mengingat kejadian dulu saat dirinya dan artha melakukan hubungan itu. Apakah benar jika artha akan bertanggung jawab? Atau akan meninggalkannya bersama orang lain? Ataya mengusal rambutnya kesal. Ia kembali berusaha memejamkan matanya lagi. Agar pikirannya tidak berkelana kemana mana 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD