SWC 38 (panahan)

1149 Words
Artha sedang duduk sendirian di meja yang ada di pojokan restoran. Ia sedang menikmati burger ekstra kejunya dengan memperhatikan rintikan hujan yang turun. Ya inilah artha. Lebih gemar duduk sendirian dari pada bersama banyak orang. Bukan berarti artha tak memiliki kawan disini. Artha memiliki banyak teman dan kenalan disini karena memang dasarnya artha adalah orang yang mudah bergaul dan beradaptasi namun ia membatasi diri untuk bergaul dengan teman lawan jenisnya. Cukup hanya denada dan ataya saja. Terbukti dari sikap artha kepada violet yang selalu cuek. Artha tetaplah artha. Di tengah kesenangannya berada di antara teman temannya namun di satu titik artha tetap menyukai waktu untuk sendiri. "hai" sapa seseorang membuat artha harus mengalihkan pandangannya dari luar jendela ke orang yang ada di hadapannya ini "boleh duduk?" tanya violet. Dan hanya mendapat anggukan kecil dari artha. Sungguh pemandangan rintikan hujan diluar lebih menyita perhatian artha dari pada orang dihadapannya ini "artha" panggil violet. Artha hanya melihatnya sebentar kemudian kembali ke arah luar jendela "aku tau semuanya" ucap violet. Dan kali ini perkataan violet sukses membuat artha terfokus padanya "maksudnya?" tanya artha "aku tau. Rahasiamu. Hal yang selama ini kamu sembunyikan dari banyak orang" artha mengerutkan keningnya. Sejak kapan cewek dihadapannya ini merubah gaya bicaranya. Dan rahasia yang mana, artha bingung "ketika kita bertemu di rumah sakit. Kamu tau? Dokter yang kamu temui adalah daddy ku. Aku membaca berkas tentangmu. Kamu tidak perlu menutupinya lagi dariku. Aku sudah tau semuanya" ucap violet. Niat violet hanya ingin membantu artha. Agar artha tak menanggung beban ini sendirian namun sepertinya artha salah tanggap. Terbukti dari rahangnya yang mengeras dan tatapan menusuknya pada violet yang seakan akan bisa membunuhnya saat itu juga Tanpa disangka artha langsung bangkit dari duduknya. Saa artha baru melangkahkan kakinya melewati violet tangannya langsung di tahan oleh violet "artha aku hanya ingin membantumu" ucap violet. Artha menghempaskan tangan violet kemudian ia menatap violet yang juga menatapnya "siapa lo yang berhak ngebantu gue? Dan seharusnya lo ga lancang dengan ngebaca data pribadi pasien. Jika semua anak dari seorang dokter seperti mu, maka akan lebih baik jika pemerintah mengeluarkan peraturan agar seorang dokter haruslah orang yang lajang. Agar keluarga mereka tidak lancang membaca data pribadi pasien" ucap artha kemudian pergi meninggalkan violet. Perkataan artha tentu sangat menohok hati violet. Namun entah kenapa violet tak merasa ingin membencinya. Violet menatap ke arah kepergian artha dengan senyum mirisnya "sekarang aku tau, kenapa aku jadi sulit tidur. Karena aku mencintaimu. Kamu pemilik hatiku artha" lirih violet. Kemudian mengambil tas nya dan pergi juga meninggalkan tempat itu. *********** Di apartemen artha menyandarkan tubuhnya di sofa depan televisi. Ia mengambil ponselnya dari saku celananya. Dan tersenyum saat melihat wallpaper handphonenya adalah foto ataya yang tersenyum lebar  " i miss you" lirih artha. Tiba tiba artha merasakan ada sesuatu yang mengalir keluar hidungnya. Artha menunduk dan melihat kaos putihnya terkena noda merah. Artha mengusap hidungnya. Darah. Artha segera pergi ke westafel dan membasuh hidungnya. Setelah itu ia membasuh seluruh wajahnya. Artha memandangi wajahnya dari cermin. Senyum miris terbit disana. "menyedihkan" ucap artha. Tiba tiba handphone nya berdering. Artha segera mengambil handphonenya "halo bun" "..." "aku baik baik saja. Bunda tidak perlu kawatir" "..." "tentu. Aku akan rajin ke rumah sakit" "..." "iya bunda. Miss you to" Kemudian sambungan telfon terputus. Artha kembali ke kamarnya. Tubuhnya terasa lelah. Sejak saat itu artha merasa lebih mudah kelelahan. Dan ia tak bisa memaksakan diri. Jika sudah seperti ini artha harus istirahat atau ia akan mimisan lagi *********** Ataya berulah kali mencoba menelfon artha namun tak ada balasan. Pesan pesannya juga tidak dibalas atau pun dibaca. Ataya menghela nafasnya "bang artha kemana? Ataya takut" lirih ataya. Saat artha sulit untuk dihubungi seperti ini ataya merasa takut. Takut jika artha meninggalkannya dan pergi bersama yang lain. Namun ataya selalu mencoba untuk berfikir positif "ataya" teriak bundanya. Ataya segera keluar kamarnya "ada apa bun?" "ada teman kamu" kata bundanya. Ataya segera menuruni tangga dan melihat siapa yang datang dan menunggunya di ruang tamu. Terlihat ada seseorang yang duduk memungginya. Ataya tau siapa orang itu. "gilang" panggil ataya. Gilang menoleh dan tersenyum pada ataya. "kok lo ada disini? Ada apa?" "gue pengen ngajak lo jalan. Mau nggak?" "kemana? Di luar dingin" "cuman ke taman bermain" "emm.. Oke deh. Tunggu bentar yak. Gue ambil jaket dulu" Ataya segera kembali ke kamarnya dan mengambil jaketnya. Kemudian ia mengambil tas selempangnya dan memasukkan dompet serta handphone nya. Namun ia kembali mengeluarkan handphonenya dan mengetikkan sebuah pesan pada artha yang mengatakan jika dirinya akan pergi bersama temannya. Setelah itu ataya keluar dari kamarnya dan pergi bersama gilang setelah berpamitan dengan bundanya ********* "rame banget" ucap ataya saat melihat banyak orang disini. "gue udah bilangkan. Disini menyenangkan" Gilang menarik tangan ataya untuk ke tengah taman. Disana banyak sekali anak kecil. Ataya suka dengan anak kecil. Ataya mengobrol dengan anak anak yang ada disana. Bahkan ia ikut bermain bersama. Gilang hanya melihat saja. Memperhatikan ataya yang terlihat sebagai seseorang yang penyayang anak kecil. Ketika melihat ataya, gilang melihat ada yang berbeda dari ataya. Dia tidak seperti cewek lain yang banyak bicara. Yang selalu suka berdandan atau menghabiskan waktu di mall. Takut matahari dan menghindari tempat yang berdebu. Ataya berbeda. Ia tak pernah merasa malu saat pergi tanpa make up sedikit pun. Tak pernah terdengar ia mengatakan tentang fashion seperti teman teman cewek nya yang lain. Ataya lebih suka berada di bawah terik matahari. Bermain di tempat seperti ini yang tentu akan membuatnya terpapar debu dan terkena noda. Dan itulah yang menurut gilang, membuat ataya terlihat cantik secara alami. Dengan kesederhanaannya. "gilang kenapa lo diem aja. Ayo sini" panggil ataya. Gilang mendekatinya. "nih" ataya memberikan sebuah panahan mainan kepada gilang "apa ini" tanya gilang bingung "bom" "ha?" "lo bisa lihat kan ini apa. Kenapa masih tanya?" ucap ataya dengan terkekeh pelan "oh. Maksudnya buat apa?" "kita main ini. Siapa yang bisa mengenai sasaran dengan sangat baik boleh meminta satu hal apapun itu dari orang yang kalah. Setuju?" tawar ataya. Gilang berpikir sejenak "setuju" "oke. Kalian jadi jurinya ya" ucap ataya pada anak anak disana "siap kakak" jawab mereka serempak. "1,2,3" Panahan mereka berdua sama sama tidak tepat sasaran. Namun milik ataya yang lebih mendekati "oke kita ulang lagi. Panahan ketiga adalah final nya. Siapa yang terdekat dialah yang menang. Oke" ucap ataya dan gilang pun mengangguk Panahan mereka masih belum tepat dan lagi lagi panahan ataya yang lebih mendekati sasaran "kayaknya udah kelihatan siapa yang menang. Lo sering main ginian ya?" tanya gilang. Ataya tertawa "ya dulu. Gue sering kesini sama abang gue" ucap ataya. Gilang mengerutkan keningnya. Abang? Ataya punya kakak? "oke untuk yang terakhir kali. 1,2 tiga...." hitung ataya bersama anak anak disana "yesss wuhu... Gue yang menang" "hore!!!!" teriak anak anak kecil kegirangan. Sementara ataya memukul keningnya "oke ataya. Siap menepati janji lo" tagih gilang kepada ataya "oke oke apa yang lo inginkan dari gue?" Gilang tersenyum manis pada ataya. Ia melangkah lebih mendekat pada ataya "gue mau ..."  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD