The Secret Mission Bagian Satu

1337 Words
Kehidupan Gil Esdras, pria berusia tiga puluh tahun, seorang Underboss mafia Delta Dirac, berubah seratus delapan puluh derajat setelah kedua bola matanya yang rusak akibat kecelakaan mobil, diganti dengan netra milik sang pendonor yang baru saja dinyatakan meninggal beberapa jam yang lalu, tepat sebelum operasi dilakukan, setelah seluruh prosedur disetujui. Sorot mata tajam, dengan iris berwarna dark grey yang begitu indah, rupanya menjadi netra dengan kelebihan berbeda setelah menjadi bagian dari panca indera Esdras. Underboss mafia itu mulai melihat hal-hal yang menurutnya tak masuk akal, juga suara-suara dari ‘mereka’, sejak pertama kali ia mulai membuka mata. Seperti saat ini, lelaki dengan beberapa luka memar di wajahnya itu tengah menatap pada satu objek tak terlihat, yang tengah berdiri di samping Brylle, menatap ke arahnya. “Apa maksudmu … Exsly berdiri di sini?” tanya pria bersneli itu, sembari menunjuk sisi kanannya. Esdras yang masih belum memahami kejadian sebenarnya, hanya menganggukkan kepala. Sedangkan Brylle dan Finley saling melempar tatapan, kebingungan. Karena bagaimana pun, yang ada di dalam ruangan tersebut, hanya mereka bertiga, setelah Brylle meminta dua perawat, dan beberapa anak buah Delta Dirac, keluar, meninggalkan ruang perawatan tersebut. “Exsly sudah meninggal dua tahun yang lalu! Kau bahkan menghadiri pemakamannya. Ha … yang benar saja, Esdras. Bercandamu tidak lucu!” gerutu Brylle, sembari berkacak pinggang. “Apa aku terlihat sedang bercanda?” tanya Esdras. Finley yang sejak tadi terdiam, mulai mengeluarkan suara. “Apa kau berkata yang sebenarnya?” tanyanya. “Ya Tuhan … ada apa dengan kalian berdua?” Esdras menoleh ke sisi kanan, menatap pada Brylle, dan sosok tak kasat mata itu secara bergantian. Perlahan, pikirannya yang sejak tadi masih berkelana, setelah tidak sadarkan diri selama satu hari, akhirnya kembali. Otaknya mulai berjalan dengan semestinya, dengan berbagai spekulasi, yang mengarah pada jawaban yang sesungguhnya. Perlahan, raut wajah tampan yang sedari tadi mengintimidasi kedua rekan sejawatnya, mulai memperlihatkan ekspresi ketakutan. “Jo. Ada berapa orang yang kau lihat dalam ruangan ini?” tanyanya tiba-tiba. Perlahan, Esdras menoleh ke sisi kiri, mencari jawaban yang sangat ingin ia dengar dari lelaki berjaket kulit hitam itu. “Sudah jelas, dalam ruangan ini hanya ada kita bertiga. Karena Brylle sudah memerintahkan pada para anak buah Delta Dirac, untuk berjaga di luar ruangan. Sedangkan kedua perawat yang menemani Brylle, kembali bekerja,” jawab Finley, menjelaskan sedetail mungkin. “Lalu … ada berapa orang yang kau lihat dalam ruangan ini?” Kini, giliran Brylle yang mengajukan pertanyaan pada Esdras. Pria berpakaian pasien itu menatap pada Brylle, roh halus Exsly, roh halus berpakaian perawat, roh halus berpakaian dokter, roh halus berpakaian pasien, lalu menatap pada Finley. Esdras pun menghela napas dalam-dalam, sembari melihat pada Brylle. “Tujuh,” gumamnya setengah berbisik. Pria bersneli itu seketika mengentakkan kakinya dengan keras, hingga suara sepatu pantofel yang dikenakannya, terdengar begitu nyaring di setiap sudut ruang perawatan tersebut, sembari menghembuskan napasnya kasar. “Gila! Kau benar-benar sudah gila, Esdras!” “Ya … aku pun merasa, jika aku benar-benar sudah gila. Aku bahkan bisa mendengar, apa yang mereka bicarakan,” balas Esdras, frustasi. Lelaki itu menundukkan kepala, putus asa. “Kau yakin mereka benar-benar ada, Esdras?” tanya Finley, berusaha meyakinkan segalanya. Esdras melirik pada roh Exsly yang tengah tersenyum, lalu kembali memejamkan mata, mencoba mengelak dari tatapan sendu roh mantan kekasih rekan sejawatnya itu. “Ha … apa sebenarnya yang kau lakukan pada mataku, Brylle?” Esdras yang tiba-tiba saja teringat akan sesuatu, segera mengangkat wajah, lalu menatap pria bersneli itu dengan tatapan penuh selidik. “Kau sengaja melakukan ini padaku, agar aku menderita?” tanyanya. “Sialan! Mana mungkin aku melakukan hal sepicik itu!” sahut Brylle, menolak tuduhan tak berdasar yang dilayangkan oleh Esdras. “Lalu, kenapa aku berhalusinasi seperti ini? Kau memberi lysergic acid dietilamaida padaku dengan dosis tinggi?” cecar Esdras. *** (Lysergic acid dietilamaida, adalah narkoba golongan obat psikedelik dengan efek halusinasi paling kuat). “Jika aku memberi obat seperti itu dengan dosis tinggi padamu, kau tidak akan bisa berbicara, dan menuduhku yang tidak-tidak seperti sekarang,” jawab Brylle. “Esdras, kau benar-benar yakin, dan sedang tidak berhalusinasi?” Finley yang sangat penasaran, dengan kebenaran ucapan Esdras, berjalan mendekat pada rekannya itu. Ia duduk di tepi brankar, dan menatap bola mata indah, dengan iris berwarna dark grey milik lelaki di hadapannya. Finley mencoba mencari kebenaran, dari sorot mata Esdras saat ini. Dan benar saja, lelaki tampan dengan rahang tegas itu benar-benar mengatakan hal yang sesungguhnya, ketika melihat iris netra itu menatap ke arah sesuatu yang tak kasat mata. “Esdras mengatakan hal yang sebenarnya, Brylle,” cetus Finley, bergumam pelan. Esdras melirik sesaat pada Finley, sembari mendelik kesal. “Jangan menambah suasana yang kulihat semakin mencekam, Jo! Aku benar-benar merasa ingin lari sejauh mungkin dari tempat ini, jika saja luka bekas tusukan pada perutku sudah tidak terasa menyakitkan,” ujar Esdras. Pria itu kembali merebahkan tubuhnya dengan pasrah, menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh, berharap ‘mereka’ si makhluk tak kasat mata itu hanya halusinasi semata, karena efek obat bius. “Ha … aku hanya sedang bermimpi buruk.” Lelaki itu menghela napas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. “Ya … mimpi yang sangat buruk,” lanjutnya. *** Beberapa pria berbadan tegap, mengenakan setelan jas hitam, dan mini earpiece terpasang pada telinga, nampak berjaga di sepanjang lorong rumah sakit. Mata bak elang, milik para anak buah terlatih Delta Dirac, bergerak cepat, kala ekor matanya menangkap gerakan kecil yang mencurigakan di sekitar mereka. Dari kejauhan, Brylle yang ditemani dua orang perawat, nampak berjalan dengan santai, hendak menuju ruang Esdras untuk memeriksa keadaan lelaki itu. Namun, dua perawat itu seketika dihadang oleh empat orang penjaga, dan hanya mengizinkan Brylle yang masuk. “Kevin, mereka perawat yang akan membantuku memeriksa keadaan Esdras,” ujar pria bersneli itu. Empat penjaga itu membungkukkan tubuh, memberi hormat pada Brylle, sebelum mengatakan sesuatu. “Tuan Lazarus sedang berada di ruang perawatan, Tuan Brylle.” “Lazarus? Kenapa kalian semua tidak mengatakannya sejak awal?” Pria bersneli itu menoleh ke belakang, hendak berbicara pada dua perawatnya yang nampak ketakutan, setelah melihat raut wajah serius dari para penjaga ruang VIP tersebut. “Kalian tidak usah takut. Mereka sudah sangat jinak. Kembali bekerja. Saya harus menemui seseorang di dalam sana!” titahnya. Setelah mengatakan hal itu, Brylle pun berlari kecil menuju ruang perawatan rekan sejawatnya, untuk menemui tamu besar. Hingga tepat, sesaat setelah pria bersneli itu membuka pintu, dan berjalan masuk, seorang pria berbadan tegap, mengenakan jaket kulit coklat tua, berpadu jeans hitam, tengah duduk di atas sofa, saling berhadapan dengan Esdras, dan Finley. Pria tampan, dengan tatto kecil berlambang Delta Dirac pada leher sebelah kanannya, nampak sedang berbicara serius. Ya … pria tampan, dengan tatapan penuh wibawa itu, adalah Gil Lazarus. Lelaki yang sangat disegani di kota San Diego, pemilik sebuah perusahaan investasi, sekaligus pemimpin mafia Delta Dirac. “Kapan kau tiba di San Diego, Lazarus?” tanya Brylle, sembari duduk di atas sofa, tepat di samping sang hacker andalan Delta Dirac, Jo Finley. “Setelah aku mendapat kabar, jika adikku terluka, aku segera berangkat menggunakan pesawat malam itu juga, dan baru tiba di San Diego pagi tadi,” jawab Lazarus. Pria berjaket kulit hitam itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, sembari menghela napas dalam-dalam. “Bagaimana penglihatanmu, Esdras?” tanyanya. Esdras yang sejak tadi hanya menatap kesal pada sosok wanita, yang berdiri di samping sang Kakak, tak menghiraukan pertanyaan tersebut. Karena yang saat ini ia dengar, dan mendominan pada indera pendengarannya, justru rengekan makhluk tak kasat mata itu, hingga membuat Esdras mendengkus sebal. “Bisakah kau diam? Aku bahkan tidak mengenalmu. Kenapa aku harus membantumu? Apa yang sudah kau berikan padaku, hingga aku harus menuruti permintaanmu? Ha! Yang benar saja!” cecar Esdras tanpa sadar, hingga membuat Lazarus menatap kebingungan pada sang adik, sedangkan Brylle dan Finley, hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. “Esdras, kau tidak mengenalku?” Lazarus beralih menatap pada Brylle dan Finley secara bergantian, berharap salah satu dari dua pria itu memberikan penjelasan padanya. Bukannya menjawab, Esdras justru bangkit dari posisinya dengan raut wajah kesal, lalu berjalan meninggalkan sang Kakak dan kedua rekan sejawatnya dalam ruangan tersebut. “Ya Tuhan … adikku benar-benar sudah gilaa,” gumam Lazarus, menatap punggung Esdras yang akhirnya menghilang di balik pintu ruangan yang sengaja dihempaskan sangat kencang oleh Esdras. Sementara Brylle dan Finley, hanya terkekeh kecil menanggapi tingkah pria itu, karena mereka masih sulit untuk mempercayai perkataan Esdras beberapa jam yang lalu. "Ya, Lazarus. Adik tercintamu itu benar-benar sudah tidak waras," sahut Finley, menimpali. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD