The Secret Mission Bagian Dua

706 Words
“Tuan, aku mohon, tolong aku!” Roh halus seorang wanita cantik, mengenakan pakaian rumah sakit lain, dengan rambut hitam sepanjang d**a, tanpa henti mengikuti ke mana pun Esdras pergi, sembari memohon pada lelaki itu. Walau Esdras memilih bungkam, dan melangkahkan kakinya dengan tenang, diikuti beberapa anak buahnya, menuju taman rumah sakit, roh halus wanita cantik itu seakam tidak peduli, dan terus mengulang perkataannya. “Tuan, aku mohon, tolong aku!” Pintanya lagi. Esdras yang mulai merasa geram dengan makhluk cantik tak kasat mata itu, seketika menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke sisi kanan. “Aku bukan Tuanmu!” Para anak buah Delta Dirac, yang mendengar, dan melihat kejadian itu, seketika saling melempar tatap, dengan dahi berkerut. Dalam hati, mereka sangat ingin menanyakan hal membingungkan itu pada Esdras. Tetapi sayangnya, rasa takut, dan rasa segan mereka terhadap sang Underboss jauh lebih besar, dari rasa penasaran. “Aku akan menganggapmu Tuanku, Tuan. Maka dari itu, aku mohon, tolong aku,” sahut sang roh halus. Esdras kembali menatap ke depan, melanjutkan langkah kakinya, tanpa menggubris permintaan makhluk tak kasat mata itu. Ia bahkan dengan santainya menabrak, dan menembus beberapa makhluk menyeramkan lainnya, yang berkeliaran di sepanjang lorong, hingga hawa dingin seketika menusuk pada pori-pori kulit sekujur tubuhnya. “Kesialan benar-benar sedang mengikutiku!” gerutu Esdras. “Bukan kesialan. Kau justru diberi anugerah oleh Tuhan, dengan cahaya yang sangat indah di seluruh tubuhmu, Tuan,” ujar roh halus wanita itu, menyahuti. “Aku tidak bisa mendengar apapun! Aku tuli!” ujar Esdras, mencoba mengalihkan pikirannya. Roh wanita yang sedari tadi mengikutinya itu, tertawa kecil, hingga membuat Esdras seketika bergidik ngeri. “Aku tidak mendengar!” gumamnya lagi. “Tuan, kau sangat lucu,” ucap roh wanita itu. “Aku tidak mendengar!” Lagi-lagi, Esdras mengulang kalimat tersebut. “Tuan, kau juga sangat tampan. Aku yakin, orang tampan sepertimu, memiliki hati yang bersih, seperti cahaya yang menyeruak dari sekujur tubuhmu.” Roh itu masih terus berusaha membujuk Esdras, dengan cara klasik. Namun sayangnya, pria dengan pendirian yang kukuh, dan tak mudah goyah dengan hal-hal kecil itu, terlihat tak peduli, seakan makhluk tak kasat mata itu, sudah enyah dari pandangan indera keenamnya. “Tuan, firasatku mengatakan, hanya Tuan yang dapat menolongku. Maka dari itu, aku akan selalu mengikutimu, hingga kau bersedia menolongku,” lanjut roh wanita tanpa nama itu. Esdras tiba-tiba mendengkus. “Ha! Sebuah asap tembus pandang sepertimu, tidak mungkin memiliki firasat! Yang benar saja!” gerutunya tanpa sadar. Dan karena hal itu lah, roh wanita yang kini tengah berdiri di depan Esdras, sembari berjalan mundur, tersenyum lebar. “Kau mendengarku, Tuan. Kau hanya berpura-pura tidak mengindahkan permintaanku!” cetusnya. “Aku tidak mendengar,” ucap Esdras lagi. Pria itu kembali mengulang, sebagai bentuk pengalihan. “Tuan, aku mohon, tolong aku!” Esdras yang semakin naik pitam, kembali menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya ke belakang. Ia tatap keempat anak buah Delta Dirac yang sejak tadi mengikuti, ke mana pun dirinya pergi, sembari berkacak pinggang. “Jangan menganggap aku gila! Aku hanya sedang berlatih menjadi seorang aktor untuk misi yang akan kita jalani, bulan depan. Mengerti!” ucap Esdras, pada para anak buahnya. Keempat lelaki berbadan tegap, dengan setelan jas hitam, berpadu kemeja putih itu, mengambil posisi setengah membungkuk, sebagai jawaban dari perintah sang Underboss mereka. Namun, bukan empat anak buah Delta Dirac saja yang membungkukkan tubuh, tetapi roh wanita cantik, yang sejak tadi mengganggunya pun ikut melakukan hal yang sama, sembari tersenyum simpul. “Tolong aku, Tuan. Bantu aku mencari, dan menyusun kepingan puzzle dalam ingatanku yang hilang,” pintanya, sangat tulus. Lagi dan lagi, pria dengan seringai mengerikan itu berdecak, seakan mencemooh roh wanita di hadapannya. “Kau tahu? Bayaranku untuk memecahkan satu masalah, itu sangat mahal. Bahkan, jiwa rendahan sepertimu, tidak akan sanggup membayar jasaku. Kau mengerti?!” Tajam, dingin, dan … menusuk. Perkataan yang baru saja Esdras katakan, justru membuat keempat anak buahnya merasa kebingungan, karena arah tatapan mata Underbossnya itu, tertuju pada tempat kosong di sisi kanan Paul–salah satu anak buah Delta Dirac–hingga membuat bulu kuduk lelaki berbadan kekar itu, meremang. Sedangkan roh wanita yang merasa sudah terbiasa dengan perkataan seperti itu, tiba-tiba terdiam. Ini adalah kali pertama, ia merasakan hal berbeda. Seakan … kejadian semasa hidupnya, kembali bisa ia rasakan. Bahagia? Sudah pasti. Akan tetapi, roh halus wanita itu, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang … entah kenapa, semakin mengganjal dalam perasaannya. “T-Tuan … siapa aku sebenarnya?” tanya makhluk tak kasat mata itu, sembari menatap kedua telapak tangannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD