*** Sekali lagi Zafi menarik rambut Namira, "marah?" tanyanya sebab sejak tadi Namira hanya diam saja. Perempuan itu menolehkan kepalanya, menunjukan senyum cerianya. "Marah karena apa?" tanyanya pura-pura tak mengerti. Zafi berdecak, "Udah jadi kebiasaannya pura-pura kuat?" tanyanya. "Huhh? Marah kenapa sih?" Namira balik bertanya. Masih dengan kepura-puraannya. Membuat Zafi semakin gemas saja. "Marah karena nggak jadi dicium?" godanya. Namira terdiam. Keterkejutan jelas terlihat jelas di mata perempuan itu. Namun dia memilih untuk melanjutkan kepura-puraannya. "Maksudmu?" tanyanya. "Nggak ada maksud apa-apa," balas Zafi. Ia juga tidak menyangka akan mengatakan itu pada Namira padahal dirinya juga merasa salah tingkah jika mengingat kejadian tadi. Mendengar Zafi membalas pertan

