Kembar

1043 Words
Ini kedua kalinya bagi Ralia melihat Arif kalut serta tak berdaya. Walau Arif sudah mengatakan tidak terjadi apa-apa, tetapi siapa yang bisa Arif bohongi. Masa kelam yang telah Ralia lewati jelas begitu membekas serta meninggalkan trauma yang sampai sekarang coba ia kubur. Mempercayai Arif adalah hal sulit karena apa yang dilihat Ralia jelas jauh dari kata baik-baik saja. Mereka sudah terdiam selama hampir tiga jam. Arif yang tidak ingin banyak berdebat dengan Ralia akhirnya dengan berat hati menyetujui permintaan putrinya untuk ikut ke Jakarta. Setelah mendengar suara mantan istrinya untuk pertama kali, Arif tidak menyangka kalau berita buruk adalah alasan Marini mau menghubungi Arif. Ralia tertunduk lesu, sesekali ekor matanya melirik Arif yang tidak bisa menyembunyikan ketakutan dalam setiap hela napas. Ralia cemas dan tingkah Arif membuatnya semakin ketakutan saja. “Ayah,” panggil Ralia pelan. Arif menoleh kemudian coba untuk tersenyum. “Kamu yakin mau ikut?” Tanpa perlu banyak waktu untuk berpikir, cepat-cepat Ralia mengangguk. Arif mengusap pucuk kepala Ralia. “Semua akan baik-baik saja.” “Ralia tahu ada yang enggak baik-baik saja dan Ralia enggak mau Ayah sendirian saja.” Bandara Djuanda Surabaya masih saja sibuk walau waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ralia dan Arif harus bersabar menunggu untuk ikut penerbangan paling awal yang dijadwalkan pukul 05.30 pagi ini. Keduanya terpaksa menginap di bandara. Kalau harus kembali pulang, Arif harus menempuh perjalanan lumayan jauh, terlebih, ia juga yakin tidak akan mampu memejamkan mata. Sekilas Ralia kembali melirik Arif. Berulang kali Arif menghela napas kemudian berlari menjauh saat menerima panggilan telepon. Walau dari jauh, jelas Ralia tahu ada masalah besar yang menanti di Jakarta. Aulia enggak baik-baik saja. Arif sempat tersentak dan balas menatap Ralia dengan mata yang sembab ketika Ralia menarik lengan Arif. “Aku telepon kamu lagi nanti!” ujarnya kemudian mengakhiri panggilan. “Ayah ... siapa?” tanya Ralia penasaran. Arif memasukkan ponsel ke saku kemudian mengusap pipi Ralia. "Bukan siapa-siapa. Cuma urusan kantor. Semua akan baik-baik saja," jawab Arif seraya memaksa senyumnya. Ralia semakin yakin hal buruk sudah terjadi karena terakhir kali Arif mengucapkan kalimat itu, keluarga mereka berakhir dalam sekejap mata. Seakan hari-hari Ralia ditinggalkan oleh matahari. Cukup lama Ralia hidup dalam trauma karena mendadak harus berpisah dengan Aulia. “Ayah sudah janji untuk enggak pernah bohong lagi sama aku,” gumam Ralia. Arif yang terkesiap menatap Ralia kemudian membimbingnya untuk kembali duduk. “Ralia.” Ralia menyeka air mata yang menyengat kedua matanya. “Aku tahu Ayah bohong. Aku tahu pasti ada sesuatu.” Jemari Arif gemetar ketika ia menyeka bulir bening di pipi Ralia. “Ralia, Ayah enggak bohong sama kamu.” Ralia tidak lagi mau membalas ucapan Arif. Jelas batu besar yang mengimpit d**a membuatnya sulit berkata. Rasa ini kembali menarik dirinya ke masa lalu. Ralia dan Aulia. Mereka adalah saudari kembar. Pada usia sembilan tahun kedua orang tua mereka meneguhkan keputusan untuk mengakhiri biduk rumah tangga mereka tanpa mencoba untuk memperbaiki keadaan. Ralia ikut bersama Arif, sedangkan Aulia bersama Marini. Rasanya sulit menerima kenyataan bahwa mereka tidak bisa lagi tinggal dalam satu atap. Saat kejadian itu terjadi, Baik Ralia dan Aulia sudah sangat mengerti dengan situasi yang terjadi. Rasanya masih seperti kemarin, Marini membawa Aulia pergi meninggalkan rumah di Surabaya. Ralia ingat betul, Arif berkata bahwa Ralia akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja. “Ayah.” Ralia kembali menatapnya, kemudian mengusap pucuk kepala Ralia. “Aulia baik-baik saja.” *** Setelah tiba di Jakarta tepat pukul delapan pagi. Tanpa membuang waktu, Arif membawa Ralia menuju sebuah rumah sakit. Perasaan Ralia yang sudah buruk sejak dari Surabaya semakin menjadi ketika mereka tiba di lobi rumah sakit. Pikirnya, untuk apa mereka ke sana? Bukankah seharusnya pergi ke apartemen Marini saja? Ralia tahu, pasti terjadi sesuatu pada Aulia. Arif pasti berbohong saat mengatakan Aulia hanya terjatuh dari tangga dan tidak terjadi hal serius. Itu pasti bohong karena sekarang Arif panik berlarian mencari ruang High Care Intensif Unit. Jantung Ralia seakan melorot hingga perut kala melihat Marini duduk sembari menangis di depan ruangan dengan dua polisi yang sepertinya sedang menanyakan sesuatu padanya. Sekujur tubuh Ralia membeku. Waktu seakan terhenti lalu menyisakan Marini yang tertunduk sambil sesekali memukul kepalanya sendiri tepat setelah kedua polisi itu pergi. Arif bergerak menghampiri Marini, tampak bertanya sesuatu kemudian ia masuk ke ruang perawatan. Ralia mematung seperti orang bodoh. Jelas, ia tidak punya cukup keberanian untuk mendekati Marini. Rasanya begitu aneh. Setelah hampir tujuh tahun mereka berpisah atau lebih tepatnya saat Marini membiarkan keegoisan menghancurkan keluarga mereka, Ralia tidak bisa dengan mudah untuk menyapa Marini. Ralia menarik napas panjang lalu memilih duduk di bangku yang berhadapan tepat dengan Marini. Sekilas mata mereka bertemu. Ralia tahu seiring berjalannya waktu, kerinduan akan sosok seorang ibu rasanya perlahan hilang, tetapi jelas ada sesuatu yang sulit diutarakan Ralia. "Setelah Ayah keluar, kamu bisa masuk. Harus bergantian.” Ucapan Marini membuat Ralia terkesiap serta ingat kembali akan kekhawatirannya pada Aulia. "Aulia malang," tambahnya sejurus kemudian menangis tersedu-sedu. Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa harus memeluknya? Hatinya tidak lagi terikat dengan hatiku. Keegoisannya telah menghancurkan keluarga kami, aku tentu tidak akan pernah melupakan itu, batin Ralia. Rintihan pilunya terdengar makin menyesakkan d**a. Mungkin, naluri di antara mereka tidak bisa Ralia bohongi hingga tanpa sadar, kini ia sudah berada di hadapan Marini. Marini bangkit setelah melihat Ralia. Sulit bagi Ralia mengartikan tatapan mata Marini. Ralia takut akan menolaknya, persis seperti dulu saat Marini menolak untuk tetap bersama dengan Arif. Suara gebrakan meja dari dalam ruang perawatan melenyapkan kebekuan antara Ralia dan Marini. Refleks mereka bergerak mendekati pintu ruang perawatan. Di dalam sana, Arif terlihat sangat gusar. Pandangan Ralia beralih pada Aulia yang terbaring dengan berbagai peralatan medis menempel sekujur tubuh. Dari kekalutan Arif, jelas Ralia tahu kondisi Aulia tidak baik-baik saja. Arif tampak sedang ditenangkan oleh salah satu perawat kemudian beliau menatap ke arah Ralia. Matanya berkabut terlihat jelas tanpa sanggup untuk Arif tutupi. Pria itu ... menangis. Bulu kuduk Ralia meremang ketika Arif tiba-tiba keluar dari ruangan lalu mencengkeram kedua pundak Marini hingga Ralia terpaksa mundur beberapa langkah dengan tangan yang gemetaran. Arif gusar. "Apa? APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA AULIA?!" Jeritannya menggema ke seluruh lorong rumah sakit, semua orang menatap mereka. Sontak Ralia menarik tangan Arif, tetapi tanpa sadar Arif malah mendorong Ralia. “Dia, dia ... AULIA HAMIL!" pekik Arif.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD