Arif dan Marini saling membisu. Mereka berusaha keras meredakan amarah dalam d**a, sedangkan di ujung kursi panjang, Ralia hanya bisa tertunduk sembari memanjatkan doa, semoga Aulia baik-baik saja dan dia diberi kesempatan kedua untuk menjelaskan semuanya. Aulia tidak boleh pergi ke mana pun selain pulang bersamanya nanti ke Surabaya.
“Apa yang terjadi?” tanya Arif tanpa mau menoleh ke arah mantan istrinya.
Marini menyusut air matanya. “Aku enggak tahu.”
Arif mencengkeram kepalanya sendiri. “Enggak tahu bagaimana? Marini, anakku sekarat di dalam sana dan kamu enggak bisa menjelaskan masalahnya?” cecar Arif
Marini menunduk lebih dalam. Sungguh, ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Arif. Marini tidak berbohong. Ini juga adalah pukulan telak bagi hatinya. Tidak adil kalau Arif terus mengoceh, menyalahkan semuanya pada Marini. Tidak bisa.
“Seharusnya, kalau kamu enggak mau urus Aulia, berikan hak asuhnya padaku!”
Kali ini kepala Marini terangkat. “Kamu enggak bisa lakukan itu!”
“Kalau terjadi sesuatu. Kamu yang harus bertanggung jawab!” desis Arif.
Refleks Ralia menutup rapat kedua telinga lalu berlari menuju ruang perawatan Aulia.
Ia sudah berjanji untuk tidak menangis, tetapi genangan di pelupuk mata membakar habis pertahanan terakhirnya.
Sembari menyusut air mata serta ditemani suara stabil dari layar monitor pemantau seperti detik jarum jam, Ralia menatap Aulia.
Mata Aulia terpejam, beberapa bagian di wajahnya terlihat lebam. Perlahan Ralia meraih tangannya yang terasa sedingin es.
"Aul, aku sama ayah ada di sini. Aul, berjuanglah,” lirih Ralia yang kemudian mengecup punggung tangan Aulia.
Rahang Ralia mengetat. Jelas Arif telah berbohong. Keadaan Aulia sangat tidak baik. Bahkan, dokter sendiri tidak bisa memastikan kapan Aulia bisa bangun.
Sekali lagi Ralia menyeka air mata lalu berdeham beberapa kali. Nyeri di d**a mencekik kerongkongannya. "Aul, kita sudah janji untuk keliling Jakarta, kamu enggak boleh bohong," tutur Ralia yang sekali lagi menyeka air mata. “Bangun, Aul,” mohonnya, walau Aulia tidak menanggapi apa yang Ralia ucapkan.
Ralia hanya bisa bertemu Aulia ketika libur sekolah tiba. Dalam satu tahun, hanya beberapa kali saja dan melihat kondisi Aulia yang kini sangat buruk, jelas tidak bisa Ralia terima.
Ralia merasa ucapan Arif benar. Ia butuh penjelasan. Alasan mengapa Aulia bisa berada dalam kondisi seperti ini. Marini harus memberikan jawaban.
Ralia menyeka air matanya dengan kasar lalu bangkit. “Ayah benar, kami berhak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi sama kamu!” tuturnya sembari menatap Aulia kemudian berlari keluar ruangan.
Niatnya untuk bertanya langsung pada Marini seketika runtuh karena melihat ketegangan antara Arif dan Marini belum juga mereda.
"Kali ini aku akan membawa dia pulang bersama Ralia! Seharusnya aku melakukan ini tepat setelah kita bercerai!” Ucapan Arif jelas menegaskan bahwa kali ini tidak ada lagi kesempatan untuk Marini.
Kaki Ralia gemetar kala mendekati mereka. “Ayah,” panggil Ralia dengan sedikit menarik lengan jaketnya.
"Ralia?” Arif malah tertegun ketika matanya bertemu dengan Ralia.
Ralia perlu bicara berdua saja dengan Marini. Terlebih, semua kenyataan ini, pasti begitu menyakitkan. Arif adalah yang paling terluka. Ralia bisa melihat dengan jelas rasa bersalah dalam sorot mata Arif. Pikir Ralia, Arif butuh ruang untuk menepikan semua yang mengungkung hatinya.
"Ayah, aku lapar," tutur Ralia mencari alasan agar Arif bisa meninggalkannya berdua saja dengan Marini.
"Lia, maaf, Sayang. K-kamu belum makan dari kemarin, ‘kan? Sebentar, Ayah ...." Arif tidak mampu melanjutkan kalimatnya Ia menyeka air mata.
"Ya, aku lapar Ayah. Pergilah, sekarang Ayah," mohon Ralia.
Arif mengusap pucuk kepala Ralia. Sontak Ralia melengkungkan senyum dengan harapan bisa memberikan kesan kalau Ralia kuat.
"Iya, Nak, tunggu sebentar,” tutur Arif kemudian pergi meninggalkan Ralia.
Selepas Arif benar-benar menghilang di ujung lorong, Ralia segera duduk di samping Marini. Kali ini Marini tampak tidak menangis. Pandangannya kosong. Mungkin, Marini sedang memikirkan sebuah jawaban termasuk alasan Aulia nekat melompat dari lantai empat apartemen.
Tiba-tiba saja mata Marini beralih menatapku. "Arif sudah membesarkan kamu dengan sangat baik, walau tanpa aku," lirihnya.
Ralia meremas tangannya sendiri. Ia tidak mau membahas tentang dirinya juga tidak memiliki satu pun kalimat untuk menanggapi percakapan tentang itu. Mereka diselimuti rasa asing.
"Ralia," panggil Marini lagi lalu menggenggam tangan Ralia.
Untuk pertama kali, setelah sekian lama, akhirnya Ralia ingat bagaimana hangatnya sentuhan tangan Marini. Perasaan aneh ini membungkam bibir Ralia ketika mata mereka bertemu, tetapi ada keengganan menatap Marini terlalu lama.
"Aku ke toilet dahulu,” tukas Ralia yang kemudian berlari pergi.
Berkali-kali Ralia membasuh wajahnya dengan air di wastafel. Niatnya sirna. Ia belum siap atau malah tidak akan pernah siap bercakap dengan Marini.
Kali ini, rasanya begitu aneh menatap pantulan diri sendiri di dalam cermin, terlebih saat Ralia ingat kembali wajah lebam Aulia. Rasanya pasti sangat menyakitkan.
Ralia memutar keran, mengeringkan tangan lalu bergegas keluar dari toilet.
Langkahnya terhenti karena melihat pertengkaran Marini dan Arif yang juga memancing rasa penasaran orang-orang asing di sekitar mereka.
Sontak Ralia berlari mendekati kerumunan itu, tetapi lagi-lagi langkahnya terhenti karena melihat bungkusan yang ada di genggaman tangan Arif. Sebuah tabung kecil terbalut kasa di dalam sebuah plastik.
"Setidaknya Aulia harus tahu bayinya sudah enggak ada!" jerit Marini.
"Kamu gila? Dia sedang sekarat di dalam sana!" tolak Arif.
"Setidaknya ... sekali saja biarkan dia menyentuh janin ini, Arif," raungnya, "aku seorang ibu, aku tahu bagaimana sakitnya kehilangan anak," tambahnya.
Arif tersenyum kecut. "Tahu rasanya kehilangan? Ibu mana yang meninggalkan anak serta menghancurkan keluarga hanya untuk harta! Kamu sudah lupa?" sindirnya.
Marini terdiam, menyeka air mata kemudian merebut paksa tabung kecil dari genggaman tangan Arif kemudian berlari memasuki ruang ICU.
Ralia menahan napas lalu mendekati Arif. Dari balik kaca jendela kecil, bersama Arif, Ralia menatap Marini yang sudah berdiri di samping Aulia. Seketika Ralia bertanya dalam hati. Apa Aulia menginginkan bayi itu? Atau sebaliknya?
Marini meletakkan tabung kecil itu di telapak tangan Aulia. Ralia benar-benar berdoa ini adalah ide yang baik. Bergantian Ralia menatap Aulia dengan layar monitor ICU.
Ketakutannya terbukti. Lampu kecil yang berada di monitor itu berkedip-kedip sekaligus mengeluarkan suara tanda peringatan. Beberapa paramedis berlari menghampiri ranjang Aulia.
Marini mulai meraung pilu, wajah Arif berubah pucat. Seorang perawat memaksa Marini keluar sementara yang lainnya mulai memasang alat defibrilator.
“Ya, Allah, jangan. Tidak, Aulia. Jangan lakukan ini, Aulia! Aku mohon,” raung Ralia.