Tidak Bisa Meninggalkan Aulia

1030 Words
Arif melangkah secepat yang ia bisa. Meski saran itu terdengar masuk akal, tetapi sebagai seorang ayah juga lelaki, ia merasa harga dirinya tercabik-cabik. Bahkan, bukankah seharusnya Arif memiliki hak yang lebih besar? Bukankah seharusnya Marini mengatakan hal ini terlebih dahulu dengannya? “Seharusnya kamu bisa dengar aku! Kamu memang enggak berubah. Kamu tetap enggak bisa berpikir kalau kita butuh uang!” Seperti dihantam untuk ke seribu kali, Arif menoleh dan Marini sudah berdiri tepat di belakangnya. “Apa katamu?” “Aku hanya ingin yang terbaik untuk Aulia dan suamiku setuju untuk membiayai perawatan Aulia. Bukankah itu hal bagus?” desak Marini. “Tapi aku ayahnya! Seharusnya aku adalah orang pertama yang kamu ajak diskusi!” “Berapa uang yang kamu punya, Mas? Kita enggak bisa klaim asuransi karena ini percobaan bunuh diri! Sudahlah, tekan ego kamu untuk Aulia!” “Ini bukan soal ego, Marini!” “Lalu apa? Dia memang cuma ayah tiri, tapi dia juga peduli sama Aulia.” Arif terdiam, kedua tangannya telah terkepal erat-erat. Ia berusaha untuk tetap mengumpulkan semua sisa kewarasan yang dimilikinya. “Seharusnya kamu setuju saja! Aku sudah berpikir, kita belum bisa membawa Aulia ke luar negeri karena masih dalam proses penyidikan kasus dari kepolisian, walau sudah ditangani pengacara suamiku, kita masih enggak bisa keluar,” tambah Marini. “Apa memang hanya ada uang di kepala kamu?” Wajah Marini memerah. Sekali lagi ia menatap Arif lekat-lekat, meski tidak banyak berubah, lelaki yang pernah dinikahinya itu dinilai menjadi sangat sensitif juga serius. “Kenapa? Aku enggak ingin bertengkar sama kamu. Aku cuma berpikir kalau Aulia dipindahkan ke ruang perawatan super eksklusif, dia akan jauh lebih nyaman. Tidak harus bersama dengan pasien lain juga kedatangan polisi enggak akan jadi pembicaraan yang lain juga!” “Uangku memang enggak sebanyak suamimu itu, tapi aku enggak akan terima kalau kamu enggak libatkan aku dalam urusan pembayaran perawatan Aulia!” “Mas, aku enggak bilang kaya gitu. Aku enggak bilang kali enggak perlu bayar uang perawatan Aulia. Aku sadar kalau kamu juga pasti sakit hati kalau aku kaya gitu, tapi pikirkan baik-baik. Aulia masih koma, walau sudah melewati masa kritis, tapi kita enggak akan pernah tahu kapan kejadian seperti kemarin datang lagi.” “Itu—“ “Dengan obat-obatan juga perawatan terbaik, aku yakin, Aulia pasti akan jauh lebih cepat pulih.” Arif tidak lagi punya alasan untuk tidak menyetujui permintaan Marini. Ia tahu kalau semua yang dikatakan sang mantan istri memang benar. Meski melukai harga dirinya, ia tidak bisa mengorbankan keselamatan Aulia. Perlahan Arif menarik napas dalam-dalam. “Baik, lakukan apa yang harus kamu lakukan demi kesembuhan Aulia.” Senyum merekah indah di wajah Marini. Meski telah berkepala empat, kesempurnaan wajah Marini tidak lekang dimakan waktu. “Terima kasih, Mas, terima kasih,” ucapnya kemudian pergi meninggalkan Arif yang terdiam beberapa detik kemudian lelaki itu berjalan menuju ruang perawatan Ralia. Setelah ia membuka pintu, anak gadisnya itu sudah dalam posisi duduk. “Kamu enggak tidur?” tanyanya sembari mendekati Ralia. “Lia enggak ngantuk. Tadi dokter ke sini, bilang kalau nanti malam, setelah cairan infus habis, Ralia bisa pulang,” ungkapnya. Arif mengangguk. “Lia, bicara soal pulang. Sebaiknya kita pulang dulu ke Surabaya, setelah ayah urus surat cuti, kamu tinggal dulu di sana bersama nenek.” Ralia menggeleng. “Aku akan tetap di Jakarta sampai Aulia bangun. Aku ingin jadi orang pertama yang Aulia lihat, Ayah.” “Lia, kamu kelelahan. Kamu enggak boleh paksa diri kamu sendiri.” “Aku enggak kenapa-kenapa, Ayah!” “Siapa yang mau kamu bohongi, Lia? Lihat kamu, kamu butuh istirahat. Kamu enggak bisa tidur di kursi selasar rumah sakit. Ayolah, Lia.” Ralia mengangkut kedua tangan Arif erat-erat. “Ayah, selama ini Ralia enggak pernah minta apa-apa sama Ayah. Lia ngerti kalau Lia enggak bisa minta semua yang dimiliki teman-teman Lia. Lia berusaha untuk yakin kalau Ayah dan Aul cukup. Kalian bisa bikin Lia bahagia. Lia enggak akan bisa tenang kalau Aul belum siuman. Lia enggak akan ngerepotin mama, Lia akan jadi anak baik, Lia mohon, Ayah.” “Tapi ayah harus pulang dulu, Lia. Ayah harus urus surat cuti dulu,” sergah Arif. Ralia terdiam beberapa detik. Ia berusaha memikirkan hal lain dalam kepala, tetapi semakin keras ia melakukan itu, Ralia malah yakin, ia tidak punya banyak pilihan. Bila harus tinggal di hotel, jelas itu akan memakan banyak uang dan ia sadar kalau ayahnya bukan orang yang memiliki uang sebanyak air di lautan. Belum lagi biaya pengobatan Aulia yang sudah bisa dipastikan menelan biaya tidak sedikit. “Lia, Lia bisa tinggal di apartemen mama,” cetusnya. Arif menyipitkan mata. “Di mana?” “Apartemen mama,” ulang Ralia. “Lia, kamu—“ “Aku bisa tidur di kamar Aulia, aku bisa untuk sementara memakai pakaian milik Aulia. Ayah, aku mohon,” potong Ralia. “Ini bukan ide yang baik. Lia, mama kamu sudah punya suami lagi. Pasti canggung rasanya—“ “Hah? Mama apa?” Arif memijat pelipisnya. “Kamu enggak salah dengar. Iya, mama kamu sudah menikah lagi. Ayah enggak tahu, apa dia berkenan kamu tinggal di sana.” “Tapi, Ayah, aku sungguh-sungguh ingin berada di sisi Aulia.” Arif mengusap punggung tangan putrinya dengan lembut penuh kehangatan. “Lia, dokter bilang kalau kondisi Aulia enggak akan bisa ditebak. Dia bisa bangun nanti malam, besok, lusa, seminggu lagi, dua mingguan lagi, satu bulan, atau mungkin lebih lama dari itu. Kamu enggak bisa di sini selamanya, Lia.” “Ayah, tapi Ayah sudah janji untuk izinkan Ralia liburan selama dua minggu di Jakarta. Kenapa kita enggak anggap ini sebagai jatah liburan Ralia!” protesnya. Arif kembali melepaskan napasnya yang penuh dengan rasa cemas. “Lia, ayah kenal kamu. Setelah itu, kalau Aulia belum juga sadar, kamu pasti minta hal lebih dari ini. Iya, 'kan?” Ralia diam. Iya, mungkin hal itu bisa terjadi. Ia tidak mungkin meninggalkan Aulia. Ia tidak bisa pergi karena mungkin hal itu akan menjadi hari terakhir ia bisa bertemu dengan Aulia. Kali ini, ia tidak mau membuang waktu berharganya. Aulia adalah yang utama, meski ia harus berhenti sekolah, ia akan melakukan itu. Ralia tidak bisa lagi digoyahkan. Apa pun yang terjadi, ia akan tetap di sisi Aulia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD