Bicara Soal Masa Lalu

1067 Words
“Lia, dia benar. Aku memang orang yang patut disalahkan,” ucap Marini. “Aku enggak ingin berkomentar. Aku sadar, sebanyak apa pun aku marah, semua yang telah terjadi termasuk kondisi Aulia tetap enggak bisa diputar ulang.” Marini tersenyum kecut. “Itu yang membuatku sulit melupakan kamu, Mas,” aku Marini, “kamu orang baik,” lanjutnya. Arif melirik mantan istrinya yang dinilai masih saja menawan seolah waktu tidak pernah berjalan. “Aku? Orang baik?” Marini mengangguk lantas menyusut air mata dengan punggung tangannya. “Ini salahku. Dari awal, semuanya ... dari awal kehancuran pernikahan kita.” “Pernikahan kita? Ah, sudahlah, aku enggak ingin larut dalam masa lalu. Aku harap kamu menghargai aku dengan enggak membicarakan soal kisah itu.” “Kamu berhak bahagia dengan wanita yang lebih baik, Mas.” “Dan kamu salah karena berhak menilai wanita mana yang lebih pantas mendampingi aku. Sudahlah Marini, aku sungguh-sungguh enggak mau membicarakan soal pernikahan kita. Semua sudah selesai dan biarkan tetap begitu. Ralia, dia enggak bermaksud untuk seperti itu.” Marini kembali menyusut air matanya. “Ralia, dia membenci aku.” “Kamu salah.” “Kenyataannya begitu, kamu enggak bisa menghibur aku dengan mengatakan dia enggak benci aku.” “Ralia enggak pernah benci kamu, Marini. Aku memang enggak tahu seberapa buruk hubungan kamu dengan Aulia, tapi percayalah setiap kali Aulia datang ke Surabaya, Ralia selalu tanya soal kamu. Meski enggak pernah mengatakannya secara gamblang, tapi Ralia sangat merindukan kamu.” Marini bingung menanggapi pernyataan Arif dengan kalimat apa, tetapi hatinya kembali berharap bisa menyudahi perasaan bersalah ini. *** Berkali Arif membasuh wajahnya. Namun, pembicaraan dengan Marini beberapa menit lalu masih saja berlarian di kepalanya. Ada satu rasa yang sulit untuk dijabarkan. Ketika amarah, benci serta kerinduan melebur jadi satu ... hati Arif jelas digulung oleh perasaan semacam itu. Semua yang berusaha ia kubur, nyatanya kembali dalam wujud lebih nyata. Kenangan-kenangan itu seperti slide yang diputar cepat hingga menampilkan semua kisah di masa lalu. Hari itu, Arif pulang ke rumah dengan jantung berdebar tak menentu. Kedua tangannya membekap selembar kertas di d**a. Kertas yang bertuliskan Surat Pengangkatan Karyawan. Sudah lebih dari lima tahun, Arif dan keluarganya menantikan surat ini. Arif berpikir dengan langkah pertama ini, ia bisa segera membahagiakan keluarga kecilnya. Memberikan beberapa hal mewah yang selama ini sulit untuk diberikan. “Marini, Marini!” Arif membuka pintu, melemparkan helm ke sofa lalu bergegas menuju kamar. “Marini, aku ....” Kalimat yang hendak dilontarkan Arif hilang berganti rasa penasaran karena melihat beberapa koper besar ada di lemari, juga Marini yang sudah rapi mengenakan pakaian terbaik miliknya. “Aku sudah lama tunggu kamu,” ujar Marini. Arif menatap Marini dari ujung kepala hingga kaki lalu kembali lagi ke kepala. “ Kamu kenapa? Nunggu kenapa? Kamu mau ke mana?” Marini tidak berkata apa-apa, ia hanya mendekati Arif lalu melepaskan cincin pernikahannya kemudian meletakkan cincin itu di telapak tangan Arif. “Maksud kamu apa?” Marini dengan mantap menatap mata Arif. Baginya tidak ada lagi cela untuk menunda-nunda keputusan ini. “Aku ingin kita bercerai dan aku bawa salah satu anak kembar kita.” “Emang salah aku apa? Kenapa kamu seperti ini? Kenapa?” desaknya. “Kamu enggak salah apa-apa. Ini salah aku dan aku hanya berpikir kita sudah tidak bisa berjalan di alas sama. Aku menemukan lelaki lain yang bisa memberikan hal yang selama ini aku impikan.” Arif terpaku sesaat ketika Marini berjalan melewatinya, tetapi kegamangan Arif tidak berlangsung lama. Dengan cepat ia menarik tangan Marini. “Kamu sudah gila? Ada apa denganmu?” Marini coba untuk menepis tangan Arif, tetapi lelaki itu terlalu kencang mencengkeram lengan Marini. “Ini adalah keputusan paling waras dari yang bisa aku lakukan selama pernikahan kita!” “Aku, aku sadar kalau aku belum bisa memenuhi semua yang kamu inginkan, tapi, tapi aku sudah berusaha keras, Marini,” ucap Arif dengan bibir gemetaran, “ke-kenapa, kenapa kamu bisa sejahat itu sama aku? Aku sudah berusaha keras untuk keluarga kita. Aku sadar, mungkin apa yang sudah berikan enggak sesempurna pemberian lelaki yang kamu pilih saat ini, tapi aku yakin, dibandingkan lelaki itu, aku yang paling tulus. Aku mohon, pertimbangkan lagi. Kalaupun bukan buat aku, aku mohon ini untuk anak-anak.” “Aku sudah pikiran ini matang-matang dan aku bawa salah satu anak kita. Mungkin, ini memang bukan salah kamu, tapi kamu enggak bisa halangi aku lagi.” Arif melepaskan genggaman tangannya di lengan Marini, dengan berlinang air mata ia berkata, “Kalau itu yang baik untuk kamu.” Marini terenyak mendengar ucapan Arif, dalam lubuk hatinya ada kekecewaan yang tidak bisa dijelaskan. “Aku pergi, Mas.” Sekali lagi Arif membasuh wajahnya. Kenangan itu, yang dikira telah lenyap, kembali menorehkan luka yang membuatnya makin merasa bersalah. Ia berpikir kalau saja saat itu, ia bisa menahan kepergian Marini, atau tidak mengizinkan Marini membawa pergi Aulia, mungkin saat ini kondisi putrinya tidak memprihatinkan. Arif menutup keran wastafel kemudian keluar dari kamar mandi. Ia kembali menuju ruang ICU, di sana, ia melihat Marini masih duduk dalam posisi yang sama. Ia hendak melangkah maju, tetapi seseorang berpakaian sangat rapi menghampiri mantan istrinya itu. Meskipun, dari kejauhan Arif bisa menilai keduanya memiliki kedekatan lebih dari sekadar pertemanan biasa. Meski sadar, tidak seharusnya perasaan itu hadir kembali, tetapi Arif tidak mungkin bisa berbohong. Sudah lama ia bercerai dengan Marini, perasaan itu tetap sama. Bercokol seperti noda membandel yang tidak mau pergi meski sudah digosok keras berkali-kali. Arif merasa, walau semua kesalahan ditimpakan pada kubu Marini, tetapi sebagai seorang suami ia telah gagal dan kini, ketika ia ingat akan kondisi Aulia, Arif juga merasa, sebagai ayah ia telah gagal. Berharap waktu bisa diputar kembali adalah hal mustahil, tetapi bila saja hal itu bisa terjadi ... sedari Awal Arif akan coba menahan Marini pergi, atau minimal ia bisa mencegah Marini mengambil Aulia dari sisinya. “Mas Arif?” Kesadaran sepenuhnya kembali dalam diri Arif. Ia menoleh ke arah Marini yang ternyata telah berdiri di sebelahnya pun dengan lelaki yang telah berada di sampingnya. Arif coba untuk membalas senyuman lelaki itu. “Perkenalkan, Heri.” Walau tidak ingin, tetapi pada akhirnya Arif tetap membalas jabat tangannya. “Arif.” “Marini sudah bicara banyak tentang kamu. Salam kenal.” Arif hanya menanggapi dengan satu anggukan kecil. Meski penasaran, Arif enggan untuk bertanya lebih lanjut. “Mas, aku sudah bicara dengan Mas Heri, dia sudah setuju untuk memindahkan Aulia ke fasilitas kesehatan yang lebih baik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD