Bukan Keluarga

1121 Words
Hal pertama yang didapatkan Marini ketika ia memutuskan untuk akhirnya masuk ke dalam kamar perawatan adalah tatapan tajam dari keduanya, Ralia juga Arif. Marini mengulas senyum yang sepertinya membuat Ralia pun Arif merasa sebal. Keduanya kompak memalingkan wajah. Perlakuan seperti ini, dinilai wajar oleh Marini, ia tahu pasti akan seperti ini, tetapi ketika benar terjadi, tetap saja hatinya merasa sakit. Perlahan Marini berjalan mendekati mereka. Arif sontak bangkit untuk memberikan ruang agar Marini bisa mendekati Ralia, meskipun tahu kalau Ralia sepertinya tidak menyukai ide itu. “Mendingan? Kamu sudah enggak apa-apa?” tanya Marini dengan lembut. Ralia memberikan satu anggukan kecil lalu menatap Arif seakan meminta pada ayahnya agar bisa membawa Marini jauh-jauh darinya. “Mas, kamu bisa tinggalkan kami berdua saja?” pinta Marini, “kamu enggak keberatan, 'kan? Lia?” tanyanya lagi. Ralia terdiam. Bibirnya bergerak-gerak berusaha keras mengucapkan kalimat yang luluh di pangkal tenggorokan. “Tentu. Lia, ayah tunggu di luar,” ucap Arif kemudian pergi dengan sesekali balas menatap Ralia. Ia tahu kalau sebenarnya Ralia tidak menyukai ide itu. Tepat ketika daun pintu sepenuhnya tertutup, ingin rasanya Ralia mencopot jarum infus di tangan lalu berlari mengejar Arif, tetapi tangan Marini yang dingin terlebih dahulu menggenggam tangan Ralia. Gadis itu terkejut sampai-sampai sontak menarik tangannya. “Ma-maaf,” sesal Marini. Ralia menahan air mata agar tetap berada di tempatnya dan itu sulit karena dadanya terasa semakin sesak kala ia menahan gulungan perasaan yang tertahan selama lima tahun belakangan dan Marini tahu apa yang tengah di rasakan oleh Ralia. Namun, Marini merasa harus bicara pada salah satu putrinya itu, meski tahu ia tidak akan pernah bisa memperbaiki apa-apa. “Mama minta maaf sama kamu, Lia. Mama ... bukan orang tua yang baik, yang bisa seperti ibu lainnya dan—“ “Mama enggak perlu minta maaf sama aku.” Akhirnya kalimat itu meluncur dari bibir Ralia. “Lia.” “Telat.” Marini menunduk, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan terjadi. Membicarakan masa lalu yang tidak akan pernah ada habis-habisnya. “Aku sama ayah hanya dua orang asing. Tepat setelah mama bawa pergi Aulia, Mama anggap kami berdua bukan lagi keluarga,” lanjut Ralia. “Lia.” Kali ini Ralia membiarkan air matanya menganak sungai di pipi. “Tapi harusnya Mama enggak kaya gitu sama Aulia. Harusnya Mama enggak bisa bilang enggak tahu apa-apa tentang Aulia!” tutur Ralia terbata. “Ini semua memang salah mama.” Ralia mengangguk. “Ya. Tentu aja. Tentu aja semuanya salah Mama. Walau aku enggak bisa setiap hari bersama Aulia, enggak bisa secara langsung buat dengar curahan hati Aulia, tapi aku bisa tahu kalau Aulia punya masalah.” Marini tidak bisa lagi mencegah air matanya untuk jatuh. “Seharusnya, waktu itu ... Mama enggak pernah memaksa ayah kamu untuk menyerahkan Aulia.” “Ayah selalu bilang sama aku kalau semuanya akan baik-baik saja. Semua pasti baik-baik saja, tapi semakin lama, aku semakin tahu kalau semuanya enggak akan pernah bisa baik-baik saja.” “Mama enggak pernah bermaksud untuk menyakiti kamu, Aulia atau—“ “Tapi kenyataannya iya!” potong Ralia, “waktu itu, menurut kalian, menurut Mama dan ayah, aku dan Aulia belum ngerti apa-apa, tapi kalian salah. Kami sudah mengerti, kami tahu apa yang terjadi. Cuma yang aku enggak ngerti sampai saat ini adalah alasan Mama bisa tinggalin kami,” lanjut Ralia. “Lia, itu—“ Marini dan Ralia kompak menoleh, Arif sudah berdiri di ambang pintu. Lelaki itu melangkah masuk. “Sebaiknya kamu keluar dahulu,” pintanya pada Marini yang diam. “Demi Tuhan, Marini. Jangan paksa Ralia lebih dari ini,” lanjutnya. Marini meremas tali tasnya kemudian menuruti permintaan Arif. Tanpa banyak berkata-kata, ia bangkit, mengusap air mata kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang perawatan. Setelah Marini pergi, Arif mendekati Ralia. Ia tidak buru-buru langsung bicara. Arif meraih tangan Ralia, dengan lembut mengusap punggung tangan putrinya. “Bagaimanapun, dia adalah ibu kamu, Lia.” Ralia tahu di mana batasan norma. Ia juga mengerti kalau apa yang telah dikatakannya pada Marini mungkin bisa dikategorikan sebagai salah satu tindakan kurang ajar, tetapi bukankah seharusnya ada yang berteriak bahkan menampar wanita itu dengan satu kenyataan kalau apa yang telah terjadi dan semua penderitaan itu disebabkan olehnya. “Lia, kamu dengar, 'kan?” Ralia mengangguk. “Lia, ini juga salah ayah. Kalau saja dulu ayah bisa memenuhi apa yang mama kamu inginkan, mungkin hal ini tidak akan terjadi.” “Enggak! Ini semua bukan salah Ayah dan enggak pernah akan jadi salah Ayah!” Arif tersenyum kemudian duduk di kursi sebelah Ralia. “Lia, kelak, ketika kamu sudah menikah, kamu akan mengerti kalau—“ “Kalau uang adalah hal yang paling penting?” potong Ralia. Arif menarik napas dalam-dalam, dengan lembut ia mengusap pucuk kepala Ralia. “Lia, ada banyak hal yang seharusnya belum kamu tahu.” “Apa? Kenapa?” “Ayah, ingin kamu berjalan seperti teman-teman kamu yang lain.” “Tapi aku enggak seperti mereka yang tinggal satu rumah dengan keluarga utuh!” “Maaf, Lia.” “Kenapa harus minta maaf? Kenapa selalu harus Ayah yang ngerasa enggak enak sama semua ini? Kenapa bukan dia? Kenapa mama enggak pernah merasa bersalah sama kita?” raung Ralia. “Lia, ayah sudah sering bilang sama kamu. Percaya sama Tuhan, setelah ini, kita akan bahagia lagi.” “Kalau memang begitu, kenapa Ayah juga enggak pernah mau sepenuhnya melepas mama? Lia tahu Ayah enggak menikah lagi karena Ayah masih sayang sama mama. Ayah masih bertahan dengan harapan kalau suatu saat nanti mama pasti akan kembali ke Surabaya.” Arif kehilangan kata-kata. Ia tidak bisa menepis semua kalimat yang diucapkan Ralia. Kalau dipikir-pikir, memang benar. Sampai detik ini, hatinya tetap terpaut pada Marini seorang. “Lia, sekarang kamu istirahat. Nanti kalau dokter datang, kita tanya kapan infus kamu bida dibuka.” Mendengar kata dokter, Ralia ingat kembali akan apa yang menyebabkannya hilang kesadaran. Hari itu, kondisi Aulia memburuk bahkan mungkin bisa disebut sekarat. “Ayah, bagaimana kondisi Aulia?” “Aulia enggak apa-apa.” “Ayah bohong!” Arif kembali mengusap pucuk kepala Ralia kemudian menggeleng. “Ayah enggak bohong. Malah sebentar lagi Aulia bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa.” “Benar? Aulia sudah sadar?” Sayangnya kali ini Arif harus kembali menggeleng. “Belum, tapi kondisinya jauh lebih stabil.” “Terima kasih, Tuhan, terima kasih,” cicit Ralia. Arif bangkit kemudian berkata, “Ayah keluar dulu.” Ralia hanya memberikan satu anggukan kecil kemudian Arif pergi dan betapa terkejutnya Arif karena melihat Marini masih duduk di salah satu kursi besi panjang tepat di depan kamar perawatan Ralia. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian duduk bersisian dengan mantan istrinya itu. “Lia, sudah sewajarnya dia benci sama aku. Aku memang orang yang patut disalahkan,” gumam Marini membuka pembicaraan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD