10. Pdkt

1493 Words
Radita keluar dari kamar mandi bertepatan dengan Hugo yang datang ke dapur untuk mengambil minuman kaleng dari kulkas. Ia sangat haus dan butuh sesuatu untuk menyegarkan tenggorokannya, sehingga saat ia pulang, ia langsung menuju ke dapur. Ia terkejut saat melihat Radita keluar dari kamar mandi dapur dan menatap adiknya itu dengan pandangan kebingungan. “Abis ngapain lo sampai keringetan begitu?” tanyanya curiga. Radita sedikit gugup dan gelisah, “Ah itu, gue tadi buat s**u, terus tiba-tiba sakit perut, jadi BAB di sini. Perut gue sakit banget, makanya sampai keringetan. Kayaknya pencernaan gue lagi nggak bagus.” Ujarnya menjelaskan. Hugo mengangguk, lalu duduk di kursi pantry, “Bibik udah pulang?” “Udah kayaknya, tadi gue juga nggak ngelihat waktu pulang.” Jawab Radita sudah mulai lega karena Hugo tidak lagi bertanya lebih jauh tentang kebohongannya. “Oh, bibik tadi masak apa?” tanya Hugo. Radita membuka lemari makanan dan mengeluarkan beberapa masakan bibik dari sana. Ia meletakkannya di depan Hugo, “Tuh, kalau mau makan panasin sendiri.” “Panasin kek, gue cape nih abis pulang kerja. Lo mah enak pulang main.” “Ya urusan lo lah, bukan urusan gue.” “Masakin mie instan dong Dit, pengen nih.” “Lagi nggak hujan, nggak perlu makan mie.” Tolak Radita. Felix terbilang jarang menyantap mie instan karena menurutnya itu sangat tidak baik untuk kesehatan, tapi setiap kali hujan deras, pria itu pasti akan menginginkan mie kuah untuk menghangatkan tubuhnya. Setiap kali hujan, Hugo selalu membayangkan dirinya menyantap mie. Hugo mencebikkan bibirnya, “Ya emang nggak hujam, kalau hujan mah gue butuhnya cewek bukan mie instan.” Ujarnya sinis. “Udah, buruan buatin.” Meski Radita mengeluarkan raut kesal dan merutuki permintaan Hugo, namun wanita itu tetap melakukan apa yang Hugo inginkan. Ia segera membuatkan mie instan untuk pria itu santap dan selagi menunggu air mendidih, ia meneguk susuu yang sempat dibuatnya tadi. “Oh ya Dit, rencana gue mau pulang ke rumah Papa hari jumat ini.” Ujar Hugo sambil menunggu adiknya itu bereaksi, tapi setelah melihat betapa tidak peduli Radita pada apa yang ia katakana, ia akhirnya melanjutkan ucapannya, “Lo nggak mau ikut?” “Nanti gue pertimbangin.” Ujar Radita tak begitu tertarik. Ia mengatakan itu bukan karena ia berniat ikut, tapi demi menghargai ajakan Hugo dengan cara tak langsung menolak ajakan pria itu. “Ini hari senin, artinya lo punya waktu 4 hari untuk mempertimbangkan. Gue nggak yakin kalau lo berniat ikut.” Radita menatap Hugo dengan cengiran saja, “Gue nggak enak aja nolak ajakan lo, jadi gue bilang mau pertimbangin. Gue males pulang.” Hugo menganggukkan kepalanya mendengar hal itu, tak berusaha membujuk Radita lagi. Ia juga tahu alasan wanita itu tidak mengamini ajakannya. Ia juga bisa memaklumi Radita yang snagat malas pulang ke rumah orang tua mereka. Wanita itu selalu menghindari setiap kali Hugo membahas tentang orang itu, itu sebabnya Hugo tak lagi berusaha memaksakan kehendaknya. Radita sudah cukup dewasa untuk tau baik buruknya keputusan yang ia ambil, jadi Hugo tidak ingin bersikap egois dengan menyalahkan keputusan adiknya itu. Hubungan Radita dengan orang tua mereka memang tidak begitu baik, jadi wanita itu selalu saja menghindar dari keluarganya kecuali Hugo yang selalu siap menjadi tempatnya pulang. Beruntunglah ia memiliki kakak seperti Hugo yang siap direpotkan dan bahkan mau membelanya saat ia bertengkar dengan orang tua mereka. Hanya Hugo satu-satunya orang yang bisa mengerti perasaan Radita. “Ahh, siall.” Maki Radita saat ia teringat dengan kejadian yang hampir saja terjadi tadi dengannya dan Felix. Tiba-tiba dirinya disergap rasa bersalah setelah mengingat bahwa hanya pria itu yang membela dan menjadi tempat sandarannya. Ia merasa bersalah pada Hugo atas apa yang terjadi padanya dan Felix, serta hubungan terlarang mereka, ya walaupun itu hanya sekadar kejadian ranjang yang tersembunyi, bukan hubungan yang disengaja karena perasaan ataupun komitmen. “Lo ngumpatin gue?” tanya Hugo sambil melihat adiknya yang sedang memunggunginya, tapi ia sempat mendengar u*****n keluar dari bibir Radita. Radita menoleh dan menuangkan mie masakannya ke mangkuk, “Nih panci panas dan tangan gue nggak sengaja nyentuh gitu aja, makanya gue ngumpat, tapi kalo lo ngerasa gue ngumpatnya buat lo, ya nggak apa-apa.” Angguknya tak masalah dengan kesalahpahaman Hugo. “Cari cowok sana. Lo makin lama malah makin bawel aja.” Sungut Hugo sambil meniup mie instannya yang panas. “Gue masih 23 selo aja kali, nanti juga ketemu sendiri. Sekarang waktunya untuk berpetualang.” “Lo bakalan 24 tahun, 2 bulan lagi. Jangan ngerasa diri lo muda, gue takut lo nggak laku kalau makin tua.” “Yaudah sih, nanti gue bisa nyari di acara nikahan lo.” “Segitu nggak lakunya sampe nyari di acara nikahan orang?” ledek Hugo. “Diam deh bang. Lo ngeselin banget kalau ngomong, bikin emosi mulu.” “Eh, gue punya temen yang belum laku, kalau lo mau, bilang aja. Nyari cowok sekarang susah loh, soalnya populasi perempuan lebih sedikit.” “Gue nggak berminat.” Tolak Radita mentah-mentah dan langsung meninggalkan abangnya itu. Ia tidak ingin harga dirinya dijatuhkan seperti itu jika menerima penawaran Hugo, ya sekalipun ia memang kesulitan menemukan teman laki-laki untuk dijadikan pacar. Lebih tepatnya sulit menemukan yang sepemahaman dengannya. *** Radita meraih ponselnya dengan hela nafas kasar dan melihat ada pesan dari Joster di sana. Ia langsung membuka pesan tersebut dan tersenyum setelah membacanya. Akhir-akhir ini Joster cukup sering menghubunginya setelah ia memberikan izin untuk dihubungi kapan saja, pria itu merasa bahwa ini adalah lampu hijau untuk terus menginjak gas mendekati Radita. Sebenarnya Radita tidak ingin terlalu percaya diri dengan mengatakan bahwa Joster sedang mendekatinya, tapi ia menduga seperti itu karena ia yakin kalau pria itu tidak akan repot-repot mencari topik pembicaraan jika tidak berniat mengenal Radita lebih jauh untuk hubungan yang lebih dari teman. Ia masih ingat pesan yang Joster kirimkan padanya pertama kali setelah ia memberikan nomor telepon pada pria itu. Joster : Hai Dita, ini Joster. Saya ganggu nggak sih kalau chat kamu malam-malam gini Saat itu Radita sebenarnya ingin mengatakan ‘ya’ untuk menjawab pertanyaan Joster padanya, tapi ia tidak setega itu untuk bersikap judes pada Joster yang telah dengan berbaik hati membiarkannya duduk semeja waktu itu. Ia sama sekali tidak berminat dengan Joster, ya setidaknya untuk sekarang ia tidak berminat, tidak tahu lain kali bagaimana. Radita : Oh, hai. Enggak apa-apa sih, tapi jangan berharap banyak kalau saya akan selalu balas pesan kamu. Radita berusaha membatasi dirinya dari harapan Joster padanya. Ia tak cukup baik untuk selalu memperhatikan ponselnya dan membalas setiap pesan yang masuk karena menurutnya itu hanya membuang waktu saja. Joster: No problem. Lagi apa? Radita : Main hp aja sih. Itulah sekiranya percakapan tak penting mereka di awal chat. Setelah itu, Joster tidak berusaha bertanya dengan hal-hal basa-basi seperti itu, tapi lebih ke arah berusaha menarik perhatiannya dengan mengirimkan beberapa puisi dan kata-kata romantis. Awalnya Radita merasa terganggu dengan hal itu, tapi lama-lama ia menikmati apa yang terjadi dan mengalir begitu saja. Joster tahu cara membuatnya tersenyum dan tertawa geli karena ketidakjelasan pria itu dan selera humornya yang rendah. Teringat ia belum membalas pesan Joster, Radita segera mengetik di ponselnya untuk mengirimkan balasan agar Joster tidak menunggu terlalu lama. Tapi sebenarnya Radita cukup berat untuk membalas pesan Joster karena ia ragu untuk menerima ajakan pria itu. Joster : Jalan-jalan ke Jakarta. Nggak usah dibaca kayak pantun. Besok ada kegiatan nggak? Jalan yuk? Rasanya cukup canggung untuk bertemu lagi dengan Joster sekalipun mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, tapi ini jelas berbeda karena ia yakin kalau pria itu bermaksud menjalankan pdktnya dengan berkencan. Radita : Nggak ada kegiatan sih, pengangguran nih. Ia sudah mengatakan pada Joster bahwa dirinya belum bekerja, tapi terkadang memang Hugo mau memberikan tanggung jawab pekerjaan padanya dan orang-orang yang bekerja di dekat Hugo pasti mengetahui hal itu. Joster : Jadi mau dong diajak jalan? Ke mana gitu, nonton, makan di warteg atau jogging. Asal bersamamu, saya mah mau aja Radita : Muntah nih saya. Boleh deh. Joster : Mau ke mana? Kok nggak pilih tempat. Jangan jawab terserah, saya bukan Dilan yang bisa ngeramal Radita terkekeh. Entah humornya memang rendah atau Joster memang lucu. Ia sendiri bingung, tapi yang pasti pesan-pesan dari pria itu selalu membuatnya tersenyum geli sendiri. Radita : Mau jogging aja deh, belum nyaman kalau pergi nonton bukan sama gebetan. Joster : Bukan sama gebetan juga bisa nemplok kok, saya rela. Radita : Itumah maunya kamu. Yaudah, besok jemput pagi aja ya. Nanti saya shareloc. Joster : Oke. Setelah itu obrolan mereka berakhir. Radita membaringkan dirinya dan meletakkan ponselnya di samping tubuhnya. Ia cukup berdebar menantikan hari esok, tapi ketika ingat kejadian bersama Felix tadi, ia akhirnya merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia percaya diri untuk dekat dengan Joster, sementara ia terus terjebak dalam kegiatan terlarang bersama Felix. “Lagian Felix gila sih. Kemarin udah sepakat untuk menganggap nggak terjadi apa-apa, kenapa dia mau ngulang lagi.” ringisnya, lalu memukul kepalanya sendiri, “Lo juga tadi mau, Radita b**o, nggak usah nyalahin orang aja.” Ujarnya memaki diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD