Radita menonton televisi di ruang keluarga, hal yang memang biasa ia lakukan jika bosan. Ia tahu bahwa tidak ada tayangan menyenangkan karena ia cepat bosan, hingga ia sudah menukar siaran dengan isi flashdisknya yang terhubung ke televisi. Isinya adalah berbagai jenis film, drama, series dan kartun.
Ia memilih salah satu film horror karena sedang tak mood untuk menonton drama yang episodenya jelas lebih banyak dan membutuhkan waktu lebih lama. Meskipun rumah Hugo ini cukup besar daln lebar, namun pria itu tidak memasang televisi di setiap kamar demi menghindari penggunaan listrik berlebih. Hanya ada 3 televisi di rumah itu, 1 di ruang keluarga, 1 di kamar Hugo dan 1 lagi di kamar Felix. Itupun Felix membeli televisi untuk di pasang di kamarnya sendiri guna bermain PSV sebenarnya.
Radita merapatkan selimutnya untuk menutupi tubuhnya terkhusus kakinya karena ia takut ada sebuah tangan yang menarik kakinya tiba-tiba jika dibiarkan terbuka. Ia memang cari penyakit dengan menonton horror di waktu malam seperti ini. Ia tahu dan sadar bahwa dirinya penakut dan suka parno, tapi tetap saja ia tidak bisa menghentikan rasa penasaran untuk film horror.
Tadi Hugo sudah menegurnya ketika pria itu baru pulang dari luar dan menyuruh Radita untuk tidak menonton horror di jam malam seperti ini, tapi Radita keras kepala dan tetap menonton saja. Ia bahkan berpesan pada Hugo agar pria itu tidak menghiraukan teriakannya nanti jika sewaktu-waktu ia ketakutan. Hugo mengatakan dengan nada mengejek, “Bahkan lo teriak betulan karena hantunya muncul, itu nggak akan bikin gue cape-cape turun tangga.” Ujarnya.
Radita mencebikkan bibirnya karena dirinya terlalu positif sampai memikirkan abangnya sebaik itu. Ia menyesal mengatakan hal itu pada Hugo karena itu hanya mempermalukan dirinya sendiri.
Dengan takut-takut, Radita menurunkan selimutnya saat suara latar film itu terlalu mendebarkan dan membuatnya takut. Ia takut tapi semakin penasaran sehingga tetap menonton film itu. Ketika mendengar suara suara pintu yang tertutup kuat, ia mengklik pause dan menajamkan pendengarannya untuk mendengar apa yang terjadi sampai pintu rumah berbunyi sekuat itu.
“Apaan ya?” tanyanya pada dirinya sendiri. Tubuhnya kembali menegang saat suara pintu kembali terdengar nyaring.
Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut saat mendengar suara langkah yang mendekat. Ia terus merapalkan doa dalam hatinya supaya tidak ada sesuatu yang tidak ia harapkan muncul di sekitarnya. Ia membuka selimut dengan perlahan saat taka da lagi suara apapun, termasuk suara langkah kaki.
“Astaga.” Ia berjingkat terkejut saat menemukan Felix berdiri di depannya sambil menatapnya.
“Ngapain sih lo? Bikin terkejut aja.” Desisnya kesal.
Felix hanya menggelengkan kepalanya. Padahal ia tidak merasa melakukan apapun yang mengejutkan Radita, tapi kenapa wanita itu seterkejut ini melihatnya. Tadi ia hanya heran saja, kenapa televisi menyala, tapi yang menonton sudah tidur, begitu pikirnya saat melihat tubuh yang tertutup selimut dengan rapat.
“Gue nggak ngapa-ngapain kali.” Protesnya tidak terima dituduh begitu saja.
“Jangan bilang lo sengaja ngerjain gue?” tuduh Radita.
Felix mencebikkan bibirnya, “Ngerjain apaan? Gila ya lo, asal main tuduh aja.”
“Lo sengaja mainin pintu dengan nutup kuat-kuat 2 kali.”
Felix melirik televisi yang masih menyala, lalu menghela nafas kasar. Setelah melihat tayangan boneka seram di televisi, ia akhirnya mengerti alasan Radita bersikap menyebalkan seperti ini.
“Kalau lo takut nonton horror, udah, berhenti aja. Nyari penyakit aja dengan nakutin diri sendiri. Gara-gara sepatu lo yang diletak sembarangan dekat pintu, gue jadi nggak sengaja nutup pintu pas sepatu lo ada diantara pembatas pintu dan bikin pintu macet. Ada lemari sepatu itu dipake.” Desis pria itu memberi peringatan. Ia tidak bermasud memainkan pintu sama sekali, tapi memang sepatu Radita yang berantakan di sana membuat pintu terhalang saat ia menutupnya.
“Udahlah, sana masuk kamar. Bikin serem aja.” Usir Radita sangat kesal.
“Lo pikir gue hantu?” protes Felix.
“Heh, lo bahkan lebih menakutkan. Asal lo tahu, manusia lebih menakutkan dari hantu. Gue bisa tahu tuh manusia mukanya baik atau enggak, tapi nggak tau isi hatinya gimana, sementara hantu, gue bahkan tau kalau mereka semua seram dan menakutkan.”
***
Meski sempat terlibat aksi tuduh menuduh antara Felix dan Radita, namun keduanya sama sekali tak berniat meluruskan permasalahan tersebut. Mereka terus saling menghindar saja ketika tak sengaja berpapasan ataupun bertemu.
Tidak ada lagi Elisa diantara mereka yang menjadi alasan untuk berkumpul bersama di ruang keluarga karena 4 hari yang lalu Elisa sudah kembali ke Singapore untuk pekerjaannya yang sudah terlalu lama ia tinggalkan. Setidaknya mereka tidak perlu berakting di depan banyak orang, cukup Hugo saja.
Entah ini kebetulan atau memang takdir, Hugo pergi berkumpul dengan teman-temannya. Hal yang biasa dilakukan laki-laki pada umumnya, nongkrong, menginap dan hal lainnya. Hugo memang cukup sering bertemu dengan teman-temannya, kecuali jika pria itu benar-benar sibuk, maka ia akan mengurung diri di ruang kerja atau ruang baca.
Felix keluar dari kamarnya untuk pergi ke dapur. Ia mendapati Radita sedang membuat segelas susuu di sana dan saat ini mengaduknya. Ia tersenyum tipis sambil menjilat bibirnya saat melihat baju wanita itu tanpa lengan dan cukup menunjukkan bagian perut ketika mengangkat tinggi tangannya untuk mencuci tangan di westafel.
Oh ayolah, mereka sedang berdua dan tentu saja itu sulit bagi Felix untuk menahan dirinya. Ia sudah merencanakan segala rencana kotor dalam pikirannya dan berharap Radita tidak akan menolaknya.
“Lo lagi ngapain?” tanya Felix, padahal ia sudah melihatnya sendiri.
Radita terkejut, “Gue lagi buat susuu. Mata lo nggak lihat?” ketusnya. Ia hampir saja kena serangan jantung karena pria itu mengejutkannya.
Felix sengaja maju sambil menatap tajam Radita untuk mengintimidasi wanita itu, lalu berkata “Lo sengaja memamerkan diri kan untuk menggoda gue?” tanyanya sambil membelai perut wanita itu dengan gerakan jari menyentuh lembut. Hal itu membuat tubuh Radita bergetar dan menegang, tapi kemudian ia menetralkan dirinya sembari meletakkan segelas susuu tadi di meja pantry. Ia tidak berusaha mencegah perlakuan Felix dan malah membiarkan pria itu terus meraba hingga ke bagian yang lebih sensitif dan membuat gairahnya terbakar panas.
“Tangan lo, sialann.” Maki Radita.
Felix tidak menghiraukan perkataan Radita dan tetap mengusap perut itu dengan gerakan sangat lembut dan berhati-hati, tapi dapat merangsangg nafsuu wanita itu. Tubuh Radita yang menegang dan melemah membuat Felix semakin berani melakukannya. Apalagi tangan Radita juga seperti tidak berniat menepis tangannya, atau lebih tepatnya tidak kuat untuk menepisnya, atau mungkin tidak rela menepisnya. Felix tersenyum bangga memikirkan kemungkinan terakhir.
“Lix, gue takut ketahuan bang Hugo.” Radita menahan tangan Felix yang mulai merambat naik.
“Tenang aja, gue yakin dia bakalan lama.” Ujar Felix menenangkan, “Gue pengen ngelakuin itu di meja makan.” Ujar pria itu, lalu mengangkat tubuh Radita dalam gendongannya menuju ke meja makan. Radita melingkarkan tangannya di leher Felix dan menatap wajah pria itu dengan amat lekat untuk meneliti seberapa bagus wajah itu jika dibandingkan dengan sifat Felix yang buruk.
Ya, setidaknya tidak begitu buruk ketika sedang bernafsu dan menyerangnya di atas ranjang. Dua kali permainan mereka cukup menggambarkan bahwa pria itu ternyata sangat ahli membuat tubuhnya terbuai dan merasa panas karena setiap sentuhannya benar-benar memabukkan.
“Gue takut.” Bisik Radita ketika ia duduk di meja makan dan masih mengalungkan tangannya di leher Felix.
Bodoh sekali rasanya karena Radita tidak sungguh-sungguh bisa menepis tangan Felix yang menggerayangi dirinya, tapi tubuhnya benar-benar tidak rela menepis tanagn Felix sekalipun otaknya yang masih waras menyuruhnya untuk melakukan itu. Otak dan tubuhnya sedang berjalan di arah yang berbeda.
Ia tahu persis bahwa apa yang sedang mereka lakukan ini salah, tapi sayangnya tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama. Ia bingung menolak kenikmatan yang Felix tawarkan. Ia dan Felix sama-sama tidak mau kalau hubungan kakak dan abang mereka berantakan, tapi tindakan mereka tidak sepenuhnya menggambarkan ketakutan itu.
“Kenikmatan yang gue tawarkan akan membuat lo lupa dengan hal itu.” ujar Felix yakin. Ia mulai mengecup bibir Radita, kemudian menyusuri leher dengan sangat lihai. Kecupannya benar-benar membuai Radita dengan sangat hebat, sampai bagian bawahnya sudah sangat basah. Belum lagi tangan Felix juga bergerak dengan cukup agresif menyentuh semua bagian kulitnya.
Felix mengangkat baju Radita dan melepaskannya, lalu melihat braa wanita itu yang masih menutupi bagian paling menarik untuknya. Dengan tak sabar, ia membuka pengait milik Radita dan mengecup puncak payudaraa wanita itu.
“Ahh, Lix, guee---” Radita berusaha menyentuh kepala Felix untuk menghentikan gerakan pria itu, tapi ketika bibir Felix berhenti, ia sedikit kecewa dan menatap kesal pada Felix, sebelum menyadari keterdiaman Felix.
“Bang Hugo pulang.” Ujarnya menepuk paha Radita dengan panik.
Radita segera menggunakan bajunya dengan tergesa-gesa. Jantungnya ikut terpacu ketika mendengar suara mobil Hugo mulai terdengar di depan rumah. Ia segera melarikan diri ke kamar mandi dapur sambil mendorong Felix menjauh, “Pergi ke kamar sana. Nanti bang Hugo curiga.” Ujarnya.
Felix segera pergi ke kamarnya dan mengepalkan tangannya kuat karena perasaan dag-dig-dug di tengah nafsunya yang sedang membara. Ia benar-benar menginginkan Radita dan sangat ingin memasuki wanita itu, sayangnya Hugo pulang tanpa diduga-duga. Ia melarikan diri ke kamar mandi dan melampiaskannya pada tangannya.
“Ini sangat tidak menyenangkan setelah gue merasakan nikmatnya Radita.” Desisnya dengan frustasi sambil berusaha menyalurkan nafsunya.