Felix terbangun lebih dulu dibandingkan Radita, itupun ketika dirinya tidak sengaja memindahkan tangan ke atas gundukan payudaraa wanita itu dan terkejut saat menyadari ada orang lain di sampingnya. Ia segera mundur ketika matanya secara perlahan terbuka dan mulai sadar ada keberadaan Radita di sampingnya.
Matanya terbelalak melihat tubuh bagian atas wanita itu dalam keadaan terbuka dan menunjukkan gundukan yang sempat disentuhnya tanpa sengaja pagi ini. Dengan cepat dinaikkannya selimut untuk menutupi Radita hingga sebatas leher. Ia meringis ketika tak mengingat apa yang terjadi semalam sehingga ia bisa berakhir di atas ranjang yang sama dengan Radita untuk kedua kalinya. Ia berusaha menyadarkan ingatannya dengan memukul kepalanya, tapi sayangnya hal itu tak membuahkan hasil. Ia tetap tidak mengingat apapun.
“Gue nggak mungkin memperkosaa dia untuk kedua kalinya kan? Nggak mungkin sih, masa bisa sampai ke hotel segala.” Ujarnya setelah mengamati kamar di mana ia berada.
Felix kembali diam, merenungkan kejadian semalam agar ia bisa menyadari kesalahan siapa yang membuatnya berada dalam posisi ini. Ini jelas bukan pemerkosaann karena kalau iya, maka wanita itu tidak mungkin lagi masih tidur lelap di sampingnya. Felix berusaha meyakinkan dirinya dengan kalimat seperti itu.
“Enghh.” Radita melenguh sembari menggeliat.
Menyadari wanita itu akan segera bangun, Felix segera memejamkan matanya untuk menunggu dalam diam, bagaimana reaksi Radita nantinya melihat situasi mereka. Ia tidak ingin disalahkan dan mereka berakhir dengan bertengkar, apalagi ia cukup pedas ketika berbicara, ia takut kalau itu nantinya melukai Radita lagi.
Biarlah sekarang ini ia pura-pura tidur dan menunggu kemarahan Radita dalam keadaan itu. Setidaknya kalau wanita itu melihatnya masih tidur, ia tidak terlalu banyak memberikan makian. Di waktu sepagi ini dan ingatan Felix yang belum jelas, itu jelas menyebalkan jika sampai terjadi.
Radita yang masih berat dan malas membuka mata, memilih membiarkan tangannya meraba-raba sisi tempat tidurnya untuk mencari ponselnya seperti pagi yang biasa ia lakukan. Ponsel adalah benda utama yang ingin ia lihat setiap kali bangun tidur.
“Eh, apaan ini?” tanyanya dengan mata mengantuk dan mulut menguap. Ia membuka mata sambil melihat apa yang sedang ia sentuh, lalu segera duduk begitu melihat d**a telanjangg Felix. Mata pria itu masih terpejam dan ia sendiri masih mengerjap tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Pelan-pelan, Radita memindahkan posisi tangannya dari dadaa Felix dan meneguk ludahnya. Ia menepuk jidatnya dan memunggungi Felix sambil menggerutu tanpa suara. Ia ingat persis apa yang terjadi semalam dan ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Felix atas apa yang terjadi.
“Ini kesalahan atau ketagihan.” Ejeknya pada dirinya sendiri, “b**o banget sih Dita, kenapa lo ngebiarin ini kejadian sampai berulang.” Ujarnya masih mengutuk kebodohannya sendiri.
“Gimana kalau Felix bangun. Gue harus jelasin apa? Oh gue bilang aja kalau dia memperkosaa gue untuk kedua kalinya. Dia mungkin nggak inget sama kejadian semalam saking mabuknya.” Ujarnya tanpa menyadari ada Felix yang sedang mencebikkan bibirnya mendengar rencana itu.
Felix merasa sedikit lega bahwa apa yang terjadi semalam bukan sepenuhnya salah dirinya, karena buktinya Radita tidak menangis ataupun merasa sebal dengan apa yang terjadi pada mereka. Itu membuktikan kalau wanita itu cukup sadar untuk melakukannya. Setidaknya Felix tidak perlu merasa tak enak hati lagi atas kebrengsekkannya.
“Celana dalam gue robek gara-gara nih anak nggak sabaran banget.” Desis Radita sambil mengangkat celana dalam berwarna hitam miliknya yang cukup tipis.
Felix melihat itu sambil meneguk ludahnya, lalu duduk di atas tempat tidur, “Besok gue ganti.” Ujarnya tanpa sadar membuat Radita terkejut setengah mati.
“Ah gila.” Refleks Radita mengatakan itu. Ia menatap Felix dan dadaa bidang pria itu, lalu menunduk karena merasa canggung. “Sejak kapan lo sadar?” tanyanya.
“Sejak lo merencanakan niat menuduh gue melakukan pemerkosaann kedua kalinya.” Jawab Felix dengan sengaja menyindir Radita dengan kalimat itu.
Radita meringis pelan dan tak bisa mengelak karena ia memang merencanakan itu, padahal ia tahu kalau hal itu tidak benar. Setidaknya dirinya turut berperan dalam malam panas mereka semalam dan Felix tidak memaksanya sama sekali. Radita berulang kali mendengar nama “Pinta” keluar dari bibir pria itu selagi mereka bercintaa. Ia memilih abai karena memang tidak ada perasaan apapun yang tersemat diantara mereka atas kejadian tersebut.
Ia juga tidak merasa berhak menanyakan apa-apa pada Felix, apalagi itu merupakan masalah pribadinya dan masa lalu yang sepertinya tidak begitu bagus. Ia yakin kalau Pinta yang ia kenal dengan Pinta yang disebutkan oleh Felix adalah orang yang sama, tapi ia pun tidak berniat bertanya apa-apa pada Pinta.
“Gue nggak sepenuhnya nuduh, tapi memang semalam, lo yang berperan besar atas kejadian ini.”
Felix menyiptikan matanya menatap Radita dengan penuh selidik, “Gue nggak melihat tanda-tanda lo merasa dilecehkan.”
“Ya, itu karena gue juga nggak bisa berbuat apa-apa, apalagi posisi gue juga udah kehilangan keperawanan. Dan jujur aja, gue kehilangan akal semalam.” Akunya meski dengan berat hati.
Lebih tepatnya mungkin karena pengaruh alkohol yang membuatnya kehilangan kewarasan dan membiarkan Felix membawanya ke hotel ini. Kalau bukan karena alkohol, Radita yakin bahwa dirinya tidak mau disentuh oleh pria tak bertanggung jawab itu. Radita berusaha meyakinkan dirinya dengan ucapan seperti itu dalam kepalanya. Lebih tepatnya untuk membela kebodohannya semalam.
“Nggak masalah, yang pasti bang Hugo maupun Elisa nggak tau apa yang terjadi diantara gue sama lo. Setidaknya gue nggak merasa terbebani lagi atas kehilangan keperawanan lo dan kejadian p*********n itu setelah apa yang terjadi semalam.”
Radita menatap Felix dengan sinis, “Gue belum pernah melihat lo terbebani dengan hilangnya keperawanan gue, malah lo menunjukkan sifat bangsatt banget.”
“Itu karena gue nggak tau gimana caranya minta maaf sama lo, jadi gue bicara begitu.” Jelasnya.
“Yaudahlah, nggak usah dibahas lagi, nggak akan mengubah apapun juga.” Radita mengakhiri dengan pasrah. Ia malas membahas apa yang sudah berlalu diantara mereka, apalagi tiu juga bukan pengalaman menyenangkan. Ya, setidaknya semalam Radita bisa menikmati yang namanya bercintaa sesungguhnya dibandingkan pertama kali untuknya.
***
Setelah kejadian itu, Radita dan Felix bersikap seolah tak terjadi apa-apa diantara mereka. Mereka saling acuh tak acuh sama seperti sebelumnya. Felix tidak berusaha menciptakan pembicaraan begitupun dengan Radita yang selalu melintas saja setiap kali mereka berpapasan atau saat wanita itu melihat Felix sedang berbicara dengan Hugo.
Sejak pagi di hotel hari itu, mereka sepakat untuk tidak membahasnya sama sekali dan tidak mengubah apapun terhadap keseharian mereka. Baik Radita maupun Felix tak ada yang keberatan karena mereka menganggap bahwa itu kejadian yang merupakan kesalahan dari 2 belah pihak. Felix tidak menyalahkan Radita, begitupun sebaliknya.
Awalnya Hugo sempat bertanya dengan curiga pada mereka karena keduanya tidak pulang ke rumah malam itu, tapi Radita dapat meyakinkan abangnya dengan menjawab bahwa ia menginap di rumah Rifka, sementara Felix mengatakan ia juga menginap di apartemen Esra. Tidak ada alasan curiga untuk Hugo kepada adiknya karena ia tahu kalau selama ini adiknya itu berada di jalan yang lurus.
Dan karena sikap Radita dan Felix yang tetap sama seperti sebelum pesta, jadi Hugo semakin biasa saja dan tak menaruk perasaan curiga kepada keduanya. Ia mungkin tidak dapat sepenuhnya percaya pada Felix, tapi ia dapat mempercayai adiknya.
***
Malam ini, Radita ada janji bertemu dengan teman-temannya. Ia sedikit terkejut dengan ajakan Herpinta di grup chat mereka dan mengatakan bahwa wanita itu ingin bertemu selagi mereka memiliki waktu. Kami sepakat untuk bertemu bersama dengan Rifka dan juga Jack, tapi mereka memiliki kebudayaan yang sama, terlambat.
Bukan hal baru bagi Radita mengetahui sifat teman-temannya yang tidak disiplin. Herpinta yang mengajaknya bertemu, tapi wanita itu juga belum datang. Ia malah menjadi yang pertama datang ke tempat janjian. Kalau bukan karena mengenal ketiga sahabatnya itu, Radita sudah pulang sejak tadi.
“Sorry gue terlambat.” Herpinta datang dengan nafas terengah-engah karena sepertinya wanita itu berlari untuk menemui Radita.
“Udah nggak heran.” Ketus Radita.
Herpinta meletakkan tas kecilnya di atas meja sembari duduk, “Ah, gue pikir paling akhir, ternyata paling awal kok. Untung bukan gue yang terakhir datang.” Ujarnya lega.
“Nggak tau diri banget lo ngajak kalau lo datang terakhir.” Sindirnya.
Herpinta hanya menunjukkan cengiran saja, lalu ia memanggil pelayan kafe untuk memesan minum karena ia sangat haus. Melihat Radita minum sendirian membuatnya merasa iri dan semakin haus. “Mereka di mana?”
“Nggak tau, dari tadi katanya otw, tapi nggak muncul-muncul.” Radita mengangkat bahunya saja.
Karena sudah lama tidak bertemu dan berbicara banyak, akhirnya keduanya terlibat pembicaraan mengenai apa yang mereka lakukan sehari-hari dalam pekerjaan maupun perkuliahan mereka. Dan ada banyak sekali topik yang bisa membawa mereka pada percakapan basa-basi dan serius.
Radita kemudian teringat dengan ucapan Felix sebelum menidurinya. Ia menatap Herpinta dengan ragu, tapi sepertinya ia sangat yakin kalau Pinta yang dikatakna Felix adalah Pinta sahabatnya ini. Tidak begitu banyak orang yang memiliki nama Pinta dan itupun bukan nama pasaran, meski tetap ada kemungkinan memiliki nama yang sama dengan siapa saja.
“Pin.”
“Apa?” tanya Herpinta.
“Nggak jadi deh.” Ujar Radita membatalkan niatnya.
Herpinta menatap wanita itu tajam, “Ngapain sih lo? Bikin orang penasaran aja. Buruan ngomong.” Paksanya. Ia sudah telanjur penasaran dengan apa yang akan Radita sampaikan padanya.
“Lo kenal Felix?”
Herpinta terpaku untuk sejenak. Ia mengalihkan pandangannya, lalu berdeham, “Felix siapa?” tanyanya, “Nama Felix banyak kali di muka bumi ini.” Ujar Herpinta dengan suara yang tercekat. Ia bahkan sampai meraih minumnya dan meneguknya.
“Felix Bastanta.” Ujar Radita dan berhasil membuat Herpinta terbatuk hingga menyemburkan minumnya ke depan. “Ihh jorok banget sih lo.” Desis Radita sembari menarik tisu untuk mengelap tangannya yang terkena semburan Herpinta.
“Segitunya lo sampai gue nyebutin namanya aja udah batuk lebay begini.” Desis Radita kesal.
“Kenapa lo nanya tentang Felix? Lo kenal?” tanya Herpinta ikut penasaran bagaimana Radita bisa mengenai mantan kekasihnya. Ya, Felix adalah mantan kekasih Herpinta meskipun hubungan mereka sudah berakhir cukup lama.
“Dia calon adik ipar bang Hugo.”
“Adik ipar?”
“Iya.”
“Terus kenapa lo nanyain dia ke gue?”
“Ya, gue penasaran aja. Soalnya gue pernah dengar nama lo dari bibirnya waktu mabuk.” Ujar Radita, lalu membulatkan matanya menatap Herpinta dengan sungguh-sunguh, “Oh iya, waktu itu kita ada di pestanya Jack dan jelas aja di situ ada lo dan dia juga. Oh berarti dia mabuk setelah ketemu lo.” Angguk Radita setelah mulai memahami apa yang terjadi, “Eh, dia bukan mantan yang selalu lo hindari menggunakan Jack kan?”
“Dugaan lo benar. Nggak usah bahas dia.” Ujar Herpinta dengan judes. Tatapannya sangat tajam karena tidak suka mendengar Radita membicarakan Felix.
“Gimana gue nggak bahas dia kalau ternyata lo gunain Jack buat jadi alat move on.”
“Gue udah lama move on dari dia.”
Radita menggelengkan kepalanya, “Tadinya gue lupa, tapi sekarang gue inget kalau lo minta dicium Jack waktu Felix nggak sengaja bertatapan sama lo.” Ujarnya dengan senyum picik. “Lo jelas tahu kalau Jack suka sama lo, tapi dengan seenaknya lo cuma jadiin dia sebagai alat move on dan membuat mantan lo itu cemburu.”
“Jack tahu dan dia nggak masalah soal itu.”
“Gue yang masalah karena dia itu sahabat gue. Kita berteman belum cukup lama, jadi nggak ada alasan bagi gue untuk mendukung lo kalau itu cuma manfaatin Jack doang.”
“Hai guys.” Jack datang bersamaan dengan Rifka menyapa Radita dan Herpinta dengan sangat antusias tanpa menyadari adanya suasana tak enak ditengah keduanya.
Radita tersenyum tipis menatap Jack yang langsung memilih duduk di samping Herpinta, sementara Rifka duduk di sampingnya. Ia memilih menetralkan dirinya dari emosi dengan cara permisi ke kamar mandi. Rifka menyadari ada yang tidak beres, tapi ia memilih diam saja.