Satu hari sebelum pesta peresmian CEO Dirgantara Grup. Hati Nara jauh dari kata cerah. Hari itu adalah hari ulang tahun Dion, kekasihnya selama dua tahun. Nara sudah menyiapkan kejutan: kue cokelat buatan tangan dan hadiah jam tangan mahal yang ia sisihkan dari gajinya selama tiga bulan. Nara mempertaruhkan banyak hal untuk hadiah dan hari ini, Ia berharap ulang tahun ini akan menjadi titik balik hubungan mereka, menuju komitmen yang lebih serius.
Ia menuju kafe hipster The Annex tempat Dion biasa menghabiskan waktu. Jalan Jakarta terasa lebih padat dari biasanya, seolah sengaja memperlambat langkahnya. Begitu ia masuk, pemandangan yang menyambutnya jauh dari harapan. Dion duduk di sudut, di pangkuannya, duduk seorang wanita dengan rambut pirang panjang, tertawa manja. Tangan Dion melingkari pinggang wanita itu dengan posesif. Adegan itu terasa seperti pukulan keras di ulu hati Nara. Dunia seolah berhenti berputar. Suara riuh di kafe mendadak meredup hanya menyisakan suara gemuruh di telinga Nara.
Lutut Nara lemas. Kue cokelat di tangannya nyaris jatuh. Ia melangkah mendekat, memaksakan kakinya untuk tetap tegak. Setiap langkah terasa sulit seperti berjalan menembus arus air.
“Nara?” Dion terkejut, ekspresinya berubah menjadi campuran rasa bersalah dan panik. Ia buru-buru mendorong wanita itu agar turun dari pangkuannya.
Nara memaksa tersenyum . Senyum itu terasa kaku dan menyakitkan. “Selamat ulang tahun, Dion,” bisiknya, suaranya bergetar. Ia meletakkan kotak kue cokelat itu di atas meja.
Wanita pirang itu, yang Nara kenali sebagai Olivia, seorang senior di kantor tempat Dion bekerja menatap Nara meremehkan. Matanya menelusuri tubuh Nara dari atas hingga bawah dengan sinis. "Siapa dia, Beb? Oh iya bukannya kamu pernah bilang dia cuma teman lama kamu dari SMA itu?” Suara Olivia terdengar mengejek.
Dion tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menghindari tatapan Nara. Keheningan Dion adalah pengakuan yang menyakitkan.
“Aku bukan teman lama. Aku kekasihnya, atau setidaknya, mantan kekasihnya. Nikmati kuenya, Dion. Dan semoga kau bahagia dengan pilihan barumu. Setidaknya aku tahu kalau kau bukan pria yan baik untukku." Kata kata itu akhirnya keluar dari bibir Nara. Ia berusaha agar suara tidak bergetar, meskipun hatinya telah hancur berkeping keping.
Nara berbalik, langkahnya cepat dan tegar. Ia bahkan tidak memberikan Dion kesempatan untuk menjelaskan. Begitu keluar, hujan turun dengan deras, seolah alam ikut menangisi nasibnya. Nara tidak peduli. Ia berjalan di bawah guyuran hujan, membiarkan dinginnya air hujan membasahi tubuhnya dan membekukan hatinya yang hancur. Ia hanya ingin melupakan. Pengkhianatan Dion jauh lebih menyakitkan daripada kekejaman pekerjaan. Hari itu, ia kehilangan harapan dan harga dirinya.
Malam harinya, Nara memutuskan untuk pergi ke pesta peresmian CEO baru di kantor. Pesta besar yang akan diadakan di ballroom hotel bintang lima. Tempat yang penuh alkohol, tempat di mana ia bisa mematikan akal sehatnya,sebuah keputusan fatal. Ia berdiri menyendiri di sudut ballroom yang gemerlap. Lampu kristal yang mewah terasa menyilaukan. Ia meraih segelas wine, lalu gelas berikutnya, dan berikutnya. Ia meminumnya dengan rakus, tidak untuk menikmati rasa anggur yang mahal itu tapi hanya untuk merasakan sensasi pahit yamg membakar tenggorokannya. Ia ingin menghilangkan beban. Ia ingin melupakan Dion.
Kepala Nara mulai terasa ringan, lalu berat. Alkohol mengambil alih kendali, mengikis kesadaran dan batas-batas logikanya. Ia tertawa sedikit keras, lalu berjalan terhuyung-huyung, memutuskan untuk pulang sebelum ia melakukan hal bodoh.
Saat jam menunjukkan pukul 01:30 dini hari, parkiran kantor sudah sepi, hanya menyisakan beberapa mobil mewah. Nara berjalan perlahan, high heels-nya terasa menyiksa. Ia melepasnya, menenteng sepatu itu, dan berjalan bertelanjang kaki di atas aspal parkiran yang dingin. Sensasi dingin dan kasar dari aspal sedikit menyadarkannya, tetapi alkohol terlalu banyak menguasai pikirannya.
Di dekat mobilnya, ia melihat sosok tinggi tegap bersandar pada kap mobil sport hitam mengkilap. Sosok itu tampak familiar. Itu Rayyan. Ia juga terlihat mabuk, meskipun ia dapat mengendalikan tubuhnya. Matanya sedikit merah, namun kegagahan dan aura maskulinnya tetap dominan. Kemeja putihnya yang terbuka di bagian atas memperlihatkan sedikit otot dadanya. Menambah kesan liar dan berbahaya.
Nara berhenti. Kepalanya berputar. Ia melihat Rayyan bukan sebagai CEO barunya yang arogan, melainkan sebagai sosok pria tampan yang bisa menjadi pelarian sesaat dari rasa sakit.
“Lo… kenapa masih di sini?” tanya Nara, suaranya sedikit cadel karena alkohol.
“Nungguin lo,” jawab Rayyan spontan. Ia memang menunggu, entah apa yang ia tunggu, tapi melihat Nara sekarang, ia merasa itulah yang ditunggunya.
Nara tertawa lirih. Air mata yang sempat ia tahan kini menggenang. “Nungguin gue? Ngapain lo nungguin gue ,kurang kerjaan banget. Tapi oke lah kalau lo nungguin gue, kebetulan gue baru putus , So mari kita bersenang senang, Ganteng…” Ia berjalan mendekat. Keberanian di bawah pengaruh alkoholnya mendorongnya untuk menggoda Rayyan lebih jauh.
Ia meletakkan tangannya di dadaa Rayyan, merasakan detak jantung pria itu yang kuat. “Gue butuh melupakan. Gue butuh… pelukan. Lo mau nggak temenin gue?”
Sentuhan Nara, meskipun ringan, seperti bara api bagi Rayyan. Hasrat yang tertahan sejak ia pertama kali melihat Nara kini meledak. Ia menarik Nara dalam pelukan yang kasar, menciumnya dengan desakan yang tak tertahankan, membiarkan Nara membalas ciumannya yang dipenuhi alkohol dan gairah. Nara, yang kehilangan semua kendali, menyerahkan diri sepenuhnya pada Rayyan, tenggelam dalam sensasi liar.
Rayyan melepaskan ciumannya sebentar, matanya yang tajam menatap Nara. Mata Rayyan berkilat penuh napsu dan tekad, mengunci pandangan Nara yang kabur. “Lo yang minta ini, ya?” Suaranya serak dan berat. Nara hanya mengangguk, napasnya memburu. "Ya..." bisik Nara. Seolah pasrah pada apapun yang terjadi selanjutnya.
Rayyan membungkus tubuh Nara, mengangkat dan menariknya ke jok belakang mobilnya, dan memerintahkan asisten pribadinya yang sudah menunggu di kejauhan. “Leo, kau urus mobilnya." Leo mendekat lalu meraih kunci mobil Nara yang Rayyan ambil dari dalam tas. Setelah urusan mobil Nara selesai Rayyan segera memerintahkan sopir yang setia menunggu di dalam mobil untuk jalan " Dan Kau, bawa kami ke hotel terdekat. Jangan ada yang tahu.” Malam itu, di kamar hotel bintang lima, Nara kehilangan lebih dari sekadar kesadaran. Ia kehilangan kendali atas takdirnya, dan Rayyan menjadi pria yang mengambil kesempatan di tengah kerapuhan Nara yang mabuk dan terluka.