Tiga bulan setelah malam pesta peresmian CEO, Rayyan Dirgantara akhirnya menginjakkan kaki di kantor pusat Dirgantara Grup. Selama periode itu, Rayyan sengaja menunda kedatangannya, Ia tidak hanya menggunakan waktu untuk mempelajari secara mendalam seluk beluk perusahaan yang akan ia pimpin, tetapi ia juga menyusun strategi yang rumit untuk menemukan dan mengendalikan wanita yang ia tiduri. Kepergian Nara di pagi hari itu melukai ego Rayyan.
Di hari pertama kedatangannya, Rayyan membuat kehebohan besar. Begitu ia memasuki hall utama, aura dingin dan otoritasnya langsung terasa, membuat semua karyawan tercekat. Ia memanggil Leo dan memerintahkan untuk melakukan dua hal kontroversial. Pertama mengadakan tes kesehatan dadakan menyeluruh bagi seluruh karyawan. Kedua menerapkan kebijakan baru yang aneh dan arogan: Karyawati lajang yang tidak sedang hamil akan dipecat. Kebijakan yang tidak masuk akal itu segera menyebar dan menimbulkan gelombang protes kecil, namun tak ada yang berani menentang CEO baru.
Tindakan Rayyan ini terlihat tanpa alasan. Padahal, ia melakukan ini bukan untuk perusahaan, melainkan untuk dirinya sendiri. Selama tiga bulan, Leo telah mengirimkan laporan rutin, mengamati perubahan kecil pada diri Nara mulai dari mual, pusing, sensitif pada bau, tanda-tanda kehamilan yang tersembunyi. Rayyan membutuhkan konfirmasi mutlak. Bukan hanya dugaan. Kebijakan pemecatan aneh itu adalah jebakan awal untuk memaksa Nara terdesak dan mengungkapkan kehamilannya. Rayyan tidak akan membiarkan mangsanya lari, apalagi Nara yang membawa benih pewaris Dirgantara.
***
Lampu neon putih di ruang pemeriksaan kesehatan terasa menusuk mata. Cahaya yang terlalu terang itu memperparah pusing di kepalanya. Udara di ruangan itu terasa dingin, namun telapak tangan Nara berkeringat. Nara duduk di atas kursi putar, kedua tangannya saling meremas erat, mencoba menahan getaran hebat. Dalam hati ia pasrah jika ini adalah akhir dari karir yang ia bangun selama ini ,walaupun kebijakan itu menyebut jika karyawati yang lajang dan hamil tidak akan di pecat, tetapi bagi Nara itu adalah aib yang harus ia tutupi ,terlebih ia tak tahu siapa ayah dari janin yang di kandungnya.
“Ra, lu harus tarik napas dalam-dalam. Tenang gue disini” Suara Dokter Vanya terdengar lembut namun tegas. Beruntung bagi Nara karena Dokter Vanya yang Rayyan undang untuk melakukan tes kesehatan di kantor. Nara bisa menangis sepuasnya sekarang.
Dokter Vanya adalah sahabat terbaik Nara sewaktu di perkuliahan dulu walaupun mereka berbeda jurusan, dan saat ini, Vanya mengenakan jas putih layaknya malaikat pembawa kabar. Vanya menyentuh bahu Nara, menekan sedikit, mencoba menyalurkan kekuatan.
"Gue tahu, ini bukan hal yang lu harapkan. Tiga bulan. Usia kandungan lo sudah masuk trimester pertama” ulang Vanya, menatap hasil tes yang diletakkan di meja. Dua garis merah pada alat tes kehamilan itu seolah menjadi garis takdir yang memisahkan kehidupan Nara yang dulu dengan yang sekarang.
Nara mendongok, matanya sembap dan merah. “Tiga bulan… itu berarti pasca pesta peresmian CEO. Itu malam terakhir gue… mabuk berat. Van, gue nggak ingat apa-apa.”
Vanya menghela napas panjang. Sebagai seorang dokter, ia dituntut untuk profesional, namun sebagai sahabat, hatinya perih melihat Nara. “Ra, kita harus hadapi ini. Lu harus ingat-ingat lagi. Kalau lo sama Dion udah putus sehari sebelumnya dan lu bilang nggak ada interaksi sama pria lain sebelumnya, berarti…”
“Berarti ini pria asing. Pria yang gue temui di bawah kesadaran yang hilang karena alkohol,” potong Nara, suaranya dipenuhi keputusasaan.
Nara kembali terisak. Ketakutan itu nyata. Dirgatara Grup adalah perusahaan besar, tempat ia meniti karier dengan susah payah hingga mencapai posisi Kepala Administrasi. Kehilangan pekerjaan di tengah kehamilan yang tidak direncanakan adalah mimpi buruk.
"Itu kenapa gue minta lo. Tolong kasih gue rekomendasi, Van. Dokter yang bisa bantu..." Nara tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Kalimat itu tercekat di tenggorokannya. Ia tahu itu gila, berbahaya, dan bertentangan dengan hati nuraninya.
"Gue engga bisa bantu kalau soal itu, Ra" Potong Vanya cepat.
“Dan yang gila, Van,” Nara melanjutkan. “Rayyan Dirgantara baru datang ke kantor hari ini. Dan di hari pertamanya datang, dia langsung menginstruksikan tes kesehatan dadakan ke semua karyawan. Kenapa harus sekarang?! Ini bukan kebetulan, Van.”
"Mungkin perasaan lo aja" Vanya berusaha menenangkan.
“Dan sekarang, gue harus menghadapi aturan konyol itu. Gue lajang, dan gue hamil. Tapi kalau gue mengaku hamil, siapa ayahnya? Apa kata orang kantor?” Lanjut Nara.
Vanya hanya diam karena sejujurnya ia tahu hal itu, Rayyan sendiri yang meminta Vanya untuk memeriksa Nara.
Setelah perdebatan panjang, Nara akhirnya mengangguk pasrah. “Tolong rahasiain ini, Van. Nggak ada satu orang pun yang boleh tahu.”
Nara menarik napas dalam-dalam, lalu beranjak keluar dari ruangan Vanya. Langkahnya begitu berat, membawa rahasia yang mengancam karirnya. Begitu pintu pemeriksaan tertutup di belakangnya, ia langsung disambut oleh Arin, sahabatnya di kantor yang sudah menunggu dengan wajah cemas.
“Ra, lo kenapa? Sampai nangis gitu? Lo sakit apa?” tanya Arin.
Belum sempat Arin merespons, suara Rissa menusuk dari belakang. “Drama banget sih, main sakit-sakitan di hari kedatangan CEO.” Rissa mendekat, tatapannya mengejek. “Loh, kenapa nih Ibu Kepala Administrasi? Kenapa keluar dari ruangan pemerikasaan dengan mata sembap? Gimana hasilnya? Lo sehat sehat aja kan, Oh, atau… lo nangis karena lagi pusing memikirkan cara menggugurkan benih ilegal atau jangan jangan punya penyakit s*eks menular?" Rissa tertawa sinis, memastikan suaranya didengar banyak orang.
Darah Nara mendidih. Ia membalikkan tubuh, dan menghadapi Rissa dengan senyum tipis yang mematikan. “Rissa.Ini privasi saya! dan sejak kapan divisi Marketing ditugaskan mengurusi masalah orang lain? Fokus saja pada laporan penjualan Anda yang saya dengar belum mencapai target bulan ini. Permisi.”
Tepat saat itu, langkah kaki berirama dan suara sepatu pantofel mahal terdengar. Rayyan Dirgantara muncul, berjalan didampingi Leo.
Mata Rayyan yang tajam menyapu setiap wajah karyawan, mencari siluet yang dikenalnya dari malam gila itu. Tatapannya akhirnya berhenti. Mengunci. Tepat pada manik mata Nara yang berdiri di samping Arin.
Nara merasakan sengatan listrik. Tatapan itu menusuk, terlalu akrab, terlalu dominan. Jantung Nara berdebar kencang, lututnya lemas. Ia segera menundukkan kepala, memutus kontak mata itu. Rayyan hanya tersenyum tipis, lalu melanjutkan langkah menuju lift pribadi.
Dalam hati, Rayyan bergumam dingin, Kau tidak akan bisa lari, Nara. Dan kau tidak tahu, drama ini baru saja dimulai. Tes kesehatan ini baru permulaan dari rencanaku.