Jebakan Sang CEO

1002 Words
Bulan-bulan pertama di bawah pimpinan Rayyan Dirgantara terasa seperti neraka bagi Nara. Tekanan kerja meningkat gila-gilaan. Rayyan, dengan aura arogan dan matanya yang tajam, selalu mengawasi. Nara tahu dirinya diawasi. Ini adalah permainan yang menyiksa. Nara, memasuki bulan kehamilan keempat, Ia mulai kesulitan menutupi perubahannya. Perutnya sedikit membulat, tidak bisa lagi disembunyikan hanya dengan pakaian longgar biasa. Ia sering merasa lemas. Kepalanya pening. Mualnya datang tak terduga. Rayyan, di ruangannya, menerima laporan harian dari Leo. Laporan itu selalu tentang Nara. Nona Nara terlihat sering memegang perut. Nona Nara pagi ini hanya minum teh hangat. Nona Nara terlihat pucat. Rayyan tersenyum dingin. Ia menikmati permainan ini, karena ia tahu tujuannya adalah melindungi pewarisnya. Suatu pagi, Nara sedang memeriksa dokumen di mejanya. Ia mencoba fokus pada perkerjaannya tapi kepalanya berdengung. Tiba-tiba, Rissa melintas di depannya. Parfum Rissa sangat menyengat sangat kuat dan itu memicu reaksi perut Nara. Nara refleks menutup mulutnya. Wajahnya langsung pucat. Ia harus lari ke toilet. Sekarang. Nara melompat dari kursinya, nyaris menabrak meja. Ia bergegas ke toilet, berlari menuju bilik paling ujung. Muntah hebat. Bau asam menusuk hidungnya sendiri. Arin, yang melihat kepanikan Nara, segera menyusul. Arin berdiri di luar bilik, cemas. “Ra, lu di dalam?” tanya Arin pelan. Nara hanya bisa mengangguk sambil terengah-engah. Ia membilas mulutnya. Ia keluar. Wajahnya sangat pucat. “Ra, lu nggak bisa terus-terusan bilang ini asam lambung,” desak Arin, memegang lengan Nara. Arin menatap perut Nara. “Perut lo... sudah mulai kelihatan, meskipun samar. Dan mual lu ini sudah parah. Ini bukan asam lambung, Ra.” Nara memejamkan mata. Lelah. Ia membilas mulutnya lagi. “Gue tahu, Rin,” kata Nara, suaranya parau. “Tapi gue nggak punya pilihan. Aturan bodohnya itu kan pemecatan karyawan lajang yang tidak hamil. Gue emang lajang dan gue hamil tapi, Rin, Gue engga bisa kalau kehamilan gue harus menyebar dan keluarga gue tahu.” “Tapi kalau lo dipecat karena kebohongan lo, itu lebih parah! Lo akan dianggap menipu perusahaan!” protes Arin. “Gue butuh uang. Anak ini butuh biaya yang lebih besar dari pesangon, Rin. Lebih besar,” balas Nara, menatap Arin dengan tatapan memohon. Ia memohon belas kasihan. “Tolong, kasih gue waktu sebentar lagi. Gue akan cari cara untuk keluar dari perusahaan ini baik-baik. Bantu gue menutupi ini, ya? Janji, ya?” Arin menghela napas panjang. “Baik, Ra. Gue akan bantu. Tapi lu harus janji, lu harus jaga diri lu dan anak lu.” Nara kembali ke ruang kerjanya. Ia mencoba berkonsentrasi pada tumpukan laporan. Ia harus menyelesaikan tugasnya. Ia harus kuat. Ia mengulang kalimat itu. Aku kuat. Aku harus kuat. Demi anakku. Tepat saat ia hendak meraih pulpen, ia melihatnya. Rayyan. Rayyan baru keluar dari lift pribadinya. Ia berjalan menuju lorong direktur. Rayyan tidak hanya lewat. Dia berhenti. Rayyan menatap Nara. Tatapannya gelap, dingin, dan menuntut. “Nara,” panggil Rayyan, suaranya dingin dan mutlak, memanggil nama lengkapnya. Nara menoleh, mencoba menstabilkan napasnya. “Ya, Tuan CEO?” Ia harus terdengar profesional. Ia harus terlihat tenang. “Laporan anggaran triwulan pertama. Malam ini,” perintah Rayyan, nadanya tidak menerima bantahan. “Aku ingin semua detailnya sudah ada di mejaku sebelum pukul sembilan.” “Tapi, Tuan,” protes Nara, kaget. Ia memegang dokumen di tangannya. “Itu bukan pekerjaan Administrasi. Itu pekerjaan Divisi Keuangan. Saya tidak punya akses penuh ke data itu.” Rayyan maju selangkah. Ia kini berdiri sangat dekat. Aura kekuasaannya menusuk Nara. “Tugas CEO adalah memastikan semua berjalan lancar ” jawab Rayyan, senyumnya tipis. “Dan aku menugaskan ini padamu, Kepala Administrasi. Ini adalah perintahku. Aku tidak peduli itu pekerjaan siapa. Kau yang mengerjakannya.” Rayyan melanjutkan, ancamannya jelas. “Jika kau tidak mampu menyelesaikan tugas yang ku berikan itu berarti kau tidak kompeten, Nara. Atau kau lebih memilih kontrakmu diputuskan? Kau tahu aturannya.” Ancaman itu jelas. Ancaman pemecatan. Rayyan menggunakan aturannya yang konyol sebagai senjata. Ia memaksa Nara untuk tetap berada di bawah kendalinya. Nara menelan ludah. Ia tidak bisa melawan. Jika ia dipecat sekarang, ia kehilangan asuransi dan uang tabungan. “Baik, Tuan,” jawab Nara, suaranya tercekat. Ia mengangguk. Ia mengulang persetujuannya. “Akan saya kerjakan, Tuan. Saya akan berkoordinasi dengan Divisi Keuangan.” Rayyan hanya menatap Nara sedetik lagi. Tatapannya tajam ke perut Nara, seolah ia bisa melihat janin di dalamnya. Rayyan berbalik. Ia berjalan menuju ruangannya. Nara segera berbalik, jantungnya berdebar keras. Ia harus segera menghubungi Divisi Keuangan. Tugas ini mustahil. Tapi ia harus menyelesaikannya. Aku harus selamat dari jebakan Rayyan ini. Di ruangannya ,Rayyan duduk di kursi eksekutifnya. Leo berdiri di depannya, memegang map laporan. “Tuan, itu adalah tugas mustahil untuk Kepala Administrasi. Dia tidak memiliki akses data,” kata Leo, bingung dengan keputusan Rayyan. Rayyan mengangkat tangannya, memotong ucapan Leo. “Aku tahu, Leo. Aku sengaja,” jawab Rayyan, suaranya tenang. “Aku ingin dia merasa terdesak sehingga dia hanya fokus pada pekerjaan dan dia tidak punya waktu untuk hal lain. Aku hanya ingin dia bergantung sepenuhnya pada pekerjaan ini." Rayyan tersenyum sinis. “Kau lihat tubuhnya? Sudah mulai membulat, kan? Dia sudah empat bulan. Dia sedang mencoba menyembunyikannya. Dia adalah wanita keras kepala.” Leo mengangguk. “Ya, Tuan. Perubahannya jelas.” “Aku tidak akan membiarkan dia dipecat, Leo,” kata Rayyan. “Aku hanya ingin dia tahu, satu-satunya alasan dia masih memegang pekerjaannya adalah karena aku menginginkannya di sini. Dia harus ada di bawah pengawasanku. Dia dan anakku. Paham?” “Paham, Tuan,” jawab Leo. “Awasi Nara. Laporkan padaku setiap detail kecil. Apakah dia makan? Apakah dia minum? Apakah dia terlihat stres? Aku ingin tahu segalanya. Jangan sampai ada hal yang terlewat sekecil apapun.” perintah Rayyan. Rayyan menyandarkan tubuhnya ke belakang. Ia menatap ke luar jendela. Ia melihat Nara sedang bicara di telepon dengan Divisi Keuangan. Ia tahu wanita itu sedang panik. Mainkan peranmu dengan baik, Nara. Aku akan memastikan kau tetap aman di sini, di bawah kendaliku, meskipun kau membenciku. Aku adalah ayah dari anakmu, dan aku akan mengendalikan hidupmu. Rayyan bertekad. Ia akan menggunakan kekuasaannya untuk melindungi Nara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD