Rencana Licik Rissa

1364 Words
Rissa menatap punggung Nara yang menjauh, setelah insiden di lobi yang membuatnya malu. Rasa iri dan benci membakar dadanya. Ia tidak suka cara Nara membalas sindirannya. Ia harus menghancurkan citra Nara. Rissa yakin, Nara hanya berpura-pura polos. Rissa merencanakan sebuah rencana kotor. Ia harus menjebak Nara. Rissa harus menyingkirkan wanita itu dari Dirgantara Grup. Ia segera berjalan menuju ruangan Anton, Direktur Keuangan yang terkenal mata keranjang dan sudah beristri. Rissa tahu kelemahan Anton. “Direktur Anton,” kata Rissa, berdiri di depan meja Anton. Suaranya penuh perhitungan. Anton mendongak. “Ada apa, Rissa? Kau mau melaporkan Kepala Administrasi yang angkuh itu?” Rissa tersenyum tipis. Ia mengeluarkan amplop tebal berisi uang tunai. Uang panas. “Saya punya tawaran yang menguntungkan, Pak Anton. Ambil ini. Uang ini untuk Anda.” Anton menaikkan alisnya. “Tawaran apa?” “Saya ingin Anda memanggil Nara ke ruangan Anda dengan dalih mendiskusikan laporan anggaran yang diminta CEO,” jelas Rissa. “Dan buatlah seolah-olah Nara yang mencoba menggoda Anda. Buat skenario bahwa Nara mencoba mendekati Anda secara fisik. Jatuhkan dia, Pak. Hancurkan reputasinya.” Rissa menjelaskan rencananya dengan detail. “Saya akan membawa saksi. Begitu Anda berteriak, kami akan masuk. Reputasi Nara akan hancur, dan ia akan dipecat sesuai aturan CEO. Karier Anda di Dirgantara akan aman dan mulus. Rayyan Dirgantara tidak akan curiga.” Anton tergiur. Uang yang ditawarkan Rissa sangat besar. Ia mengangguk. “Baik, Rissa. Aku akan melakukannya. Aku akan memanggil Nara.” Sore harinya. Nara, yang sedang berkutat dengan laporannya, menerima panggilan dari Anton. “Nara, segera ke ruangan saya. Kita harus mendiskusikan laporan anggaran triwulan. CEO Rayyan sangat menuntut,” kata Anton, suaranya dipaksakan lembut dan penuh makna. Nara, yang tidak menyadari jebakan itu, hanya menghela napas. Ia membawa flash drive berisi data yang ia kumpulkan. Ia harus profesional. Nara masuk ke ruangan Anton. Suasana ruangan terasa aneh. “Nara, duduklah,” kata Anton. Ia berdiri di samping meja, menatap Nara dengan tatapan yang aneh. Nara hanya berdiri dengan flash drive di tangan. “Maaf, Pak Anton, Tuan Rayyan meminta laporan ini malam ini. Saya harus segera menyelesaikannya. Ada masalah apa, Pak?” Anton berjalan perlahan mendekati Nara. Ia menyentuh bahu Nara. Nara refleks menjauh. “Masalahnya, Nara, kamu terlalu cantik untuk di lewatkan begitu saja,” kata Anton, suaranya serak. “Rayyan itu pria dingin, dia tidak akan melihat usahamu. Lebih baik kamu mengalihkan perhatianmu padaku. Aku bisa memberimu kemudahan di kantor ini.” “Maaf, Pak. Saya hanya menjalankan tugas,” Nara mencoba mundur, merasakan keganjilan dan bahaya dalam suasana ruangan itu. Instingnya berteriak. Anton tidak peduli. Ia terus mendekat, menutup jarak. Tiba-tiba, ia meraih tangan Nara, mencekal pergelangannya dengan kuat. Cengkeramannya sakit. “Jangan munafik, Nara. Saya tahu kamu juga mau,” bisik Anton, mendekatkan wajahnya. “Tadi pagi matamu sembap. Pasti kamu butuh hiburan, kan?” “Lepaskan saya, Pak! Saya akan berteriak!” seru Nara, mencoba menarik tangannya, panik. Ia menarik, tapi Anton terlalu kuat. Ketika Anton semakin mendekat, berniat menciumnya, Nara berteriak sekuat tenaga. Teriakan itu bukan hanya panik, tapi juga rasa takut dan jijik yang mendalam. “TIDAK! LEPAS! JANGAN SENTUH AKU!” Tepat pada teriakan itu, pintu ruangan Anton didobrak dari luar. Rissa dan dua pengikutnya, Mita dan Santi, muncul dengan wajah terkejut yang dibuat-buat. Rissa melihat pemandangan itu. Anton mencekal Nara. Wajah Nara ketakutan. “Astaga, Nara! Apa yang kamu lakukan?! Kamu mencoba menggoda Pak Anton?” seru Rissa, memainkan peran sebagai orang yang kaget. Pada saat yang sama, Rayyan dan Leo yang kebetulan sedang melewati lorong direktur karena ada urusan mendadak, ikut terhenti dan menyaksikan pemandangan itu. Anton mencekal tangan Nara, tubuh mereka sangat dekat. Wajah Nara yang terkejut serta ketakutan. “Tuan CEO, ini tidak seperti yang Anda lihat!” Nara berusaha menjelaskan. Ia menarik tangannya, tapi Anton masih memegang erat. Rissa lebih cepat. Ia menunjuk Nara dengan dramatis. “Tuan Rayyan, untung kami mendengar teriakan! Saya tidak menyangka Kepala Administrasi bisa bertindak sejauh ini. Sepertinya Nara mencoba menggoda Pak Anton. Tadi kami melihatnya masuk dan mengunci pintu.” Rissa mengarang cerita dengan lihai. Ia mengulang tuduhannya. Nara mencoba menggoda Anton. Nara mencoba menjebak Anton. Wajah Nara pucat pasi. Ia melihat Anton yang kini terlihat putus asa dan membisu, tidak berani membela Nara. Rayyan maju selangkah. Tatapannya yang gelap dan dingin menusuk Rissa, Anton, dan akhirnya mengunci pada Nara. Wajahnya tidak menunjukkan emosi. Rayyan melihat ke Rissa. Rayyan melihat ke Anton. Rayyan melihat ke Nara. “Leo.” Suara Rayyan dingin dan mutlak. “Ya, Tuan?” “Cek rekaman CCTV di ruangan ini. Sekarang,” perintah Rayyan. “Aku mau tahu apa yang terjadi. Jangan ada yang terlewat.” Wajah Rissa dan Anton seketika menegang. Rissa mendadak pucat. Rissa mencoba menyangkal. “Tapi Tuan, CCTV mungkin rusak…” Rayyan tidak menatap Rissa. “Cek. Sekarang.” perintah Rayyan mutlak. Raut wajah Rayyan tidak menunjukkan emosi apa pun, namun auranya membuat udara terasa membeku. “Jika Nara terbukti menggoda Direktur, ia akan menerima konsekuensinya. Dan jika Direktur yang memulai… dia juga akan menanggung akibatnya.” ​Wajah Rissa dan Anton seketika menegang. Mereka berasumsi bahwa CCTV di ruang direktur masih dalam perbaikan dan tidak berfungsi. Anton mengirim isyarat mata panik kepada Rissa, meminta perlindungan. Rissa menangkap sinyal itu, tetapi ia memilih untuk tidak terlibat lebih jauh dan segera berpamitan kepada Rayyan dengan wajah tenang yang dipaksakan. Setelah kepergian Rissa dan gengnya, Nara buru-buru menarik tangannya dari Anton. Ia melangkah cepat keluar dari ruangan. Rayyan mengikutinya sampai di depan pintu. “Kau ikut denganku. Ada yang harus kau jelaskan di ruanganku,” kata Rayyan. “Tapi, Tuan. Bukankah Anda bisa melihatnya dari rekaman CCTV? Saya tidak melakukan apa pun! Anton yang mencoba melecehkan saya!” tolak Nara. Ia merasa terhina. Rayyan tersenyum tipis. Senyum itu dingin dan meremehkan. Ia memasukkan tangan ke saku jasnya dan menarik keluar selembar kartu plastik tipis. Kartu Pengenal Acara Pesta Dirgantara. Sontak, Nara terkejut. Ia benar-benar tidak menyadari kartu pengenalnya telah hilang. ​Leo, yang berdiri di sampingnya, dengan sigap menyadarkannya. “Nona Nara, tolong ikuti Tuan Rayyan. Sekarang.” ​Mau tak mau, Nara menuruti. Di ruangan Rayyan, yang didominasi oleh perabotan gelap dan jendela kaca besar yang menampilkan panorama kota, Rayyan hanya menyodorkan kartu pengenal itu di depan Nara, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. ​“Dari… dari mana Anda mendapatkannya?” tanya Nara, suaranya tercekat. Leo, tanpa diperintah, langsung menjawab, sambil sengaja membisikkan kalimat terakhir tepat di telinga Nara. “Nona Nara, malam saat pesta perusahaan telah usai, Anda sendiri yang meminta Tuan Rayyan untuk membawa Anda dan melakukan cinta satu malam itu.” ​Tubuh Nara terasa lemas. Ia syok, malu, dan marah. Sementara itu, Rayyan hanya menampilkan tatapan dingin, berhasil menahan senyuman puas yang hampir muncul di wajahnya melihat ekspresi Nara. Nara dengan gagap berusaha membuka suara. “Ja… Jadi apakah Anda juga sudah tahu bahwa saya sedang mengandung, dan hal itulah yang menjadi penyebab Anda melakukan tes kesehatan dadakan? A… Apa anak ini juga darah daging Anda?” Rayyan bersandar di kursinya. Auranya yang arogan mendominasi ruangan. Ia menyilangkan kakinya. “Yaaa… bisa jadi itu memang anak saya,” kata Rayyan, sengaja memancing emosi Nara. “Atau kau pernah berhubungan dengan pria lain? Sehingga kau tampak tegang? Sehingga kau panik saat kuajukan tes kesehatan dadakan?” Nara dengan cepat menggeleng. Harga dirinya tersinggung. “Tidak, Tuan! Saya berani bersumpah jika saya masih dalam keadaan virgin di malam itu. Itu adalah malam pertama dan terakhir saya. " Rayyan bertepuk tangan pelan. Tiga kali tepukan pelan. Ia puas. “Keberanian yang bagus. Aku suka kejujuranmu,” kata Rayyan. “Sekarang dengarkan aku baik-baik, Nara. Jaga janin itu. Jangan sampai ada orang lain yang tahu kebenaran ini, termasuk sahabatmu Arin.” Rayyan mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya menusuk Nara. “Karena jika rahasia ini bocor, dan orang luar tahu kau hamil anakku di luar nikah, aku pastikan kau akan menanggung konsekuensinya sendirian. Aku akan pastikan kau dipecat, dan kau akan hidup sendirian, tanpa perlindungan dariku. Apakah kau mengerti, Nara?” Nara mengangguk perlahan. Ia tidak punya pilihan. Ia harus patuh pada Rayyan demi anaknya. Nara berjalan keluar ruangan. Pikirannya hancur.Ia harus menghadapi kenyataan bahwa CEO arogan itu adalah ayah dari anaknya. Beban hidup datang bertubi-tubi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD