Lantai marmer di lobi utama Dirgatara Grup terasa dingin dan mengkilap, kontras dengan hawa panas dan rasa malu yang dirasakan oleh Anton, mantan Direktur Keuangan Langkahnya gontai, seakan setiap langkahnya membawa ia menuju kesengsaraan. Hanya berselang beberapa jam setelah Rayyan Dirgantara memerintahkan Leo untuk memeriksa CCTV, hasilnya sangat jelas, Anton terbukti mencoba melecehkan Nara di ruangannya. Rayyan tanpa kompromi dan tanpa ampun langsung memberikan surat pemecatan. Skandal itu menyebar cepat di kalangan karyawan, meskipun informasi detailnya ditutup rapat demi citra perusahaan.
Anton melangkah ke luar lobi, menenteng sebuah kotak kardus berisi sisa-sisa kariernya yang hancur. Wajahnya ditekuk, dipenuhi rasa marah dan kebencian terhadap Rissa karena telah menjebaknya. Ia tahu dirinya hanyalah pion dalam permainan Rissa.
Saat ia berjalan menuju parkiran, sebuah mobil mewah hitam tiba-tiba berhenti di sisinya. Jendela mobil itu turun, menampakkan wajah Rissa yang cantik namun penuh ketegangan Rissa terlihat sangat panik, keringat di dahinya mengucur sebesar biji jagung.
“Masuk, Pak Anton,” perintah Rissa, suaranya rendah dan mendesak.
Anton mendengus. Sebuah tawa sinis keluar dari mulutnya. "Untuk apa? Mau merayakan keberhasilanmu menjatuhkan musuhmu, Rissa? Dan menjadikanku kambing hitam yang sempurna?"
"Jangan bicara yang tidak-tidak. Cepat masuk. Ini bukan tempat yang bagus untuk diskusi," Rissa melirik sekeliling dengan cemas.
Anton, meskipun marah, tahu ia tidak bisa melawan. Ia membuang napas kasar, meletakkan kotak kardusnya ke bagasi, dan duduk di jok belakang, berhadapan langsung dengan Rissa.
"CCTV itu seharusnya rusak, Rissa. Kau yang bilang begitu! Kau membuatku kehilangan pekerjaan, keluarga, dan kehormatanku!" Anton mencengkeram lututnya, berusaha menahan amarah yang mendidih. Wajahnya merah padam, urat di lehernya menegang.
Rissa mengeluarkan dompet kecil dari tas Hermesnya, mengeluarkan dua lembar cek senilai ratusan juta. "Rayyan memang kejam. Tapi kau tahu, aku tidak punya pilihan. Jika Rayyan tahu aku berada di balik ini, dia tidak hanya akan menghancurkan aku, tapi juga keluargaku. Kau tahu siapa keluarga angkatku, kan?"
Rissa menatap Anton dengan tatapan dingin, mengingatkannya pada pengaruh keluarga Jena, yang merupakan rekan bisnis penting Satya Dirgantara. Anton memang dipecat, tapi Rissa tahu, jika nama keluarga angkatnya terseret dalam kasus penyuapan untuk menjatuhkan karyawan, itu akan menjadi skandal yang lebih besar bagi Rissa sendiri dan bisa membuatnya kehilangan semua fasilitas mewahnya. Rissa harus melindungi dirinya dari Rayyan dan juga keluarga angkatnya.
"Ambil ini," kata Rissa, menyerahkan dua lembar cek itu. "Ini lebih dari cukup untuk menutupi kerugianmu selama setahun. Dan ini uang tutup mulut. Jangan pernah sekali pun kau menyebut namaku di depan siapapun, terutama Rayyan Dirgantara atau Leo. Katakan saja, kau tergoda melihat kecantikan Nara. Kau yang salah. Begitu saja."
Anton merengut. Ia tahu Rissa benar. Melawan Rissa sama saja bunuh diri, karirnya di mana pun akan hancur jika Rissa menggunakan koneksi keluarga angkatnya. Ia harus pasrah, tetapi ia juga tidak melewatkan kesempatan ini.
“Dua ratus juta? Apa kau pikir harga diriku serendah itu, Rissa?” Anton menyeringai sinis, tatapan matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar menikmati posisi tawar menawar ini. “Aku kehilangan pekerjaan bergengsi! Aku kehilangan reputasi di seluruh jaringan corporate Jakarta! Aku dipecat karena permainan konyolmu, Rissa!”
Rissa mendesis. “Berapa maumu?”
“Satu miliar. Uang tunai. Malam ini,” tuntut Anton. "Sebagai kompensasi karena aku harus tutup mulut selamanya dan menanggung semua tuduhan ini sendirian."
Wajah Rissa memucat. Angka satu miliar adalah jumlah yang besar, bahkan untuknya. Namun, bayangan Rayyan yang dingin dan kemarahan keluarga angkatnya jika tahu ia telah merencanakan skandal ini jauh lebih menakutkan. Rissa berpikir cepat. Ia hanya punya satu malam untuk mengamankan mulut Anton.
“Baik,” putus Rissa dengan suara penuh kebencian. "Aku akan mengirimkannya ke rekeningmu sebelum tengah malam. Tapi ingat, Anton. Jika satu kata saja keluar dari mulutmu, aku pastikan kau tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di kota ini. Bahkan menjadi tukang parkir pun tidak akan bisa."
Anton tersenyum puas, kemenangan kecil yang pahit. “Aku mengerti. Dalabg di balik skandal Nara yang katanya ‘menggoda’ Direktur Anton akan terkunci selamanya. Selamat tinggal, Rissa. Semoga Tuan Rayyanmu itu tidak menemukan jejak tanganmu yang kotor.”
Rissa hanya mengangguk, menyuruh sopirnya melajukan mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sepanjang perjalanan pulang, Rissa mengepalkan tangannya. Ia harus segera memikirkan cara lain untuk menyingkirkan Nara, cara yang lebih bersih, tanpa melibatkan orang lain.
Nara. Kau harus tahu bahwa aku sendiri yang akan menyingkirkanmu. Tunggu saja.
Sementara itu, di lantai eksekutif, Rayyan Dirgantara sedang menatap laporan CCTV di komputernya. Layar monitor itu menunjukan rekaman kejadian di ruangan Anton dari berbagai sudurt. Ia melihat jelas, Nara yang tampak gelisah, Anton yang agresif, dan Nara yang berteriak, mencoba menolak. Rayyan tahu, wanita itu tidak bersalah.
Leo berdiri di sampingnya. “Tuan, Anton sudah dipecat. Apakah Nona Nara perlu dipanggil kembali untuk diberi penjelasan?”
Rayyan menggeleng, tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. “Tidak perlu. Biarkan dia berpikir dia beruntung karena aku membelanya. Aku tahu dia tidak bersalah. Tapi aku ingin dia merasa berhutang budi, Leo. Aku ingin dia merasa bahwa dia tidak punya siapa-siapa di perusahaan ini selain aku. Dia sedang mengandung anakku. Sekarang, aku hanya perlu membuatnya mengakui itu dan bergantung padaku. Dan aku yakin, Rissa tidak akan berhenti. Awasi Rissa. Jika dia membuat ulah lagi, aku tidak akan memaafkannya. Biarkan dia berpikir aku tidak tahu ini adalah salah satu rencananya. Jika bukan karena keluarga Wijaya menitipkan dia disini, sudah dari lama aku memecatnya. Cari tahu semua koneksi Rissa dengan orang luar, terutama yang berhubungan dengan keluarga Wijaya."
"Hubungi juga seluruh Rumah Sakit di kota ini untuk tidak menerima pasien atas nama,Nara Elfira. Dr. Vanya berkata dia meminta rekomendasi dokter abo*si saat pemeriksaan kesehatan. Aku takut dia berbuat nekat." Lanjut Rayyan.
Di mata Rayyan, kejadian itu bukan hanya jebakan konyol, melainkan sebuah ujian yang secara tidak langsung membuktikan integritas Nara. Serta cara membuat Rissa menjauh. Rencana besarnya untuk menguasai Nara semakin matang.